Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Bantai dengan Kata


__ADS_3

Ibra melirik kesal, "yaudah sana, lusa aku mau pulang sama Sakti," ucapnya dengan kesal kemudian tidur memunggungi Nadia.


"Mas jangan di tinggal pulang, nggak mau... mas.... nggk mau di tinggal.... mas...." panggil Nadia menggoyangkan tubuh Ibra semakin keras karena tidak mendapatkan respon dari suaminya itu.


"Hey... cukup Nadia sakit tubuhku,"


"Nggak mau di tinggal pulang," ucapnya memelas.


Ibra hanya menahan senyumnya, "ya harus pergi biar abang kamu itu percaya," ucapnya masih dengan memunggungi Nadia.


''Jangan mendadak tapi mas, lusa kan udah di depan mata, minggu depan aja ya, ya ya?'' rayu Nadia lagi.


"Iya.. '' jawab Ibra dengan nada malas, walah sebenarnya dia sangat bahagia.


"Sini peluk dulu," ucap Nadia lagi.


"Peluk dulu.... " tambahnya ketika Ibra tidak memberikan respon.


Karena tidak tega mendengar nada suara istrinya itu yang semakin memelas, membuatnya bangkit dari tidur dan menari Nadia ke dalam pelukannya.


''Sini...''tarik Ibra.


Nadia menyandarkan kepalanya yang sudah berada di pelukan Ibra, ia duduk di pangkuan Ibra seperti bayi besar.


"Nanti aku akan memberikan surat cerai palsu, saat itu lakukan tugasmu dengan baik, agar Rafael tidak curiga, Pura-pura sedikit sedih, jangan keluar kamar sama sekali," pesan Ibra.


"Hu uhm... '' ucapnya dengan kepala mengangguk.


" Mas nanti kangen aku nggak?"


''Enggak... " jawabnya singkat.


"Pasti kangen, tapi malu kan mau ngomong," senyum Nadia.


"Mulai belajarlah berkuda dan mengemudi, menembak dan memanah juga penting untuk di pelajari, jangan nakal dan jangan membuatku cemas," ucap Ibra mulai bawel.


"Mas juga, nggak boleh.... "


"Janji... aku tidak tertarik dengan wanita manapun sejak kau manja seperti ini kepadaku," sahut Ibra yang sudah tau apa yang akan di ucapkan Nadia dengan mendekatkan jari kelingking sebelah kanan ke arah Nadia.


"Hehe, tapi mas masih punya hutang,"


"Apa?" tanya Ibra dengan kening mengkerut.


"Apa yang aku lupakan," pikir Ibra.


"Cinta, mas cinta aku nggak?" tanya Nadia.


"Pake nanya,"

__ADS_1


"Kata tante Anna..."


"Huft Anna lagi," malas Ibra.


"Tante Anna tadi bilang... "


"Masih percaya padanya?"


"Iya iya mas," ucapnya dengan bibir mengerucut.


Ibra melihat gemas pada bibir kecil itu, ia mengecupnya pelan dengan meninggalkan sedikit gigitan di sana, "jangan cemberut seperti itu di depan laki-laki lain," ucapnya dengan mengelus lembut kepala Nadia.


"Nadia ngapain di dalam kamar mas? kan capek kalo tidur terus,"


"Kau akan menemukannya di dalam lemari itu," ucap Ibra dengan menunjuk pada sebuah lemari dengan pintu yang masih tertutup.


Dengan antusias ia beranjak dari pangkuan Ibra dan berlari ke arah lemari, tidak sabar dengan apa yang ada di dalamnya, sejujurnya ia ingin sebuah beberapa bahan baru untuk sesuatu yang akan ia buat selanjutnya.


Setelah menoleh kepada Ibra, Nadia membuka pintu itu perlahan, tapi tidak ada apa-apa di sana, hanya beberapa gantung baju.


Melihat istrinya yang terlihat bingung karena tidak menemukan apa-apa, ada senyum puas terlihat di wajahnya.


"Kau pernah melihat Harry Potter?"tanya Ibra kemudian.


Otak cerdas gadis berusia hampir sembilan belas tahun itu langsung menemukan jawabannya, "ah.. chamber of secret," ucapnya riang seolah memperoleh mainan baru.


"Oke, aku harus cari kunci untuk membukanya dulu, kalo mas Ibra.... " ucapnya dengan berfikir keras mengenai kode kunci yang akan di pakai Ibra untuk membuka pintu ini.


"Mas Ibra adalah orang yang selalu menghargai semua kenangan orang-orang yang hadir di dalam hidupnya, Orang-orang itu adalah orang yang akan mengorbankan apapun untuk hidup mas Ibra, jika aku menjadi mas Ibra, aku akan memilih.... " pikirnya.


"Detak jantung?" ucapnya lirih namun masih terdengar sayup-sayup di telinga Ibra.


''Kau mengerti aku dengan baik," ucap Ibra senang, kemudian turun dari ranjang dan berjalan di sisi Nadia.


Ada sebuah cahaya berbentuk kotak yang muncul di dada Ibra, terlihat seperti sebuah mesin scan, tak lama sebuah pintu tak kasat mata terbuka dan menampilkan sebuah lorong panjang di depannya.


Mereka berdua berjalan menyusuri lorong dengan bergandengan tangan, hingga akhirnya terlihat sebuah ruangan lebar dengan alat-alat canggih di dalam nya yang langsung membuat mata Nadia berbinar-binar.


"Wahhh.... mas.... ini keren banget.... ini juga cantik banget.... " puji Nadia kepada semua benda elektronik yang ada di ruangan itu.


"Ini hadiah untukmu, tapi mungkin aku tidak bisa menepati ucapanmu yang tadi, bukan besok atau lusa, tapi aku akan pergi bersama Sakti malam ini,"


Wajah sumringah yang berlarian kesana kemari itu mendadak berhenti, bahagianya seolah hilang dan kakinya menjadi lemas.


"Katanya besok atau lusa, kok malah nanti malam mas," ucapnya tidak semangat.


"Aku akan selalu ada di sisimu, ruangan ini tersambung dengan ruangan rahasia di perusahaanku yang baru, kau bisa memantauku dari sini tanpa takut ketahuan oleh Rafael,"


"Cepet balik tapi ya,"

__ADS_1


"Iya, kita harus membuat Rafael menyesal dengan keputusannya lebih dulu Nadia, peranmu sangat penting di sini,''


Nadia hanya mengangguk pasrah saja, " harus cari tau kenapa bang El berubah, dulu bang El selalu mendahulukan kepentingan mas Ibra, tapi kenapa tiba-tiba pengen kita berdua pisah," batinnya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Ibra masih tertidur pulas di dalam kamar dengan Nadia di sampingnya, ia baru saja di puaskan oleh istri kecilnya itu hingga tertidur sampai sesiang ini dan melewatkan sarapan bersama.


Tok tok tok


Tok tok tok


Sakti mengetuk pintu beberapa kali dengan jeda beberapa detik, namun kedua orang itu tidak kunjung keluar juga, "tuan muda, nona.... "


Tok tok tok


"Tuan muda... " panggilnya lagi.


Merasa terganggu dengan suara yang memanggil nama suaminya secara terus menerus, membuat Nadia membuka matanya perlahan, "iya bang Sakti, ada apa?" ucap Nadia sedikit keras dari dalam kamar.


"Saya minta maaf nona, tapi ada klien yang datang ke rumah untuk bertemu dengan tuan muda sekarang,"


"Abang saja yang mengurusnya jika itu perusahaan mas Ibra yang baru, jika Harbank, maka bang El yang harus menemuinya," teriak Nadia tidak ingin Ibra pergi dari sisinya sedikitpun, nanti malam mereka harus berpisah, dia tidak ingin membagi Ibra dengan siapapun hari ini.


"Tapi nona...ini sangat penting," ucap Sakti menggantung di ujung kalimat seolah sedang berfikir.


Nadia menarik nafas berat, "siapa dia?" tanya Nadia.


"Pak Ruby dan putrinya," jawab Sakti tegas.


"Baiklah, tunggu lima nelast menit bang," ucap Nadia lagi.


Gadis itu masih menatap mata suaminya yang terpejam, "mas.... mas Ibra.... " panggil Nadia pelan.


''hmmm... " respon Ibra malas.


"Ada pak Ruby dan putrinya di bawah, katanya klien mas, bang Sakti bilang penting mas,"


"Temui saja menggantikan ku, kau kan istriku, aku masih mengantuk,"


"Tapi ini penting mas,"


"Dia hanya ingin agar putrinya menjadi istri kedua ku,"


"Hah... wahh bener-bener minta perhitungan itu orang, berani-beraninya mau jadi saingan Nadia,"


"Temui saja, bilang aku kelelahan setelah mendapat layanan darimu,"


"Mas Ibra.... " ucap Nadia yang memerah karena malu.

__ADS_1


"Biarkan yang panas semakin panas Nadia, cepat, ganti baju yang cantik dan bantai saja mereka dengan kata-kata mu yang tidak bisa di kalahkan itu, jangan menggangguku," ucapnya yang semakin erat memeluk guling di pelukan nya.


__ADS_2