Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Keributan Nadia


__ADS_3

"Aku akan tidur bersamamu malam ini," teriak Anna pada Ibra yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


"Anda akan tidur di tempat yang sudah di sediakan nona, mohon untuk tidak melewati batas," ucapnya tegas dengan nada suara sedikit tinggi.


Ibra masih tidak menghiraukan Anna yang masih saja meneriaki nya, "Aish, dia benar-benar mengganggu kedamaian rumah ini, aku harus segera masuk ke dalam kamar,"


"El.... El..... " teriak Ibra memanggil bala bantuan.


"Ibra tunggu aku, biar Nadia saja yang tinggal di kamar itu, dia harus memberiku kesempatan untuk kembali dekat dengan kamu juga," teriak Anna lagi dengan Sakti yang masih berjalan menghentikannya.


"Wait, wait," hadang El yang lebih dulu datang di depan pintu kamar Ibra.


"Minggir, kamu cuma babu, nggak punya hak apa apa di rumah ini," ucap Anna ketika El menghadang di depan pintu kamar Ibra dan Nadia.


"Mau house tour nggak ?" tanya Rafael percaya diri, meskipun sebenarnya Rafael benar-benar sangat malas berurusan dengan perempuan ular yang ada di depannya itu.


"Gak sudi."


"Pernah dengar nama gua nggak? Ra.. fa... El... A.. di... wi... ja... ya." ucap Rafael kemudian.


Kening Anna berkerut, dia teringat sesuatu, "Rafael Adiwijaya ? bukankah oma bilang Rafael adalah orang yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis Ibra dengan sekali jentikan jari ? lalu kenapa dia ada di sini ? Ibra bisa bekerja sama dengan orang yang jelas-jelas bisa menghancurkan nya kapan saja ? apa yang terjadi ?"


Rafael mendekatkan kepalanya tepat di telinga Anna, "gua bisa buat hidup lu hancur tanpa sisa, mau coba?" tanyanya lagi dengan senyum menyeramkan mulai muncul di wajah tampan milik nya.


Anna mematung tidak berani berkata-kata lagi, sedangkan Sakti berjalan menjauh memberi kesempatan pada Rafael untuk memberi l


pelajaran pada perempuan menyebalkan itu.


Setelah perdebatan kecil karena Anna ingin berada di kamar yang sama dengan Ibra, akhirnya perempuan itu menyerah dan menerima untuk tidur di kamar yang di pakai Sakti sebelumnya, tentunya setelah mendapat sedikit ancaman dari Rafael.


***


"Huft hampir aja, Aish nyari dia lima tahun hanya berujung seperti ini," gerutunya kemudian menarik simpul dasi yang masih bertengger rapi di kerah kemeja yang di pakainya.


Ibra berjalan ke kamar mandi setelah mengambil baju yang sudah di siapkan oleh Nadia untuknya di atas ranjang.

__ADS_1


Hampir setengah jam Ibra berada di dalam kamar mandi, ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana navy selutut dan kaos oblong berwarna putih miliknya.


Dengan rambut basah laki-laki itu mendekat ke arah Nadia yang sedang berdiri di dekat balkon kamar mereka.


"Udah mandi ?" tanya Ibra.


Nadia menoleh ketika merasa ada seseorang yang mendekati tubuhnya, "argh om ternyata, udah tadi mandi di bawah," jelas Nadia.


"Kenapa nggak nunggu aku, kamu selalu mandi di tempat lain," ucap Ibra lagi, kemudian laki-laki itu menarik sebuah kursi di sana, kemudian mendaratkan tubuhnya di sana.


"Biar om nggak keburu-buru," ucapnya masih menatap Ibra dengan intens, dengan tubuh bersandar pada tepi pagar balkon.


"Kenapa ? semua orang udah tau ketampanan dan kecerdasanku, kamu nggak perlu memujiku karena itu," ucap Ibra percaya diri.


"Hedeh om, sombong amat, masih kalah ganteng sama peliharaan bang Sakti noh, ha ha ha," jawabnya kemudian tak mau kalah.


Ibra melihat Nadia yang masih tersenyum dengan ucapan yang sebenarnya tidak lucu, "kenapa ambil resiko buat ngasih Anna tinggal di sini ?" tanya Ibra.


Pertanyaan Ibra benar-benar membuat Nadia bungkam seketika, tak lama gadis itu tersenyum, "kan Nadia udah bilang tadi om, ini untuk menghargai diri Nadia sendiri," jelasnya.


"No, no, justru itu kecerdasan Nadia om,"


"Itu cuma buktiin kebodohanmu," tegas Ibra.


"Buat apa kita menghabiskan waktu seumur hidup bersama seseorang yang sama sekali nggak mencintai kita, rugi kan? hidup cuma sekali ini,"


Kening Ibra berkerut, "jadi ?"


"Buat bahagia om, kalo pernikahan ini nggak bisa bikin kita, atau salah satu dari kita bahagia lalu apa yang kita cari, ini cara Nadia memerdekakan hati dan pikiran Nadia om,"


"Selama ini, semua wanita selalu ingin dekat denganku, mereka bahkan menghalalkan segala cara agar bisa memiliki hubungan pribadi denganku, tapi sepertinya itu nggak pengaruh apa-apa untuk gadis kecil sepertimu, cepat besar dan jangan terlalu polos, dunia tidak semudah yang kamu bayangkan," ucap Ibra mengacak-acak rambut Nadia yang baru saja duduk di sampingnya.


"Om udah banyak ngasih bekal Nadia,"


"Tetap kurang, dunia benar-benar kejam saat ini," ucapnya lagi kemudian berdiri dan naik ke atas ranjang.

__ADS_1


"Cepat tidur, ini sudah malam,"


"Hah, ini masih jam 9 malam om, Nadia bahkan belum program ulang virus yang tadi, ada banyak kelemahan kata bang El," ucap Nadia, namun kakinya tetap menuju juga ke atas ranjang, hahaha.


"Jangan Naisara, aku tidak ingin terjerat kasus hukum karena memiliki istri seorang peretas," ucapnya dengan memejamkan mata.


Nadia menata dua guling yang menjadi pembatas tidur mereka seperti biasanya, "biarkan saja, aku lelah sekarang, Anna membuatku pusing, aku butuh vitamin," ucapnya kemudian menarik tubuh Nadia ke dalam pelukannya.


Deg deg deg


Suara detak jantung Ibra terdengar sangat jelas di telinga Nadia, "om Ibra akhir-akhir ini suka sekali menarik dan melakukan ini," batin Nadia.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak, tidurlah ini sudah malam,"


Nadia berdiri, "kok om bisa tau semua yang Nadia ucapin dalam hati sih," ucapnya tidak Terima.


"Wajahmu terlalu mudah di baca, belajar untuk bersikap tanpa ekspresi, benar-benar masih bocah," ucapnya lagi.


"Nadia nggak bocah om,"


"Gacil....itu yang cocok," ucap Ibra lagi.


Nadia mencibir Ibra yang masih enggan membuka matanya, padahal Nadia sangat yakin bahwa suaminya itu masih belum mengantuk.


Nadia hendak membuka suara, namun tangannya kembali di tarik paksa oleh Ibra, "diam lah, jangan banyak bergerak, ini sudah malam," ucap Ibra lagi.


"Om.. "


"Tutup matamu dan tidurlah," ucap Ibra lagi, tak lama tangan laki-laki itu bergerak mematikan sakelar lampu di dekat meja tidurnya.


"Om bahagia nggak nikah sama Nadia," tanyanya lagi, dia benar-benar tidak bisa diam malam ini.


"Dasar bocah, dia benar-benar tidak bisa diam,"


"Om.... om.... om.... " panggil Nadia pelan dan sedikit mengguncang tubuh Nadia.

__ADS_1


__ADS_2