
"Anda tidak baik-baik saja tuan muda,"
"Hah?"
"Lu nggak keliatan baik-baik aja, lu bisa bagi perasaan lu ke kita biar kita juga bisa bantu,"
"Sudahlah, aku bisa mengatasi perasaan ku sendiri, kalian pergilah, tinggalkan saja semua yang aku inginkan di sini,"
"Tapi lu.... "
"Om Ib...ra..... om Ibra........ "
Belum selesai Rafael berbicara dengan Ibra, namun suara Nadia yang bergetar ketakutan memanggil Ibra memecah keheningan malam itu, "Nadia.... "
"Hubungi Luna," perintah Ibra sebelum kemudian berlari masuk menuju ruangan dengan kaca transparan yang hanya di lapisi tirai putih itu.
Ibra mulai menarik nafas berusaha tenang agar tidak membuat Nadia semakin panik, laki-laki itu terlebih dulu mengatur nafasnya berkali-kali.
"Kau sudah bangun...? " ucap Ibra melangkah masuk ke dalam kamar.
Tanpa menjawab, Nadia langsung berhambur ke dalam pelukan Ibra dengan cepatnya, Ibra bahkan hampir terdorong mundur karena pelukan itu dan memastikan Nadia aman.
"Ada apa? kau mimpi buruk?" tanya Ibra sengaja memberi pertanyaan untuk mengetes Nadia.
Gadis itu mengangguk, "aku bermimpi sangat menakutkan om," jelas Nadia.
"Itu alasanmu berteriak, aku sudah bilang ini bukan hutan Nadia,"
"Aku hanya merasa tidak nyaman ketika harus sendirian tanpa ada om di sini," jelasnya.
"Aku tidak kemanapun, apa yang kau takutkan gacil...Mandilah dulu, aku sudah menyiapkan pakaian untuk kita di sini selama beberapa hari ke depan," jelas Ibra.
"Aku ingin makan," ucap Nadia sedang dalam mode manja.
"Sekertaris ku akan datang membawakan makanan untuk kita nanti, mandilah dulu," ucap Ibra.
"Om jangan pergi kemanapun oke, jangan pergi," ucap Nadia pada Ibra.
"Aku tidak tau apa yang dia rasakan saat ini, tapi dia yang sebelumnya sangat mandiri dan tidak bergantung padaku, ini seperti bukan Nadia.''
Setelah Ibra memastikan Nadia sudah tenang di kamar mandi, ia keluar untuk menemui Sakti dan Rafael yang masih setia menunggunya di balik pagar.
"Bagaimana Luna? aku sudah bilang pada Nadia bahwa kalian akan datang, ikuti saja alurnya aku masih belum bisa menebak apa yang terjadi dengannya,"
__ADS_1
"Pastikan Luna sudah ada sepuluh menit lagi,"
"Lu gila apa gimana, lu kira dia bisa langsung dateng sekali cling, perjalanan ke sini lumayan jauh bodoh," kesal Rafael.
"Justru kalo dia nggak dateng berarti dia yang bodoh,"
"Kenapa juga sih lu harus pergi di tempat terpencil kayak gini, kita udah siapain semua hal buat acara honeymoon kalian, lebih mewah, lebih safe, lebih romantis, dan yang pasti dengan penjagaan yang super ketat, kalian cuma tinggal duduk manis nikmatin semuanya, dan yang pasti nggak akan ada drama penculikan-penculikan kayak gini tau ngga," ucap Rafael panjang lebar, Rafael sejujurnya ini juga bukan salah Ibra, namun ia sangat panik dengan apa yang menimpa Nadia, terlebih ketika Nadia ketakutan bahkan ketika melihatnya, ia merasa ikut merasakan rasa sakit yang sama yang di alami oleh adiknya itu.
"Rafael.... cukup...." ucap Sakti berusaha menghentikan ucapan Rafael, namun sebuah kode dari jari tangan Ibra seolah berkata, "biarkan dia mengeluarkan perasaanya,"
"Biar aja, biar dia tau kalo dia juga nggak bisa mutusin semuanya sendiri, hal yang dia pilih sekarang malah membuat Nadia nggak baik-baik aja,"
Ibra masih diam mendengar kan ucapan Rafael, tatapan mata yang biasa sangar itu berubah sayu, perasaan tidak terima ketika ia merasa gagal menjaga Abraham dan Anna hingga pergi dari hidupnya benar-benar hinggap di hatinya saat ini, yah, dia gagal lagi hari ini untuk menjaga orang-orang yang ada di sekeliling nya.
"Tuan muda... "
Ibra tersenyum, "bawa dia pergi, gua yang gagal jaga dia, kalian berdua juga menginginkan Nadia kan?"
"Nggak ada, nggak boleh ada yang membawa Nadia dari sisi Ibra saat ini," seru Luna yang baru saja datang dan berjalan mendekat ke arah ketiga laki-laki yang setia berdiri di depan pintu itu.
"Gua udah dengar semuanya selama perjalanan di sini, analisa gua ada dua... " ucap Luna kepada ketiga laki-laki yang menunggu analisanya.
"Pertama, selama ini Ibra selalu menjadi pahlawan, lu suaminya, lu tempat dia bergantung masalah apapun, jadi ketika dia kembali mendapat masalah atau mengalami kesulitan maka secara otomatis alam bawah sadarnya akan reflek menunggu Ibra untuk menolongnya, itu alasan kenapa hanya Ibra yang di ingat,"
"Yang kedua?" tanya Rafael.
Ketiga laki-laki itu masih belum faham dengan apa yang akan di bicarakan oleh Luna, "Gua yakin lu belum sentuh dia," ucap Luna dengan memberikan kode dua jari yang di gerak-gerakan.
"Udah,"
"Gua nggak yakin udah," tebak Luna percaya diri karena dirinya sudah faham Ibra seperti apa.
"Ya udah lanjut, jangan banyak nanya," ucap Ibra sensi.
"Rasa bersalah ketika dia harus di sentuh dan di lihat oleh orang lain lebih dulu dari pada lu, itu yang dia alami sekarang," jelas Luna.
"Solusinya ?" tanya Rafael.
"Jadi..... "
"Aku akan mencari solusinya sendiri, aku yang membuatnya berada dalam situasi ini, aku juga yang akan membuatnya kembali seperti semula, tidak sampai satu bulan, waktuku dengannya tidak selama yang kau bayangkan El, aku pergi karena aku ingin menikmati sisa kehidupan biasaku dengannya seperti pasangan lain pada umumnya, bukan aku sebagai pemilik IA entertainment, bukan aku sebagai penerus Delta Internasional, bukan aku sebagai putra Attar, bukan aku sebagai pengusaha bangkrut yang banyak di beritakan di media saat ini, hanya aku, Ibrahim, suaminya," jelas Ibra kemudian menutup pintu pagar kayu meninggalkan ketiga orang itu di luar pagar.
"Ibra... "
__ADS_1
"Tuan muda.... "
"Aish... bodoh banget sih mulut gua," kesal Rafael pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk mulutnya.
"Suasana hati tuan muda benar-benar tidak baik saat ini, itu wajah yang sama ketika tuan muda kehilangan Anna pertama kalinya,"
"Yang gua takut cuma satu,"
"Apa?"
"Ibra beneran jatuh cinta sama Nadia,"
Sakti dan Rafael menoleh bersamaan menatap Luna, "gua nggak siap Ibra jadi bucin... " jelas Rafael.
"Hah?"
***
Ibra berjalan, kepercayaan dirinya benar-benar sudah hilang, "aku gagal lagi," ucapnya meremas rambut bagian depan miliknya.
"Arghh....... " teriaknya memukul mukul dinding.
"Om... Ib...ra..... " ucap Nada terbata-bata.
Ibra menoleh ke arah Nadia yang memanggilnya, di lihatnya gadis yang berdiri hanya dengan memakai handuk itu, gadis dengan rambut basah itu menatap Ibra dengan mata berkaca-kaca.
"Itu beneran terjadi kan om? Nadia udah kotor kan om? itu nggak mimpi?" ucap gadis itu pelan dengan air mata sudah mengalir di kedua kelopak matanya.
"Heh ada apa?" tanya Ibra berjalan mendekat ke arah gadisnya.
Nadia semakin terisak di depan Ibra sambil menunduk, namun Ibra melihat leher merah Nadia, Ibra menyentuh leher itu, "ada apa ? kau yang menggosoknya sampai seperti ini?"
"Aku tidak ingin melihat bekas yang mereka tinggalkan di tubuhku om," ucapnya dengan isak semakin keras, bahkan tangannya masih terus menggosok bagian leher itu hingga semakin membuat kulit putihnya memerah.
"Nadia cukup.... "
"Ku bilang cukup Nadia.... " ucap Ibra dengan nada semakin keras dan menjauhkan tangan Nadia dari lehernya
Nadia seolah tidak bisa memaafkan dirinya sendiri setelah kejadian yang baru saja terjadi, "om maaf.... " ucapnya dengan masih terisak.
"Maaf om... "
Ibra menatap Nadia dalam, lalu ia menggerakkan kepalanya mendekati leher putih istrinya itu, "wangi... "
__ADS_1
Ibra mendaratkan sebuah kecupan dengan gigitan kecil di sana, "aku baru saja meninggalkan jejak di sana, aku tidak mengizinkan mu untuk menghapus nya," perintah Ibra yang langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah memerah.
***