
Keesokan harinya, suasana rumah masih sepi seperti semua orang enggan untuk bangun dan keluar dari kamar, hanya beberapa pelayan dan tukang kebun yang masih setia mengerjakan pekerjaannya sejak pagi buta.
Namun seluruh penghuni rumah ini rupanya masih enggak beranjak dari zona nyaman mereka masing-masing.
Nadia dan Ibra masih berada di dalam selimut, pagi tadi setelah melakukan sholat subuh, keduanya melanjutkan pergulatan yang belum selesai tadi malam, hingga akhirnya keduanya memilih tidur lagi setelah itu.
"Mas Ibra nanti berangkat jam berapa?"
"Agak siang, tidurlah dulu, aku juga sangat mengantuk,"
"Peluk," ucap Nadia saat itu yang langsung bergerak memeluk Ibra dan mencari posisi ternyaman untuknya tidur.
"Pantas saja matamu seperti panda ketika aku tidak bangun kemaren, karena kau selalu mencium aroma tubuhku setiap sebelum tidur, itu alasannya kau sulit untuk tidur, benar kan?" tanya Ibra.
Namun istri kecilnya ini malah langsung terlelap dan meninggalkan Ibra bicara seorang diri, "Nadia.... apa kau sudah tidur?" tanyanya sembari melihat bahwa mata Nadia sudah tertutup sempurna.
"Baiklah, selamat tidur istriku, kita istirahat lagi pagi ini," ucapnya meninggalkan sebuah kecupan di kening Nadia, kemudian menggeser tubuh Nadia agar semakin dekat dengan nya.
"Selamat tidur anak daddy," ucapnya lagi mengelus perut Nadia pelan agar istrinya itu tidak terbangun.
Sakti seperti pagi-pagi biasanya, ia merawat hewan peliharaan kesayangannya, mulai menjemur, memandikan bahkan sampai memberi makan, memang ada perawat khusus untuk merawat dan menjaga peliharaan favorit nya ini, namun Sakti tetap memperhatikan mereka semua dengan melihat dan merawat mereka setiap pagi sebelum berangkat bekerja.
Luna dengan tenangnya mendengarkan musik klasik dengan berendam air hangat di bath up kamarnya, tidak hanya itu, beberapa pelayan bahkan mulai menggosokkan lulur di tangan kanan dan kirinya, ia ingin menenangkan pikiran dan hatinya sebelum memulai aktivitas yang ia prediksi akan padat, di tambah empat laki-laki aneh yang berada di sekelilingnya bisa di bilang tukang membuat masalah, jadi ia harus siaga kapanpun dan di manapun, dan pagi ini adalah pagi termahal miliknya karena ia bisa melakukan spa sederhana seperti ini.
Berbeda dengan mereka semua, Rafael dan Aga kini sudah melakukan rapat dengan banyak sekali orang, entah sudah rapat dengan berapa kali orang mereka di waktu sepagi ini.
Keduanya berkutat dengan laptop dan kertas yang sudah berserakan di meja kerja Aga yang tepat berada di bagian kiri ruangan itu.
Sedangkan meja kerja Rafael sudah penuh dengan banyak sekali bahan matrial pembuat senjata.
"Tuan, anda tidak tidur dari semalam, kita bisa menyelesaikan ini semua nanti," ucap Aga mengingatkan.
__ADS_1
"Pengendali semua senjata yang akan Delta luncurkan di pasar global dalam bulan ini harus segera di temukan, gua udah nggak punya waktu, kita udah harus gerak cepat Aga, jangan sampai senjata-senjata itu jadi boomerang buat kita sendiri, Delta harus kuat dan stabil di bagian ini juga melalui Cyber." perintahnya
"Ah...pagi ini segera pesan kan tiket ke negara AB, kita mulai dari sana," ucapnya yang langsung membuat bolpoint yang berada di tangan Aga terjatuh.
Bukannya menjawab, Aga mengamati laki-laki di depannya ini, "tuan, setiap hari perut nona Nadia semakin membesar, apa anda tidak ingin melihat perkembangannya ? apa anda tidak ingin mendampingi nona sampai masa persalinan?dan juga, negara AB bukan negara yang aman untuk anda tanpa perusahaan cabang milik kita di sana,"
Rafael memutar bola matanya malas, "lakukan saja apa yang udah gua ucapin, jangan banyak tanya" ucapnya lagi.
"Ini bukan alasan anda untuk menghindar dari nona muda kan tuan?"
"Aish...banyak omong lu Aga, ntar gua yang pamit sama mereka,"
"Sampai kapan tuan?"
"Sampai rencana dan target yang gua susun tercapai," ucapnya.
"Tuan..."
Aga hanya melihat Rafael bahkan tanpa menghiraukan darah yang saat ini menetes dari dahinya.
"Semoga bahagia selalu ada di hidup anda tuan, saya tau hidup anda sampai detik ini juga tidak mudah, orang yang tertawa paling keras adalah mereka yang memiliki banyak luka di hati mereka," batin Aga saat itu.
"Nadia nggak masak ya?" gumam Rafael.
"Sejak tidak ada tuan Ibra, nona Nadia memang tidak pernah memasuki dapur," ucapnya sambil memijit pelan kepalanya yang terasa berat.
"Anda tidur dulu tuan, saya akan bangunkan anda begitu sarapan sudah siap," ucap Aga.
"Gua tidur dulu deh kalo gitu, lu juga tidur aja sono, mata lu juga udah kayak panda," ucap Rafael menyindir Aga.
"Karena itu saya meminta anda untuk tidur tuan, hehe," ucapnya.
__ADS_1
"Oh... untung gua pas lagi baek, jadi gua maafin," ucapnya yang baru saja bangkit dari kursi putar kebesarannya.
"Ngantuk juga ternyata, harus banyak latian ronda nih mata biar kuat," ucapnya lagi.
***
Melihat Nadia yang masih terlelap di depan matanya, Ibra segera bangkit dari tidurnya, ia keluar dari kamar dengan menggunakan piyama tidur berwarna biru yang berpasangan dengan Nadia.
"Anda hendak kemana tuan muda ?" tanya Sakti yang memang sengaja ingin menemui Ibra menyerahkan laporan harian yang akan di lakukan Ibra hari ini.
"Dimana wanita itu berada?" tanyanya.
"Mari tuan," ucap Sakti tanpa banyak kata langsung segera mengarahkan Ibra untuk mengikutinya.
Kedua laki-laki itu berjalan hampir beriringan menuju paviliun tempat wanita yang membuat keributan semalam berada, tidak terlihat seorang penjaga pun di sana, "kau tidak memberikan penjagaan? ini tidak seperti dirimu," ucapnya.
"Rafael sudah mengambil alih tuan," ucapnya.
Kening Ibra berkerut, "buka dulu saja kalau begitu," ucapnya pada Sakti.
Sakti hendak membuka gembok pintu itu, "ini tidak. terkunci tuan," ucapnya.
"Rafael tidak akan sesembrono itu," ucap Ibra yang langsung masuk begitu saja.
Baru dua langkah Ibra memasuki paviliun dengan gunting yang baru saja ia keluarkan dari balik baju tidurnya, namun pemandangan yang ada di depannya membuat ia harus berhenti.
"Pantas Rafael tidak mengunci dan menjaganya, bahkan sudah tidak ada gunanya ketika wanita ini kabur tuan," ucap Sakti ketika melihat banyak rambut dan darah berserakan di mana-mana, wanita ini bahkan sudah tidak sadarkan diri, bisa jadi karena mual dengan darah dari lengan yang mengalir tiada henti dalam posisi terikat.
Seringai puas terlihat jelas di wajah Ibra, "wanita sepertinya hendak bersaing dengan wanitaku? dia bahkan tidak ada seujung kuku pun milik istriku," ucap Ibra bangga.
Setelah sedikit berfikir, sebuah pikiran aneh mulai muncul, "sudah pasti Rafael tidak pernah menyentuhnya, panggil Aga dan suruh dia menemuiku," perintah nya pada Sakti.
__ADS_1