
Dengan menggigil sosok Chun disana diam dibalik batu yang tempat paling tepat untk persembunyian, sudah banyak yang kasini mencari dirinya dan untung nya tidak dapat.
Ia menemui tempat ini dikalah Wulan ditangkap dikalah itu. Ia merasa sangat pengecut dikalah membiarkan Wulan tertangkap sedangkan dirinya hanya diam saja, kenapa dirinya tak melawan?
Sudah sedari semalam perutnya tak diisi namun ia tak juga berani keluar karena takut tertangkap. Ia masih mau hidup dan juga masih ingin keluar dari sini. Diselah-selah pikirannya itu ia harus keluar dan menemuikan Eliza dan Lien. Ia harus bertemu dengan Vuang bukan?
Ia mengusap kepalahnya kasar.”Bagaimana ini.”Gumamnya disana mendesis dan menghela nafas, ia harus bagaimana hingga pikirannnya teringat jika Eliza masih dipohon itu.. ia berdiri.”Bagaimana dengan El? Apa dia baik-baik saja?”Gumamnya disana nanar. Ia melupakan sosok itu semalam bukan?
“Sial.. Aku harus menemui dia..”Gumamnya lalu melihat kesekeliling. Bajunya sudah sangat apek dan bauh, bauh asin keringat dan darah bercampur menjadi satu. Ingin rasanya ia muntah dengan bauh tubuhnya sendiri.. lalu tak ada kata lain selain untuk berdiri..
Tapi ia tetap takut.. hinga ia meyakinkan diri. “Jika aku takut dan terpuruk aku mungkin tak akan bisa keluar dari sini... Aku tidak boleh mejadi pengecut dan takut mati.”Ujarnya disana penuh dengan keinginan keluar..
Hinggga tekat itu semakin membulat membuat ia melirik sembarang arah dan mulai melangkahkan kakinya menuju Dimana pohon yang Lingling tiduri semalam.
Disisi lain sosok itu menghembus nafas dalam meihat jajaran hutan yang ada, dibeberapa titik memang ada cctv namun itu titik terdekat dengan vila yang mereka tempati. Ini tempat tak terlalu besar. Hanya berisi tujuh belas kamar, beda dengan ruang rapat dan juga ruang makan. Beda dengan ruang pelatihan dan ruang senjata.
Senjata mereka akan dikirimkan ke kota XXXX sebentar lagi membuat ia memantau orang-orang dan penyusup. Ia bukanlah sosok yang lembut, berani melakukan suatu hal yang menantangnya, maka jangan salahkan dirinya jika mati terlalu mudah untuk sang pelaku.
Setelah merasa bosan ia pun bangkit dari duduknya. Sosok ddiepanya menatapnya dengan bingung.
“Mau kemana?” Fiko, dia memang membenci Andes, namun ketika Keyna sang ketua mengatakan jika mereka harus akur mau tidak mau yah ia harus terima. Meski begitu membenci Andes masih tetap ada.
Andes melirik Fiko dengan tatapan datarnya lalu tanpa menjawab ia pun pergi. “sitttth...!! What Ths F*ck...” Umpat nya Fiko kesal. Andes memang manusia terdingin dan terkaku yang ia lihat. Lebih kaku dari pada suami sang adik.
Andes melangkahkan kakinya menuju hutan berantara yang ada dengan tubuh yang biasa saja, mengenakan pisau kevil dipahanya dan juga pistol disisi kanan an kiri pinggangnya.
Kawasan ini memang tidak ada yang memasuki, ada beberapa penyelidik namun tak ada yang berani masuk. Dulu pernah disini dibakar oleh seseorang namun dengan gesit mereka disana bisa mengatasinya dan mengirim binatang buas ke desa. Membuat banyaknya binatang buas pdrgi kedesa dan memakan dan merusak desa tersebut. Dan manisan banyak korban jiwa dan juga kerugian harta.
Mangkanya sudah tidak ada yang berani melakkukan tidndakan lagi. Bagi mereka ini tempat keramat.
Mereeka dulu juga selalu berpindah-pindah tempat dalam bertugas. Biasanya jika sudah dicurigai maka mereka akan berada diruang yang tersembunyi. Tak akan ada yang tau sebab isi otak mereka tak terbaca.
__ADS_1
Nafas Lingling disana cukup keras.. ia menghela nafas melihat Lien yang diam saja. “Lien. Kau tau. Aku ini sangat pemalas dulunya.. Aku bahkan tak perah berjalan karena selalu digendong oleh kedua kembaran dan ayahku. Atau sahabatku Leqi dan juga Wolly. Yaampun dosa apa yang aku lakukan sampai-sampai hidup ditubuh yang penuh kesengsaraan ini.”Ujarnya mengerutu. Bukan Lingling namanya jika ia tak mengeluh.
Lien disana terkekeh melihatnya. Ia menepuk tempat duduknya disisinya dekat pohon. Lingling pun duduk sisinya dan menghela nafas. “ Berarti hidupmu penuh dengan kemewahan?”Tanya Lien disana dengan mengerutkan alisnya tak percaya mantap Lingling yang duduk disampingnya.
Lingling menganngguk. “Yah, aku punya satu pelayan kepercayaan, dia sudah ku angap nenek sendiri, ibuku pandai masak, ayahku pandai berilmu pedang kakak-kakaknya kuat dan cerdas. Mereka semua menyayangiku layaknya akulah rajanya.. aku bingung oh Dewa apa salahku.”Ujarnya mengusap air matanya yang jatuh. Ia lelah berjalan selama tiga hari ini dan sekarang ia kehilangan banyak teman-temanya dan harus berdiri berdua saja.
Sosook Lien disana meringis melihatnya. Dan Lienpun menghela nafas. “Mungkin kau harus belajar menerima semua takdir Ling’er. Kadang apa yang kita hadapi itu cara Tuhan mengajarkan kita tentang suatu hal. Jangan menangis.. aku tidak tau menghadapi gadis menangis." Ia memang tak pernah berhubungan dengan perempuan kecuali ibunya yang sudah meninggal.
Lingling tambah menangis disana karena tak kuat akan hidupnya. “Lien aku haus. Aku lapar huaaaa... hiks hiks..”Teriaknya menangis. Lien gelagapan melihatnya disana hingga ia pun memeluk Lingling dengan lembut dan mengusapnya.. Lien yang lelahpun sesegukan disana karena lelahnya hidup.
Lingling sajak lahir makan mengenakan sendok emas. baju sutra, mandi saja dibantu. Hidupnya jauh dari kata sengsara..!
“Sabar kita akan keluar dari sini kok..”Ujarnya lembut mengusap kepala Lingling.
Lingling menghela nafas kesal. Sungguh ia mau kembali.. “ Apa ini kerjaan bunda yah... Atau Liong yang mau cari selingkuhan.” Gumamnya disana. Lien diam mendengarnya.
“Jika memang benar. Percayalah akan ku potong masa depannya.”Bisiknya dihatinya dengan helaan nafas.
lingling dan Lien pun menyambutnya dengan suka duka. Meski terpincang sosok Chun masih tetap menggapai tubuh Lingling dan Lien disana. “Kau baik-baik saja Chun?”Tanya dari Lien disana dan Chunpun mengangguk dengan semangat.
“Dimana Wulan?”Tanyanya disana mencari kekanan dan kiri Chun.
Chun disana menghela nafas dna mengeleng. “Dia tertanglap diperangkap, maafkan kau yang tak bisa kenjaganya.”Gumamnya seidh..
Lien pun menghela nafas menatap nanar.. “ Jendral Vuang juga. Jadi hanya tertinggal kita.” Gumamnya disana lirih.
Lingling mendengarnya menghela nafas kasar dengan hati yang sangat berat. “Tidak apa-apa. Yang penting kalian tetap sehat dan kita bisa menjalankan misi kita untuk menyelamatkan mereka. Jangan bersedih. Mereka baik-baik saja.”Lanjutnya nanar disana. “Kau baik-baik saja kan?”Tanya Lingling.
Chun pun mengangguk. “Yah.. aku baik-baik saja.”
“Syukurlah jika begitu. Aku sangat mengkhawatirkanmu.”Ujarnya Lien lagi.
__ADS_1
Lingling disana mengusap pipinya dan juga menghela nafas.. hanya empat bulan lagi dia didunia ini bukan? Ia menatap Chun dan manik mata mereka bertemnu namun Lingling mengerjab polos saja..
Criukkk.. Criukk.. Criukkk..
Suara itu membuat Lingling menahan senyum dibalik kesedihannnya. Lien malah terkekeh melihat wajah merah Chun.
“Ak aku belum makan sedari semalam. Bahkan semalam kita tidak jadi makan gara-gara serigala sialan itu..”Ujarnya disana dengan kesal dan juga sedih bercampur malu.
Lien disana menepuk pundaknya. ‘Sama saja. Kami sedari tadi tak makan apa-apa. Tapi kami tadi disni mau mencari makanan. Jangan begitu.”Ujarnya Lien, ia tau jika Chun sedang malu.
Lingling yang melihat Chun menghela nafas, Chun sangatlah berantakan. Tubuhnya penuh luka, dipelipis tangan dan kakinya yang penuh luka dan darah. Lien pun juga begitu baru juga sadar. “Kalian tunggu disini. Biar aku cari makanan dan obat untuk kalian. Jangan kemana-mana yah.” Ujarnya disana. Dan keduanyapun mengangguk.
“kau mau kemana El?”Tanya Chun lembut.
Linglingpun menujukan perut mereka. “Perut kalian perlu diisii supaya kalian tidak mati. Aku akan mencari buah-uahan supaya kalian tidak kelaparan lagi.”Ujarnya.
“Aku temani yah..!” Ujarnya Lien menahan Lingling. Entah kenapa ia sangat khawatir sekarang.
Lingling menggeleng melihatnya dan berkata. “ Jangan. Kau masih sakit jika nanti kita ketahuan malah memperburuk keadaan.”Ujarnya disana dengan helaan nafas,.
Chun pun menghela nafas.” Aku sebenarnya juga mau menemanimu El. Tapi aku bahkan tak lagi mampu mengangkat kakiku. Kakiku bagaikan dikutuk menjadi batu.”Ujarnya meringis. Kakinya sudah saangat berat. Berjalan saja ia sudah oleng..
Lingling mengangguk. “Tidak apa-apa. Kalian tunggu saja disini, karena aku paling sehat diantara kalian. Aku tidak ingin jika kita ketahuan malah kalian yang ditangkap dan kita semakin kacau. Vuang dan Wulan sudah tertangkap. Kalian tidak boleh keluar sebelum aku yang memanggil. Jika ada apa-apa nanti aku akan menyuruh hewan yang kesini dan menyampaikan pesan. Jangan tinggalkan tempat ini..!” Ujarnya membuat keduanya mengangguk patuh meski tak paham tentang hewan dan pesan yang dimaksud Lingling.
Lingling pun melenggang pergi meninggalkan keduanya dengan raut cemas. linglung takut nanti ketika mereka tertinggal mereka dimakan hewan.
Itu membuat ia berkata. “Jika bisa memanjatlah. Itu lebih baik untuk kalian ketimbang kalian akan berpisah lagi..” Ujarnya.
"Hati Hati El...! "
Keduanyapun mengangguk disana dan mulai memanjat pohon. Oh hidup yang membangongkan bukan??
__ADS_1