
"Awww...." Nadia merintih dan langsung memegang jidatnya setelah Ibra menyentil dengan keras.
"Kedepannya jangan mendengarkan siapapun selain aku meskipun itu Sakti, oke ??" ucapnya.
Nadia hanya mengerucutkan mulutnya mendengar perkataan Ibra, "Jawab aku gadis cilik ?"
"Iya om, iya Nadia cuma bakal dengerin om aja.." jawabnya dengan wajah yang masih cemberut.
Ternyata dia hanya terlihat tegar diluar, aslinya lucu seperti kucing, gumam Ibra dalam hati dengan sedikit senyum samar di bibirnya.
"Aku ingin makan, ambilkan aku sedikit makanan," perintah Ibra.
Nadia melihat Ibra yang kini berjalan menuju sebuah kursi yang sudah di siapkan untuknya duduk berdampingan sebagai pasangan suami istri. Dengan cemberut Nadia melangkah mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
"Duh pengantin baru ngambil makannya sendiri nih, emang kalo dasarnya babu ya gini jeng." ucap salah seseorang perempuan sosialita di belakangnya.
"Iya jeng, mau aja jeng Aisyah dapat mantu model begini, masih mending anak-anak kita ya jeng, jelas-jelas berkelas dan sederajat dengan nak Ibra," sahut perempuan sosialita yang lain.
Nadia tetap melihat-lihat makanan tanpa menghiraukan perkataan mereka, dia sudah kebal dengan omongan orang, itu sudah menjadi makanannya setiap hari, "julid aja mereka," pikirnya.
Karena tidak mendapat respon perempuan-perempuan sosialita tersebut semakin geram melihat tingkah Nadia yang acuh, "Hey, baru jadi mantu orang kaya aja belagu banget, gak tau sopan santun dan gak menghargai orang yang lebih tua," ucap ibu-ibu lagi karena merasa perkataannya tidak di tanggapi oleh Nadia.
Nadia memilih untuk tidak mendengarkan dan tetap fokus mengambil makanan yang kemungkinan di sukai suami barunya itu, namun tangan seseorang menarik lengannya hingga membuat tubuhnya tidak seimbang.
Prangg...
Semua orang menatap ke arah sumber suara terjadinya kegaduhan, piring yang berada di tangan Nadia terjatuh ketika seseorang menarik lengannya dengan kasar. Keringat Nadia bercucuran karena tidak biasa menjadi pusat perhatian dan ada perasaan takut karena sudah membuat kekacauan di acara ini.
Nadia hendak melangkah menjauh, namun karena gugup kakinya tidak sengaja menginjak gaun panjangnya hingga tubuhnya limbung karena pijakan kakinya tidak seimbang.
"Awww... "
Nadia terjatuh tepat di dada bidang seseorang, Ibra yang sedari tadi mengamati Nadia mengetahui kronologi kejadian itu sejak awal, namun Ibra hanya diam karena menurutnya Nadia bisa menangani teman mommy nya seorang diri. Sayangnya suara pecahan piring membuat Ibra memusatkan penglihatannya pada Nadia dan segera berlari ketika tau bahwa Nadia hampir terjatuh, laki-laki itu berlari sangat cepat untuk menggapai tubuh Nadia, ia tidak menyangka ada yang berani berbuat anarkis seperti itu pada orang yang berada di bawah perlindungannya.
"Kauuu.... " ucap Ibra dengan urat yang muncul di dahi dan lehernya pertanda marah dengan Nadia yang masih berada di dalam pelukannya.
"Istriku bukan orang yang bisa kalian sentuh dan permainkan seperti ini" ucap Ibra kasar.
__ADS_1
"Kita pulang Nadia," ucapnya pada Nadia kemudian menarik tangan gadis yang sudah berkaca-kaca itu untuk mengikutinya.
Langkah Ibra berhenti, "Aku tidak ingin terlibat atau berhubungan dengan mereka, lakukan seperti yang bisa kau lakukan." ucapnya ketika melewati Sakti.
Aisyah dan Attar baru sampai di tempat kejadian setelah mendapat berita dari Lusy dan pak Mul, mereka segera mendekat ke arah Ibra yang berjalan semakin menjauh.
"Ibra... Ibra... " teriak Aisyah pada Ibra yang tetap berjalan tanpa menoleh ke arahnya.
"Om, itu nyonya manggilin om,"
"Ibra... Nak.. " panggil Aisyah lagi.
Tidak ada respon dari pria itu, ia terus berjalan menuju mobil sport keluaran terbaru dengan tetap menarik pergelangan tangan Nadia.
"Om, sakit om lepasin tangan aku" ucap Nadia merintih kesakitan ketika Ibra semakin mengeratkan genggamannya akan. laki-laki itu membuka pintu mobil tanpa melepaskan genggamannya kemudian memaksa Nadia masuk kedalamnya.
Aisyah dan Attar masih mengejar putranya itu, namun Sakti menghalangi langkah mereka, "Maaf nyonya, setelah tuan muda mengucapkan ijab qobul tadi nona Nadia sudah ada di bawah perlindungan tuan muda, harap pengertian tuan dan nyonya jika tuan muda bersikap seperti ini," ucap Sakti jelas untuk melancarkan kepergian Ibra yang sudah melesat keluar pagar dengan mobil sport biru itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi sampai putraku bersikap seperti itu?" tanya Attar pada Sakti dengan ekspresi serius.
"Silahkan bertanya pada teman-teman anda nyonya," ucap Sakti sembari tersenyum.
"Berani kau berbicara tidak sopan seperti itu pada nyonya ???" hardik Lusy yang baru saja muncul dari balik pintu.
Sakti hanya tersenyum tipis, "dia bukan tuanku, aku berada di bawah perintah tuan muda, bukan kalian."
"Tapi kau tetap tidak berhak bersikap seperti itu kepadanya." bentaknya lagi.
"Cukup Lusy, dia bukan bagian mu," sanggah Attar yang sangat tau perangai Sakti.
Sakti tersenyum simpul, "saya akan membuat mereka membayar mahal karena sudah membuat tuan muda kesal."
"Kami yang akan menegur mereka, sebaiknya kamu fokus dengan Ibra terlebih dulu," ucap Aisyah khawatir akan terjadi hal buruk pada teman-temannya ketika Sakti yang akan turun tangan.
"Saya selalu perhitungan jika menyangkut masalah tuan muda nyonya, mohon untuk tidak berbelas asih," ucapnya kemudian pergi dengan senyum simpul di bibirnya.
"Bagaimana ini dad, Ibra bahkan gak mendengar mommy." ucap wanita itu sedih sekaligus khawatir.
__ADS_1
"Teman-temanmu itu benar-benar kurang ajar, tarik semua dana yang kita investasikan di perusahaan mereka Lusy dan bubarkan semuanya," tambah Attar sembari menarik dasi di ujung kerah bajunya dan pergi meninggalkan Aisyah yang masih mematung di tempatnya.
***
Di Dalam Mobil
Ibra masih diam dengan wajah versi mematikan miliknya, sejak dulu ia sangat marah ketika ada yang menyentuh orang-orang yang ada di bawah perlindungannya, termasuk Nadia saat ini.
"Maaf om," ucap Nadia tidak berani menatap Ibra.
Ibra menepikan mobilnya ketika Nadia mulai terusak, laki-laki itu terdiam menatap Nadia yang masih menunduk kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Harusnya kau gunakan kepintaran mu untuk menghadapi mereka, kau berani menghadapi ku tapi seperti tikus bertemu kucing saat berhadapan dengan mereka."
Nadia masih terus terisak, "stop Nadia, jangan menangis aku pusing mendengarnya," bentak Ibra.
Gadis itu bukannya berhenti malah menjadi semakin menangis, "Aisshh bagaimana bisa aku harus hidup lima tahun lagi dengan gadis cengeng ini, " gerutu Ibra sambil memukul setir berkali-kali.
Ibra kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, Nadia mengeratkan pegangan pada kursi mobil sambil menutup mata karena takut namun tidak berani memberi komentar.
Hingga mobil itu memasuki sebuah halaman rumah yang dua kali lebih besar dari rumah yang ja tempati sebelumya, "cepat turun... " perintah Ibra.
Nadia mengikuti perintah suaminya dan turun dari mobil, kakinya melangkah seiring dengan langkah kaki Ibra, namun langkah nya di kejutkan oleh seorang wanita yang tiba-tiba memeluk suaminya.
"Kamu dari mana honey..? " tanya wanita itu sambil memeluk tubuh Ibra.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1