Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Pertemuan


__ADS_3

Setelah masalah virus tadi pagi, Nadia terus memaksa untuk datang mengunjungi rumah kediaman mertuanya, untuk meminta maaf tentunya, gadis kecil itu benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat data penting milik mertuanya itu hilang. Sebenarnya memang tidak hilang, namun data itu berpindah otomatis ke komputer miliknya, hehe. Namun Ibra tidak memperbolehkannya memberikan data itu secara cuma-cuma kepada mertuanya.


Hingga Akhirnya, malam ini Nadia dan Ibra kembali ke rumah besar, rumah yang menjadi saksi pernikahan mereka berdua. Tentunya tidak sendiri, karena Sakti dan Rafael tetap setia mengikuti mereka kemanapun seperti saat ini.


Ibra bahkan tidak menyangka mereka akan datang dengan rombongan seperti ini, ia bahkan tidak berbicara dengan mereka berdua dan berencana hanya datang dengan Nadia seorang diri, namun tiba-tiba ada tangan yang membuka pintu mobil ketika ia sudah berada di sisi kanan pintu dengan tangan terulur hendak membukanya.


"Silahkan tuan muda," ucap Sakti tiba-tiba mengejutkan Ibra.


"Kalian ?" ucap Ibra dengan dahi berkerut.


"Pada ikut semua om ?" tanya Nadia juga.


"Kami tidak ingin anda berdua dalam bahaya tuan muda dan nona muda," jawab Sakti yang melihat dengan jelas kebingungan di antara Ibra dan Nadia.


"Kemampuan bela diriku bahkan lebih hebat darinya, apa yang membuat kalian khawatir" ucap Ibra dengan jari tangan menunjuk pada Rafael.


"Justru itu," tukas Rafael.


"Apa ?"


"Ya karena lu lebih hebat dari gua, mangkanya gua takut lu tinggal di rumah sendiri, hahaha," ucapnya kemudian bergegas masuk kedalam mobil bagian depan, takut di tarik paksa oleh Ibra agar tidak ikut.


"Ya Allah bang," ucap Nadia heran dengan abang laki-lakinya itu.


"Hmmm, dasar kelakuan masih bocah, nggak pernah berubah, ya udah cepat berangkat," ucap Ibra.


"Silahkan tuan," ucap Sakti lagi yang masih setia berdiri di samping pintu mobil bagian belakang yang sudah terbuka itu untuk Ibra.


Tak lama semua orang sudah berada di dalam mobil dengan lengkap tanpa kekurangan personil, semua duduk di kursi masing-masing, Sakti duduk di kursi pengemudi, Rafael duduk tepat di samping Sakti, lalu Ibra dan Nadia duduk berdua di belakang.


"Ehem" dehem Rafael memecah keheningan, namun masih belum ada suara yang menyahut.


"Hmmmm," ucap Rafael lagi, dengan tetap tidak ada sahutan dari siapapun.

__ADS_1


"El,"


"Diam-diam bae," ucapnya kemudian.


"Om, nanti kalo om Attar marahin aku gimana?"


"Daddy Nadia, tadi udah manggil daddy kenapa sekarang om lagi," jawab Ibra dengan cepat.


"Kan Nadia takut om, Nadia kan bukan menantu yang diinginkan," ucapnya.


"Ngapain mereka bela-belain ikut kita kalo kamu masih takut kayak gini," ucap Ibra yang sangat faham dan tau jika kedua sahabat sekaligus bawahannya itu ikut karena khawatir terjadi sesuatu dengan Nadia, tepatnya karena ada Lusy dan pak Mul di rumah besar, itu adalah salah satu hal yang paling mereka khawatirkan.


"Surat perjanjian pra nikah itu cuma akal-akalan om Attar sama tante Aisyah aja kok, dia nggak seburuk yang lu bayangin, cuma hati-hati aja sama dua ular di kanan kirinya, mereka benar-benar beracun, di jamin pasti langsung mati kalo berurusan sama mereka," jelas Rafael.


"Huft," Nadia menarik nafas pelan, mencoba menetralisir kegelisahan dalam hatinya.


"Kan kamu yang pengen ke rumah daddy, kalo emang nggak yakin ya nggak usah pergi, gampang kan ? kita putar balik Sakti,"


"Anna bahkan tidak pernah sekalipun merajuk dan memberikan kode-kode yang sulit di fahami, dia selalu terbuka dan terang-terangan dengan apa yang dia alami dan rasakan,"


"This is me, Nadia, aku bukan Anna," jawab Nadia tegas. Kemudian memindahkan arah padanya yang sedari tadi melihat Ibra berubah menatap lalu lalang orang-orang di luar mobilnya.


"Anna, Anna dan Anna, apa yang aku lakukan semua bahkan tidak bisa menggantikan sosok Anna di hidup om Ibra," batinnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tidak ada jawaban dari Ibra setelah mendengar jawaban dari Nadia, tak hanya Ibra, Sakti dan Rafael juga ikut terdiam setelahnya.


"Masalah kalian berdua, aku masih belum perhitungan tentang kalian yang menyembunyikan tentang keberadaan Anna dan tidak melapor padaku." tambah Ibra.


"Cerai dulu sama Nadia, baru lu bisa bebas khawatir sama siapapun, termasuk Anna," ucap Rafael.


Deg. Dada Nadia berdetak semakin kencang mendengar kata cerai dari mulut Rafael, "cepat atau lambat ini akan terjadi, beberapa bulan sejak pernikahan kita, om Ibra memang mengesalkan, tapi dia selalu ada di saat-saat tersulit yang aku alami, aku harus mulai terbiasa tanpa om Ibra sekarang, nggak tau sampai kapan aku bisa menjadi istrinya,"


"Cukup El, aku lagi nggak pengen debat,"

__ADS_1


Rafael hendak menyanggah ucapan Ibra, namun tangan Sakti menghentikannya, "Cukup,"


***


Kediaman Besar Attar


Rumah berwarna putih mutiara itu sudah memasuki halaman luas rumah mewah bak istana itu, mobil berhenti ketika berada tepat di depan pintu rumah besar itu.


Semuanya turun dengan tenang, hanya Nadia yang paling terlihat gugup di sana. "Don't worry, we are here for you," ucap Rafael pelan sambil menepuk pundak kanan Nadia.


Gadis kecil itu tersenyum, kemudian melangkah masuk mengikuti Ibra yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.


Rumah itu terlihat sangat ramai, terdengar suara-suara dari dalam sana, suara tawa anggun terdengar jelas di telinga mereka semua, namun tiba-tiba langkah mereka semua terhenti karena Ibra mendadak berhenti di ambang pintu, entah apa yang membuatnya tidak melanjutkan langkahnya.


"Om kok berhenti ?" tanya Nadia yang penasaran saat tidak bisa melihat ke dalam, pasalnya tubuh Ibra menutup pandangan di balik pintu rumah itu.


Ibra masih mematung di tengah-tengah pintu menghalangi jalan orang-orang yang sudah menunggu di belakangnya.


"Anna..... " ucap Ibra kemudian.


Gadis cantik itu melihat ke arahnya, ya, tatapan mata itu, wajah ceria itu yang selalu ia rindukan sejak dulu, senyumnya masih menjadi candu di tubuhnya.


"Anna...?" ucap ketiga orang di belakangnya serentak, dengan suara lirih tentunya.


Ibra mulai berjalan menuju ruang tamu dengan pelan, antara ragu, bingung, bahagia dan canggung.


Sementara Nadia, Sakti dan Rafael masih menatap tak percaya pemandangan yang ia lihat di depan matanya. Ada Attar, Aisyah dan sosok wanita asing di depan mata mereka.


"Honey, bagaimana kabarmu ? aku sudah melihat berita yang lagi viral di media tentang pernikahan kalian," ucapnya yang tiba-tiba berjalan memeluk Ibra.


***


Author meminta maaf karena baru bisa upload, itupun hanya bisa satu episode, Author benar-benar meminta maaf kepada teman-teman semua.

__ADS_1


__ADS_2