
Rafael dan Nadia sedang dalam perjalanan menuju bandara, mereka akan terbang menggunakan pesawat dengan penerbangan VIP meninggalkan Aga untuk mengelola perusahaan sementara waktu selama tidak adanya Rafael di sana.
"Yakin mau ikut gua, nggak istirahat dulu aja? gua nggak mau kalo terjadi apa-apa sama calon ponakan gua," ucap Rafael meyakinkan.
Nadia hanya mengangguk, ia tidak punya kekuatan untuk menjawab ucapan Rafael seperti biasanya.
"Oke, kalo ada apa-apa gua nggak mau tanggung jawab pokoknya, lu tau kan Ibra kalo marah kayak singa," tanyanya lagi.
Nadia hanya diam, pikirannya sedang sangat sangat kacau sekarang, "jika aku berangkat, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan anak ini, tapi jika tidak berangkat, bagaimana mas Ibra," pikirnya.
Otaknya yang sudah tidak bisa berfikir itu kembali ia paksa untuk memilih dia pilihan ini, hingga cukup lama ia berfikir, hingga sentuhan tangan Rafael di bahunya membuat kesadaran nya kembali.
"Gua harus segera pergi, tugas lu sekarang cuma satu, jaga diri dengan baik agar bayi itu juga tetap sehat, jangan nakal Nadia, Ibra di sana nggak sendiri, semua orang ada di sana bersamanya, aktifkan saja komputer yang terhubung dengan ruangan Ibra, gua pastiin lu bisa liat Ibra kapanpun lu mau, oke?" tanya Rafael lembut, "kalo gua adu mulut sama Nadia, dia akan tetep kekeh ikut gua gimanapun kondisinya, tenang El... ambil bawahnya aja biar bumil satu ini nggak makin sensitif, sabar... sabar...," ucapnya dalam hati menenangkan diri sendiri.
"Abang janji, awas kalo abang bohong," ucap Nadia yang langsung berdiri dan meninggalkan Rafael seorang diri di sana, ia tidak akan bisa lagi melihat abangnya pergi ketika ia harus tinggal.
Nadia berjalan keluar bandara dengan air mata jemari yang berkali-kali mengusap air mata yang berhasil lolos dari kelopak mata lentiknya.
***
Sakti yang setiap bulan selalu mengambil darah Ibra untuk disimpan dan dipakai dalam kondisi darurat, sudah lebih ahli dalam hal pengambilan darah, sehingga ia yang membantu Attar secara langsung dalam proses ini.
Hanya selang beberapa menit saja, Abrar datang seorang diri ke dalam ruang rahasia yang sebelumnya tidak ada seorang pun yang bisa masuk, Louis yang juga datang untuk menunjukkan arah juga tak lupa berada di sana.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak mengambil darahnya, orang-orang seperti kami mudah sekali menderita anemia, ambil milikku juga agar tidak mengambilnya terlalu banyak, apalagi di usia itu, dia mungkin tidak akan bisa berdiri jika kau mengambilnya terlalu banyak," ucapnya begitu menginjakkan kaki di ruangan tersebut.
Attar dan Sakti langsung menatap sedikit ragu dengan ucapan laki-laki paruh baya di depannya ini, "syaratnya?" tanya Attar yang faham betul tidak akan mudah jika berurusan dengan saudara laki-lakinya ini.
"Hak yang sama sebagai orang tua ketika Ibrahim selamat," ucapnya ringan dengan mantap.
Deg.
Sebuah kalimat yang tidak pernah terfikir kan oleh semua orang keluar dari bibir laki-laki itu, laki-laki dengan banyak rambut berwarna putih di kepalanya itu masih terlihat gagah dan tampan, dengan mata coklat miliknya itu ia menatap semua orang penuh kesungguhan.
Attar dan Aisyah yang mendengar itu langsung berdiri seketika, "sejak kapan dia bukan putramu? dia selalu menjadi putramu juga sejak dulu, kenapa masih menjadi syarat? kau bahkan tidak bisa tidur ketika dia demam di malam hari, apa kau lupa?," bentak Attar kesal.
Aisyah yang mendengar ucapan suaminya itu tak. kuasa menahan air matanya, sebelumya Abrar memang sangat menyayangi Ibra seperti putranya sendiri, bahkan ia pernah tidak pulang selama berhari-hari karena Ibra tidak sengaja terluka oleh anak panah yang ia ajarkan, sehingga ia tidak tega meninggalkannya hingga sembuh.
Namun kekesalan nya berubah ketika Ibra membebaskan dan memberikan IA Entertainment kepadanya, ini bukan masalah sebuah kebebasan atau perusahaan, tapi lebih pada bagaimana ia merasa di hargai dan di perlakukan layaknya keluarga terlepas dari banyaknya dosa yang ia lakukan.
Ibunya sendiri bahkan menjadi dalang dari kematian semua orang yang ia cintai, bagaimana bisa hidupnya bisa berharga setelahnya, hidupnya menjadi gelap gulita, benar-benar tidak ada cahaya sama sekali yang menariknya untuk keluar dari kegelapan.
Dan untuk pertama kalinya ketika Ibra memutuskan membebaskannya, ia merasa seolah Ibra mengulurkan tangan padanya, sayangnya ia terlalu malu untuk bertemu Ibra, bahkan sangat malu kepada anak seusia itu.
"Aku nggak sadar apa yang udah ku lakuin malah bikin semuanya kacau kayak gini," tambah Abrar penuh penyesalan, namun tetap tidak mengurai wibawa yang terpancar jelas di wajahnya.
"No no no, jangan pernah berfikir seperti itu, semua adalah hal yang wajar dilakukan oleh orang tua ketika menyangkut anak-anak mereka, aku juga kehilangan seorang putra, aku tau bagaimana rasanya, jadi jangan menyalahkan diri sendiri, kamu nggak perlu merasa bersalah," ucap Aisyah menenangkan.
__ADS_1
"Huftttth.... " ucap Abrar menghela nafas berat.
"Kemari, cepat, aku sudah tidak bisa melihat dan merasa pusing karena Sakti mengambil darahku terlalu banyak," ucap Attar lagi pura-pura.
Bukannya menjawab Abrar kini tengah sibuk melihat kanan dan kiri seolah mencari seseorang, "Ada yang bisa di bantu tuan ? apa yang anda cari?" tanya Sakti.
"Mastiin aja, ada nggak El gila yang nafsu banget kayaknya ingin membunuhku," ucap Abrar dengan nada santai.
"El akan datang sebentar lagi, jika benar-benar ikut membantu, maka cepat lakukan sebelum Rafael mengusir mu terang-terangan dari sini," tambah Attar lagi.
***
Hampir 5 jam operasi berlangsung, namun Luna masih juga tidak kunjung keluar, Aisyah, Attar, Abrar, Sakti, Lusy, dan Louis kini masih mondar-mandir di depan ruang kaca tempat Ibra di operasi, namun mereka semakin khawatir ketika tidak selesai setelah selama ini.
"Ada apa ini? kenapa Luna lama sekali?" tanya Aisyah gugup.
"Sabar mom, percaya Luna oke, semua pasti baik-baik aja," ucap Attar memenangkan, meskipun ia sendiri juga sangat khawatir.
Ditengah kebingungan itu, Rafael yang baru saja keluar dari mobil segera menuju lift dan naik ke lantai tempat Kantor khusus Ibra berada.
Sebuah lift khusus VIP segera membawa Rafael menuju tempat tujuan, namun ketika pintu lift terbuka dan langsung menunjukkan wajah Abrar, Rafael begitu saja langsung menghajarnya dengan keras.
"Awwww...... " rintih Abrar keluar dari mulutnya ketika Rafael memukul keras punggung laki-laki paruh baya itu.
__ADS_1