
Ayam sudah berkokok sejak tiga jam yang lalu, namun Vuang dan wulan masih lemah. Hanya saja mereka sedikit demis edikit merasa tenaga mereka memulih dan mereka bisa bicara meski hanya satu atau dua kata saja. Setidaknya mereka tidak bisu lagi. namun lagi dan lagi mereka harus menelan pil pahit jika mereka masih tidak bisa berjalan. Mereka lumpuh, mata vuang menatap monyet yang membawa buah-buahan dari luar dan Lien yang sibuk membereskan makanan dan juga masak didalam sini.
Wulanpun sama, mereka menatap kesini dengan nanar. Ruangan ini sungguh tak luas namun bisa-bisanya mereka muat dan nyaman dan bisa-bisanya monyet menurut. Ditambah diluar ada harimau yang membawakan daging untuk Lien masak. Sungguh keajaiban bagi mereka.
Tak lama setelahnya Lien membawakan makanan dengan Ubi yang direbus mengenakan bambu, lalu ada daging bakar dan juga buah-buahan yang ada saja.”Hmm ayo makan.. kalian butuh makan kan? Lihatlah kulit kalian keriput saking lamanya tak makan mungkin.”Ujarnya meringis kepada kedua manusia didepannya ini.
Keduanya mengerjab menaap Lien. Mereka masih tidak bisa menggerakkan tangan mereka. Lien menghela nafas dan mendekat.”Ku suapi saja yah.”Ujarnya.
Vuang dan Wulan menelan saliva kering menatap makanan makanan itu.. sungguh mereka sangat butuh makan. Lien menatapnya segera memberi mereka makanan dengan menyuapinya. Merekapun lahap makan makanan itu.. “Uh sabar-sabar jangan buru-buru.”Ujarnya Lien.
Lien meringis melihat Vuang yang makan dengan lahap bagai tak makan puluhna tahun dan Wulan yang juga begitu. Tubuh mereka sangat kurus bagai kurang gizi., sunguh penyiksaan macam apa yang mereka dapatkan? Ia menghela nafas.”Semoga Lingling baik-baik saja dan bisa kesini secepatnya memetiksa kalian yang lumpuh. Aku takut salah diagnosa jika melihat kalian begini.”Gumamnya melirik Wulan. Kan Wulan ahli obat-obatan.
Helaan nafas Lien terdengar lirih Disana memandang jauh kearah langit.”Bagaimana Lingling bisa berubah dalam waktu sesingkat ini? ia yang bodoh menjadi cerdas dan ia yang lemah menjadi kuat. dia yang lemot menjadi pintar. Dia terlalu mustahil untuk kita pikirkan bukan?”Tanyanya menghela nafas kepada Wulan dan Vuang.. Wulan berhenti mengunya. Benar. Dia bukan Lingling..!! tapi siapa? Jika ia benar benar bukan Lingling lantas kenapa dia mau membanbtu mereka? Itu menjadi tanda Tanya besar baginya. Sungguh..!!
...----------------...
Sedangkan Lingling? Ia duduk dengan lemah bersandar dipunggung kasur nya. Ia berekting ala manusia lemah padaha mah tidak ada apa-apanya, Andes sendiri? Ia menjadi sangat khawatir dan perhatian dengannya. “Ayo makan.”Ujarnya Andes dengan lembut pada lingliung yang didepanya.
“Suapin dong.”Ujar Lingling tersenyum manis.
Andes menatapnya sinis.”Yang luka dada kok tangan yang patah. Situ sehat?”Tanyanya dengan sinis.
Linglingpun menatapnya dengan tatapan memelas.” Tanganku tidak patah, hanya saja terlalu lemah untuk mengambil dan juga mengayuhnya.”Ujarnya lirih disana,.
__ADS_1
Andes disana mengusap kepalanya dan mendekat. “Besok aku harus Pulang. Kau ikutlah denganku.”Ujarnya Andes kepada Lingling.
Lingling terdiam mendenngarnya.”Pulang kemana? Bukannya ini rumahmu? Dan kenapa aku ikut? Kenapa aku tidak tinggal saja?”Tanya Liungling lalu menyomoti bakso yang ada disayur makanan itu.. Sebab bakso bakar itu sangat menggoda dimatanya saat ini.
Plak..”Kotor tanganmu itu bodoh.”Ujarnya Andes ketus. Lingling meringis dan mengibas-ngibas tangannya lirih.
Andes menghela nafas.”Jangan banyak Tanya. Ikut saja sebab kita harus menjelaskan dengan teman-temanku. Jika kita tidak ada apa-apanya.”Ujarnya lingling.
Lingling menatap Andes dengan tatapan lirih. “Makan,,”Ujar Andes mengajuhkan makanan dimulutnya Lingling.
Lingling menerinanya mencernah ucapan Andes juga. Ia menatap mata Andes dan bertanya.”Emangnya kita tidak punya hubungan yah?”Tanyanya Lingling.
Tangan Andes terhenti mendengarnya. Ia menatap Lingling dengan tatapan tak percaya,”Kau maunya kita punya hubungan apa?”Tanya Andes gugup.
Lingling memainkan tangannya dan melirik Andes yang menyembunyikan senyumnya.”Teman.. “Ujarnya. Andes yang tadi senyum sekarang menatapnya datar.
Ting... Lingling terdiam mendengar dentingan sendok dan piring yang begitru keras, Nampak Andes menatapnya sangat dingin membuat Lingling menghela nafas lagi.”Yah kita tidak ada hubungan apa-apa.. maaf terlalu berharapp.”Ujarnya Lingling polos. Telinga Andes semakin terbakar dibuatnya hingga jika diibaratkan film kartun maka akan ada asap yang keluar dari telinganya dan wajahnya yang memerah seperti tomat,.,
“Makan..!” Ujar Andes menyuapi Lingling kasar dengan ukuran makanan yang besar disendoknya, ditambah hanya berisikan nasi tanpa sayur. Lingling menerimanya kaget dan juga tak terima, namun Andes tak melihatnya, ia tetap memberikan nasi itu dengan cepat dengan tempo yang cepat pula.
Lingling menatapnya datar dan mengunya makananya pasrah, nasi disekitarnya sedikit berantakan dan membuat ia menghela nafas. Sialan memang Andes membuat dia banyak kerjaan saja. Ia memilih pasrah dan mengunya cepat,”Baksonya tolong, jangan nasi doang, enggak ada rasanya..”Ujarnya mengunya tak punya otak.
Ting..ting..ting... Andes memukul piringnya.”Is pecah nanti.”Gumamnya Lingling melihatnya sayang.”Kan sayang. Lihat piringnya cantik nanti pecah rugi tauk., pasti mahal ini.”Ujarnya mengusap piringnya ditangan Andes,
__ADS_1
Andes menghela nafas dan memberi piring itu kasar kepangkuan Lingling. Tidak peka...!
Lingling diam menatapnya polos. Andes disana menaikan satu alisnya dan berkata.”Kitakan tidak punya hubungan apa-apa, jadi kamu makan saja sendiri yah jangan minta bantuan ke saya,”Ujarnya disana datar dan menatap ke lain arah. Ia bangkit dan memilih pergi.
“Eh eh kok gitu si?”Tanya Lingling polos.
Andes pun meliriknya dan mengepalkan tanganya.”Kan tadi aku bilang teman kamu tak mau, bilang sahabat tak juga mau.. kamu tidak mau kenal aku kan? Jadi salahku apa? Memang salah kalo ngingatin takut piringnya nanti pecah?”Tanya Lingling dengan mata memelasnya,
“Salah.. kamu salah dan semuanya salah.”Ujarnya Andes tak suka dengan suara marahnya, “Gara-gara kamu saya dibilang tidak normal sampai saya harus disidang oleh Keyna besok, gara-gara kamu saya dibilang tidak waras dan gara-gara kamu saya harus merasakan jat—“ Ucapanya terdiam dengan tangan yang mengambang dilangit. Ia menghela nafas menatap wajah Lingling yang polos."Kamu tetap salah.”
Lingling menghela nafas mendengarnya.”Marah terus. Nanti cepet tua loh.”Ujarnya LIngling nanar.
“Bodoh.”Ujarnya Andes malas dan memilih duduk dikursi disana.
Lingling pun meliriknya dengan delikan,”Nanti jika cepet tua kamu tidak laku loh.”Ujarnya Lagi.
“Bodo.”ujarnya lagi.
lingling menghela nafas dibuatnya. Hingga Plas... Andes kaget ketika Lingling membuang piringnya tadi. “Biar pecah sekalian. Marah Cuma gara-gara pirng. Bodo.”Ujarnya dengan malas dan memilih tidur berbaring lagi.
Andes terdiam melihatnya nanar. Lingling pikir ia marah hanya gara-gara Lingling melarangnya merusak piring? Sialan.. tanganya terkepal dibuatnya hingga nanar. Sungguh,
.
__ADS_1
.
Maaf yah. aku sibuk jdi aku upnya kapan aku ada waktu. Bukan ga mau cuma yah gimana yah, maaf yah