
Nadia hendak bergerak mengejar Rafael dan memukul laki-laki itu lagi, namun Ibra segera mendekat dan memeluknya.
"Berhenti Nadia, jangan bergerak berlebihan, itu akan membuat anak kita merasa tidak nyaman, calm oke... calm... calm... " ucap Ibra berusaha menenangkan.
"Tapi abang El akan membuat orang tua kita berdua mendapat siksaan karena sikap dan perilaku abang ini, bagaimana Nadia bisa diam mas?" ucapnya di pelukan Ibra.
Ibra masih menatap tajam Rafael dengan masih tidak melepaskan Nadia dari pelukannya, "aku akan membunuhmu setelah ini, dasar bocah tua," ucapnya dengan melotot karena sudah membuat istrinya seperti ini.
Dipelototi oleh Ibra seperti itu membuat Rafael bergidik sendiri, ia langsung saja bergerak menuju pintu hendak keluar dan kabur dari suasana ini.
Namun dor.
Sebuah tembakan lolos begitu saja dari pistol milik Ibra yang baru saja ia arahkan ke atas, "selangkah lagi kau berani melangkahkan kaki, aku benar-benar akan menembakkan peluru ini tepat di kakimu," ancam Ibra tidak main-main.
Rafael yang mendengar suara tembakan itu sudah berkeringat dingin, perlahan membalikkan tubuhnya, ia masih melihat Ibra dengan Nadia di pelukannya dan tangan kanan menodongkan sebuah pistol ke arahnya.
"Ibra jangan main-main sama pistol itu, ah bukankah itu adalah jenis terbaru yang bahkan badan intelijen negara ini tidak memilikinya? hehe peluru itu bisa langsung meleleh dalam tubuh gua sekali lu nembak, gua masih nggak mau mati sekarang hehe," ucapnya basa-basi mencoba meluluhkan Ibra.
"Mas Ibra... " ucap Nadia yang juga ikut gemetar ketakutan di pelukan Ibra, ini pertama kalinya ia melihat Ibra dengan sebuah pistol di tangannya.
"Siapa dia?" tanya Ibra pada Rafael.
"Gua juga nggak tau, gua cuma denger dia mau dekat dengan Sakti," jelas Rafael.
"Dia suka dengan Sakti lalu kenapa kau yang berhubungan dengannya," bentak Ibra lagi.
"Kenapa jadi membawaku dalam hal ini, saya tidak pernah mengenalnya tuan muda, saya tidak melakukan apapun," ucap Sakti yang masih tidak tau apapun dengan apa yang di katakan Rafael.
"Lanjutkan Rafael,"
"Lah kan Sakti sibuk ngurus lu waktu itu, dari pada nanti fokusnya keganggu terus kan efeknya malah lu nggak sadar-sadar kan dari koma, jadi ya udah gua sikat aja, toh lebih ganteng gua kemana-mana dari pada dia, harga diri gua turun dong kalo Sakti yang dapet cewek cantik kayak dia, dia juga nggak keberatan, malah kelepek-klepek dan milih tidur bareng gua di sini," tambahnya dengan jelas.
"Astaga El," ucap Sakti memijit pelipisnya mendengar penuturan Rafael, yang ia tahu Rafael tidak akan melakukan ini sebanyak apapun wanita yang ia kencani.
Semua orang di sana tidak percaya dengan ucapan Rafael, Rafael memang sering berganti wanita, namun tidak tau jika sampai sejauh ini.
__ADS_1
"Nadia kecewa sama abang," ucap gadis kecil itu kemudian meninggalkan kamar Rafael yang mana justru makin meninggalkan keheningan di sana.
"Huft... nggak akan ada lagi kejadian seperti ini kedepannya, ini yang terakhir El, jangan membuat masalah dan mulai jadi anak baik," tegas Ibra.
"Nggak ada jam malam, nggak ada sex bebas, nggak ada party selain urusan bisnis, catat itu," ucap Ibra pada semua orang yang ada di sana.
"Termasuk Luna, semua orang yang ada di sini harus mengikuti aturan yang baru saja ku ucapkan," tambah Ibra yang melihat Luna baru saja mendekat ke arahnya.
"Ada apa nih? kok gua baru dateng udah di ikut-ikut in ?," Tanyanya yang ketinggalan berita.
Bukan menjawab, Ibra malah keluar dari kerumunan orang itu dan berjalan menuruni tangga menuju kamarnya dan Nadia.
"Ada apa sih, Ibra masam gitu mukanya," tanyanya lagi yang semakin penasaran.
"Udah lu balik sono, tidur, anak bayi nggak boleh tidur malam malam," tambah El sambil menyentil kepala Luna keras.
"Hmmm.... dasar....beo tua" jawab Luna malas yang begitu saja pergi bersama Sakti, meninggalkan Aga bersama Rafael di dalam sana.
"Beo.... hey.... awas saja kalau sampai ketemu... " teriak Rafael.
"Huft.... " hembusan nafas berat itu keluar bersamaan dengan lemas nya kaki Rafael yang luruh begitu saja di atas lantai keramik kamar itu.
"Udahlah, bantu gua berdiri, hampir aja ketauan, mana Ibra bawa pistol lagi, ah...lemes banget kaki gua," ucapnya.
Aga membantu Rafael bangkit dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur, "anda tidak menyentuh wanita itu, anda tidak pernah melakukan nya selama hampir beberapa bulan saya bersama anda,"
"Diem Aga, jangan banyak omong,"
"Tapi yang mereka tuduhkan kepada Anda sudah tidak benar tuan, saya akan berbicara kepada tuan muda bahwa wanita itu tengah berencana mendekati tuan Ibrahim dengan perantara tuan Sakti," jelas Aga.
"Udahlah, ngapain di perpanjang sih,"
"Anda memang berhubungan dengan banyak wanita, tapi itu hanya sebatas tidur di ranjang, karena anda terlebih dahulu membuat mereka mabuk dan memasukkan sugesti bahwa kalian berdua sudah melakukan hubungan itu,"
"Aga diem dong, kenapa lu ngomong terus sih, bikin gua jadi tambah pusing tau nggak?,"
__ADS_1
"Tuan... jangan diam saja seperti ini, mereka harus tau kebenarannya, saya yakin anda tidak akan tahan jika nona Nadia yang mendiamkan anda,"
"Aku tidak peduli, semua ini gua lakuin buat dia, meskipun gua tau Sakti pasti juga nggak bakal mau sama yang modelnya begitu, tapi lebih baik mencegah dari pada mengobati kan? kalo bisa di hadang di serangan pertama kenapa harus menunggu serangan kedua," ucap Rafael.
"Terserah lah, suatu saat saya pasti akan berbicara dengan mereka semua, bahwa anda sudah menjadi anak baik," ucap Aga lagi.
"Aish... banyak omong nih orang, udah sono keluar," perintahnya.
"Hm.... "
***
Di dalam sebuah gudang tanpa jendela, seorang wanita dengan rambut yang sudah tidak tertata rapi sedang meringkuk di ujung ruangan memegang lututnya.
Seorang laki-laki berpakaian serba hitam datang seorang diri dengan wajah marahnya, laki-laki itu datang dengan langkah kaki pelan dan sebuah gunting di tangannya.
"Kau masih bisa tidur setelah menarik rambutnya seperti itu?" tanyanya pada wanita yang sudah memiliki banyak luka itu.
Namun sayangnya wanita itu masih belum juga membuka matanya, sepertinya itu berteriak hingga pingsan karena kehabisan tenaga.
Dengan lihai laki-laki itu menggerakkan tangannya memotong satu persatu rambut wanita yang sudah tidak karuan itu, "bukankah ini rambut yang kau banggakan di depan ku? kau sudah tidak bisa lagi bangga memilikinya," ucapnya dengan seringai puas.
Sedikit demi sedikit mata itu terbuka, "a... apa... yang kau lakukan dengan rambutku...?" teriaknya histeris.
Laki-laki itu semakin tersenyum senang melihat wanita di hadapannya ini berteriak histeris ketika menyadari rambutnya yang sudah berjatuhan kemana-mana.
"Ini untuk tangan yang sudah menarik rambut adikku," ucapnya
Aaaahhhh.....
Sebuah teriakan berhasil lolos sekali lagi ketika sayatan pisau mendarat cantik di kulit putih bersih wanita itu.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
__ADS_1
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
Salam sayang semua