
maaf yah blm bisa up rutin... becuase kesibukan membuatku kurang bisa mengatur waktu.
.
.
.
Lingling mengusap luka didadanya dengan helaan nafas, ia tau jika Andes menaruh camera dikamarnya ini untuk melihat dan mengawasinya. Ia tidka bodoh karena hal itu adalah taktik yang ia bisa baca dari Andes. Tapi ia harus pergi ketempatnya Vuang dan Wulan untiuk meluhat keadaanya mereka, ia harus keluar lalu bagaimana kah caranya?
Yah dia sudah paham akan kamera, alat pengintai, kan sudah dikatakan jika dia itu cerdas dan mudah memahami, hang saja ia punya penyakit.. Penyakit akut....
penyakit malas kayak yang sedang baca dan nulis hhahaa
Ia menatap mimuman yang berwarna coklat diatas meja dan tersenyum licik.
Ia punya ide cemerlang untuk kabur tanpa ketahuan Andes atau kamera...
Ia menatap camera yang berada dibawah bunga-bunga yang ada disana. Ia tau Andes menaru disana. “Hmmm.. kayaknya enak nih.”Ujarnya disana dan mencobanya dengan tegukan demi tegukan.
HHuee... ia membuntahkannya dan segera menuju kepot bunga itu.. ia memuntahkan airnya dan mengusapnya. Sengaja ia membuangnya tepat dicameranya hingga camera itu jatuh dan tak lagi menuju ketempat yang seharusnya ia rekam. Lingling tersenyum dibuatnya. “ Hmm enggak enak buang ajalah.”Gumamnya memang membiaskan suaranya suapaya didengarkan oleh Andes dan Bugh.. ia membuang tempatnya kesana hingga terkena kamera juga,. Kameranya jatuh.
Hikhikik.. Lingling menutupi mulutnya karena tertawa bangga melihat hasisl karyanya.
“Saatnya beraksi.”Gumamnya menuju bantal dan mulai mengubah bantal itu jadi dirinya. Ia segar mengantikan bajunya dengan jubbah dan juga topeng yang ia simpan rapat,. Ia harus keluar dari sini secepatnya. Ia hanya punya waktu beberapa jam saja alias hingga sore saja karena harus pergi bersama Andes.
__ADS_1
Dengan luka didadanya yang masih cukup sakit ia melakukan tlanpotasi, luka didadanya cukup parah karena pisau itu sangat tajam, bahkan dijahit lima luar dan lima dalam, belum lagi ia banyak kehilangan darah.. sungguh pengorbanan itu untuk Vuang dan Wulan.
Tak sampai setengah jam ia sampai digoa. Namun ia bersembunyi sebentar sebab ia melihat ada penjaga disana yang sedang memetiksa semua tempat yang ada. Sepertinya mereka sedang mencari Wulan dan Vuang. Sebab mereka pasti masih berada disekitar sini jika dipikir oleh mereka.
Cukup ramai dan ketat, beberapa menit setelahnya ia baru bisa masuk kedalam goa. Dan disan ternyata Lien sudah siap-siap dengan pistolnya mengajuhkan pada kepala LIngling. Lingling terdiam dibuatnya dan menggeleng.”Ini aku.”ujar Lingling.
Lien mentpnya dengan helaan nafas dan mengusap dadanya. “Cepat masuk. Diluar sangat ramai.”Ujarnya menarik tangan Lingling. Lingling mengangguk disana dan juga duduk didekat Vuang dan Wulan yang menatapnya dengan tersenyum manis.
Lingling membuka topengnya dna tersenyum. Ia juga membuka jubahnya,”Bagaimana keadaan kalian?”Tanyanya dengan lembut.
Lien disana menatap Lingling mengeleng.”kurang baik. Lihatlah mereka spertinya mencari Vuang dan Wulan. Appakah kami akan tertangkap nanti? Lalu bagaimana dengan Chun?”Tanyanya khawatir.
Lingling diam mendenarnya. Oh iya apa kabar Chun? apa ia akan tertangkap, tapi ia yakin akan Chun.” Mereka tidak akan menemukan kalian disini sebab ini sudah ku lindungi.”Ujarnya Lingling.
Lien diam mendengarnya.”Bagaimana bo-“
Lien terdiam dibuatnya sebab Lingling terlihat marah. “Dan masalah Chun itu sudah menjadi tanggung jawabnya, jika dia selamat maka kita bersyukur jika tidak maka akan ku usahakan ia selamat. Kalian hanya perlu diam disini.”Ujarnya dengan helaan nafas.
Lien menepuk pundaknya “Kau bisa saja.”Ujarnya. Namun Lingling meringis karena merasakan sakit diddanya.”Hey kau kenapa? Kau baik-baik saja?”Tanya Lien disana terkejut menatap Lingling yang sakit hanya karena ditepuk.
Lingling menghela nafas,”Luka kecil. Ehh –ehh.. kamu ngapain?”Tanya Lingling kaget ketika Lien menarik bajunya. Dna terlihatlah luka dibagian atas dadanya.
Lien menatapnya tajam hingga Lingling diam menatap lain arah.”lepas.”Ujarnya.
“ Ini kenapa?”Tanya Lien. Vuang dan Wulan menatapnya lemah. Mereka belum bisa bicara. Mereka hanya bisa menatap dan menimak.
__ADS_1
Lingling menatap Vuang dan Wulan.”Bagaimana keadaan mereka apakah mereka sudah membaik?”Tanyanya tersenyum.
“Lingling jawab aku.. jangan mengalihkan pembicaraan..!” ujar Lien tegas menatap Lingling yang mengalihkan pembicaraan malah membicarakan mereka yang didepan mata.
Lingling diam mendenharnya dan juga menghela nafas. “Apa ini ulah mereka?!!” Tanyanya lien dengan tajam.
Lingling menggeleng.”Bukan.. ini luka karena aku melukai diri ku sendiri supaya mereka tidka curiga jika aku yang menyelamatkan Vuang dan Wulan, sebab dikalah itu aku tidak punya cara lain. Lagipula ini hanya luka biasa jangan diperbesarkan.”Ujar Lingling tegas pada Lien yang bungkam. Vuang dan Wulan mendengarnya menjadi haru dan nanar. Lingling rela terluka demi mereka.
Lingling disana mengangkat alisnya.”Kenapa? aku tidak suka ditatap begitu, aku tidak suka dipuji dan juga semua hal berjenis ditatap begitu. Aku melakukanya demi kalian bukan karena ingin dipuji, aku membenci tatapan itu.”Ujarnya Lingling.
Vuang mengerakkan tangannya namun tak bisa. ia ingin memeluk Lingling. Sungguh, sedangkan Wulan? Wulan tak mampu menatap Lingling. Ia merasa hina dan berdosa akan lingling.. ia paling memiliki banyak kesalahn hingga tak bisa dimaafkan lagi baginya, ia adalah sang kakak yang sangat-sangat tidak pantas dibilang kakak.
Lingling mengeluarkan cairan disakunya. Ia mentap mereka semua.”Ini juga alasanku kenapa aku harus terkuka, supaya aku bisa masuk keruang kesehatan mereka dan menemukan penbawar supaya kalian cepat puli. Ini adalah ramuan yang bisa membuat tulang kalian kembali menormal dan kalian bisa kembali berjalan dan berbicara. Kalian tak lagi lumpuh.”Ujarnya tersenyum tulus.
“Nanti hanya perlu diminum dan juga diolesi ditubuh mereka. Hanya dua kali saja. Aku menemukanya diruang sebelahku kemarin dan aku kenal bauhnya. Sebab ini bauh bunga Louke dari tengah laut dan juga mutiara biru.”Ujarnya lagi. ia membukanya dengan pelan. “minumlah.”Ujarnya kepada Vuang.
Vuang menatap Lingling lirih. Kenapa Lingling melakukan ini? mereka kan baru kenal bahkan ia tak terlalu kenal. Ia tak snaggup, bibirnya bergetar. Lingling mengusap pipinya.”buka mulutnya yah biar cepet sembuh.”Ujarnya. Vuang mengangguk meminumnya.
Setelahnya ia segera mendekati Wulan. Wulan pun tak mampu menahan lelah dan tangisnya. Sebab merasa bersalah saat ini. Lingling menatapnya sendu.”Kakak minumlah supaya kau bisa sehat dan pulang. Ibu dan ayah pasti merindukan dan mengkhawatirkanmu. Aku tidak mau kau kenapa-napa.”Ujar Lingling menatap kebawah.
Wulan ingin berteriak.’kau juga. Mereka juga mengkhawatirkanmu..!!”
Lingling terkekeh.”Tikdak mereka tidak mengkhawatirkanku. Karena bagi mereka anaknya hanyalah dirimu dan aku hanya anak angkat bukan? . Jadi jangan sampai terluka lagi.”Ujarnya. Wulan menjatuhkan air matanya. Ia menyesal sembari menggeleng.
.
__ADS_1
.
Up lagi ya nih nanti malam? Kalo iya komentar banyak2 yah haha Mumpung aku sedang ada waktu luang wkwk