
Halo halo semua. Terimakasih karena selalu ada, salam yah buat kalian. semoga sehat selalu.
.
.
.
.
Ditengah jalan Lingling tidak menemukan ,makanan yang menggugah selerah. Lingling mendekati salah satu jajanan yang terlihat aneh.” Bapak? Ini apa?”Tanya Lingling dengan penasaran melihat kue yang sangat tidak menarik.
Bapak bapak melihat Lingling yang mendekati ke arah jualannya buru buru mendekati Lingling dan tersenyumlah lebar.” Ini kue tanah liat yang baru saja kami buat. Kamu bisa membelinya dengan satu koin perunggu.” Ujarnya dengan berbinar. Berharap Lingling membeli kuenya.
Lingling tercengang mendnegarnya.” Kue tanah liat? Tanah liat?”tanyanya lagi heran..Sebuah ini bukan tanah kan?
Penjual mendengarnya menatap Lingling heran.” Nona orang baru disini yah?” tanyanya.
Lingling mengangguk dan tersenyum.” Aiyaa. Saya baru disini pak. Baru hari ini sampainya. Di sini dan di tempat saya ada beberapa perbedaan jadi jangan tersinggung mendengar pertanyaan saya yah.” ujar Lingling sopan dan menunduk santun.
Penjual menganguk paham.” Ohh begitu. Maaf nona disini memang tanah liat ini dijadikan roti atau makanan pengganti bagi kami yang lapar disini. Karena memang disini keadaan daerah yang sangat buruk, semua tanaman yang kami tanam mati karena kekurangan air, bahkan saat kami sirampun binatang menghancurkan ditengah malam. Ini bisa membuat kami bertahan hidup.” Ujar penjaga nya dengan jujur.
Lingling mendengarnya tersenyum sedih. Lingling tidak menyangkah tempat ini bahkan jauh lebih miskin yang dirinya bayangkan.
Lingling mengangguk.” Hmm maaf pak, saya tidak punya uang hehe. Saya tidak jadi beli.” Ujar Lingling.
Penjual tersenyum dan memberikan satu kue itu dengan tulus.” Jika begitu ambillah untukmu nona, kita sama sama tidak punya apa apa disini. Kamu bisa makan ini untuk bertahan hidup.” Ujar si penjual tulus kepada Lingling.
Lingling menatap penjual.” Bapak serius? Bapak tidak akan rugi?”Tanya Lingling lagi ragu,.
Penjual menggeleng.” Tidak, rugilah saya yang menutup mata melihat nona kelaparan sedangkan saya masih memiliki kesempatan untuk berbagi. Ambilah.” Ujarnya lagi dengan tegas dan tulus.
Lingling menerimanya dengan tulus dan bahagia.” terimakasih bapak.” Ujar Lingling, sang bapak tersenyum lebar dan menebarkan kebaikan yang benar benar tulus.
Lingling membuka kantong dari balik bajunya.” Tadi saat saya menuju desa ini melewati hutan hutan di sekeliling, jadilah saya mendapatkan buah buahan ini bapak. Maaf saya tidak bisa memberikan uang tapi saya harap bapak bisa menerima buah ini untuk pengganti kue yang bapak beri ini." ujar Lingling tulus memberikan beberapa buah miliknya kepada sang bapak, satu sikat pisang dan juga dua buah buah apel.
Sang bapak membulatkan mata menatap Lingling, ia menatap buah yang Lingling berikan.” Nona.. nona tidak bercanda?”tanyanya dengan terkejut dan bahagia secara bersamaan.
Lingling menggeleng.,” tidak, ini untuk bapak. Ambillah.” Ujar Lingling tersenyum.
Sang bapak terlihat berbinar dan menerima sangat senang.” Yah Dewa. Terimakasih.” Ujarnya menatap langit dan mencium buah buah tersebut beberapa kali. di sela rumah terlihat beberapa menatap ayahnya binar..
Lingling melihatnya tersenyum tulus dan agak kaget juga. Sang bapak menatap Lingling nanar.” Disini kami sangat jarang bisa makan buah sebab hutan disini sangat jauh bahkan menempu sampai tujuh jam untuk hutan yang menghasilkan beberapa buah buahan seperti ini, jadi jika disini buah buah sangat mahal, bahkan satu buah apel harganya satu koin emas nona, jadi saya sangat terharu nona beri saya buah sebanyak ini. ini adalah berkat., terimakasih banyak nona.” Ujarnya dengan terharu pada LIngling..
__ADS_1
lingling mengangguk dan tersenyum.” Untuk orang baik itu bukan hal apapun. terimakasih juga paman kue nya.. semoga kita bertemu kembali.” Ujar Lingling melambaikan tangan melangkah menjauh. Paman mengangguk dan tersenyum. Liling terlihat memasuki kue di dalam tasnya dan menjauh dari sana meninggalkan si paman,.
Penjual tersenyum dan menatap ke belakang, dimana ada dua anaknya yang menatapnya berbinar senang mendekatinya. Sang penjual mendekati anak dan memasuki rumah, diikuti sang istri. “ bapak apa ini buah apel? Apa kita akan makan buah apel?”Tanya sang anak lelaki paling besar dari mereka senang.
Si penjual tersenyum mengangguk.” Kita makan buah apel dan buah pisang... berkat dewa. “ ujar penjual dengan meneteskan air mata.
Sang anak ikut terharu dan tersenyum lebar. Sang ayah mengusap kepala sang anak. “ ayo di makan.. ibu ambilkan pisau. Kita akan makan.” Ujar sang ayah.
Istrinya tersenyum memberikan pisau yang ia pegang sejak tadi,” ini pak..” ujarnya.
" Ayoo kita makan anak anak. sayang ayo makan..." Mereka pun tersenyum dan memakan buah itu dengan riang. Buah apel biasanya hanya dimakan oleh para bangsawan dan juga para keluarga kerajaan . karena harganya yang mahal rakyat tidak mampu membeli makanan itu.
...----------------...
Sedangkan di sisi lain Lingling yang duduk di dahan pohon yang paling rindang di desa tersebut menaiki satu alisnya menatap kue yang tadi ia dapatkan. Ia mengigitnya pelan dan mencoba merasakan rasa kue tersebut.
Lingling terdiam merasaan rasanya.” Sama seperti rasa tanah.” Gumam Lingling tersenyum kecut.
Lingling membuang makanan tersebut dan menghela nafas. melemparkan kue itu jauh. Itu tidak bisa dimakan bagi Lingling yang selalu makan enak.
Tapi Lingling dikagetkan dengan beberapa anak kecil yang merebuti kue yang ia buang, mereka terlihat berenutan dan memakan kue tersbeut. Lingling jadi terdiam dan menatap mereka yang rebut.” Ini milik ku.”
“milikku.”
“milikku.” Teriakan teriakan dari mereka membuat Lingling turun dari menghentikan mereka.
Mereka menghentikannya dan menatap Lingling yang menengahi mereka.
Mereka bertiga menjauh dan memeluknya bagian bagian kue yang mereka dapatkan.” Siapa kau?”tanya salah satu anak paling hitam dan suram kepada Linglinbg. Lihat bahkan tulangnya terlihat dari pada dagingnya. Lingling sangat prihatin dibuatnya.
“ aku pemilik kue yang kalian rebut.” Ujar Lingling.
Mereka kaget dan menatap kue mereka nanar. “ eh aku tidak ingin kue nya. Aku hanya menghentikan kalian agar tidak berebut kan kue itu. mari duduk.” Ujar Lingling menuju pohon.
Lingling mendekati pohon membuat ketiga anak ragu ragu mendekat. Lingling duduk di akar pohon yang muncul menatap anak yang tidak mendekatinya.” Kemarilah, aku akan memberikan kalian makanan.” Ujar Lingling tegas. Mereka terlihat berbinar dan mendekat.
Lingling tersenyum dan mengeluarkan buah buah ketupak di tas miliknya. Anak anak melihatnya sangat melotot dan heran. Takjub pada buah buah yang Lingling keluarkan.” Kalian tidak boleh berebutan makanan, harus berbagi satu sama lain agar bisa bertahan hidup. Ini makanlah.” Ujarnya pada anak anak itu.
Ketiga anak menatap Lingling redup.” Apa kami sesudah makan buah ini akan di jual?”Tanya salah satu anak berambut keriting penuh debu.
“ jika iya, maka tolong jual kami ditempat yang layak dan beri kami makanan setiap hari.” Sahut lagi temanya yang terlihat paling baik dibanding yang lain, sebab pipinya masih terlihat bulat,
Lingling mendengarnya agak linglung dan kasihan.” em,m aku tidak menjual kalian.” Jawabnya dengan pelan dan redup.
__ADS_1
” jadi mengapa nona memberikan kami makanan? Bukankah di dunia ini tidak ada yang geratis?”Tanya lagi si anak paling kurus dan hitam polos. Lingling mendengarnya mencelos dan menatapnya ragu. Ini anak kenapa sangat menyedihkan?
Lingling berdehem dan menyenderkan pinggangnya ke pohon. “ Yah karena aku memilikinya mangkanya aku berbagi.” Ujar Lingling seadanya pada anak anak.
Anak anak menatap Lingling aneh.” Hanya kerna kau memilikinya? Bagaimana jika nona berbagi dan nona tidak lagi memilikinya karena habis?”Tanya lagi si anak berambut kriwil.
Lingling mengangkat bahu acuh” Aku percaya, apa yang sudah ku beri pasti aku akan mendapatkan hal yang jauh lebih besar. Jika tidak dengan hal yang serupa aku akan mendapatkan hati yang lebih besar, jiwa yang lebih bersih. Kalian tau? Bahkan yang ada di genggaman kalian bisa saja bukan milik kalian. Jadi untuk apa aku harus takut berbagi?” Tanya Lingling lagi pada anak anak. Bago Lingling mau bicara sulit juga anak anak tidak akan paham kan?
Mereka menatap Lingling dengan rumit.” Tapi di sini tidak ada buah, jika ada akan sangat mahal. Bukankah rugi?” Tanya lagi si anak kurus.
Lingling menatap anak yang bertanya dan menaruh telunjuknya di dada sang anak itu.” tidak ada yang rugi jika kita berbagi. Rugi itu jika kita punya jiwa yang sempit dan memikirkan diri sendiri. Hidup itu harus saling membantu jika ingin Berjaya, jika hanya memikirkan diri sendiri dan ketakutan dalam kelaparan, hati kita akan sempit dan selalu merasa takut akan hal yang sudah di tentukan. Anak anak kalian tidak boleh memikirkan hal hal buruk. Jika ada satu maka kalian harus membagi menjadi tiga, biar tak kenyang asal kalian sama sama menikmati kebahagiaan. Kebahagiana itu akan membuat apa yang kalian makan menjadi lebih nikmat.” Tegas Lingling.
Mereka mengangguk pelan dalam diam. Lingling menepuk kepala mereka pelan, debu keluar dari rambut mereka membuat Lingling memejamkan mata sedih dan menghentikan ulahnya. Lingling menatap anak anak yang menatapnya lagi.” jadi kami tidak akan di jual?” Tanya salah satu si anak paling manusiawi.
Lingling tergelak ringan.” Tidak. Ayo makan, aku punya beberapa lagi.” ujarnya dengan riang.
Anak anak disana menatap Lingling bahagia dan mulai memakan buah yang dibagikan. “ eh kulitnya tidak dimakan.” Ujar Lingling menghentikan mereka memakan kulit buah ketupak.
Mereka menggeleng.” Ini enak sedikit asam, “ ujar salah satu amnak paling kurus. Lingling mendengarnya terdiam dan tersenyum masam. Mereka sangat lahap memakan buah biuah tersbeut, bahkan si kurus terlihat makan sangat terburu buru dan yang lain ikut meakan cepat agar tidak kehabisan.
Lingling menatap ke depan. Menghela nafas, ini desa memang sangat kering keronta, hanya ada beberapa pohon disini, salah satunya pohon yang ia duduki saat ini, paling besar kokoh dan rindang. Memang ini pohon untuk di daratan yang kering setahu Lingling. Baik Ling-Ling punya planning dalam satu tahun ke depan sebelum kembali ke keluarganya. Itung itung sembari melupakan andes kan.
Lingling melihat lagi anak anak yang sudah menghabisi buah dalam hitungan menit.” Anak anak apa kalian sudah kenyang?” Tanya Lingling.
Rupanya apa yang menurut Ling-Ling biasa saja menjadi luar biasa dan istimewa bagi orang lain.
Mereka menatap lingling dengan mulut yang sudah penuh dengan tanah dan juga bekas buah tadi.” Sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.” Ujar si anak kurus.
Lingling tersenyum.” Baik, saatnya kalian mengajakku untuk keliling desa dan menjelaskan apa saja yang ada di desa ini sebab aku adalah musafoir yang buta jalanan. “ ujarnya Lingling.
Anak anak menatap Lingling polos.” jadi kau bukan orang sini?”Tanya salah satu anak.
” Pantas saja aku tidak pernah melihatmu.” Ujar si anak berambut kriwil. Lingling tersenyum dan mengangguk. Anak anak ini..
" Jadi apa kalian mau mengantarkan ku keliling desa ini???" Tanya Linglung lagi pada mereka mengangguk.
" Ennn.. Tentu, tapi kami tidak punya air untuk berkeliling, berkeliling akan membuat kita haus nona. " Ujar yang paling kurus dan kriwil tadi menghela nafas.
Lingling menunjukan tabung minumnya. " Aku ada.. ayo " ujar Ling-Ling. mereka menatap Lingling kagum dan segera mengangguk menyetujui keinginan Ling-Ling...
.
.
__ADS_1
.
.