Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Kualat Tujuh Turunan


__ADS_3

"Tolong mbak, saya benar-benar butuh pekerjaan," ucap Nadia sambil memegang tangan wanita itu.


"Cukup," bentak resepsionis itu kemudian membanting tangan Nadia yang memegang tangannya.


Duk


"Awww," rintih Nadia ketika tangannya terantuk meja dengan keras.


"Jangan karena kamu pikir memakai pakaian dan dandanan seperti ini bisa mengelabui kami, kamu pasti hanya ingin menggoda para pimpinan agar bisa menjadi artis dengan gaya polos yang kamu tampilkan sekarang itu kan, haha gak usah mimpi nona, anda masih kecil sebaiknya pulang dan bermain boneka saja, " ejek salah seorang resepsionis yang lain.


Beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar mereka berhenti menatap suara keributan yang tiba-tiba terdengar jelas.


"Aku hanya meminta tolong dan berbicara baik-baik, anda tidak harus memperlakukan aku seperti itu, dan aku sudah menikah, aku tidak pernah ingin menggoda siapapun, " ucap Nadia dengan tegas.


"Semua orang memang pandai berbohong di jaman seperti sekarang ini," cibir resepsionis itu lagi.


Nadia masih menatap lekat resepsionis itu dengan wajah datar, kemudian mengeluarkan handphone miliknya, mencari kontak nomor Rafael yang tadi pagi sempat ia minta pada laki-laki yang sudah mendeklarasikan diri menjadi abangnya itu.


"Tidak ada gunanya berdebat dan memaksa resepsionis itu membantuku menemukan ruang HRD, ini sudah jam delapan aku harus bertanya pada bang El agar tidak terlambat," batin Nadia.


Setelah melihat tidak ada kejadian apa-apa yang terjadi di sana membuat beberapa orang yang sempat berhenti mulai melanjutkan langkahnya.


Tut tut tut, suara sambungan telfon terdengar di sana, "Assalamualaikum bang ?" ucap Nadia berbicara dengan lawan bicaranya di dalam telfon.


"Bang, Nadia bingung harus kemana, gedung ini terlalu besar,"


"Aku sudah bertanya tapi mereka bilang sedang tidak membutuhkan cleaning servis,"


"Ini sudah di dalam gedung, tepat di depan meja resepsionis,"


"Tunjukkan saja arahnya bang,"


"Emang aku kucing pake berlarian," batinnya setelah mendengar ucapan Rafael.


"Oh, oke oke," ucap Nadia kemudian menutup panggilan telfonnya dengan senyum.


"Halah sok-sokan pakai telfon orang segala, gue yakin itu pasti cuma akal licik dia aja, gue yakin seratus persen itu pasti cuma salah seorang simpanannya," batin resepsionis yang tadi membentak nya.


***

__ADS_1


Ketika Ibra dan Sakti sedang mengurus pekerjaan di luar, secara otomatis Rafael akan menggantikan dan akan stand by di perusahaan. Hanya untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu di luar kendalinya.


Terdengar suara nada dering telfon miliknya, tangannya meraih Handphone yang sebelumnya ia taruh di atas meja.


Nadia calling, tulisan itulah yang muncul di layar handphonenya.


"Kenapa dia nelfon gue, belum satu jam gue ninggalin dia," ucapnya dengan tangan menggeser icon call berwarna hijau.


"Assalamualaikum bang ?"


"Ada apa, belum ada satu jam gue ninggalin lu dek, udah kangen aja, wkwkwk"


"Bang, Nadia bingung harus kemana, gedung ini terlalu besar,"


"Tanyakan saja pada resepsionis oke ?, mereka pasti akan menjawab,"


"Aku sudah bertanya tapi mereka bilang sedang tidak membutuhkan cleaning servis,"


"Hah, sudah jelas ada logo IA entertainment di surat yang mereka kirimkan via email yang lu kasih liat ke gue semalem kan ?, gue yakin udah pasti itu dari IA entertainment, sekarang lu ada dimana?" tanya Rafael lahi.


"Ini sudah di dalam gedung, tepat di depan meja resepsionis,"


"Oke gue turun sekarang, jangan berlarian kemana-mana"


"Tunjukkan saja arahnya bang,"


"Oh, oke oke,"


Panggilan itu berakhir kemudian, dengan langkah santai Rafael berjalan pelan dengan mengetik sesuatu di handphone nya.


Kacau lu, istri lu di bully di perusahaan suaminya sendiri, ati-ati kualat tujuh turunan, hahaha.


Tulisnya kemudian memencet tombol send. Ibra, laki-laki itulah yang saat ini ia hubungi, dia ingin membuat laki-laki itu marah, sangat menyenangkan rasanya, haha.


Ting. Lift khusus vvip yang membawa Rafael kini sudah mencapai lantai dasar, semua orang yang lewat di depannya menunduk hormat tanpa terkecuali. Bahkan semuanya menghentikan langkahnya agar tidak mengganggu spot jalan Rafael, itulah peraturan yang mereka buat bertiga.


Tanpa menghiraukan mereka, Rafael mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis berkuncir dua, "itu dia.. " ucapnya ketika melihat Nadia sedang berdiri bingung di depan pintu lobby.


"Hai adik abang yang baik," sapa Rafael yang baru saja datang dan mengacak-acak rambut Nadia yang rapi.

__ADS_1


"Bang ini sudah hampir jam delapan, antar Nadia segera ya,"


"Oke apapun untukmu," ucapnya dengan gaya se cool mungkin, jaga image pikirnya.


Dengan langkah pasti Nadia mengikuti Rafael yang berjalan lebih dulu di depannya, "Oh, bang El tinggal di sini to, pantas saja gayanya keren gitu, kerja di tempat elit kayak gini," batin Nadia.


Setelah kedua orang itu masuk kedalam sebuah kotak ajaib yang akan membawanya ke atas banyak sekali karyawan yang berkerumun dan menanyakan siapa gadis kecil yang membuat seorang Rafael beranjak dari kursi kebesarannya dan turun sendiri ke bawah.


Tak hanya bertanya tentang itu, tentang keributan dan bagaimana nasib kedua resepsionis yang tadi memperlakukan Nadia seperti itu benar-benar menjadi topik pembicaraan dari mulut ke mulut.


"Bagaimana ini, dia benar-benar mengenal tuan Rafael, habislah kita," ucap salah seorang resepsionis dengan panik kepada teman resepsionis yang lain.


"Apa yang terjadi sampai kamu membentak nya seperti itu, dia sepertinya sangat mengenal tuan Rafael, Siap-siap di pecat saja," ucap seorang karyawan yang tadi mendengar sedikit pembicaraan mereka.


"Duh, gimana dong, dia ngotot banget mau tes buat cleaning servis, udah di jawab nggak ada malah ngotot aja." ucap resepsionis itu takut.


"Hah lu gimana sih? kan emang hari ini ada training cleaning servis untuk menggantikan Eva di lantai tujuh belas yang sedang cuti melahirkan, karena khusus untuk membersihkan ruangan para pimpinan, jadi kita melakukan uji coba sendiri, tidak melalui outsourcing," jelasnya.


***


Saat sudah menyelesaikan penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan lain pagi ini, Ibra tiba-tiba mendapat sebuah pesan chat dari Rafael ketika dalam perjalanan menuju mobil.


Kacau lu, istri lu di bully di perusahaan suaminya sendiri, ati-ati kualat tujuh turunan bro, hahaha.


Melihat raut wajah Ibra yang berubah membuat Sakti bertanya, "Ada yang Anda inginkan tuan muda ?" tanya Sakti.


"Kita kembali ke perusahaan sekarang," jawab Ibra kemudian.


"Ada apa tuan muda ?" tanya Sakti lagi.


"Aku hanya tidak ingin kualat tujuh turunan," ucapnya cepat.


.


.


.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.


__ADS_2