Dimensi Putri Lingling Ke Dunia Masa Depan (Putri Zhu Qira Han2)

Dimensi Putri Lingling Ke Dunia Masa Depan (Putri Zhu Qira Han2)
laku dong


__ADS_3

” Dikamus LIngling belum ada kata dan namanya kalah, selain kata mengalah. Jadi jangan khawatir. Aku kuat aku kuat.” ujarnya. Mereka semakin gemas kepada Lingling. Gadis ini benar benar menguji kesabaran dan Lingling menguap santai.


Mereka bubar membiarkan Lingling berjualan nyaman lagi. Linglling semakin menguap dan tertidur di dekat jualannya. Kepalanya kekiri dan bersandar di tanah. Penjual bapok bakpau jadi curiga jika Lingling ini bukan pedagang. Mana ada pedgang tidur malah meninggalkan jualannya. Ia hanya mengeleng dibuatnya dan Lingling tidak tau jika dirinya menjadi bahan tatapan banyak orang.


Di arah lain, sosok pria yang menggunakan baju rakyat biasa menatap pasar yang sedang berinteraksi satu sama lain, kepalanya menggunakan topi cukup besar menutupi wajahnya sebagian. Tatapannya terjatuh pada pedagang buah buah dan sayur sayuran yang ada di dekat kedai lebih tepatnya di dekat tanag jalan. Ia mendekat kesan bersama temanya pun melangkah kemana temanya pergi.


“ Wah.. dewii.” Panggul Leno melihat Lingling tertidur dengan tangan dibawah kepala, kaki yang menekuk dan bibir yang terbuka karena sedang mendengkur. Orge melihatnya tidak bisa tidak gemas dan Leno malah menatap Lingling dengan tatapan mendelik tidak bias.


” aiyyaa wanita iini tidur di dekat jalan? Apa dia sedang menyamar menjadi pedang atau pengemis?” ia bisa melihat jika di hadapannya ada jual buah buahan dan juga sayur sayuran entah dimana ia dapatkan.


Orge menggeleng.” Aku tidak tau.” Jawabnya.” Tapi dia terlihat lucu.” Gumamnya lagi dan tersenyum.


Leno mendelik mendengarnya. “ ini bukan lucu tapi aneh.” Gumamnya. Orge malah terkekeh mendengarnya dan mengangguk pelan saja. Lingling memang aneh.


Orge berjongkok, menekuk satu kakinya dan menepuk pelan pipi Lingling. Tapi belum sampai menepuk tangannya sudah di tepis diluan. Sang empu bangun dengan mata merah dan juga intimidasinya. Orge dan leno jadi gelagapan, padahal hanya matanya saja terlihat tapi mengapa seperti benar benar ingin menguliti mereka?


Lingling menguap pelan” kalian mau membeli apa?” Tanya Lingling lagi pelan dan mengubah raut wajahnya menjadi biasa saja. Orge dan Leno terdiam sejenak.” Kau melupakan kami?” tanya Leno pelan.


Lingling merunduk ke menyipiti matanya dan menatapnya lebih teliti. Matanya melebar dan mengangguk.” Kalian musafir kemarin-kemarin? Wah sudah sampai kalian ke sini???” Tanya Lingling polos.


Mereka terkekeh mendengarnya. “ yah seperti yang kau lihat.” Jawab Orge mengangguk.


Orge melirik jualan Lingling seksama.,” kau menjual semua ini?” tanyanya.


Lingling mengangguk.” En.. aku tidak punya uang, jadi aku harus cari uang, aku harus jual semua ini agar nanti malam aku bisa tidur dengan nyenyak di penginapan disini.” Jawab Lingling polos.


“ Kau tidak punya uang rupanya.” Gumam Leno. Lingling malah mengangguk memelas” iya,. Aku di usir dari rumah dan diharuskan untuk menjalankan hukuman yang tidak seharusnya seberat ini. kalian belilah sema sayur ku. Aku akan memberikan harga 30koin emas untuk kalian., korting.” Ujarnya dengan polos. Penjual bakpau menoleh dan mendelik, amana ada korting, yang ada tambah mahal dari sebelumnya, bisa bisanya gadis kecil ini menipu teman. Leno dan juga Orge menatap semua sayur yang Lingling jual ini.


Terlihat sangat segar dan juga subur., Orge mengambil satu apel dan menggigitnya.” Oke. Aku akan membeli semua ini, tapi dengan syarat kau harus menginap di dekat penginapan kami. Kam hanya musafir yang lemah dan tidak tau apa apa. Aku lihat kau wanita yang kuat.” ujar Orge kepada Lingling.


Lingling menatap mata Orge dingin dan dalam.” Oke deh, asal jangan menguntitku,” jawabnya.


Orge tersenyum dan mengangguk mengiyakan, Leno malah ikut mengambil apel untuk di makan, tapi belum juga mengambil tangannya sudah di tepuk.” Ini miliknya. Kalian ini makan dulu baru beli. haisss bayar dulu baru makan.” Tegas LIngling kesal. Orge malah tertawa melihat wajah frustasi Lingling, seperti ia mendapatkan diri dalam pencurian hartanya saja.

__ADS_1


Orge mengeluarkan satu kantong koin emas. Dna segera dilempar pada Lingling. Lingling tersenyum menangkapnya.” Ambillah, sisanya untukmu saja.” Ujar Orge dengan sombong. Lingling mengangguk semanbgat dna menghitung koin koin dnegan teliti. Leno melihatnya tersenyumlah masam. Wanita ini tidak mau rugi sekali.


‘” aiya.. koinnya kurang ini, kurang satu koin, kau menipuku yah?” Tanya LIngling menyipitkan mata. Orge mendengar ucapan Lingling segera mendekat dan mencoba menjelaskan.


” Tidak, itu isinya seratus koin emas, kenapa dia berkurang?” Tanya Orge pelan dan juga bingung. Jarang sekali ia mengurangi koin di dalam kantung tersebut.


Lingling mendenggus dan menyimpan koin itu dalam sakunya.” Mana ku tahu? Kau pikir aku istrimu yang tau semua keuanganmu?” Tanya Lingling pada Orge gambling.


Orge mendengar ucapan Lingling tidak sadar menjadi salah tingkah, wajahnya di tutup topi untungnya. Jika tidak rasa malunya mungkin akan berkali kali lebih besar. Lingling sialan, bisa tidak bicaramu di saring terlebih dahulu?


Orge melirik Leno yang menatap lain arah dan mengetuk ngetuk kakinya gemetar. Matanya memicing dan mendengus.” Kau yah yang mengambil uangku?” Tanya Orge dengan dingin dan juga menuduh.


Leno terlihat gelagapan dan menatap Orge gugup.” Hehe itu kemarin untuk membayar penginapan. Kau lupa?” tanyanya gugup..


“ bayar penginapan hanya habis 2koin emas dan kita baru menginap dua hari. Kau patsi berjudi lagi.” jawab Orge tegas dan kesal pada Leno.


Leno menggeleng cepat.” Demi Dewa aku tidak lagi pernah berjudi, aku hanya bermain bersama wnaita wanita cantik.” Jawabnya polois.


Orge menghela nafas dan memejamkan matanya.” sekali lagi kau merampokku kau ku masukkan ke dalam hutan terlarang dimalam hari. Ku ikat kau di sana.” Tegas Orge kesal. Kesal uangnya dihabisi oleh Leno. Ini terjadi sudah beberapa kali dan dirinya malu pada Lingling, itu faktor pertamanya,


“ Bukan pelit, kau menghabisi setengah uangku. “ tegas Orge membuat Leno kicep.


Orge menghela nafas menatap Lingling yang kalem melihat mereka berdebat. Lingling menggeleng pelan melihat dan mendengarnya.” temanmu ini tidak patut sekali. Jual saja.” Ujarnya dengan ringan.


“ Kya.. mana bisa begitu.” Leno menatap Lingling tidak terima.


Lingling mengangguk.” Boleh saja jika sikap dan akhlaknya sepertimu. Benar benar membuat darah tinggi.” Tegas Lingling.


Orge mengangguk setuju.” Kau tau dimana penjualan budak?” Tanya Orge ikut memainkan peran dengan Lingling.


“ sejak kapan kau menjadi tega begi padaku?” Leno memotong secara tidak suka pada Orge yang terpengaruh ucapan Lingling padanya.


LIngling mengangguk.” Aku tau. Kau bisa siapkan dan ikat dia sekarang untuk kita jual.” Ujar Lingling pelan. Leno mendengarnya segera berdiri menyuspa kepalanya kasar. Orge mengulum senyumnya dan mengangguk.

__ADS_1


“ oke... kau ambilah talinya.” Ujar Orge.


Leno gelagapan dan segera berlari.” Aku akan menemui ayahku untuk menganti koin mu.!!!!” teriaknya


Lingling tidak tahan untuk tidak tertawa.


BUgh. Tawa Lingling semakin keluar melihat Leno sampai terjembab dan wajahnya terjatuh di tanah. Orge pun tidak bisa tidak tertawa disana. ia terlihat benar benar senang melihat Leno tersiksa. Leno meringis mengusap kepalanya yang benjol.


Melirik Lingling Dan Orge yang terpingkal pingkal melihatnya terjatuh hanya mendengus. Segra berjalan lagi secara teller kearah dimana jalan rumahnya.


Lingling dan Orge menghela nafas dibuatnya.


Lingling menggeleng dan membungkus semua buah dan sayur yang ia beli tadi. “ aiya karena uangmu kurang stau koin emas, apelnya ku ambil satu yah.” ujar Lingling mengambil apel jualnya satu.


Orge menatap Lingling mencebik.” Kau perhitungan sekali.” Jawabnya dengan tidak suka.


LIngling mengangguk. “ Jika baik itu namanya cari amal bukan cari duit.” Jawabnya tegas dna mengunyah jualannya.


Orge terkekeh benar juga. Jika ada yang baikkan itu namanya cari amal bukan cari keuntungan. Pedagang yang perhitungan itu wajar. Yang tidak wajar itu pedangan tapi tidak pergitungan, tidak menghitung rugi keuntungan. Bisa bangkrut cepat mereka.


“ Dimana tempat penginapan tu?” Tnaya Lingling berdiri memberikan buah dan sayur jualanya pada Orge. Orge menerima kikuk, baru kali ini membawa belanjaan sendiri sebanyak ini. hampir satu karung. “ tidak jauh dari sini. Kau bisa mengikutiku.” Ujar Orge tegas.


Lingling mengangguk, menoleh pada penjual bakpai.” Terimakasih paman. Duluan yah.” ujarnya mengapa riang. penjualnya tersenyum dan mengangguk, penjual lagin melirik lingling iri, sebab jualan mereka belum laku. Lingling tersenyum dan melangkah semangat kearah dimana penginapan mereka. Orge menghela nafas pelan melihat tingkah Lingling yang hyperaktif. Apapun yang dijual menurutnya aneh akan ia lihat secara saksama dan ditanya itu apa pada penjualnya.


“ ayo ayo... siapa yang bisa mengalahkan juara utama kita setiap tahun ini akan mendapatkan uang sebesar 1000 koin emas. Ayo silahkan yang masih berminat. Kita hitung hingga beberapa menit kedepan yah.” suara besar itu dari segerombolan orang yang mengumpul.


Lingling mendengarnya disana tertegun menoleh pada Orge. Orge yang ditatap dan sedang membawa sayur pun menggeleng.” Itu rena tarung bebas. Jangan mer... NONA.. MAU APA KAU?” orge berteriak sata Lingling malah tersenyum mendengar ucapannya yang baru setengah dan menuju tempat yang sedang adu tarung.


Lingling memasuki barisan secara paksa hingga kedepan, ada banyak yang memarahi dan memakiu dirinya. Tapi Lingling pura pura tuli saja. “ Wah..” Linghling bertepuk tangan melihat yang sedang bertarung itu memiliki tubuh yang sangat kekar. Otot ototnya sangat besar. “ Ayo pukul pukul perutnya. Iya iya..!” teriak Lingling heboh sendiri di sana.


Penyelenggarakan menatap Lingling tidak senang nya merasa terganggu.


Berselang beberapa menit Orge memasuki juga kerumuman mendekati Lingling, ia menarik tangan Lingling cemas.” Nona ayo jangan di sini. Ini tidak untuk bermain main.” Jarnya tenang kepada Lingling yang sama sekali tidak melihatnya.

__ADS_1


Lingling meliriknya sekilas dan kembali menatap perrtarungan semangat. Lawan utamanya memilih tubuh kekar itu menginjak perut lawan dan menginjak tepat di uluh hatinya. Lingling melotot.” CURANG..!!! DIA HENDAK MEMBUNUH.” Teriak Lingling. Menatap tajam siapa yang menjadi pelaku utama. Semua orang sekarang menjadi menatap Lingling dan ia menjadi pusat perhatian.


__ADS_2