
"Nona Nadia sangat lucu dan cantik," Batin Sakti sambil tersenyum melihat wajah gadis kecil itu.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu ??" tanya Ibra yang baru muncul dari balik pintu.
"Ah om, ayo makan," ucap Nadia sumringah.
"Nih bocah moody banget, bentar bentar marah, bentar bentar sumringah senyum senyum, nasib nikah sama bocah," heran Ibra. kayak elu nggak moody an aja bro wkwkwk, batin author.
"Silahkan tuan muda, punya anda sudah saya siapkan," jelas Sakti.
"Kalian berdua belum makan ?" tanya Ibra lagi.
"Kita nunggu om dong," ucap Nadia tersenyum melihat ke arah Ibra
"Kenapa nggak makan duluan, ya udah ayo makan,"
Mereka bertiga makan bersama dengan Ibra tetap duduk di atas sofa, Nadia dan Sakti duduk lesehan di bawah dengan beralaskan karpet. Mereka makan dengan nikmat tanpa ada satupun yang memulai pembicaraan. Hingga kemudian makanan-makanan itu habis dan hanya menyisakan snack yang memang sengaja untuk cuci mulut.
"Om Nadia boleh pinjem uang nggak? Nadia masih belum ada uang karena om gak ngizinin Nadia kembali ke kehidupan waktu di panti, setelah dapat kerja Nadia janji bakal balikin uangnya," ucapnya dengan mulut penuh.
Dahi Ibra berkerut menatap Nadia, "bagaimana mungkin dia meminjam uang dariku yang sudah jelas adalah suaminya," batin Ibra.
"Om, nggak boleh ya?" tanya gadis kecil itu lagi.
"Nona muda, sejak awal perjanjian sudah tertulis bahwa tuan muda akan menjamin kehidupan anda bahkan setelah anda bercerai. Anda hanya perlu meminta kepada saya apa yang anda inginkan dan butuhkan." jelas Sakti yang sudah sangat faham dengan raut wajah Ibra saat ini.
"Kau ingin berapa ?" tanya Ibra penasaran.
"Pinjamkan 100 ribu saja om," ucapnya sambil tersenyum.
Kedua mata laki-laki itu membulat sempurna mendengar nominal yang keluar dari mulut Nadia, "dia istriku dan hanya minta seratus ribu, apa-apaan dia ini?" batin Ibra.
"Kau hanya minta itu, yakin tidak kurang?" tanya lagi karena masih penasaran.
"Yakin om, itu cukup buat makan Nadia sepuluh hari," ucapnya lagi dengan mulut yang masih penuh dengan buah.
"Hey gacil habiskan dulu makanan mu lalu bicara, jangan makan dengan mulut penuh seperti itu," tambah Ibra sambil mendorong sebuah gelas berisi air tepat di depan Nadia.
"Ini sangat enak om," ucapnya lagi dengan riang.
"Habiskan, aku bahkan menjadi semakin kenyang dengan hanya melihatmu makan seperti ini," ucap Ibra lagi dengan mata yang masih menatap lekat gadis itu.
Glek glek glek, Air yang sangat menyegarkan sudah memasuki tenggorokannya yang kering sedari tadi, Nadia menghabiskan minuman yang tadi di berikan oleh Ibra dalam sekali teguk.
__ADS_1
"Tidak ada yang akan berebut dengan anda nona," ucap Sakti.
"Kau akan makan apa dengan uang 10 ribu setiap hari ?" tanya Ibra yang kini sedang memainkan makanannya.
"Banyak om, itu bisa di atur Nadia bisa masak sendiri nanti, kita tadi ngelewatin pasar kan, belanja di situ aja murah," jelasnya.
Kening Ibra semakin berkerut, "hah bagaimana mungkin aku menemukan satu manusia planet di zaman yang sudah modern ini," ucapnya.
Ibra sebenarnya bisa saja memberikan lebih banyak uang kepada istrinya itu, namun di urungkan karena ia ingin tau apa yang bisa di dapatkan Nadia dengan uang sekecil itu selama sepuluh hari
Ibra mengeluarkan dompetnya dari saku celana, dikeluarkan dompet dengan desain yang sangat elegan dan terlihat mahal, ada banyak kartu di sana, tangannya mengambil uang kertas berwarna merah lalu memberikannya pada Nadia.
"Jangan boros oke ?" ucapnya lagi.
"Siap bos," ucap Nadia lagi dengan tetap mengunyah makanan.
"Kita akan pulang tuan muda, anda harus istirahat sejenak,"
"Aku akan menginap di sini hari ini, tubuhku sangat lelah jika harus menempuh perjalanan lagi, kau pulanglah," perintah Ibra.
"Om, tante tante yang kemaren malem ke rumah om yang gede itu pacar om?" tanya Nadia ketika Sakti hendak beranjak pergi.
"Bella ?"
"Oh namanya Bella," ucap Nadia manggut-manggut.
"Kau sudah mau pergi?" tanya Ibra.
"Hehe anda melihatku tuan muda?" tanya Sakti lagi yang kini menggaruk Tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau pikir aku buta?" bentak Ibra.
"Sudahlah om jangan marah, pak Sakti mungkin sedang terburu-buru menemui kekasihnya, biarkan saja dia masih muda." cerocos Nadia.
"Aku bahkan tidak sempat memiliki kekasih karena suami anda memberi saya terlalu banyak pekerjaan nona hikss," batin Sakti.
"Baiklah pergilah,"
"terimakasih tuan," ucap Sakti sambil membungkukkan sedikit kepalanya. "Terimakasih karena sudah menolongku nona," batinnya kemudian berlari pergi sebelum tuan mudanya itu berubah pikiran.
"Tante bella pacar om ya ?" tanya Nadia.
"Dia hanya salah satu koleksiku," jawabnya cepat.
__ADS_1
"Kau cepat lah mandi cil, tubuhmu sangat bau," ucap Ibra sambil berpura-pura menutup hidungnya.
"Om doyan sama yang modelan baju kurang bahan gitu ?" tanya Nadia lagi yang kini merapikan piring-piring di atas meja.
Ibra melihat kepiawaian Nadia dalam membersihkan piring-piring itu, ia bahkan tidak mendengar apa yang menjadi pertanyaan Nadia sebelumnya.
"Om ? " tanya Nadia lagi.
"Hahh apa?" tanya Ibra.
"Om suka modelan tante Bella ? " tanya Nadia lagi.
"Modelan Bella gimana emang?" kini Ibra malah mengambil remot TV dan menyalakan nya.
"Model baju kurang bahan om," jelasnya lagi.
"Semua wanitaku berpakaian seperti itu, itu trend jaman sekarang, hanya kamu yang mirip seperti pembantu," ucapnya.
Plaaakkk
"Aduhhhh !!! Apa sih cil, kan jujur dari pada boong dosa," ucapnya.
Nadia hanya manyun mendengar perkataan Ibra, kemudian melihat kepada dirinya sendiri. "mirip banget sama pembantu ya, gue mirip mbok mbok dong," gerutunya dalam hati.
"Kakinya masih sakit ?" tanya Ibra menghadap ke arah Nadia.
"Udah enggak kok, tadi kram aja," jawabnya beralasan.
"Ya udah aku ke kamar dulu," ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Nadia yang kini mulai berjalan pelan dengan tangan membawa beberapa piring kotor.
Ibra kembali menuju mobil karena tadi ia meninggalkan draft file yang seharusnya ia pelajari untuk rapat besok pagi, namun langkahnya terhenti melihat sebuah sepatu yang ujung depan kedua sepatunya sudah menganga lebar.
"Dasar Gacil sepatu buluk gini masih di pakai, buang aja deh ntar biar beli yang baru," ucapnya sendiri kemudian meraih kedua sepatu itu, namun matanya melihat bercak sesuatu berada di sepatu itu.
"Darah ?"
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.