
"Ayo turun, aku akan menggendong mu,"
"Ahh nggak mau, aku bisa turun sendiri," ucap Nadia yang langsung berlari turun dari mobil.
Ibra tersenyum melihat istri kecilnya berlari masuk ke dalam rumah, "dia selalu membuatku gemas, aku ingin sekali menggigit pipinya," ucapnya yang kembali menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
Flashback On
Ibra teringat kejadian beberapa minggu yang lalu sebelum berita kehancuran IA entertainment, saat ia memantapkan diri mencoba sebuah ide yang menurutnya tidak mungkin saat itu, tapi feeling nya selalu mengatakan ia harus mencoba, hingga akhirnya tanpa sepengetahuan siapapun, ia meminta Aga agar melakukan tes DNA antara Rafael dan Nadia.
Sebenarnya Ibra mulai curiga ketika melihat pola program yang dibuat oleh Rafael dan Nadia, beberapa kali ia menemukan kemiripan, meskipun tidak seratus persen.
Ibra menggali lebih jauh, hingga akhirnya ada saksi yang mengatakan bahwa Adiwijaya tidak hanya memiliki seorang putra, tapi dua orang putra yang sampai saat itu tidak di ketahui keberadaan nya karena hilang beberapa jam setelah di lahirkan.
Fakta itu kembali menggoyahkan pikiran Ibra yang memang tidak bisa berhenti berfikir, hingga suatu hari, Ibra melihat Nadia yang sedang berada di dalam kamar Rafael, gadis itu terlihat membuat sesuatu dengan komputer yang ada di depannya.
Saat itu Ibra hendak berbalik pergi, namun langkahnya tertahan dengan makanan ringan yang ada di meja, ini adalah pemandangan yang sama ketika dirinya melihat Rafael bekerja, harus ada makanan yang di siapkan di sampingnya, dan itu harus buah yang sudah di potong-potong.
"Mungkinkah itu makanan sisa milik Rafael sebelumnya? kenapa dia memakannya? apa takut mubazir ? tapi dia bisa mengambil makanan yang baru," pikir Ibra merasa aneh.
Ibra pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya, di dalam kamar ada sebuah panggilan telfon yang masuk ke ponselnya dari Attar.
"Iya dad... "
"Assalamu'alaikum Ibra... jangan kebiasaan,"
"Iya wa alaikum salam dad, ada mommy kan? pasti ada mommy, kalo nggak ada pasti daddy nggak mungkin kayak gini," tebak Ibra.
"Udah, sekarang kamu dengar daddy, oma sedang mencari seorang anak panti di panti tempat Nadia tinggal sebelumnya, tapi mereka masih belum menemukan apapun, karena masalah kepindahan panti mereka, jadi mereka harus mencari dari nol lagi," jelas Attar.
"Hubungannya sama aku apa dad?"
"Kamu cari tau Ibra, gimana kalo oma mau pisahin kamu sama Nadia, siapa yang repot?"
"Daddy lah, kan Nadia pilihan daddy" jawabnya enteng.
"Kamu yang urus atau daddy yang urus,"
"Daddy," jawabnya singkat, padat dan jelas.
"Kau ini... dia sedang mencari istrimu, kenapa tidak melakukan apapun hah?" geram Attar setelah mendengar jawaban putranya itu.
__ADS_1
"Iya dad, udah ya, Ibra masih banyak kerjaan," ucapnya kemudian langsung menutup panggilan telfonnya.
Ibra memang selalu seperti ini, beku di luar, tapi hangat di dalam, "Kenapa oma nyari Nadia? pasti ada yang nggak beres, nggak bisa kalo nggak di pastiin, dan pola itu hanya di miliki oleh Adiwijaya, pola mereka berdua berkali-kali memiliki kesamaan," pikirnya.
Tidak ingin membuang waktu, ia meminta Aga untuk segera melakukan tes DNA bagaimana pun caranya.
Flashback Off
"Hah, bagaimana aku bisa menghadapi Rafael karena perbuatan oma kali ini?" gumamnya.
Ibra masih tidak beranjak dari dalam mobil, ia tenggelam dalam lamunannya, hingga sebuah ketukan pada kaca mobil menyadarkannya.
Tok tok
Terlihat Sakti sudah berdiri di sana, bersiap membukakan pintu untuk tuannya.
"Silahkan tuan,"
Ibra keluar dari dalam mobil dan melihat sekeliling rumah itu, "aku bahkan lupa pernah memiliki rumah ini, dulu tidak seindah ini," ucapnya terang-terangan.
"Rumah ini sudah banyak di rehab sana sini tuan muda, wajar jika anda tidak mengingatnya," jelas Sakti.
"Ini rumah yang ingin ku beli untuk Anna kan?" tanyanya pada Sakti.
"Baguslah, jual saja semua yang ku beli karena Anna, ganti dengan investasi villa, aku tidak ingin memiliki kenangan apapun lagi tentang dia,"
"Bukankah semua rumah tuan muda hanya untuk Anna? " pikir Sakti.
"Rumah besar tuan?"
"Iya, buat lagi yang baru, cari tau rumah apa yang di inginkan Nadia, jangan bertanya padanya, karena dia pasti akan memilih rumah kecil seperti sebelumnya, kau tau aku tidak bisa berada di ruangan sesak," ucapnya.
"Akan segera saya siapkan tuan muda,"
***
Nadia berlari masuk ke dalam rumah, ia bergerak ke sana kemari seperti orang bingung karena belum faham dengan letak lokasi di rumah ini, hingga kemudian ada seorang berpakaian pelayan di depannya.
"Ehm mbak sebentar, kamar bang Rafael dimana?" tanyanya pada pelayan itu.
"Tuan Rafael berada di lantai dua nona," ucapnya sembari menunjuk sebuah pintu berbahan kayu dengan cat warna putih yang terlihat di lantai dua.
__ADS_1
"Terimakasih," ucapnya yang kemudian langsung berlari menaiki tangga menuju kamar yang baru saja di tunjuk oleh pelayan.
Tanpa mengetuk pintu, Nadia langsung saja masuk ke dalam kamar Rafael, Rafael yang sedang duduk di balkon kamar dengan gitarnya menoleh seketika.
"Kenapa dek?" tanyanya melihat peluh di dahi Nadia dengan nafas yang terengah-engah.
''Hehe, nanti kalo mas Ibra nyari aku, bilang nggak ada ya bang," ucapnya dengan ceria.
Rafael menelisik aneh, kemudian membuka pintu kamar dengan wajah jahil, "Ibra..... Ibra.... istri lu di sini nih?" teriaknya menggoda Nadia.
"Abang..... " ucapnya kemudian bersembunyi di bawah selimut.
"Hahahaha," tawa Rafael menggema di seluruh kamar, yang mana membuat Nadia membuka selimut yang menutup seluruh tubuhnya.
"Abang jahil, abang nakal, nanti Nadia bilangin mas Ibra," ancam nya kemudian beranjak dan berjalan menuju pintu hendak mengintip dimana keberadaan Ibra.
"Ahh... syukurlah, terimakasih bang Sakti, nanti Nadia masakin makanan yang enak buat abang," ucapnya pada diri sendiri ketika melihat Sakti memberikan beberapa laporan di sofa lantai dasar.
Saat Nadia masih tidak beranjak dari pintu, Rafael menarik rambutnya ke belakang, "Ahh... ahh...abang.... " rintih nya dengan memegang bagian kepala yang rambutnya di tarik oleh Rafael.
"Abang salah minum obat ya, jahil banget dari tadi," gerutunya kesal.
"Haha, kayak gini tuh baru namanya saudara dek, kalo nggak berantem bukan saudara namanya," ucap Rafael dengan gaya khas pecicilan seperti biasanya.
Nadia menatap wajah di depannya itu dengan seksama, di balik tawa dan sikap pecicilan yang ia tampilkan, mata itu sudah mulai berkaca-kaca.
"Halo Nadia... " panggil Rafael yang sejak tadi diam saja tidak menyahut.
Bukannya menjawab, gadis itu mendekat dan memeluk Rafael dengan hangat, keluarga satu-satunya yang selama ini ia cari, orang yang selalu ia ingin temui, dan alasan ia di buang selama ini, Ibra sudah menjawab semua pertanyaan itu untuk nya.
"Kenapa dek ?" tanya Rafael yang kaget mendapat pelukan tiba-tiba.
"Nggak papa, pengen meluk abang aja," jawabnya.
"Maaf abang nggak nemuin kamu lebih awal, seharusnya abang yang jadi wali nikah kamu kan dek," ucapnya yang berubah formal.
"Hu uhmm.. harusnya Nadia ketemu abang lebih awal, terimakasih udah berusaha nyari Nadia selama ini, mas Ibra udah ceritain semuanya di mobil,"
"Eh abang, kok kita jadi mellow gini," ucap Nadia yang melihat Rafael sudah tidak bisa membendung air matanya.
"Nggak papa sekali-sekali," ucap Rafael yang masih sesenggukan saking bahagianya.
__ADS_1
***
Author minta maaf jika part ini kurang menyenangkan, kondisi lagi flu berat dan sakit kepala, semoga sehat semua pembaca kesayangan Author.