Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Pukul 19.00


__ADS_3

Ibra mendengus kesal ketika tidak hanya Sakti yang melarangnya menemui Nadia, Aisyah dan Attar juga melarangnya menemui gadis cilik itu dengan alasan yang beragam, dia hanya ingin menambahkan kesepakatan diantara mereka saja. Dengan wajah kesal ia berjalan menuju sebuah pintu di sebelah kamar yang ditempati Nadia, tangannya menyentuh gagang pintu dan kemudian mendoronya perlahan hingga terbuka, ia melangkah ke dalam ruangan tersebut, tangannya menyentuh sebuah ranjang berukuran jumbo yang menjadi center point di ruangan bernuansa abu-abu itu, matanya masih saja melihat keseluruhan isi ruangan, "masih sama" pikirnya.


Manik matanya berhenti di sudut ruangan, ada beberapa foto terpajang disana, tanpa sadar Ibra berjalan mendekat ke arah foto-foto itu, sebuah senyum terukir ketika tangannya menyentuh foto-foto itu "bahkan foto ini masih ada disini."


Drttt drttt


Terdengar suara nada dering handphone yang berada dalam saku celananya, tangan Ibra bergerak meraih benda kecil di dalam sakunya, tertulis nama sakti calling disana, "Cihh untuk apa dia menelfonku saat ini bukankah hanya tinggal masuk saja". gerutunya dengan menekan tombol hijau di layar handphone dan mendekatkan di telinganya.


"Kenapa Sak ?" tanyanya sedikit kesal sebenarnya, (kapan anda tidak kesal tuan muda, anda selalu saja kesal, batin Author)


"Ini Nadia om, katanya om tadi pengen ngomong sesuatu ?" ucap gadis cilik itu dengan polosnya.


"Oh, Sakti masih ada di sana ?"


"Baru aja keluar." jelasnya lagi


"Oke, sekarang ada siapa aja disana ?"


"Uhmm, udah keluar semua tadi sama pak Sakti." jelas nya lagi.


"Sip, good job Sakti," pujinya dengan wajah datarnya.


"Jadi ada apa om ?" tanya gadis itu lagi.


"Omm ??? kamu tadi manggil saya apa ?"


"Om kan, Nadia harus manggil apa, bapak juga kah ? kayak pak Sakti, nanti bikin om keliatan makin tua kan." jawab gadis itu lagi.


"Udah-udah terserah lo, ada yang lebih penting dari ini untuk dibahas sekarang." ucapnya serius.


"Apa om ?"

__ADS_1


"Setelah nikah, jangan pernah berhubungan dengan semua yang berurusan dengan panti asuhan lagi."


Nadia hanya diam masih berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh sang calon suami, "kenapa ?"


"yah karena saya nggak mau semua orang tau kalo saya punya istri yang pernah tinggal di panti asuhan dan nggak jelas asal usulnya." Nadia masih diam, kata-kata Ibra sungguh menghujam hatinya seperti lesatan sebuah peluru. Sudah ada genangan air di pelupuk matanya.


"Kau dengar aku gadis cilik ?" tanya Ibra lagi ketika tak mendapat sahutan dari Nadia.


Nadia masih mengerjap-kerjapkan matanya agar genangan air itu tidak tumpah, dadanya merasa sesak dan mulutnya sudah tidak mampu menjawab pertanyaan Ibra, "Hey gadis cilik, jawab aku ?" terdengar suara lagi yang keluar dari dalam handphone yang di pinjamkan kepadanya.


"Iya om, gak perlu khawatir" Jawabnya sedikit menahan sesak di dadanya.


"Oke lanjutkan, satu jam lagi kita ketemu dibawah." ucap Ibra langsung memutuskan sambungan telfonnya.


***


Akad Nikah


Tepat pukul 19.00 semua anggota keluarga sudah berkumpul, acara ini hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat saja, yang datang hanya bisa di hitung dengan jari, namun tidak membuat acara pesta itu sesederhana yang Nadia kira, dekorasi bunga dan lampu-lampu sudah terpasang rapi di seluruh penjuru halaman tempat akan dilangsungkannya prosesi akad nikah dengan tema outdoor, tidak cukup dengan itu masih ada banyak sekali makanan berjajar senada dengan dekorasi yang tak kalah indahnya, kali ini manik mata Nadia berhenti pada sebuah gazebo mengambang di atas kolam renang yang sudah penuh dengan lilin teratai warna warni.


Tak hanya Nadia yang terpukau dengan keindahan keindahan dekorasi malam itu, Ibra sedikit terdiam ketika Nadia terlihat berjalan kearahnya dengan gaun pengantin berwarna putih yang membalut indah tubuh Nadia dengan sempurna, Ibra masih melihat ke arah Nadia hingga tidak sadar gadis itu sudah duduk tepat di sampingnya.


"Nona muda sangat cantik malam ini tuan." bisik sakti tepat ditelinga Ibra namun Ibra hanya membalas dengan mendelikkan mata tanda tak suka.


"Kau berani membuatku menunggu terlalu lama Nadia." bisiknya pada Nadia.


Nadia hanya tersenyum polos tanpa dosa mendengar ucapan calon suaminya, yang mana malah membuat Ibra tidak jadi kesal setelahnya, dasar gadis cilik licik, dia sudah bisa menggodaku dengan senyumnya itu, gumamnya.


"Bisa kita mulai sekarang tuan ?" tanya penghulu yang akan menikahkan nya.


Ibra mengangguk, penghulu tersenyum setelah mendapat persetujuan kedua mempelai, Akad nikah pun dimulai dengan membaca bismillah, Ibra mengucapkan ijab qabul hanya dengan sekali tarikan nafas di depan penghulu, wali hakim, dua orang saksi dan beberapa tamu yang hadir.

__ADS_1


Rona bahagia nampak menghisai wajah semua orang yang ada di acara itu ketika Ibra berhasil melakukan prosesi dengan baik, tenang dan percaya diri. Laki-laki itu nampak sangat tampan dan gagah dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja putih yang semakin membuatnya terlihat berwibawa.


Setelah prosesi sudah dilaksanakan seluruhnya, Ibra dan Nadia kini berdiri berdampingan menyapa beberapa tamu yang ada di sana dengan tetap tersenyum dan bergandengan tangan layaknya pengantin pada umumnya.


"Ibra udah lama nggak ketemu tante jadi makin tampan aja, coba dulu mau tante jodohin sama anak tente," ucap tante Viola adik mommy.


"Iya ya, Ibra ini paket lengkap pokoknya ma. Tampan, kaya, cerdas pasti nanti anak-anaknya nanti juga bakal jadi anak yang hebat seperti ayahnya, gen super ma," ucap om Bagas istri tante Viola.


Nadia sedikit tersindir mendengar pembicaraan para orang tua itu namun tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya, "iya dong om, makanya Nadia bersyukur banget menikah dengan suami Nadia ini," ucapnya kemudian semakin mengeratkan pelukannya di lengan Ibra.


Dasar gadis nakal, bisa-bisanya memelukku di depan semua orang seperti ini.


Nadia tersenyum ketika taktiknya berhasil membuat kedua orang tua itu pergi, "Om, akting Nadia bagus kan om ? kata pak sakti Nadia harus menjauhkan om dari orang-orang yang cuma pengen manfaatin om doang kayak mereka." ucap Nadia sambil menunjuk Viola dan Bagas yang sibuk mencari pencitraan sana-sini.


"Awww...." Nadia merintih dan langsung memegang jidatnya setelah Ibra menyentil dengan keras.


"Kedepannya jangan mendengarkan siapapun selain aku, oke ??" ucapnya.


Nadia hanya mengerucutkan mulutnya mendengar perkaataan Ibra, "Jawab aku gadis cilik ?"


"Iya om, iya.." jawabnya dengan wajah yang masih cemberut.


Ternyata dia hanya terlihat tegar diluar, aslinya lucu seperti kucing, gumam Ibra dalam hati dengan sedikit senyum samar di bibirnya.


.


.


.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.


__ADS_2