
Ibra mendaratkan sebuah kecupan dengan gigitan kecil di sana, "aku baru saja meninggalkan jejak di sana, aku tidak mengizinkan mu untuk menghapus nya," perintah Ibra yang langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah memerah.
Nadia mematung di tempatnya berdiri, tidak percaya dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Ibra, "apa yang baru saja di lakukan oleh om Ibra?" gumam Nadia.
Flashback on
Nadia terbangun dari tidur nya karena mimpi buruk, saat itu ia tidak menyadari bahwa apa yang berada di mimpinya sudah benar-benar ia alami, ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Ibra yang memang tidak ada di sana saat itu.
Perasaan takut sendirian, dan takut di tinggal oleh Ibra tiba-tiba muncul di dalam pikirannya, ia reflek berteriak karena panik, bahkan kelopak mata itu sudah mulai banjir dengan air mata.
"Om Ibra..... Om Ibra.... " teriaknya panik.
"Apa om Ibra bakal ninggalin aku ya? dimana ini?" pikirnya panik.
"Om Ib...ra..... om Ibra........ " teriaknya lagi.
"Kau sudah bangun...?"
Ibra sudah berbicara panjang lebar untuk menenangkan Nadia, ia bahkan berbicara seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi.
"Om jangan pergi kemanapun oke, jangan pergi," ucap Nadia pada Ibra sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Du du du du du.... " senandung Nadia ketika sudah berada di dalam kamar mandi.
"Tubuhku lengket sekali, aku ingin berendam sebentar," ucapnya ketika melepas kaos Ibra yang masih melekat di tubuhnya.
"Sejak kapan aku pake kaos om Ibra?" pikirnya dengan membentangkan baju Ibra di depannya.
"Sudahlah, nanti aku nanya om Ibra lagi, sekarang mandi dulu," ucapnya masih belum sadar.
Hingga beberapa menit setelah ia merasa cukup berendam, Nadia mengambil handuk yang sudah terlihat di ujung ruangan sana, ia mengambil handuk berwarna putih itu dan melilitkan di tubuhnya.
Nadia berjalan hendak menuju pintu, namun terlebih dulu ia berhenti di depan cermin, matanya tertuju pada tanda merah di kulit bagian lehernya, sekelebat ingatan tentang kejadian beberapa saat yang lalu kembali berputar di kepalanya.
Gadis itu memegang kepalanya yang berputar, rasa sakit di hati dan kepalanya benar-benar membuatnya ingin berteriak sangat kencang, "kenapa om Ibra bohong, ini bukan mimpi, ini bukan mimpi," gumam Nadia dengan memegang kepalanya.
Dengan sempoyongan gadis itu berjalan keluar dari kamar mandi, matanya tertuju pada sosok Ibra yang sedang memukul dinding, rasa bersalah dan kecewa terlihat jelas di wajah Ibra.
"Itu beneran terjadi kan om? Nadia udah kotor kan om? itu nggak mimpi?"
__ADS_1
"Heh ada apa? ada apa ? kau yang menggosoknya sampai seperti ini?"
"Aku tidak ingin melihat bekas yang mereka tinggalkan di tubuhku om,"
"Nadia cukup.... "
"Ku bilang cukup Nadia.... "
"Om maaf.... "
"Maaf om... "
Ibra mendaratkan sebuah kecupan dengan gigitan kecil di sana, "aku baru saja meninggalkan jejak di sana, aku tidak mengizinkan mu untuk menghapus nya," perintah Ibra yang langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah memerah.
Tak hanya Ibra, Nadia bahkan merasa panas di semua bagian tubuhnya, "apa yang di lakukan om Ibra, kenapa jantungku jadi tidak beraturan kayak gini," ucapnya dengan pipi memerah karena malu, namun terdapat kelegaan di hatinya setelah mendapat respon seperti itu dari ini.
Gadis kecil itu menatap cermin dan melihat bekas gigitan yang di tinggalkan Ibra di lehernya, entah kenapa bibir itu tak bisa berhenti tersenyum sembari menatap cermin.
"Aku harus ganti baju sebelum om Ibra kembali,"
Flashback Off
Kamar mandi
"Oke rileks, gak boleh gugup, tenang Ibra tenang, mending mandi lagi," ucap Ibra.
Cukup lama Ibra di dalam kamar mandi, setelah beberapa saat akhirnya ia keluar dengan menggunakan kaos merah dan celana selutut berwarna navy.
Nadia terlihat masih duduk di depan cermin menyisir rambutnya, "apa yang dia lakukan sejak tadi, bagaimana bisa dia masih bercermin, padahal aku sudah di dalam kamar mandi cukup lama,"
"Om ayo makan," ajak Nadia ketika melihat pantulan tubuh Ibra di cermin.
Ibra mendekat ke arah Nadia, tangannya menyentuh kepala Nadia, tak lupa juga ia membolak-balikan tubuh Nadia, entah apa yang berada di dalam pikirannya, "ada apa om?"
"Kau sudah ingat semua kan?" ucap Ibra.
"Siapa sekertaris ku?" tanyanya.
"Bang Sakti kan?"
__ADS_1
"Rafael?"
"Emang bang El sekertaris om?"
"Huft, syukurlah," ucap Ibra lega ketika Nadia sudah mengingat mereka berdua, ia sudah berfikir sejak di dalam kamar mandi, ia akan bertanya tentang Sakti dan Rafael pada Nadia, karena Ibra tau kedua orang itu pasti akan sakit jika Nadia tidak mengingatnya.
"Sakti dan Rafael ada di depan, kau bisa makan bersama mereka, aku akan mencari penginapan lain,"
Deg
Nadia sungguh tidak menyangka dengan apa yang di ucapkan Ibra dan apa maksud nya dia berkata seperti ini, yang pasti ia tidak ingin mencari gara-gara dengan semakin mengecewakan semua orang dengan keinginan nya bersama dengan Nadia sebelum bulan ini berakhir.
"Kenapa? karena aku kotor? om nggak suka sama perempuan yang udah nggak perawan? om kecewa karena aku nggak bisa jaga diri dan nggak nurut sama om kan?" ucapnya memberondong pertanyaan pada Ibra yang sudah membalikkan badannya dengan berkaca-kaca.
"Om jangan pergi, maaf," ucapnya semakin menyesali dirinya sendiri.
Ibra berbalik, untuk pertama kalinya dia tersenyum terang-terangan di depan Nadia, laki-laki itu menyentuh pipi Nadia yang sudah basah, "aku egois membawamu pergi tanpa pengawalan, aku gagal menjaga kamu sebagai istriku, dengan bersamaku akan selalu menjadi ancaman dan bahaya untukmu, ini sudah terjadi pada semua orang yang ada di sekeliling hidupku, jadi Nadia, hiduplah dengan bahagia bersama Sakti dan Rafael, kau punya hak untuk itu.... "
"Nggak mau, kenapa om jadi banyak omong sekarang, aku nggak mau tinggal sama bang Sakti dan bang El," ucap Nadia yang semakin mengeraskan tangisnya dan semakin mengeratkan pelukannya pada laki-laki itu.
Dengan lembut Ibra menyentuh rambut setengah basah itu dan mengelusnya, "ini bukan soal kamu sudah di sentuh orang lain atau bukan, ini soal aku yang gagal menjagamu dengan baik, jadi jangan pernah menyalahkan diri sendiri lagi, jangan cengeng Nadia."
"Nggak, aku nggak mau om pergi,"
"Nggak boleh.... nggak mau pokoknya," ucap Nadia dengan tidak melepaskan tubuh Ibra sedikitpun.
"Ada Sakti dan Rafael yang akan menjagamu nanti, kau lebih aman bersama mereka dari pada bersamaku,"
"Ini honeymoon kita, aku nggak mau melihat orang lain, nggak mau om.... " ucap Nadia menatap Ibra dengan mata penuh air mata.
"Kenapa kau jadi manja kayak gini sekarang, siapa yang mengajarimu?" ucap Ibra sambil mentoel hidung Nadia gemas.
"Kenapa om jadi banyak omong sekarang, jadi om Ibra yang biasanya aja,"
"Lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas,"
"Nggak mau, nanti om pergi,"
"Astaga Nadia, aku tidak akan pergi, lepaskan dulu,"
__ADS_1
"Nggak mau, sini duduk sini,"
"Apa yang dilakukan bocah ini, aish akan sangat memalukan jika dia tidak segera melepaskan pelukannya, kenapa dia benar-benar menggemaskan di saat seperti ini," batin Ibra ketika merasakan adik kecilnya sudah menegang dengan sempurna.