
“ sejak kapan kau berekting seakan jadi iu paling peduli dengan anaknya nyonya Fernandes? Haha kau sangat lucu dan berbakat di dunia ekting. Pantas saja kau benar benar laku keras di dunia entertaimen, rupanya kau pemain muka yang sebenar benarnya. Kau bahkan lebih buruk dari Ular..” Ujar andes terkekeh sembari mencibir ibunya yang sok sok mengatur dirinya. Andes masih ingin menmdapatkan hiburan dari ibunya yang tidak tau diri ini.,
Dimata Andes nyonya Fernandes tidaklah lebih dari sampah yang benar-benar busuk dan harus ia hindari, tidak ada cela untuk menerima ibunya kembali meskipun mulut Nyonya Fernandes berdarah darah sekalipun.
Tapi coba kalian lihat! Nyonya Fernandes datang dengan tidak tahu malunya mengaku peduli dan hendak menjodohkan nya.
Apakah terucap dalam mulut wanita ular ini telah menghancurkan keluarga Andes? Andes belum berkeluarga dan memiliki anak saja mendengar nya sangat muak. Apakah wanita ini hatinya terbuat dari semua keburukan yang ada di muka bumi ini?
Nyonya Fernandes menatap andes dingin dan juga tidak senang. Nyonya Fernandes seperti dihina oleh anaknya sendiri, akh ralat memang dihina oleh anaknya sendiri
.” Aku ibumu andes, jadi wajar jika aku mau yang terbaik untukmu, itu artinya aku tetap peduli dan juga khawatir dengan masa depanmu.” Tegas NYonya Fernandes berkilah. Lidahnya sangat lentur menjawab pertanyaan andes. Mungkin karena selama ini selalu menjabat sebagai aktir membuat ia kebawa di dunia nyata dalam berekting. Andes acungi jempol kepada ibunya ini.
Andes malah terkekeh mendengarnya.” Peudli??? Peduli sekali sampai kau tinggalkan aku di usia 7 tahun dan dua puluh tahun kita tidak bertemu. Tiba tiba datang berkata kau peduli padaku sedangkan niatmu hendak menghancurkan keluargaku kau malah hendak menjodohkan ku? nyonya Fernandes, aku harap kau segera ke dokter fisikiater agar masalah di otakmu cepat di sembuhkan. Aku jadi kasihan kepadamu nyonya Fernandes.” Ujar andes dengan bengis. Mengapa nyonya Fernandes ini sangat tidak tahu malu. Apakah dia dilahirkan tanpa urat malu?
__ADS_1
Nyonya Fernandes mengepalkan tangan menatap Andes penuh permusuhan.” Andes aku masih ibumu. Jadi kau tidak seharusnya terus memojokkanku. Lagi pula sampai detik ini kau sehat sehat saja kan tampa kirang apapun? hidup bahagia dan bergelimbangan harta kakekmu itu?” tanyanya kesal. Apa apaan anak ini terus saja mengunkitkan kesalahanya padahal hidup andes baik baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Bahkan masa depannya sangat cerah
Andes mendesis. Wanita ini hanya melihat dari luarnya saja, tapi tidak di hati dan dibatinya. Andes malas membicarakan perkara hati dan juga rasa sakit yang ia derita selama ini. batinnya yang mati karena diteriaki sebagai anak browken home tanpa ayah ibu,anak yang dibuang dan tidak diinginkan. Hatinya sudah menggelap akibat kedua orang tuanya menghilkang dan membuangnya. Bahkan fisiknya juga sudah mulai lelah, terpaksa dewasa agar siap menatap dan berjalan kedepan. Andes tidak lagi bisa berjalan dulu, kakinya penuh luka dna juga berdarah, bernana.
Sosok keyna datang lebih banyak luka dan juga kesakitan lebih parah, mengajaknya untuk terus bertahan dan juga berjuang. Saat itu jika andes tidak bertemu Keyna., mungkin harapan hidup sudah pupus, memilih lenyap dimakan waktu. Andes bertahan karena rasa sakit ia derita bersama sama mereka pikul. Sama sama mereka junjung, sama sama saling membantu.
Orang tuanya tidak akan tau dan tidak perlu tau, termasuk nyonya Fernandes ibu kandungnya. Tak ada alasan mengapa mereka harus tau kubangan kelam yang ia pijakan. Apakah mereka berfikir hidup bersama kakek tampa orang tua saja sudah cukup? apakah mereka pernah berfikir jika dirinya kesepian, tidak memiliki siapapun. Kakeknya yang sibuk kesana kemari meningalkan dirinya di rumah? Lalu ke adaan dimana ia hampir mati karena kesetrum listrik sat kecil? Untunglah pembantu segera membantunya dan juga menenangkannya. Apakah ibunya harus tau?
Andes menghela nafas mengepalkan tangannya. Masa lalu kelam tidak perlu lagi dikenang. Tapi ada ibunya di sampingnya adalah mimpi buruk yang ia derita. Andes melirik ibunya yang berada di sebelahnya.” Nyonya fernandes. Bahkan aku sudah menganggap kau sudah mati, aku sudah tidak punya lagi orang tua semenjak kau tinggalkan aku di rumah tua bersama kakek di kalah itu. sejauh dua kilo meter aku berlari mengejar Mobil kalian, berteriak dan memohon untuk tidka di tinggal dan dibuang. Tapi detik itu kau malah melaju dan enggan mendengarkanku. Kakiku mengelupas sakit, kerikil tak terhitung menyarang di kakiku. Itu semua jadi saksi. Bahkan jika kau berlutut dikakiku hingga kerikil bersarang dikakimu berkali kali lipat banyaknya. Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Aku tidak akan menganggap mu ibuku. “ tegas Andes penuh penekanan.
Nyonya fernandes terunyah, kali ini ia benar benar sakit hati, seperti ada hujaman kaca pecah dalam hatinya menyerang dan menyapa. Padahal seharusnyakan diatidak meskipun sakit hati. Lebih kepada menerima kenyataannya. Andes mendekati wajahnya ke wajah Nyonya Fernandes.” Bahkan jika aku boleh minta, aku minta dengan Tuhan, jika aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan saja. Akku lebih suka aku tidak lahir dari rahimmu. Aku benci fakta jika kau ibuku.” Tegas andes dnegan mata yang memerah dan telunjuk mengarah ke wajah Fernandes.
__ADS_1
Fernandes mengerjab menatap andes, seolah ada yang menyekat ditenggeri kan nya, ia mengerjab pelan dan juga nanar. andes memejamkan mata meredamkan amarahnya.” Lebih baik kau pergi dari sini. Lebih baik angkat kaki sendiri dari pada aku usir kau bak binatang, Cepat..!” Bentak Andes lagi.
Nyonya fernandes semkain terenyuh, serpihan beling semakin melukai hatinya. Apakah dirinya memang benar benar ibu yang buruk??? Nyonya Fernandes diam diam keluar dan merenung lagi ucapan andes. Ada rasa tidak sukakali ini, padahal niat awal ia ingin menjodohkan Andes dengan orang pilihannya, tapi ucapan andes sangat menganggu telinganya, seperti ucapan itu terngiang ngiang di kepalanya. Nyonya Fernandes menghela nafas dan mengerjab sejenak. Memegang dadannya dan meremas sesuatu yang menurutnya sakit. “ maaf.” Gumamnya pelan dan nanar. ia menghela nafas pelan, ini benar benar sakit. Seperti sakit tak kasat mata.
Andes menghela nafas, mengusap kepalanya sejenak, entahlah mungkin efek ikatan batin memang tidak bisa ia remehkan, mau bagaimanapun tetap saja terasa amarah dan kecewa masih akan ada terhadap hati anak yang dibuang sepertinya. Hatinya masih tetap sama, membenci dan juga tidak menyukai ibunya. Andes terlampau membenci dan juga mengkliem jika ibunya sudah menjadi daftar hitam dalam hidupnya. Bahkan jika ibunya mati sekalipun ia tidak akan pernah datang dihari pemakamannya, begitupunm juga ayahnya, tidak akan Andes datang, bahkan jangankan datang. Menegok saja ia tak sudi.
Andes memainkan bolpoinnya dan menghela nafas, mentap jam sejenak didinding. Sudah makan siang, ia menghela nafas, ia akan menyelesaikan pekerjaannya hari ini lebih cepat. Yah andes akan mempercepat pekerjaannya untuk bertemu Lili.
Andes segera menyelesaikan makan siang dan juga beberapa file pentingnya. Sampai di jam 9 baru selesai. Andes mendesah, sampai kapan ia mennjalankan hidup semembosankan ini? andes punya citacita hidup dalam kebahagiaan, memiliki keluarga lengkap, dulu ia pernah berandai-andai untuk menikah muda saja agar ia ada yang mengurus dan jika pulang ada yang membuat ia semangat
Rupanya itu hanya mimpi saja baginya. Sampai usia sekarangpun ia belum menikah. Andes menatap gelang yang diberi Lingling, ia menghela nafas pelan.’ apa kau bahagia di sana nona?? Hey hey kau sudah membuat hariku berwarna, tapi seusainya memberikan aku kegelapan yang tiada tara. Seharusnya kau ku hukum kan?” Tanya andes masam dan juga tidak senang. Andes benar benar merindukan Lingling. Gadis pujaannya,
tatapan andes terarah di sofa, tempat dimana Lingling serring tidur seusai makan. Lingling seperti b4bi makannya banyak, tidurnya cepat bahkan dimana saja ia bisa tidur. Andes terkekeh mengusap kepalanya pelan. ia harus pulang dan bertemu Lili saja. Bagi andes Lili itu obat. Obatnya yang sedang merindukan LIngling. Mungkin karena fitur wajah mereka yang hapir mirip.
__ADS_1