Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Menggoda Rafael


__ADS_3

"Ini peringatan untuk kalian semua, aku diam karena Nadia adikku yang mengingikannya, jika suaminya akan membawa kalian ke jalur hukum, aku akan membawa kalian ke jalur ku sendiri," ancam Rafael.


"Tuan... "panggil Aga agar Rafael menghentikan ucapannya.


"Kita pergi... " ucapnya pada Aga, mengerti maksud laki-laki itu.


Namun baru beberapa langkah Rafael berjalan, ia kembali berbalik melihat orang-orang yang masih berdiri di tempatnya.


"Huft... sudahlah," ucapnya kemudian yang sudah berbalik lagi, ia sebenarnya ingin mengucapkan sumpah serampah dan mengeluarkan semua kekesalan dalam hati yang selama ini ia tahan ketika melihat Nadia di perlakukan seperti ini, terlebih setelah ini ia akan menghadapi Ibra yang sudah pasti akan melupakan amarahnya.


"Tuan... "


"Iya, tau tau, diam lah, jangan membuatku semakin gelisah," ucap Rafael gelisah.


"Anda tidak seharusnya berbicara seperti itu kepada mereka, itu bisa menjadi ancaman secara terang-terangan, mereka bisa berbalik menuntut anda ke pengadilan," jelas Aga.


"Biarkan saja, mereka memang sudah keterlaluan, bermimpi membawaku ke pengadilan, coba saja," ucap Rafael yang sudah masuk ke dalam lift khusus VIP bersama dengan Aga.


"Bukan begitu tuan... "


"Udah lu diem aja, stttt... jangan banyak omong, oke? diem," ucap Rafael yang malas mendengar nasehat Aga.


Aga yang mendengar Rafael berbicara seperti ini berubah menjadi diam seketika, sebenarnya Aga bermaksud baik agar tidak ada cela untuk menghancurkan Ibra tuannya.


***


Nadia dan Ibra saat ini sudah berada di dalam ruangan presdir, mereka berdua saat ini sedang duduk di atas sofa dengan Sakti dan Luna yang masih berdiri di belakang mereka.


Nadia sedikit melirik pada Luna agar segera mengganti perban sementara Ibra yang sudah penuh dengan darah.


Memahami kode yang di sampaikan Nadia akhirnya Luna segera mendekat, "Huft... udah tau darah langka... masih aja anarkis,"


Bukannya menjawab, Ibra hanya melirik Luna tanpa berkomentar apa-apa, "apa lukanya dalam kak?" tanya Nadia.


"Tidak dalam tapi cukup untuk mengkhawatirkan di kondisi tubuh yang belum pulih sepenuhnya," jelas Luna.

__ADS_1


Dengan lembut Nadia melihat ke arah Ibra, "mas Ibra nanti jangan main mecah-mecah apapun pake tangan, ini darah mahal mas,"


"Aku kaya," jawabnya singkat.


"Tapi bang Sakti tetap kesulitan mendapatkannya dengan kekayaan itu kan?," ucap Nadia lagi yang seratus persen benar.


"Iya... iya... tapi mereka sudah keterlaluan, bagaimana bisa memperlakukan mu seperti itu, mana coba ku lihat kepalamu, kau menjadi botak seperti itu, suami manapun tidak akan Terima istrinya diperlakukan seperti ini," ucapnya di depan semua orang dengan emosi yang mulai kembali naik.


"Lun... apa ada yang bisa untuk mengembalikan rambutnya ini," tanyanya pada Luna yang sibuk mengganti perbannya.


Ceklik


Belum sempat Luna menjawab, Rafael dan Aga masuk ke dalam ruangan tanpa dosa dan langsung duduk begitu saja di hadapan Ibra.


"Kenapa baru sampai?" tanya Ibra penuh selidik.


"Kaki gua ini, kenapa lu yang repot," jawabnya mengesalkan.


"Jangan membuat keributan yang nggak penting, kau pikir aku tidak tau jalan pikiranmu hah?"


"Jangan bergumam tentangku dalam hati," ucap Ibra lagi.


"Ye... siapa yang ngomong in lu dalem hati, kepedean sih lu," jawabnya membalas ucapan Ibra.


"Abang udah dong," ucap Nadia.


"Kok gua, tuh laki lu tuh suruh diem, dateng-dateng udah negatif mulu mikirnya," sahut Rafael lagi.


"Bukan negatifnya El, tapi tuan muda sangat mengenalmu," bela Sakti.


"Sudah, biarkan saja, sekarang semuanya duduk," perintah Ibra begitu Luna menyelesaikan pekerjaan mengganti perbannya.


Aga dan Sakti yang sebelumnya berdiri kini duduk di kanan kiri Rafael berhadapan dengan Luna dan Nadia, enam orang yang duduk berhadapan itu saat ini tengah serius menunggu topik pembicaraan yang akan Ibra bicarakan pagi ini.


"Delta Internasional saat ini sudah berada di tanganku, dengan banyaknya perusahaan tentunya aku tidak bisa mengendalikan semuanya seorang diri, jadi selama aku menjadi CEO Delta Internasional maka Rafael akan membawahi seluruh organisasi rahasia Cyber yang sudah tersebar di seluruh dunia," ucapnya menatap Rafael dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Cyber bukan perusahaan, ini adalah organisasi rahasia yang berada di bawah kerajaan bisnis Delta Internasional, maka akan sangat cocok jika Rafael yang memegang kendali semuanya.


"Oke.. nggak ada masalah," ucap Rafael setuju.


"Aga akan bertanggung jawab pada semua urusan tentang Delta dan Harbank yang berada langsung di bawah perintahku," ucapnya lagi.


"Baik tuanku,"


"Dan Luna, kau akan tetap menjadi dokter pribadiku di negara ini seperti sekarang, projek Delta yang belum berjalan dengan baik adalah pusat kesehatan, aku akan menyerahkan tanggung jawab dalam sistem pengelolaan dan manajemen di sana kepadamu, rumah sakit yang sebelumnya kau kelola tetap akan berdiri menjadi atas nama istriku, segera cari seseorang untuk mengurusnya," ucapnya.


Dengan mata berbinar-binar Luna melihat pada Ibra yang berkali-kali memijit pelan mata kakinya, bagaimana tidak, perusahaan di bawah nama Delta tentu akan sangat bagus untuk karir dan reputasinya mendatang, terlebih di usianya sekarang, ini merupakan kesempatan langka.


"Baik, baik, aku akan bekerja untukmu lebih baik tuan," ucapnya dengan gaya bicara di buat seperti orang jaman dulu dengan kepala sedikit membungkuk.


Nadia hanya tertawa melihat Luna seperti itu, "Lalu abang Sakti ?"


"Dia akan selalu tau posisinya tanpa harus ku tempatkan," jawab Ibra.


"Saya hanya akan selalu berada di sisi tuan muda nona," tambah Sakti.


"Lalu sistem di perusahaan keamanan yang saat ini di pegang paman Louis gimana? kita belum sempat .... "


"Itu akan menjadi kartu As kita, inti cyber akan berada di sana, mulai dari informasi dan semuanya, ketika nanti ada yang menggoyahkan perusahaan melalui Cyber, Delta tidak akan bisa di goyahkan, karena semua intinya berada di perusahaan keamanan milikku sendiri, itu juga menjadi bagian dari tanggung jawab mu El,"


Baru saja Ibra menyelesaikan ucapanya, Nadia dengan pelan manarik-narik lengan baju Ibra, yang mana membuat Ibra segera menoleh ke arahnya.


Tak hanya Ibra, semua orang yang berada di sana kini juga melihat ke arah Nadia, "ada apa?" tanyanya.


"Mas... hehe... aku lapar," ucapnya polos dengan senyum malu-malu.


"Rafael tidak memberimu makan?" tanyanya yang kemudian hanya di jawab anggukan oleh Nadia.


"Hey... astaga... kapan gua nggak ngasih makan, sumpah aish.... gua mulu yang jadi korban dari tadi, gua udah nyuruh lu makan dek, kenapa lu nyalahin gua sekarang," ucap El berdiri tidak Terima.


"Liat kan mas, abang El selalu marah-marah, dia nggak pernah ngasih Nadia makan, hanya mommy yang selalu membuatkan makanan, tiap marah selalu main cewek dan mabuk,sepertinya abang El harus di sekolahkan lagi mas," adunya pada Ibra menggoda Rafael.

__ADS_1


"Hey.... hey.... "


__ADS_2