
"Kalian yang ngintip tapi kalian juga yang ribut ?" tanya Ibra dengan wajah yang benar-benar tidak bisa di tebak apa yang ia rasakan saat ini.
Kedua laki-laki itu hanya meringis menggaruk tengkuk yang tidak gatal, "kita hanya tidak ingin mengganggu anda tuan muda, itu sebabnya kami menunggu di sini,"
"Lu lama sih, gua bosen nunggunya, hehe udah pelukannya ? nempel banget kayak penganten baru," goda Rafael pada Ibra yang masih saja tidak menunjukkan sikap ramahnya.
Ibra menatap Sakti dan Rafael dari atas hingga bawah dengan teliti tidak berniat menjawab pertanyaan yang baru saja di lontarkan Rafael, "helikopter sudah siap tuan muda,"
"Cancel, Kalian naik ambulance," ucapnya.
"Hah, Kira-kira dong lu, udah cakep gini naik ambulance?" ucap Rafael seketika.
"Para abang naik ambulan nanti Nadia sama om Ibra yang nemuin wartawan buat klarifikasi," jawab Nadia yang baru saja ikut berkumpul di tengah-tengah pintu.
"Huftt gua yakin lu berdua dendam sama gua keknya, okelah kita ganti baju dulu kalo gitu, ngapain juga gua pake baju cakep-cakep gini tadi," gerutu Rafael tanpa henti meskipun sudah berjalan menjauh hendak mengganti baju di dalam ruangan yang sebelumnya di sulap menjadi kamar sementaranya.
"Kenapa kau masih di sini ?" tanya Ibra yang masih diam di sana tanpa mengikuti Rafael.
"Anda sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi tuan muda ?" tanya Sakti kemudian.
"Aku akan memanggilmu kalau aku butuh sesuatu, cepat pergi sebelum ada orang lain yang melihatmu berdiri di sini," ucap Ibra lagi.
"Baik tuan muda,"
Sakti bergerak pergi meninggalkan Ibra dan Nadia yang masih mematung di ambang pintu melihat tubuh Sakti yang menghilang di balik dinding rumah sakit.
"Om sengaja mengusir mereka?" selidik Nadia.
"Mereka menggangguku," jawab Ibra singkat kemudian masuk ke dalam ruangan.
Flashback On
"Ah ah om.... " teriak Nadia saat Ibra menarik gemas hidungnya,
"Wk wk wk wk,"
"Om Ibra bandel ya, bisa bisanya di kondisi kayak gini astaghfirullah,"
"Haha, kemari lah," ucap Ibra singkat, laki-laki itu kini duduk di atas sofa berwarna abu-abu yang bersandar pada dinding rumah sakit.
Dengan cemberut Nadia melangkah mendekati Ibra pelan, "hmmm... "
"Kau jangan meniru gaya ku, hmm hmm," ucapnya kemudian menarik pergelangan tangan Nadia agar duduk di sampingnya.
"Apa sih om?" tanya Nadia.
__ADS_1
Ibra menarik tubuh Nadia agar duduk semakin dekat dengannya, tak lama ia meraih jari jemari Nadia kemudian memasangkan sebuah cincin permata di jari manis gadis kecil itu.
"Om ini apa?" tanya Nadia heran karena mendapat perlakuan yang tidak biasa dari Ibra.
"Sebagai ganti cincin nikah yang sebelumnya nggak tau dimana," ucap Ibra singkat.
"Kan ada di rumah om cincinnya, emang Nadia nggak pernah pake aja," jawab Nadia lagi.
"Ya udah sekarang ganti aja sama yang ini, nggak boleh di taruh sembarangan apalagi di lepas, karena ini aku yang pasang jadi jangan pernah di lepas selama bukan aku yang minta kamu buat lepasin cincin ini,"
"Kalo di jual, hehe, " ucap Nadia senyum menggemaskan.
"Karena Ibrahim Muhammad Attar sangat kaya, jadi perhiasan yang kamu pakai itu memiliki kode, dan itu tidak bisa di jual sembarangan, kalo penasaran boleh coba, cari siapa yang berani membelinya," jelas Ibra masih menatap Nadia yang melongo mendengar penuturannya.
"Om pikir aset negara pakai kode-kode di emas, nggak mungkin banget lah kalo sampai punya kode,"
"Mangkanya cobain Gacil, kalo cuma ngomong percuma, nggak guna," ucap Ibra.
Posisi tubuh kecil milik Nadia masih di dalam pelukan Ibra, dengan tangan kanan Ibra berada di pinggang sebelah kanannya.
Dulu awal-awal Ibra memeluknya seperti ini, Nadia sempat merasa risih dan bingung harus apa, saat itu, ini adalah hal pertama baginya begitu dekat dengan seorang pria, namun sihir apa yang di pakai Ibra hingga membuat Nadia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menolak Ibra, Nadia sendiri tidak tau.
"Ehem Om, abis ini kita mau kemana ? karena om udah bangkrut, kita akan tetap tinggal di rumah kita kan bareng abang-abang ?"
Pletak
"Awwww....sakit om "
"Kehilangan satu perusahaan tidak bisa membuatku langsung bangkrut Nadia, jaga bicaramu itu,"
"Lalu... "
"Honeymoon," ucap Ibra singkat.
"Hah....??? " reflek Nadia bersuara.
"Membuat kenangan, seperti yang sudah pernah aku bicarakan padamu sebelumnya," ucap Ibra lagi.
Nadia terlihat berusaha mengingat ucapan Ibra dan dirinya kala itu.
"Satu bulan ini mau main nggak ?" ucap Ibra.
"Main apa om?"
"Main sandiwara suami istri,"
__ADS_1
"Emang suami istri om Ibra... " jawab Nadia.
"Sandiwara aja,"
"Untuk ?"
"Uhmm, Kita harus membuat kenangan Nadia,"
"Ahh sandiwara yang itu to, oke siapa takut, kita mau kemana? Jalan-jalan kan om?" ujarnya semangat.
Semburat kebahagian terlihat di wajah Ibra ketika melihat respon Nadia, "dia sangat menggemaskan, benar-benar polos, seperti gadis belasan tahun pada umunya, membuatku tidak bisa marah saja," batin Ibra senang.
"Kau ingin jalan-jalan dimana?"
"Uhm pantai, Nadia ingin ke tempat dengan banyak air," ucapnya bahagia, seolah dirinya sudah membayangkan berada di tempat yang ia inginkan.
"Heh kau pikir kau masih bocah, bagaimana mungkin seorang remaja seusia mu masih suka bermain dengan air," ketus Ibra tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Nadia.
"Hehe itu menyenangkan om, cobalah," ucapnya lagi.
Ibra terpaku melihat keceriaan yang terpancar jelas di wajah Nadia, "kau hanya tau untuk jalan-jalan dan bermain, aku yakin kau tidak benar-benar tau apa itu honeymoon dan apa yang seharusnya di lakukan, tapi melihatmu seperti ini sekarang seperti menjadi hiburan untukku,"
Nadia masih belum sadar ketika dirinya terus mendapat tatapan dari Ibra dengan jarak cukup dekat, gadis itu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya dan melihat notifikasi pesan di sana, meskipun tidak ada yang menghubunginya. Hingga tanpa sadar Nadia menggerakkan kepalanya ke samping berniat memberitahu sesuatu kepada Ibra.
Cup
Sesuatu yang lembut mengenai bibirnya, seperti terkena sengatan listrik, tubuh Nadia benar-benar kaku dengan mata terbelalak karena tidak percaya dengan apa yang ia lakukan.
Yups gadis itu tidak sengaja menempelkan bibirnya pada bibir Ibra, beberapa detik mereka hanya saling menatap dan tidak bergerak satu sama lain.
Kemudian Ibra menarik tubuhnya untuk menjauh, sebuah senyum nakal jelas terlihat di sana, "kau hendak menggoda ku Gacil? aku bisa melakukan lebih dari ini," ucap Ibra sengaja menggoda Nadia.
Mendengar Ibra berucap seperti itu benar-benar membuat pipi Nadia semakin bersemu merah, gadis itu menunduk dan tidak berani menatap Ibra, ia benar-benar malu dan merutuki kebodohannya, "aish Nadia bodoh, aku malu sekali,"
"Dia benar-benar menggemaskan,"
Di sela-sela keheningannya dengan Ibra karena kejadian yang mereka alami tadi, Nadia mendengar suara gaduh di luar, "apa yang terjadi di luar om, om denger juga nggak suara ribut," tanyanya singkat pada Ibra.
Belum sempat Ibra menjawab pertanyaan Nadia, terlihat dua kepala muncul di balik pintu ruangan nya. pintu tersebut terbuat dari kaca kecil di bagian atas seperti pintu rumah sakit pada umumnya.
"Aish, mereka selalu bertengkar seperti itu untuk hal-hal yang sederhana," kesal Ibra.
Wajah Ibra yang tadinya tenang kembali terlihat datar, ia tidak suka ada yang mengusiknya, terlebih kali ini, "mereka benar-benar mengganggu," batinnya kemudian melangkah mendekati pintu.
Flashback Off
__ADS_1