
Saat ini semua orang sudah berkumpul di dalam kamar milik Ibra, kamar besar itu sudah di sulap seperti ruang makan hotel elite kelas atas dalam waktu singkat.
Attar, Abrar, Aisyah bahkan Louis juga tak ketinggalan, mereka semua benar-benar berkumpul bersama di dalam sebuah ruangan, bedanya semua orang kini lebih banyak diam dan tidak riuh seperti biasanya.
Semuanya masih tidak ada yang bersuara, bahkan tidak ada yang memulai melakukan aktivitas makan karena menunggu Ibra memulai lebih dulu, "kita di sini untuk makan, kenapa diam saja," ucapnya yang masih tidak peka bahwa semua orang menunggu gerakannya.
''Wah... wah... laki lo rada rada emang dek, kita semua nunggu dia memberikan instruksi, tapi yang di tunggu malah kayak gini, masih ada aja laki nggak peka kaya gini tuhan," ucap Rafael penuh drama.
"Hah??" tanya Ibra tidak faham dengan sindiran yang diberikan oleh Rafael.
"Anda yang memimpin tuan muda, kita semua menunggu anda," jelas Sakti dengan berbisik.
"Kenapa harus menunggu mas Ibra?" tanya Nadia yang juga tidak faham meskipun mendengar bisikan Sakti.
Gadis kecil itu bahkan sudah berdiri untuk menyiapkan makanan yang akan di makan oleh Ibra seperti biasa.
Tak hanya milik Ibra, ia hendak mengambil piring di depan Attar, ayah mertuanya, tapi dengan segera di cegah oleh Attar.
"Tunggu nak," ucapnya saat itu.
Ibra yang saat itu tengah mengamati semua orang yang ada di sana semakin terheran, "Ada apa ini dad ? ini hubungan keluarga, bukan relasi bisnis, jadi jangan membuat acara makan saja harus mengikuti tata cara makan bangsawan seperti sebelumnya, dia menantu daddy, wajar jika Nadia mengambilkan makanan untuk daddy kan ? dia juga biasanya mengambilkan makanan untuk Sakti dan Rafael jika berada di rumah," jelas Ibra.
"Bukan begitu Ibra, tanggung jawab kepala keluarga sudah sepenuhnya beralih kepada pemilik Delta, tidak hanya daddy, mommy bahkan Abrar juga tidak memiliki hak di sini, apalagi sampai membuat istrimu mengambilkan makanan untuk kami, itu sangat tidak mungkin nak,"
Ibra menghela nafas kasar, ia sungguh tidak nyaman berada di situasi ini, laki-laki itu bahkan memijit pelipis matanya pelan.
"Kita makan dulu mas," ucap Nadia pelan yang hanya bisa di dengar oleh Ibra.
''Aku tidak mau sampai ada formalitas tidak penting yang ada di sini, bersikap seperti biasa saja, pemimpin keluarga seperti apa yang membuat seluruh keluarganya takut bahkan untuk makan," ucapnya kemudian memasukkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Oke, sekarang kita makan, menantu tolong ambilkan itu, sejak beberapa hari yang lalu aku sudah menjadi mertuamu juga," ucap Abrar memecah keheningan dengan menyodorkan sebuah piring kosong ke arah Nadia.
"Jangan dek, dia musuh di dalam selimut, Hati-hati dengannya, ucapnya bahkan bisa membunuh seseorang,"
"Kau.... bocah tengil," kesal Abrar.
"Apa... aku bisa menembakkan meriam di kepalamu sekarang juga," ucap Rafael tanpa kenal takut, Rafael memang rajanya membuat orang kesal.
"Dan kita semua akan mati di sini hah ?"
"Yah, paling tidak aku mati dengan kemenangan setelah menembak kepalamu," sombongnya tanpa pikir panjang.
"El... "
"Hehe... iya mom, sorry sorry"
"Dia hanya takut kepada Aisyah, dia menjadi singa jika denganku dan berubah menjadi anak kucing jika berhadapan dengan Aisyah," kesal Abrar tidak percaya.
"Saya rasa tidak mungkin nona, El terlalu...uhm... " sanggah Sakti.
"Jika tuan Rafael sudah tunduk pada seorang wanita, maka karmanya sudah tiba nyonya," tambah Aga yang sontak membuat semua orang tertawa.
"Wakakakaka..... itu benar sekali," sahut Abrar yang senang mendapatkan teman untuk mengejek Rafael.
"Heh... awas aja lu Aga... " ucapnya dengan mata melotot yang terlihat lucu.
"Sabar nak sabar, semua memang ada karmanya," tambah Attar dengan menepuk-nepuk punggung Rafael.
"Daddy.... " teriaknya.
__ADS_1
Nadia yang saat itu tengah memperhatikan semua orang di meja makan kini tersenyum mengingat awal mulai perjodohan dirinya dengan Ibra hingga sampai dunianya gelap ketika Ibra tidak berada di sisi nya beberapa waktu lalu, "aku pernah berada di fase dimana segalanya terasa sudah tidak ada artinya lagi, di saat-saat seperti itu rasanya ingin sekali mengakhiri semuanya. Namun semesta masih menginginkan ku tetap ada di dunia."
"Hingga sekarang, aku masih bisa menghirup udara dari rongga pernafasan ku dan hari-hari buruk itu telah berlalu, hidup memang lelucon, perjalanan naik dan turun membuat kita lupa makna yang kita punya,"
Ibra yang tidak sengaja melihat Nadia menggenggam lembut jemari Nadia, "ada apa?" tanyanya hampir tanpa suara.
"Terimakasih sudah bertahan sampai hari ini mas Ibra, besok kita hadapi semua ini bersama ya," ucapnya pelan dengan senyuman terus mengembang di bibir gadis kecilnya itu.
Ibra mengelus lembut gadis kecil di depannya ini dengan kepala mengangguk, hal kecil ini tidak luput dari pandangan Aisyah, ibu ini teramat sangat bahagia melihat perubahan yang di alami oleh putra semata wayangnya ini.
"Sesuatu yang dulu rasanya berat sekali untuk di lalui, ternyata bisa dilewati juga. Sesuatu yang dulu rasanya sangat hancur dan seperti tidak ada jalan lagi, ternyata semuanya masih baik-baik saja, kita cuma perlu bertahan dan hanya melaluinya, karena terkadang yang buruk itu hanya ada di pikiran manusia, bahagia seperti ini Ibra, anak kesayangan mommy," batin Aisyah tenang.
***
Beberapa hari berlalu tanpa terasa, semuanya sudah kembali normal seperti hari-hari sebelumnya, Orang tua Ibra sudah kembali ke negara mereka masing-masing untuk melanjutkan perusahaan yang sempat terbengkalai selama komanya Ibra.
Abrar juga tetap kembali pada IA entertainment yang di belikan oleh Ibra untuk di kelola.
Louis dengan misi rahasianya tetap menjadi ketua perusahaan keamanan milik Ibra di bawah kuasa Rafael sebagai penanggung jawab Cyber.
Semua kembali pada posisinya, kecuali Nadia, gadis itu sudah tidak lagi bekerja di perusahaan, ia selalu mengikuti setiap kegiatan Ibra, menemani Ibra berlatih jalan, menembak, memanah dan latihan-latihan yang lain, bahkan jika ada pertemuan dengan relasi bisnis, Nadia juga akan hadir di manapun Ibra berada, ia bahkan tidak canggung sama sekali.
Pernah suatu hari ia sangat mengantuk, bahkan hampir tertidur ketika menunggu klien yang tidak kunjung datang.
"Tidur lah, Sakti akan mencarikan sebuah kamar," ucap Ibra saat itu.
Bukannya menjawab, Nadia hanya menggeleng, "ini sebagai ganti rugi karena mas Ibra meninggalkan kami berdua sendirian saat ini, jadi Nadia akan ikut kemanapun mas Ibra pergi sekarang,"
"Tapi perutmu semakin membesar, kau pasti akan mudah lelah bukan,"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, dia juga suka di samping ayahnya," jawabnya dengan senyum.