
"Kebenaran apa Ibra, aku ikut oma demi kamu, demi layak jadi pendamping kamu di masa depan,"
"Dengan pergi? itu bukan alasan yang bagus Anna, akan berbeda jika kamu benar-benar menjadi sandera, aku nyari kamu udah kayak orang gila bertahun-tahun, kamu tau gimana rasanya ? kamu bisa bayangin perasaan aku hah ? aku berusaha nggak percaya sama apa yang aku lihat, tapi sikap kamu semakin membuat aku merasa bahwa semua fakta itu benar,"
"Fakta apa, aku nggak faham sama apa yang kamu maksud barusan," ucap Anna dengan wajah penuh keringat di ruangan ber AC itu.
Nadia menghela nafas berat seolah keputusan yang akan ia ambil kali ini benar-benar sulit, kemudian ia melihat ke arah Ibra dengan menggenggam pergelangan tangan sebelah kiri suaminya itu, "Om mau coba saran dari Nadia nggak ?" tanya Nadia lembut meminta persetujuan Ibra.
Ibra menautkan alisnya, bertanya dalam hati apa yang di rencanakan oleh gadis kecilnya itu, namun tanpa berfikir ia menganggukkan kepala begitu saja.
"Selama ini dia tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan ku, aku harus mempercayainya," batin Ibra
"Tante, sebelumnya anak kecil ini mau meminta maaf, tapi Nadia sudah berjanji sama diri Nadia sendiri, selama om Ibra nggak nyuruh Nadia buat pergi, Nadia akan tetap berada di sisi om Ibra, kecuali nanti saat tante benar-benar bisa menjadi pendamping terbaik buat om Ibra, Nadia sendiri yang akan milih buat ninggalin om Ibra dengan senang hati."
"Nadia.... " ucap Sakti dan Rafael bersamaan, dan Ibra yang masih serius mendengarkan ucapan Nadia selanjutnya.
"Ini juga demi menghargai diri Nadia sendiri, kalau memang om Ibra bukan jodoh Nadia di paksa bagaimanapun kita akan tetap berpisah, karena itu Nadia setuju dengan saran mommy dan daddy," ucapnya tegas.
"Tunggu... " teriak Rafael sedikit tidak Terima dengan ucapan adik perempuan nya itu.
"Selalu ada fase dimana kita akan dipaksa menyerah pada kehidupan, melepaskan perlahan dengan apa yang sudah Nadia dapatkan dengan hidup berdampingan dengan kalian, keluarga Nadia. Ini bukan soal putus asa bang, melainkan soal tau diri," ucapnya dengan senyum, gadis itu seolah mantap dan yakin dengan apa yang di ucapakannya.
"Aku hanya istri kontrak, tidak hanya dengan om Ibra, tapi juga dengan keluarganya, don't cry Nadia, ini sudah jalannya."
"Dia tidak semuda usianya," lirih Attar.
"Yakin mau ambil keputusan ini ?" tanya Ibra lagi penuh keraguan, hatinya sungguh merasa aneh dan kepalanya penuh dengan banyak dugaan.
Nadia kembali menatap Ibra dan mengangguk dengan mantap, "Nanti aku akan tinggal bersama bang El, bang El ngajak aku tinggal di rumahnya kalo udah cerai sama om,"
"Tinggal di rumahnya ? kan dia tinggal bareng kita ?" tanya Ibra, kemudian pikiran Ibra melalang buana setelah mencerna maksud ucapan istrinya itu.
__ADS_1
"Rafael..... " ucap Ibra menatap tajam ke arah Rafael, tak hanya itu, ia juga mendekat dan menarik lengan laki-laki itu ke luar rumah.
"Hehe, gua masih mending ngajak dia tinggal di rumah gua, noh si Sakti malah udah lama nunggu janda lu, wk wk wk wk wk," ucapnya kemudian lari terbirit-birit berlindung di belakang tubuh Nadia.
"Sakti ? dia udah berani ambil punya gua, berani-beraninya dia !!!! kenapa dia seperti menjadi icon semua pria," geramnya mengejar Rafael ke dalam, pasalnya dia ingat ketika para produsernya meminta Nadia menjadi brand ambasador beberapa produk yang bekerja sama dengan IA Entertainment.
"Ibra bagaimana?" tanya Anna kemudian dengan Ragan yang sudah di sampingnya. Dia menghalangi tubuh Ibra ketika hendak mendekat ke arah Rafael yang bersembunyi di tubuh istri kecilnya itu
"Semua terserah dia," ucapnya menunjuk pada Nadia.
"Kamu kenapa jadi suami yang takut istri begini sih Ibra, kamu udah di apain sama dia ?" ucap Anna berapi-api.
"Astaga Anna.... " ucap Ibra lelah.
***
Rumah Nadia
Rafael dan Sakti keluar terlebih dahulu kemudian membuka pintu mobil bagian belakang untuk Ibra dan Nadia.
"Duh ini udah kayak rumah yang dulu aku tempati sebelum ikut oma, huftt balik lagi hidup kayak gini,"
"Ini rumah kalian ? bukannya kamu punya rumah besar honey, kenapa harus tinggal di rumah seperti ini, apalagi dengan banyak orang seperti mereka," ucap Anna yang juga baru saja turun dari mobil.
"Hmm nih orang baru dateng udah bacot aja kayak kucing kurang belaian, males gua dengernya," ucap Rafael kemudian berlalu pergi ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Tante nanti bisa tinggal di kamar bang Sakti dulu sementara sampai kamar yang akan tante pakai siap di bersihkan," ucapnya pada Anna ramah.
"Jangan bersikap seolah kamu pemilik rumah ini, aku akan tidur bareng Ibra," tegas Anna.
Nadia merasa malas harus menanggapi wanita yang ada di hadapannya ini, "Nadia masuk ya om, abis ini Nadia siapin air hangat untuk om mandi dulu," ucapnya kemudian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sebenarnya dia istri kamu atau pembantu sih ?" tanya Anna pada Ibra.
"Justru karena dia adalah istri tuan muda, itu adalah bentuk bakti dan rasa hormat nona kepada tuan muda, dan rumah ini memanglah milik nona muda, kita bertiga yang memilih untuk menumpang di rumah ini," jelas Sakti dengan penuh sindiran namun tetap memasang senyum di bibirnya.
"Cepat masuk, jangan membuat masalah," perintah Ibra yang malas mendengar ucapan Anna.
Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Anna dan Sakti yang masih berada di sana, pikiran laki-laki itu sungguh berkecamuk tidak tau harus apa, "kenapa dia sangat berubah drastis seperti ini, apa yang dia pelajari selama pergi dari sisiku ? segitu inginnya menjadi nyonya Delta Internasional sampai menjual hubungan kita dengan mudahnya dan menuruti semua keinginan oma,"
***
Rumah Keluarga Besar Attar
"Mereka saling mencintai,"
"Udah pasti, daddy yakin 1000 persen,"
"Kita harus mencari cara menyadarkan mereka dad,"
"Harus mom, tapi bagaimana ?"
"Uhmmm..... "
"Mau buat drama nggak mom ?" tanya Attar lagi.
"Setuju.... " jawab Aisyah penuh semangat, namun tidak mendapat respon dari suaminya itu, terlihat sedikit raut kesedihan di wajahnya.
"Ingat ibu ?" tanya Aisyah kemudian.
"Dulu daddy sangat percaya dengan ibu, tapi setelah apa yang dilakukan pada Abra sewaktu kecil benar-benar membuat perasaan dan hatiku terluka, di tambah dengan fakta dia masih harus merenggut kebahagiaan di kehidupan Ibra dengan mengambil Anna, daddy benar-benar kecewa dan merasa sangat menyesal harus lahir dari seseorang yang kejam sepertinya,"
"Kita hanya harus memastikan Ibra bahagia, jika Anna benar-benar menjadi istrinya kelak, entah bagaimana kehidupannya nanti, kita bahkan tidak pernah mengusik kehidupan Ibra dengan tidak menemuinya setelah pernikahan nya dengan Nadia, karena itu kita tidak boleh membiarkan siapapun melukainya juga,"
__ADS_1
"Bahkan jika itu Ibu, aku tidak akan berdiam diri kali ini mom," tegas Attar.