Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Hari-hari normal


__ADS_3

Setelah pembicaraan terakhir dengan Rafael, Nadia kini mulai menjalani kehidupannya kembali, ia mulai masuk kerja seperti biasa dengan bayi yang masih ada di perutnya, di dampingi oleh Aisyah dan Attar yang memilih menetap lebih lama di sana untuk menjaga Nadia dan cucu pertamanya itu.


Hampir satu bulan rumah ini berjalan seperti biasa, seperti tidak ada masalah apa-apa yang terjadi, mereka semua memilih untuk bungkam dan tidak membahas Ibra lebih dulu.


Meskipun di dalam lubuk hati semua orang di sana masih berdoa yang terbaik untuk Ibra, namun tidak ada yang ingin membuka luka untuk sementara ini.


"Mommy.. Nadia berangkat kerja dulu ya," ucap Nadia yang baru saja keluar dari kamar dengan tergesa-gesa dengan beberapa kertas yang ada di tangannya.


"Jangan bekerja terlalu keras nak, ingat bayi ini, dia masih harus bertemu ayahnya bukan, jadi jangan terlalu lelah," ucap Aisyah mengingatkan dengan mengelus lembut permukaan perut Nadia.


"Kekayaan daddy tidak akan habis bahkan jika anak itu sudah menjadi buyut, berhenti saja dan lakukan aktifitas di rumah," sahut Attar yang baru saja duduk di meja makan.


"Lagi pula perusahaan itu milikmu, pemilik perusahaan tidak perlu bekerja terlalu keras, biarkan saja Rafael yang menjalankannya, dia harus sibuk agar terhindar dari wanita-wanita nakal itu," ucapnya bisik-bisik di telinga Nadia agar tidak terdengar oleh Rafael yang terlihat berjalan ke arah mereka.


"Wah.... pasti daddy jelek-jelekin El kan?" tebak Rafael yang hafal betul kebiasaan laki-laki berambut putih ini.


"Sudah, sudah, Nadia berangkat dulu," ucapnya yang kemudian mencium punggung tangan semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Rafael.


"Mulai hari ini di anter sopir," ucap Rafael sebelum Nadia pergi.


Namun dengan cepat gadis itu berlari, "Nadia pake mobil mas Ibra bang," ucapnya dengan cepat menghilang.


"Nadia jangan lari," teriak Aisyah mengingatkan bumil satu ini yang sering lupa bahwa dirinya hamil.


"Ah iya, lupa kalo hamil, lagian sih, Anak-anak punya anak, hehe, nggak ada suaminya lagi," ucapnya sambil mengelus perut miliknya yang masih rata dengan senyum masam mengingat Ibra tidak berada di sisiNya kali ini.


"Anak itu masih saja suka lari-lari, kebiasaan nggak dengerin orang ngomong mirip sekali dengan Ibra," ucap Aisyah.


"Sudah, ayo makan dulu, aku harus segera ke kantor," ucap Attar menengahi ucapan Aisyah, karena jika di biarkan maka tidak ada habisnya.


Semua orang sudah duduk di sana, Attar menempati posisi kepala keluarga, dengan Aisyah, Rafael dan Aga yang baru datang di kanan kirinya.


"Daddy masih harus menggantikan Ibra di Delta,"


"Hu uhm," ucapnya dengan mulut mengunyah makanan.

__ADS_1


"Para pemegang saham nggak ada yang ambil tindakan?"


"Daddy wali sah Ibra, kita menunggu sampai dia kembali," ucapnya tegas.


Begitulah selama ini, topik masalah Ibra hanya di tanya seperlunya saja, guna menghindari perasaan berlebihan yang nantinya akan membuat kesedihan berkepanjangan.


***


Perusahaan Keamanan Ibra


Biipp biipp biipp


Biipp biipp biipp


Biipp biipp biipp


Suara sirine terdengar bersahut-sahutan tanpa henti di seluruh penjuru perusahaan, yang mana membuat semua orang yang ada di sana berlari panik tidak tau kejadian darurat apa yang terjadi.


"Ada apa?" tanya Luna yang langsung keluar dari kamar mandi dan berlari mendekati lift dengan Sakti yang juga hendak naik.


"Masih ada waktu, Ibra masih bisa bertahan dari alat itu jika tidak lebih dari tiga puluh menit," jelas Luna.


"Tapi kita nggak tau siapa yang mencabut alat-alat itu Lun," ucapnya.


Begitu pintu lift terbuka, Sakti dengan segera langsung berlari ke tempat dimana Ibra melakukan perawatan, tak lupa Luna yang juga berlari tepat di belakang Sakti.


Sakti masuk ke dalam ruangan yang dikelilingi kaca itu, namun langkahnya terhenti melihat sosok yang saat ini berdiri di dekat ranjang yang sebelumnya di tempati Ibra, ia melangkah mundur hingga tanpa sadar menabrak Luna yang berlari di belakang nya dengan kencang.


Bruk...keduanya terjatuh bersamaan.


"Awww apa sih pake jalan mundur-mundur," teriak Luna kesal karena harus terjatuh karena Sakti.


Sosok laki-laki yang tengah berdiri menghadap ke layar besar itu tiba-tiba berbalik melihat mereka berdua yang masih terduduk di lantai.


"Tu... tuan muda... anda sudah sadar... anda sudah kembali," ucap Sakti yang langsung berdiri saking senangnya, ia bahkan tidak menghiraukan pantatnya yang terasa sakit.

__ADS_1


Luna yang mendengar ucapan Sakti juga langsung memiringkan kepalanya yang tertutupi tubuh Sakti, guna melihat apakah itu benar-benar Ibra yang ada di depannya.


Dan mata wanita itu benar-benar berbinar begitu melihat Ibra sudah berdiri dengan gagahnya memperlihatkan tubuhnya yang sixpack sempurna.


"Wah... Ibra..." Luna langsung menghampiri Ibra dan melihat bagaimana tanda vital laki-laki yang beberapa hari ini di rawat nya hingga hampir gila.


"Bentar... gua cek dulu semuanya," ucapnya langsung menggerakkan tangannya untuk mengecek tanda-tanda vital Ibra.


"Huft... syukurlah semua aman," ucapnya yang langsung berjongkok lega, ia tidak bisa tidur dengan tenang selama sebulan belakangan ini karena Rafael selalu mengancamnya setiap malam.


"Tuan... syukurlah anda bangun, tuan besar hampir memecat saya karena tidak bisa menjaga anda dengan baik," ucap Sakti yang juga sangat bahagia dengan kembalinya Ibra di tengah-tengah mereka.


Namun gurat aneh muncul di wajah Sakti ketika Ibra sama sekali tidak merespon apa-apa.


"Tuan muda... apakah ada masalah, kenapa anda tidak bicara sama sekali," tanyanya panik yang mana membuat Luna seketika berdiri.


"Lu jangan nakutin dong,nggak bisa liat orang seneng dikit apa, baru juga gua lega," ucap Luna.


Cukup lama Ibra hanya diam, yang semakin membuat kedua orang di hadapannya berkeringat dingin khawatir, "apa yang harus aku katakan kepada tuan besar jika tuan muda sekarang menjadi bisu? " pikir Sakti.


"Ibra... woy.. Ibra... " ucap Luna menggoyangkan tubuh Ibra panik.


"Nadia," ucap Ibra, ini adalah kata pertama yang diucapkan Ibra setelah sadar dari koma.


Sakti langsung memeluk Ibra, diikuti oleh Luna, mereka semua bahagia dengan kembalinya Ibra.


"Anda kembali tuan, anda bahkan ingat dengan nona," ucap Sakti senang dengan masih memeluk tubuh Ibra.


Ibra tersenyum, sebenarnya ia mendengar samar-samar apa yang dibicarakan oleh semua orang di sekelilingnya selama lebih dari satu bulan ini, namun ia tidak bisa bergerak, ia tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan apapun.


Hingga kemudian. Pletak.


Ibra menyentil dahi Luna keras, "kenapa membohongi ku dengan bayi yang terselip? kau pikir aku bodoh hingga percaya hal seperti itu hah?" bentaknya pada Luna setelah membebaskan diri dari pelukan keduanya.


Namun bukannya marah, kedua orang itu kembali memeluk Ibra bahkan lebih erat, "Lu udah beneran balik, ini Ibra yang gua kenal,"

__ADS_1


"Anda kembali tuan, nyawa kami terselamatkan," ucap Sakti senang.


__ADS_2