
Muncul senyum manis dari sudut bibir Nadia, "makasih om," kemudian ia berlari kecil dengan senangnya menuju kamar seperti mendapat sebuah hadiah.
Ibra hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan gadis itu, dia benar-benar seperti anak kucing, gumamnya pelan.
"Siapa dia Ibra, kenapa ada dia di sini ???"
"Kamu nggak perlu tau siapa dia, sebaiknya kamu pergi ini sudah malam," ucap Ibra.
"Nggak mungkin aku pergi sedangkan gadis kecil itu ada disini honey, aku bakal nemenin kamu malam ini ya," ucap wanita itu.
"Cukup Bel, jangan bersikap kekanakan seperti ini, ini sudah malam aku butuh istirahat," ucap Ibra lagi dengan tatapan malas.
"Tapi dia siapa sayang, kenapa dia boleh menginap di rumah ini sedangkan aku tidak," tanya wanita bernama Bella lagi.
"Dia anak teman mommy yang akan tinggal di sini sementara, jadi jangan mengkhawatirkan apapun okey ?" ucap Ibra sedikit lembut.
"Baiklah, tapi aku merasa tidak suka dengan gadis kecil itu, dia terlihat sangat menjengkelkan," tambah Bella.
"Perempuan mana yang kau suka ketika ia dekat denganku, kurasa tidak ada," jelas Ibra sambil membelai lembut rambut Bella yang masih berada di pelukannya.
"Hehe kau sangat mengerti aku," tambah Bella sambil mengecup pipi Ibra singkat.
"Segeralah pulang, kabari aku jika sampai," ucap Ibra yang hanya di balas lambaian tangan oleh Bella.
Ketika Bella sudah menghilang dari pandangannnya, Ibra segera melepas baju dan mencuci pipinya dengan air di wastafel dapur, bibi Audrey yang mengetahui tuan mudanya sedang berada di dapur dengan tubuh bagian atas telanjang sedikit terheran.
"Apa yang anda butuhkan tuan muda, anda bisa memanggil saya atau pelayan yang lain," tanya bibi Audrey.
"Tubuh wanita itu sudah disentuh oleh banyak pria, aku tidak ingin mengotori tubuhku karena sudah bersentuhan dengannya. Nanti jangan biarkan dia keluar masuk rumah ini dengan seenaknya." ucap Ibra tegas dengan masih menggosok bekas bibir Bella di pipinya dengan air kran hingga kulit pipi itu memerah.
"Siap laksanakan tuan muda." ucap bibi Audrey semangat, ia juga tidak menyukai wanita itu.
***
Kamar Ibra
Ibra menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan tubuh gagah dan six pack yang tetap terbuka, ia meraih telfon genggam yang sebelumnya ia lempar sembarangan di atas ranjang, tangan itu masih meraba permukaan seprai untuk mencari benda kecil ajaib itu.
Hingga benda mungil itu sudah berada di telapak tangannya ia segera mencari nama Sakti di deretan kontaknya yang tidak memiliki terlalu banyak nama yang bisa ia hubungi.
__ADS_1
"Iya tuan," sahut Sakti segera setelah menerima panggilan ibra.
"Bagaimana?" tanya Ibra.
"Tuan besar sendiri yang memilih memberi mereka pelajaran karena sudah menghina nona muda," ucap Sakti memberi penjelasan.
"Apa yang daddy lakukan ?"
"Sejauh yang saya amati hingga saat ini beliau sudah menarik semua dana yang diinvestasikan kepada beberapa perusahaan milik orang-orang yang sudah menghina nona muda," jelas Sakti lagi.
"Hahaha, Tentu daddy akan marah menantu pilihannya dipermalukan seperti tadi, mereka wanita-wanita yang kurang beruntung karena mencari masalah dengan orang yang tidak tepat" seringai puas muncul di sudut bibir Ibra.
"Beliau sangat marah bahkan kepada nyonya besar tuan," ucap Sakti lagi.
"Mommy bisa mengatasi daddy, kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka, segera urus Bella dia sudah berani datang keluar masuk rumahku," ucap Ibra tegas.
"Nona Bella ?" tanya Sakti heran, pasalnya ia sudah memblokir akses wanita ular itu untuk masuk negara ini.
"Hancurkan saja karirnya," ucap Ibra singkat.
"Baik tuan muda, segera dilaksanakan," ucap Sakti.
Ibra memaksa beranjak dari kasur berukuran kingsize itu agar tidak membuatnya semakin malas dan memilih beristirahat, ia mengambil baju dan menuju ruang kerja untuk mempelajari kondisi perusahaan pada laporan yang sudah dikirim sekertarisnya via email. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam pada saat Ibra memasuki ruang kerja, ia hanya fokus bekerja dan bekerja.
***
Kamar Nadia
Nadia terbangun karena perutnya yang tidak diisi makanan sejak pagi mengeluh minta makan, ia mengerjap-kerjapkan matanya untuk segera memperoleh kesadaran, "Ahh aku sangat lapar, bagaimana aku bisa sampai lupa makan," ucapnya sambil mengelus-elus perutnya.
Nadia beranjak dari atas ranjang, dengan hati-hati ia berjalan mencari sakelar lampu kamarnya yang saat ini gelap gulita, "perasaan tadi tidur gak matiin lampu, kenapa sekarang bisa mati kayak gini, mana nggak tau sakelarnya ada dimana lagi, kok bisa oon gini sih," ucapnya dengan tangan yang masih meraba-raba tembok mencari sakelar lampu.
"Ahhh bodo ah, yang penting keluar dulu, harus nyari pintu," ucapnya lagi.
Gedabrukkk
"Awwww,,,," rintih Nadia yang sudah terjatuh di lantai kamarnya.
Ibra yang sedang berjalan dari dapur untuk mengambil air putih berada tak jauh dari kamar Nadia, ia segera bergegas menuju kamar Nadia ketika mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar tersebut. Ibra memutar gagang pintu dan membuka pintu kamar perlahan.
__ADS_1
Gelap
Ibra segera menyalakan sakelar yang ada di kamar itu dan melihat Nadia yang sudah duduk manis di bawah sambil memegangi lututnya.
"Apa lagi yang kau lakukan gadis kecil, kau selalu membuat kegaduhan," ucap Ibra masih dengan menatap Nadia yang merintih kesakitan.
"Cepat berdiri, mau selamanya ada disana ?" ucap Ibra kasar tanpa berkeinginan memberi bantuan.
Nadia segera bangkit, ada sedikit nyeri di pergelangan kakinya namun ia berusaha menahan agar Ibra tidak semakin marah, Om ini selalu marah, aku harus diam agar tidak membuatnya semakin marah, batin Nadia.
"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan ?"
"Nadia lapar om, hehe tapi nggak ketemu sakelar lampu," ucapnya sambil meringis mengingat kebodohannya.
"Dasar bodoh," ucap Ibra lagi
"Hehe," ucap Nadia dengan menggaruk-garuk tengkuk kepalanya yang tak gatal.
"Cepat makan dan tidur, ini sudah malam," ucap Ibra yang kemudian menghilang begitu saja.
"Huft aku selalu saja membuatnya kesal, kapan dia akan tersenyum melihatku, wajahnya datar-datar saja," ucapnya setelah Ibra menghilang dari hadapannya.
Nadia berjalan dengan sedikit tertatih, menuruni anak tangga dengan pelan agar tidak semakin menyakiti kakinya lagi dan membuat gaduh rumah ini, ia sudah sampai di dapur namun sayangnya tidak terlihat makanan sama sekali disana.
"Aku harus makan apa, rasanya sudah tidak bisa ditahan lagi," ucapnya dengan tangan yang masih membuka tutup beberapa lemari guna mencari sesuatu yang bisa ia makan.
Ibra memperhatikan Nadia dari kejauhan, laki-laki itu tidak meninggalkan Nadia begitu saja rupanya, dia seperti pencuri kecil.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1