
"Bawa dia keluar," ucap Rafael memberi perintah.
"Ada apa ini? menggangguku saja?" teriak Ibra menggema di seluruh rumah, suara tegas dan berat itu memiliki kharisma tersendiri.
"Siapa yang membuat ulah????" ucapnya dengan suara menggelegar membuat merinding semua orang yang ada di sana.
"Mati gua, kalo rambutnya basah pasti udah kan?, jangan sampek ganggu pas lagi enak-enaknya Tuhan, gua masih pengen hidup," batin Rafael begitu melihat Ibra sudah muncul dengan kimono berwarna hitam dan rambut basahnya.
"Tuan muda... " ucap Sakti dan Aga tetap menundukkan kepala memberi hormat seperti biasa meskipun tidak mendapat respon apapun dari Ibra.
"Siapa yang berani membuat ulah di tempatku pada jam begini? kalian semua tidak tau waktu hah?" ucapnya lagi memandang semua orang yang ada di sana, hingga mata itu berhenti pada seorang wanita asing yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kau yang membuat ulah?" tanya Ibra pada wanita itu dengan tatapan tidak bisa di deskripsi kan.
"Aku hanya ingin kembali kepada Rafael seperti sebelumnya," jelas wanita itu tanpa basa basi.
"Siapa mas Ibra? ada apa?" tanya Nadia pada Ibra yang baru saja datang dengan langkah kecilnya.
"Kau datang lagi? ingin mencari masalah dengan bang El lagi?" tanya Nadia tidak kalah ketus, Nadia sangat-sangat tidak suka dengan wanita ini.
"Kau mengenalnya Nadia?' tanya Ibra dengan alis yang sudah menyatu.
"Dia orang yang selalu datang dan tidur bersama abang El setiap hari selama mas Ibra sakit," ucapnya.
"Kau hanya bocah kecil, kau selalu membuat masalah denganku ketika aku datang kemari, aku hanya meminta pertanggungjawaban atas semua yang Rafael perbuat kepadaku, aku hanya ingin dia tidak mengabaikan ku, tapi lihat sudah ada wanita lain yang berada di sampingnya, kau bahkan sudah di campakkan olehnya," ucap wanita itu meracau ke sana kemari tidak jelas.
"Wanita lain?" pikir Nadia mencari jawaban.
Nadia melihat semua orang di sana, "ah... kak Luna, tunggu tunggu...." ucapnya lagi dengan mengangkat tangan kanannya.
"Sejak kapan aku di campakkan ? dan siapa yang mencampakkan aku?" ucap Nadia lagi, ia sungguh geram dengan wanita yang sudah bolak balik kesini meskipun sudah berulang kali di usir.
__ADS_1
Ibra yang sudah mulai faham dengan apa yang terjadi langsung mengambil nafas berusaha tenang.
"Kenapa diam saja Rafael Adiwijaya ? kau tidak ingin membela diri?" ucap Ibra tanpa menatap pada Rafael.
"Bawa dia keluar, aku akan menemuinya nanti," bentak Rafael tidak kalah tegas.
Dua orang penjaga yang sedari tadi sudah berdiri di depan pintu, kini segera menarik paksa wanita itu untuk keluar dari rumah.
"Lepaskan aku," teriaknya memberontak, berusaha melepaskan diri dari dua orang laki-laki yang berusaha membawanya keluar.
Dengan sekuat tenaga ia memberontak hingga sampai mendekati Nadia dan menarik paksa rambut panjang yang masih basah itu.
"Kau..... Rafael milikku, jangan bermimpi untuk bisa menguasainya," ucapnya semakin menggila.
"Kau..... " Ibra yang mengetahui hal itu di depan matanya semakin marah tidak karuan.
Nadia yang juga sangat kesal segera menampar wanita di depannya ini, Plak...
Sebuah darah berhasil keluar dari mulut wanita itu, Ibra yang tadinya hendak menampar wanita itu kini tidak percaya dengan apa yang baru saja di lakukan oleh istrinya.
"Jangan mengganggu abang El, aku tidak peduli siapapun yang akan memilikinya nanti, tapi yang pasti tidak akan ada seorang pun yang bisa mengambil bang Rafael dari ku, tidak ada, dan tidak akan pernah bisa," tegas Nadia.
"Nona... "
"Hebat Nadia... " ucap Luna bangga, pasalnya ia belum sempat membalas wanita itu yang sudah menarik rambutnya.
"Lepaskan aku... ''teriaknya tidak karuan.
Ibra yang sudah sangat geram dengan apa yang di lihatnya hari ini, mendekati gadis itu dan mencengkram lehernya, "aku tidak tau kau dari keturunan keluarga mana sampai berani datang kesini mengusik ku dan keluargaku,"
Plakkk, sebuah tamparan yang sangat keras hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi bagian kanan wanita itu, "ini karena kau membuat keributan di tempatku di jam dan saat seperti ini,"
__ADS_1
Plakkk, sebuah tamparan yang sangat keras sekali lagi mendarat cantik hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi bagian kiri wanita itu, "ini karena kau sudah menyakiti istriku," ucapnya penuh penekanan.
"Dia istriku, anak kecil ini milikku, dan kau berani menyentuhnya, ha ha... aku bahkan sangat berhati-hati menyentuhnya agar dia tidak merasakan sakit, tapi kau berani menariknya seperti ini.... " ucap Ibra menarik rambut wanita itu kemudian.
"Awwww.... " rintihnya semakin keras.
"Kau tadi menariknya seperti ini bukan? apakah sakit ha??? sakit???" ucapnya dengan tatapan mata membunuh, tatapan yang sudah jarang sekali terlihat akhir-akhir ini.
Semua orang yang berada di sana menatap Ibra dengan takut, ini pertama kali setelah sekian lama Ibra tidak melakukan ini, "tuan muda... " panggil Sakti.
"Mas Ibra... lepaskan dia," ucap Nadia lembut.
Namun Ibra sudah di penuhi emosi saat ini, pertama karena dia di ganggu ketika dia benar-benar ingin menyalurkan hasratnya, kedua ia di ganggu pada waktu malam hari yang seharusnya ia gunakan sebagai waktu tenang, dan yang ketiga adalah kesalahan terfatal, Nadia.
"Lu bakalan diem aja El, dia bakal abis kalo lu biarin dia di tangan Ibra." ucap Luna.
"Dia menggali kuburnya sendiri, lagi pula aku juga tidak melakukan apapun, dia terlalu membanggakan dirinya," ucap Rafael yang lebih memilih berbalik dan menaiki tangga untuk kembali menuju kamarnya.
"Ra.... fa... el. " teriak wanita itu.
"Jika tidak mati di tangannya, kau juga akan mari di tanganku, jadi jangan sembrono, berfikir sebelum bertindak, ini tidak hanya membahayakan nyawamu, tapi laki-laki itu akan menjadi malaikat maut untuk seluruh keluargamu," ucapnya.
"Ah, ada satu hal lagi, dia... dia adikku satu-satunya, sudah pasti tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengambil ku darinya," ucapnya begitu saja.
Semua orang masih menatap punggung tubuh Rafael yang sedang berjalan menaiki tangga ke atas, kecuali Ibra yang masih setia menatap wajah asing di depannya ini.
Hingga kemudian Sakti segera mendekati Ibra, "Saya akan membereskan nya tuan muda, tolong lepaskan dan kembali ke kamar anda, saya dan Aga akan membereskan semuanya malam ini, istirahat dan lakukan apapun yang tuan muda inginkan malam ini, saya akan berada di sini untuk menyelidiki semuanya dan berjanji tidak akan ada seorang pun yang akan bisa mengganggu tuan muda," ucap Sakti.
"Mas.. ayok balik yukk... " ajak Nadia
"Membuat ku kesal saja," ucap Ibra sebelum melepaskan wanita itu.
__ADS_1
"Argh... uhuk. uhuk.... uhuk.... "