
Sakti bergerak pergi meninggalkan Ibra dan Nadia yang masih mematung di ambang pintu melihat tubuh Sakti yang menghilang di balik dinding rumah sakit.
"Om sengaja mengusir mereka?" selidik Nadia.
"Mereka menggangguku," jawab Ibra singkat kemudian masuk ke dalam ruangan.
Nadia sengaja mengikuti Ibra dari belakang, namun ia tidak mendekat ke arah Ibra, tapi merapikan beberapa barang yang akan ia bawa pulang, "kita ke rumah dulu kan om?" tanyanya pada Ibra yang sudah mulai fokus ke ponselnya.
"Kita langsung ke bandara, daddy udah menyiapkan tiket khusus liburan untuk kita," jawab Ibra.
"Oh... "
"Nggak masalah kita pergi di situasi perusahaan kayak gini om? kalo nanti nggak bisa bangkit lagi gimana? nggak di usahain dulu gitu, " tanya Nadia.
"Ya udah, biarin aja, "
"Hah? segampang itu ? Nadia nggak yakin masalahnya sesimpel itu,"
"Sebelum punya perusahaan itu aku juga pernah berada di titik ini, gagal berkali-kali, ini sudah biasa, nggak ada yang perlu di khawatirkan, aku bisa bangkit dan berusaha lagi," jawab Ibra tanpa melihat ke arah Nadia.
"Om bohong kan? pasti om yang bikin perusahaan om sendiri bangkrut kan? om nggak mungkin bisa di hancurkan dengan mudah kayak gini," tanya Nadia meraba-raba segala sesuatu dengan menimbang seperti apa dan bagaimana Ibra.
Ibra menatap Nadia seketika, "oke fix nggak usah di jawab, aku udah tau jawabannya," tambahnya kemudian kembali fokus pada barang yang hendak ia packing ke dalam tas miliknya.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Ibra basa-basi, sebenarnya ia sudah mengira jika Nadia pasti tau dengan kecerdasan nya yang di atas rata-rata, meskipun terkadang sangat lola di waktu-waktu tertentu, tapi Ibra masih belum percaya Nadia akan mengetahui secepat ini.
"Terbaca dengan jelas," jawabnya.
"Sejelas itu ?" tanya Ibra lagi dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Nadia.
"Om pasti punya rencana besar dan rahasia, jadi Nadia nggak akan tanya panjang lebar yang akan menyulitkan om Ibra kedepannya." jelas gadis itu.
Ibra menatap gadis itu dan manggut-manggut tanda mengerti, kemudian laki-laki itu berdiri tepat di depan Nadia.
"Tinggalkan, akan ada orang yang membereskan untukmu nanti, kau menjadi istriku bukan untuk menjadi babu, tidak perlu melakukannya lagi." ucap Ibra menghentikan gerakan tangan Nadia.
__ADS_1
''Hehe bukan gitu om, tapi kan barang Nadia sama om Ibra, nggak lucu kan kalo orang lain yang beresin,"
"Mereka di bayar untuk itu Nadia, atau kau mau aku memecat mereka dan kau saja yang menyiapkan semuanya," ancam Ibra.
"Haha makasih banyak loh om, tapi mending om tetep gaji mereka deh," ucapnya kemudian berdiri dari duduknya.
"Aku ingin tidur sebentar, bangunkan aku dua puluh menit lagi," ucapnya kemudian naik ke atas ranjang yang baru saja di beli tadi malam oleh pihak rumah sakit sesaat setelah mengetahui bahwa Ibra akan menginap di sana malam ini.
"Om Ibra benar-benar sangat kurang istirahat akhir-akhir ini, apa rencana om Ibra sebenarnya dengan banyaknya masalah perusahaan di akhir hubungan kita,"
"Kemarilah, temani aku tidur," ucap Ibra meminta Nadia naik ke atas ranjang juga.
"Aku harus melihat persiapan bang Sakti dan bang El om, aku tidak ingin mereka mengacaukan rencana yang sudah om Ibra buat,"
"Sudah kemarilah, mereka sudah lebih dari ahli untuk mengurus masalah ini, kau tidak perlu ikut mengurus mereka," jelas Ibra kemudian menarik pergelangan tangan Nadia dan menjadikannya guling.
"Om.... " teriak Nadia kaget mendapat tarikan dari Ibra.
"Diam dan jangan bergerak oke," ucap Ibra dengan sudah memejamkan mata.
***
Saat ini ruangan yang di tempati Sakti dan Rafael sedang kacau karena beberapa persiapan yang baru saja di perintahkan oleh Ibra, pasalnya mereka berdua harus mempersiapkan ulang permintaan itu agar tidak sampai terjadi kesalahan.
"Gua yakin Ibra kesel aja kita intipin tadi mangkanya nyuruh kita naik ambulan," ucapnya.
"Setuju, tuan muda memang pendendam,"
"Aish, harus pakai alat-alat medis kayak gini kalo kita pakai ambulance," ucapnya kesal.
"Tapi memang akan sangat aneh jika kita masih terlihat bisa kemanapun pakai helikopter dengan kondisi perusahaan yang sudah bangkrut,"
"Itu penting buat bukti bahwa kehilangan perusahaan bukan sesuatu yang besar bagi Ibra, lu nggak liat kekayaan om Attar, sampek cucu ke seratus juga nggak bakal abis tuh warisan, sayang aja om Attar nggak pernah pamer, hahaha" ucap Rafael menggebu-gebu.
"Udah siap?" tanya Luna yang baru saja datang seorang diri ke dalam ruangan.
__ADS_1
Semenjak kehadiran Rafael dan Sakti pertama kali di rumah sakit ini, tidak ada seorang pun yang di perbolehkan melihat, menjenguk bahkan mendekati kamar tempat Sakti dan Rafael di rawat. Semua petugas medis bahkan di larang mendekati area itu, semua hanya di tangani oleh Luna seorang diri, tentu saja semua atas perintah dari atasan mereka setelah mendapat petunjuk dari Ibra.
Terlebih setelah kehadiran Ibra di sana, satu lantai khusus digunakan oleh Ibra beserta orang-orangnya dan tidak ada satu orangpun yang di izinkan menggunakan lantai itu.
Selain karena alasan keamanan, mereka juga tidak ingin ada satu orangpun yang tau tentang bagaimana kondisi dan apa yang terjadi di sana.
Seperti hari ini, Luna hanya datang seorang diri untuk membuat seolah-olah Sakti dan Rafael sedang terluka parah.
"Petugas yang menyopir ambulan sudah di atur oleh Ibra, kalian hanya harus berakting sebagus mungkin,"
"Kami hanya perlu tidur,"
"Mereka bisa melakukan apapun untuk membangunkan kalian, jadi dengan berat hari ini aku harus membuat kalian tidak sadar untuk sementara waktu." ucap Luna yang masih sibuk memasang perban di perut dan lengan Rafael.
"Oke," jawab mereka berdua setuju.
Setelah pemasangan perban, keduanya juga sudah di beri Luna obat bius agar tertidur untuk sementara waktu selama perjalanan mereka menuju rumah aman.
Berbeda dengan Sakti dan Rafael yang di paksa masuk kedalam alam mimpi oleh sebuah obat yang di masukkan ke dalam tubuh mereka, saat ini Ibra sedang berusaha mengembalikan kesadaran nya setelah di bangunkan oleh Nadia.
"Om, ini udah dua puluh menit," ujar Nadia menggoyangkan lengan Ibra sembari menoel pipi dan hidungnya berkali-kali.
"Hmm, om Ibra memang paling susah di bangunkan jika tidak keinginannya sendiri,"
"Om..... "
''Sepuluh menit lagi,"
"Semua sudah siap om, bangunlah,"
Perlahan-lahan Ibra membuka kedua matanya, terlihat mata berwarna merah sesaat setelah terbuka.
"Aku masih sangat mengantuk, aku tidak bisa tidur dengan tenang akhir-akhir ini,"
"Kita pindah dulu om, abis ini om bisa tidur lagi, kasian semua orang yang menunggu di bawah," jelas Nadia.
__ADS_1
"Sebentar lagi," ucapnya semakin mencari posisi nyaman di tubuh Nadia.