Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Perasaan Sakti


__ADS_3

Sebuah ruangan besar bernuansa putih dengan kombinasi warna kayu memenuhi seluruh ruangan, ruangan dengan desain klasik dengan ukiran-ukiran rumit terlihat mencolok di beberapa tempat, tanpa di persilahkan oleh si empunya ruangan, Ibra duduk di atas sofa tepat di depan sebuah meja besar.


Laki-laki itu tanpa sungkan mengambil sebuah apel dan pisau yang berada di atas meja dengan santainya tanpa mempedulikan tatapan mata pemilik ruangan yang sedari tadi memperhatikan gerakan tangannya dalam mengupas apel.


"Sudah berapa lama tidak datang kesini dan menemui oma Ibra? kau tau benar yang oma lakukan semuanya adalah untukmu, tapi oma nggak bisa membayangkan kau akan menentang oma dengan sikap keras kepala yang di turunkan Attar padamu," ucapnya pelan pada Ibra sebelum berjalan dan duduk di sofa tepat di depan sofa yang Ibra duduki.


"Aku tidak pernah meminta menjadi penerus oma, aku tidak meminta bantuan oma dalam hal apapun di hidupku, aku juga tidak menginginkan semua ini, cukup jadi oma yang selalu menyayangi dan memanjakan ku seperti dulu, karena yang oma lakukan sekarang bukan membantuku, tapi menghancurkan ku,"


''Ini terbaik untukmu Ibra.... " ucapnya dengan mulai meninggikan suaranya.


"Bukankah oma mempertahankan Delta Internasional untuk melindungi keluarga oma? keturunan-keturunan oma? lalu jika oma membunuh semua cucu dan bersikap seperti ini, untuk apa Delta? siapa yang harus oma lindungi jika sudah tidak memiliki keluarga," tegasnya tanpa basa-basi.


"Ibra.... tinggalkan gadis itu, dan menikah dengan Anna, semua ini akan menjadi milikmu segera,''


"Dia bahkan sudah tidur dengan asisten yang biasanya mengikutinya, barang bekas seperti itu masih saja oma berikan padaku, pasti perusahaan cacat yang nantinya juga akan oma beri padaku,"


"Jika kau bersedia menikah dengannya sekarang, oma akan mengkonfirmasi namamu saat ini juga,"


Ibra beranjak dengan masih menatap dalam mata oma, "Ahhh aku sudah merindukan istriku oma, aku pergi dulu, dan ingat jangan menyentuhnya oma, karena kali ini aku tidak akan diam seperti sebelumnya, oh iya, dan Rafael....laki-laki itu, cepat atau lambat ia akan memperhitungkan masalah oma yang sudah mengubah identitas adiknya," senyumnya sebelum pergi.


Terlihat semburat kecemasan di wajah tuanya itu, "ini bukan seperti yang aku inginkan.... tidak boleh seperti ini... " pikirnya.


"Ibra..... "


"Ibra...... "


"Argghhh," geramnya melempar semua benda yang berada di atas meja.


"Nyonya.... "


"Cambuk wanita itu, dia benar-benar membuatku kesal, dan Ragan......dia sudah mengkhianati ku dengan tidur bersama Anna,"


***


Nadia masih tidak beranjak dari tempatnya, ia bersikeras menunggu Ibra di luar mobil, kakinya bergerak mondar mandir karena khawatir Ibra tak kunjung keluar.


"Sebaiknya kita pulang terlebih dulu nyonya, ini adalah perintah tuanku," ucap Aga cemas jika Ibra akan marah padanya karena tidak patuh.

__ADS_1


"Pulang kemana pak? rumahku bersama suamiku, kemana aku harus pulang jika dia tidak ada bersamaku," jawab Nadia.


"Tapi nyonya... "


"Sudah cukup, kita tunggu mas Ibra datang, setelah itu kita pergi bersama," tegasnya.


Jawaban Nadia yang cerdik itu membuat Aga tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengiyakan dan menjaga Nadia selama Ibra belum datang.


Di kejauhan terlihat Anna yang sudah rapi dengan busana selutut berwarna merah yang sangat pas ia kenakan, Nadia masih sibuk melihat pintu utama menunggu Ibra keluar dari pintu itu, namun belum kunjung datang.


"Argh...... argh...... " teriak Nadia sedikit keras karena ada yang menarik rambutnya dengan keras.


"Argg...... " teriaknya tertahan ketika Aga dengan wajah garangnya mendekat dan menarik balik rambut wanita yang sudah menyakiti nyonya mudanya.


"Awwwwwwww........ kau kurang ajar... ''racau Anna ketika rambutnya di tarik sangat keras oleh Aga.


"Jangan mengganggu orang yang ku layani," bentaknya.


"Kau melayani Ibra, aku nyonya Ibra, bukan dia!!! " ujarnya keras dengan mengelus kepalanya yang masih terasa sakit.


"Anda tidak apa-apa nyonya... " tanya Aga pada Nadia yang masih berdiri menatap Anna.


"Karena dia hanya untukku, hanya milikku,"


Nadia tersenyum senang, "dia sudah mejadi milikku, dan apa yang sudah menjadi milikku, sebelum aku merasa bosan maka tidak akan ada yang bisa memilikinya,"


"Hahaha..... " Anna tertawa mengejek dengan ucapan yang keluar dari mulut Nadia.


"Jangan karena kau sudah menjadi istri Ibra lalu kau bisa mengklaim dirinya seperti itu, karena Ibra adalah kemewahan yang terlalu sempurna untuk di miliki siapapun, jangan sombong," ejeknya.


"Cukup nona, jaga bicara anda sebelum tuan datang dan merobek mulut yang tidak punya sopan santun itu," ucapnya.


"Toh Ibra belum mengatakan bahwa dia mencintaimu, semua bisa berubah tanpa kau sadari gadis kecil, dunia tidak seindah yang kau bayangkan," ucapnya.


"Dunia emang nggak seindah yang dia bayangkan, tapi juga nggak seburuk yang lu bayangin Anna," ucap Rafael yang berjalan mendekat ke arah mereka dengan Sakti di sampingnya.


"Dan gua, gua nggak akan biarin dia menderita se.... di... kit...pun... " jelasnya.

__ADS_1


"Kenapa kalian semua bisa berada di sini, ini bukan tempat yang kalian bisa keluar masuk sesuka hati kalian, penjaga.... penjaga.... " teriak Anna.


"Iya non.... "


"Bawa mereka keluar, aku tidak ingin melihat mereka semua di rumah ini mulai sekarang," perintahnya.


"Ta... tapi non... "


"Kalian berani membantahku.... aku pemilik rumah ini," sombongnya.


Penjaga tidak berani mendekati empat orang yang ada di sana, terlebih Nadia, berita ancaman Ibra sudah menyebar di seluruh istana ini, mereka bahkan takut menyentuk seujung kuku tubuh Nadia, namun mereka juga tidak berani membantah Anna.


"Argh...... " teriaknya keras, penjaga itu benar-benar merasa kesakitan.


"Kau berani menyentuh adikku hah?" ucap Rafael yang baru saja mematahkan lengan seorang penjaga yang hendak menyentuh Nadia.


"Abang..... abang berhenti," cegah Nadia panik.


"Nggak akan ada ampun untuk orang yang berani mengganggumu, termasuk dia... '' tunjuk Rafael pada Anna.


Ibra yang sedari tadi mengamati keadaan di balik pintu tersenyum puas melihat kejadian yang ia lihat saat ini, " Rafael... untuk pertama kalinya kau bertindak gegabah dan tidak berfikir lebih dulu, tapi aku merasa puas melihatnya,"


Sebelum Rafael bertindak lebih jauh, Ibra memutuskan untuk keluar, "kalian sudah datang?" ucapnya dengan santai melihat mereka semua bergantian.


"Tuanku.... "


"Tuan muda... "


Sakti dan Aga menunduk hormat seperti biasa ketika Ibra datang, berbeda dengan Rafael yang masih dengan tatapan membunuhnya melihat ke arah Anna.


"Mas... abang El... " lirih Nadia menatap Ibra penuh arti.


"Ibra... Laki-laki kurang ajar itu menarik rambutku, " adu Anna mendekat dan merangkul lengannya dengan cepat.


Bukannya menghindar, Ibra hanya menoleh pada Sakti dan berkata, "Sakti..."


"Iya tuan muda,"

__ADS_1


"Aku masih berbaik hati padanya karena mempertimbangkan perasaanmu, beritahu padaku jika nanti kau sudah tidak mencintainya, aku yakin Rafael sudah tidak bisa sabar lebih banyak lagi," ucapnya yang mana membuat semua orang di sana melongo tak percaya.


__ADS_2