
Tok tok tok
Mata yang masih redup itu membulat ketika ada orang yang hendak masuk ke dalam ruangan Rafael.
"Hah.... siapa lagi yang datang," ucapnya yang segera berlari untuk sembunyi di balik sofa.
"Tuan, persiapan rapat sudah siap, kita akan mulai sepuluh menit lagi,"
"Tunda sampai tiga puluh menit kedepan, masih ada beberapa hal yang harus tuan selesaikan," jawab Aga.
"Huf... selamet selamet... " lega Nadia.
Ketika dipastikan hanya tinggal Rafael dan Aga di ruangan itu, akhirnya Nadia keluar dari balik sofa dengan lebih dulu memunculkan kepalanya.
"Tiga puluh menit cukup kan?" tanya Rafael.
"Cukup bang, diluar udah rame banget ya?" tanyanya lagi.
"Ya iya, orang gua udah dateng, udah cepet mandi sono," ucap Rafael.
Tidak mengikuti ucapan Rafael untuk mandi dan bersiap di ruangannya, Nadia justru merapikan bajunya dan mengambil kertas-kertas yang sudah tersusun rapi di atas meja tamu Rafael.
"Nadia mandi diluar aja deh, nanti kalo ketahuan orang-orang malah jadi gosip yang nggak baik," ucapnya kemudian.
"Nona tapi dandanan anda yang seperti ini bukankah semakin menambah kecurigaan orang luar,"
"Ya aku bilang aja ketiduran di ruangan presdir, abis itu kena marah deh, gampang kan? ini lebih baik dari pada aku harus keluar dengan segar dan dandanan wangi ketika keluar dari sini," ucapnya yang langsung bergegas keluar kemudian menghilang di balik pintu.
"Aish.... dia benar-benar membuatku bingung harus apa,"
"Mending lu cari tau dia ngerjain apa lembur sampek pagi, dia cuma magang tapi udah kayak pemilik perusahaan aja,"
"Nona dan anda memang lah pemilik perusahaan tuan,"
"Ya nggak gitu juga maksud gua Aga, aish somplak lu emang,"
"Somplak apaan sih?" batin Aga tidak tau namun hanya mengiyakan ucapan Rafael saja.
***
Nadia keluar dari ruangan Rafael dengan sedikit terburu, semua orang sudah berkumpul hendak menanyakan tugas yang ia berikan pada Nadia kemaren.
"Lu udah kerjain belom? lu beneran nginep sini sambil lembur," tanya salah seorang yang lain sembari mengambil berkas miliknya yang di bawa Nadia.
"Udah sih, ngapain lu yang repot kalo dia yang nginep, yang penting nih kerjaan kita kelar," sahut yang lain.
__ADS_1
"Itu udah milik kita semua kan?" tanya yang lain lagi.
"Sudah pak,"
"Mending lu mandi sana, untung rapat di undur tiga puluh menit lagi, bikin bau ruangan aja, sana mandi ngapain masih di sini,"
"Sabar Nadia, hidupmu lebih bahagia dari sekedar mendengar kan caci maki dan hinaan mereka semua, yang penting nggak ada mas Ibra dan bang El yang liat mereka bersikap seperti ini, aku nggak berani membayangkan apa yang terjadi kalau mereka berdua sampai tau," batinnya kemudian pergi tanpa menjawab ucapan mereka.
Sepeninggal Nadia, terlihat jelas sekali wajah panik yang tergambar di wajah mereka semua, "gua liat punya lu coba,"
"Lu yakin mau ngajuin ini, cuma orang gila yang bisa mikir kayak gini tau nggak?" tambahnya.
"Duh, mana udah mepet lagi jamnya kalo kita harus revisi, laporan mu gimana ?"
"Ini juga bukan yang biasa gua pake, gua nggak faham sama sekali," ucapnya yang sejak tadi matanya tidak lepas dari kertas yang ada di pakainya.
"Mana lagi tuh si Nadia, lama banget mandinya nggak kelar-kelar," kesal yang lain.
"Udah lah, mending ntar kita ngomong aja kalo tuh bocah magang sok pinter ngerjain tugas kita untuk rapat nanti, dan inilah hasilnya kacau semua, gimana?" usul yang lain.
"Oke deh," ucap mereka semua sepakat untuk mengadu domba Nadia di depan jajaran elit perusahaan.
***
Semua orang sudah berada di ruangan tempat rapat besar pagi ini berlangsung, semua bidang hanya akan di wakili oleh satu kepala divisi, berbeda dengan tim yang di tempati Nadia, karena merupakan perpanjangan tangan Aga, sehingga semua orang harus hadir termasuk Nadia.
Nadia masih menyiapkan diri sebelum menuju ruang rapat, Rafael dan Aga juga masih berada di ruangannya, sehingga membuat Nadia sedikit lebih tenang.
Dengan langkah kaki kecil, ia bergerak cepat dan hati-hati, hingga sampailah ia di sebuah ruangan yang tidak terlihat seperti ruang rapat pada umumnya.
Ruangan itu di desain khusus untuk ruangan presentasi dengan meja audien seperti kursi bioskop, desain modern dan elegan memenuhi seluruh ruangan. Terdapat sebuah meja panjang tempat Presiden Direktur dan asistennya di depan semua audien.
Semua mata melihat Nadia yang baru saja tiba dengan map di lengannya, dengan tenang tanpa menghiraukan tatapan semua orang di sana, ia segera duduk dan menunggu dengan tenang.
"Sebagai istri Ibrahim Muhammad Attar, aku sudah terbiasa dilihat dengan tatapan seperti ini, ini membuatku tidak mudah canggung dan lebih bisa untuk mengontrol diri sendiri di keramaian," pikir Nadia.
"Presiden Direktur datang," ucap salah seorang sebelum pintu bagian bawah terbuka.
Rafael terlihat memasuki ruangan dengan Aga yang masih setia di belakangnya, sedikit mencari dimana posisi adiknya berada hingga ia berhenti ketika melihat Nadia berada di bagian kiri atas ruangan ini.
Rafael sudah duduk di kursinya, namun Aga bergerak naik ke atas, tepat ke meja Nadia, yang mana membuat semua orang di sana mengikuti pergerakan langkah kaki Aga.
"Ini sebagai pengganti sarapan," ucapnya memberikan sebuah botol minuman, meninggalkan kata nyonya seperti biasanya.
"Matilah pak Aga, kenapa melakukan ini di depan umum," ucap Nadia dengan bahasa isyarat.
__ADS_1
"Saya minta maaf nyonya, tapi tuan Rafael membuat saya terpaksa melakukan ini," isyaratnya dengan wajah menyesal.
Setelah Aga kembali berada di sisi Rafael, semua orang kembali fokus pada moderator yang kini berada di panggung depan.
"Bisa kita mulai ?" tanya orang tersebut pada Rafael.
"Silahkan,"
Rifka, seorang leader di tim Nadia kini naik ke atas panggung dan mempresentasikan draftnya dalam menyelesaikan masalah yang saat ini terjadi, semua orang sudah mendapat draft penjelasan di meja masing-masing.
Rafael mengambil kertas tersebut, begitu juga Aga, keduanya membaca dengan seksama, guratan di dahi mereka berdua sedikit membuat cemas Rifka yang saat ini masih berbicara di depan.
"Ini Gila," lirih Rafael yang terdengar oleh Aga.
"Hanya tuanku Ibra yang bisa membuat dan mengerjakan penyelesaian segila ini," sahut Aga.
"Benarkan? ini jelas Ibra," tambah Rafael.
"Apa mungkin nona semalam mengerjakan bersama tuanku?" tanya Aga sedikit ketakutan.
"Kau sudah cek rekaman di kantorku,"
"Matilah aku tuan jika tuanku yang mengerjakan,"
"Jelas lu mati, ini jelas-jelas Ibra, polanya sama, cuma dia yang bisa realisasi hal kayak gini jadi nyata,"
Aga langsung lemas dan tidak bisa komentar, "anda bisa langsung meminta bantuan saya nyonya, kenapa langsung tuanku yang turun tangan, hiks bulan ini pasti bakal potong gaji," lirih Aga menyesali perbuatannya.
"Berhenti," ucap Rafael yang memecah keheningan di sana.
"Apa kau yakin kau yang membuat ini?" tanya Rafael.
Rifka sedikit merasa takut di depan sana, namun dengan mantap ia mengatakan, "Nadia... gadis magang yang di rekomendasikan tuan Aga yang mengerjakannya pak, ini memang sangat mustahil dan tidak masuk akal untuk kita lakukan, namun kita tetap harus memberikannya apresiasi atas kerja kerasnya, itu yang membuat tim kami tetap mempresentasikan ini,"
"Mustahil, hanya bagi orang bodoh yang tidak tau bagaimana caranya, dan draft ini hanya sampah bagi orang yang tidak membuatnya seperti yang kau lakukan sekarang, turun!!! kau tidak pantas dengan bangga mempresentasikan kerja keras orang lain," perintah Rafael yang menggema di seluruh ruangan.
"Nadia.... turun dan jelaskan sekarang," ucap Rafael tanpa melihat ke belakang.
Tidak ada sahutan sama sekali membuat Rafael dan semua orang di sana melihat ke arah tempat Nadia sebelumnya, namun gadis itu sudah tidak ada, "kemana perginya anak nakal itu," lirih Rafael.
"Tuan, ini pesan dari nyonya," ucap Aga sembari menyodorkan ponselnya menunjukkan pesan yang ia Terima dari Nadia.
Pak Aga, aku sangat mengantuk meskipun sudah mandi, aku pulang dulu ya, tolong bantu aku, mataku benar-benar tidak bisa terbuka.
"Astaga Nadia... merepotkan saja di saat seperti ini,"
__ADS_1