Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Just Love


__ADS_3

"Bagaimana ?" tanya Ibra yang baru saja tiba di lokasi yang terdeteksi, sudah ada banyak sekali orang-orang nya yang tersebar di daerah itu, baik yang berada di bawah kendali Rafael, maupun dari Cyber.


"Kami masih kehilangan jejaknya tuan muda,"


"Kalian sudah sebanyak ini tapi masih kehilangan jejak seorang wanita hah?" ucap Ibra marah dan membanting sebuah botol air mineral yang berada di genggamannya.


"Maafkan kami tuan," ucapnya.


"Ini sudah setengah jam berlalu, semakin lama kalian membuang waktu akan semakin kecil kemungkinan kita mendapatkannya, segera sisir semua tempat ini, jangan sampai ada sela yang bahkan tikus pun bisa lolos," geram Ibra pada mereka.


"Akhh," rintih Ibra dengan memegang dadanya dengan tangan kanan, kemudian menyuruh beberapa orang di depannya untu pergi dengan lambaian tangan kirinya.


"Tuan muda,"


"Jangan berbicara padaku ! aku tidak ingin mendengarmu saat ini !"


Sakti menutup rapat mulutnya setelah mendapat bentakan Ibra, namun laki-laki itu tetap mengawasi pergerakan tubuh Ibra, beberapa kali Ibra mengehembuskan nafas berat, keringat sudah membasahi dahi laki-laki tampan itu, sesekali tangannya menyentuh dada yang semakin terasa sesak, hal ini pasti terjadi pada Ibra jika sudah berhubungan dengan Abraham dan Anna.


"Perasaan bersalah benar-benar menggerogoti tubuh anda tuan muda, anda selalu kesakitan seperti ini jika menyangkut tuan Abraham dan nona Anna," 


"Anda masuk ke dalam mobil terlebih dulu tuan muda, saya berjanji akan menemukan nona Anna," ucap Sakti.


"Cari dia, sudah bertahun-tahun kita mencari dia, aku tidak ingin gagal lagi," ucapnya kemudian masuk ke dalam mobil meninggalkan Sakti yang masih berdiri di luar.


Sakti memasang earphone di telinganya dan mencoba menghubungi Rafael yang kini sedang bersama Nadia. Rafael adalah rajanya dalam hal ini, seperti dirinya Rafael juga sangat ingin menemukan Anna, ia sangat yakin alasannya tidak ikut bergabung kali ini bukan hanya Cyber.


"Mereka masih belum menemukan Anna ?"


"Tolong lacak sekarang, tuan muda sudah sangat marah, kita tidak bisa membuatnya merasa emosi berkepanjangan dengan trauma yang dimiliki tuan muda,"


"Huft, gua coba lacak sekarang."


"Ku tunggu informasinya,"


"Ada Arya di sana, dia kaki tangan yang paling gue andelin, sementara lu coba ngomong sama dia,"

__ADS_1


"Oke."


Rafael adalah orang yang sangat ahli dalam strategi setelah Ibra, namun kondisi Ibra yang mudah meledak di tambah trauma yang di alaminya membuat kemampuan ini beberapa kali tidak bisa di maksimalkan. Jika Ibra adalah seorang jenius di bidang bisnis industri, Rafael sangat jenius di bidang IT, semua tentang teknologi informasi di libas habis olehnya, itu yang menyebabkan kehancuran keluarganya beberapa tahun lalu.


Delta Internasional sangat khawatir akan munculnya sosok Rafael yang masih remaja, karena di usia yang masih terbilang sangat belia ia seorang diri bisa mengalahkan sistem keamanan Cyber yang saat itu di bawah kendali Delta Internasional secara keseluruhan. Tak hanya itu, Cyber merupakan pintu gerbang di balik kesuksesan nama Delta Internasional, karenanya akan sangat mengkhawatirkan jika ada orang yang mampu mengalahkan sistem keamanan Cyber.


Jenius strategi dan penguasa IT di takutkan akan menjadi ancaman Delta Internasional kedepannya, sehingga menghabisi mereka sejak awal akan mempermudah langkah mereka nantinya dalam mengembangkan sayap bisnisnya.


Sakti masih mengomando beberapa orang untuk mulai pencarian dengan sangat ketat dan menggunakan prosedur yang menurutnya paling cepat, beberapa orang sudah mulai bergerak melakukan instruksi Sakti, puluhan drone sudah mulai bergerak dan melayang di udara mencari titik-titik lokasi yang sulit di jangkau, tak hanya itu, beberapa kamera kecil berbentuk seperti ukuran lalat juga sudah mulai bergerak kesana kemari.


Yups, itu adalah salah satu hasil karya Rafael yang dibuatnya beberapa tahun yang lalu ketika memulai bekerja sama dengan Ibra dan Sakti, itu sebabnya ia meminta Sakti untuk menemui Arya tadi, untuk menggunakan alat tersebut.


Beberapa menit berlalu, semua masih bergerak menurut porsi dan posisinya masing-masing, begitu juga dengan Ibra, laki-laki itu masih berada di dalam mobil dan mencengkram dadanya dengan keras, rasa sesak dan sakit di dadanya sungguh tidak bisa di ajak kompromi di saat-saat seperti ini, beberapa rintihan berhasil lolos dari bibirnya, keringat tak kunjung reda menetes dari dahi dan sekujur tubuhnya hingga membasahi kemeja yang ia pakai.


"Kalian berdua benar-benar tega meninggalkan aku dalam keadaan tersiksa seperti ini, kenapa tidak membawaku pergi bersama kalian saja," gumamnya dengan peluh.


Tangannya meraih obat yang selalu ada dan tersedia di setiap mobil yang ia gunakan, tak hanya satu, beberapa kapsul obat sudah berhasil melewati tenggorokannya saat ini, itu adalah obat penenang anti depresi yang di berikan oleh Luna. Tentu saja bukan Luna yang meresepkannya, Luna sudah berkonsultasi dengan ahli spesialis untuk kasus kesehatan Ibra, namun karena Ibra sangat sulit percaya dengan orang lain, jadilah Luna yang harus di buat repot dengan tingkah sahabatnya itu.


***


"Bang nggak mau lagi kah ?" tanya Nadia.


"Gua udah kenyang banget liat lu makan tuh es krim," jawabnya.


"Enak banget bang," tambahnya berbinar-binar dengan mulut yang masih menikmati es di tangannya.


Drrt drtt


"Sakti...?" gumam Rafael pelan.


"Kenapa bang ?" tanya Nadia namun tidak mendapat jawaban dari Rafael.


"Huft, mereka pasti kesulitan, gua yang udah nyari bertahun-tahun aja masih belum nemu jalan, apalagi mereka, Delta group memang istimewa kalo nyembunyiin sandera," 


"Mereka masih belum menemukan Anna ?" tanya Rafael pada sakti di balik layar.

__ADS_1


"Tolong lacak sekarang, tuan muda sudah sangat marah, kita tidak bisa membuatnya merasa emosi berkepanjangan dengan trauma yang dimiliki tuan muda,"


"Huft, gua coba lacak sekarang."


"Sesuai dugaan gua, ini tidak semudah itu, gua masih nggak percaya Cyber,"  batin Rafael.


"Ku tunggu informasinya," ucap Sakti lagi.


"Ada Arya di sana, dia kaki tangan yang paling gue andelin, sementara lu coba ngomong sama dia,"


"Oke."


Rafel mengambil sebuah Earphone di telinganya yang baru ia pakai ketika mendapat panggilan telfon dari Sakti, kemudian laki-laki itu melihat ke arah Nadia.


"Kalo Anna balik apa yang bakal lu lakuin ?"


"Hah ? Uhmmm....." pikir Nadia.


"Nadia bakal melakukan apa yang harusnya di lakukan dong, Nadia sama om Ibra kn cuma nikah kontrak bang," jawabnya.


"Kalo lu harus pisah sama Ibra ?"


"No problem, lagian ada atau nggak adanya nona Anna Anna itu Nadia juga pasti bakalan cerai sama om Ibra sesuai perjanjian bang, jadi lebih cepat atau lebih lambat nggak akan mengubah apapun," ucapnya dengan senyum.


"Perasaan lu ?"


"I'ts just love bang, om Ibra nggak perlu cinta aku juga,"


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2