
Rafael memberi kode kepada moderator bahwa rapat akan segera di mulai dalam waktu lima menit dari sekarang.
Lima menit sudah berlalu, mau tidak mau Aga harus mengambil alih rapat ini seperti sebelumnya, namun karena ini adalah sebuah ide yang dipikirkan oleh Ibra, ia sangat takut untuk menjelaskannya, khawatir jika apa yang ia sampaikan tidak sesuai dengan ekspektasi Ibra, tuannya.
Ia sangat khawatir bukan main jika menyangkut Ibra, apapun itu.
"Lu jadi maju apa enggak dodol, udah sono," bisik Rafael lagi.
Hingga tak lama pintu bagian depan ruangan itu terbuka dan terlihat Sakti di sana dengan setelan biru tua dan rambut rapi klimis nya.
Rafael dan Aga melihat Sakti dengan wajah berbinar seperti mendapat sebuah jackpot dadakan, tak hanya mereka berdua semua orang juga terpesona dengan kehadiran Sakti yang tanpa di duga sebelumnya.
"Anda masih peduli dan mengerti saya tuanku, jadi anda mengirimkan tuan Sakti kesini." lirih Aga sumringah.
Tanpa basa-basi Rafael bangkit dari duduknya dan menyambut Sakti dengan penuh sukacita, "Ibra yang ngirim lu kan? ah akhirnya... gua nggak bisa mengandalkan Aga buat ambil alih ini semua, lu tolongin gua ya," ucapnya santai seperti biasa, menghilangkan kesan formal yang selama beberapa hari ini terlihat diantara keduanya.
"Atur agar aku bisa mengambil alih," ucap Sakti dengan tenang yang semakin membuat semua orang di sana memandang takjub.
Akhirnya rapat pagi ini di ambil alih oleh Sakti secara keseluruhan, dan semuanya mengacu pada berkas yang sudah di selesaikan Nadia bersama Ibra tadi malam tanpa kurang sedikitpun.
Satu persatu orang yang ada di sana sudah keluar, meninggalkan Sakti, Rafael dan Aga di sana.
"Anda hebat tuan Sakti, tidak salah jika anda adalah kaki tangan tuanku yang terhebat," puji Aga dalam hati.
"Gua juga tangan kanan Ibra yang hebat, dimana ada Sakti di situ pasti juga ada gua," jelas Rafael nggak mau kalah, ia merasa tidak Terima saja.
"Sudah tidak ada anda sejak anda meminta kebebasan malam itu tuan, anda sudah selesai," tambah Aga yang tidak ingin kalah.
"Ish.... lu cuma pinter ngomong tapi nyali lu cetek," tambah Rafael yang semakin kesal dengan Aga, meskipun yang diucapkannya benar.
"Apa anda juga berani membicarakan ide tuanku, tidak akan ada yang berani tuan, semua hal yang keluar dari pikiran tuan muda nggak ada duanya."
"Lah tuh si Sakti aja berani, lu kan juga asistennnya,"
"Tapi saya tidak sehebat tuan Sakti, itu faktanya,"
"Halah, ngomong doang lu bisanya," ucap Rafael yang langsung mendekati Sakti yang sedang merapikan berkas di mejanya.
__ADS_1
"Ke... " belum sempat meneruskan perkataannya, Sakti lebih dulu memotongnya, "kutunggu kau di ruangan mu," ucapnya kemudian.
"Eh busyet... kenapa jadi lu tuan rumahnya, harusnya gua kan yang ngajak lu keruangan gua,"
Namun Sakti tidak menggubris Rafael yang masih berdiri dengan kebingungan nya, ia malah berjalan lebih dulu menuju ruangan Rafael.
Di Ruangan Rafael
Sakti langsung mendudukkan dirinya begitu saja di atas sofa begitu masuk ke dalam ruangan, ruangan ini sangat berbeda dengan nuansa ruangan yang biasanya dia desain untuk Ibra.
Ia melihat dan merasakan perbedaannya, namun tak bertanya langsung kepada Ibra karena khawatir menyinggung perasaannya.
"Kau yang membuat desain ruangan ini ?" tanyanya begitu Aga masuk ke dalam bersama Rafael.
"Ah iya tuan,"
"Ini emang Ibra desain khusus buat gua," ucap Rafael yang faham dengan perkataan Sakti.
"Owalah, wajar kalo gayanya aneh," ucapnya tanpa berfikir.
"Wooo..... udah mulai kurang ajar nih orang," ucap Rafael songong.
"Apa? Ibra?" tanyanya gugup tanpa alasan.
Sakti memulai panggilan video yang terhubung dengan Ibra, tut.... tut.... tut....
"Pagi tuan muda.... "
"Mana mereka?" tanya Ibra pada Sakti yang belum melihat Rafael dan juga Aga.
"Apa... gua di sini," ucap Rafael yang baru saja memunculkan diri.
"Nadia... kenapa tuh mata bisa terbuka lebar, bukannya tadi bilang nggak bisa kebuka, lu bohongin gua ya," ucapnya menebak begitu melihat Nadia di sisi Ibra.
''Nadia kita bahas nanti, sekarang jawab kenapa perusahaan bisa goyah kayak gini, Aga? ini juga salah satu tanggung jawab mu, tidak pernah seperti ini sebelumnya," ucap Ibra dengan sedikit keras.
"Saya minta maaf tuanku,"
__ADS_1
"Bisnis ini bisa berjalan jika ada investasi yang masuk Ibra, gua cuma ngelakuin itu," jawab Rafael.
"Begitu? maka jawab pertanyaan ku,"
Semua orang yang ada di sana hening tanpa suara, masih menunggu Ibra menyelesaikan ucapannya, "berapa keuntungan yang akan kita terima perbulan ? berapa titik impas mereka ? sudah cek surat kontrak kerjasama dari yang lain? setinggi apa hambatan masuknya? tahun lalu biaya tenaga kerjanya naik drastis, sudah tau alasannya?" tanya Ibra sedikit emosi.
Rafael dan Aga masih diem tanpa bisa berkata apa-apa, "kalo aku tidak membantu Nadia semalam, aku juga nggak akan pernah tau masalah yang kalian hadapi, lagian ada Sakti dan aku, kenapa nggak bilang jika ada masalah, kita keluarga El, jangan menyembunyikan apapun." tegasnya lagi.
"Gua bahkan udah misahin mereka, gua udah jahat banget, tapi Ibra masih aja anggep gua keluarga nya, huft...bikin makin ngerasa bersalah aja,"
"Kayaknya kehidupan gua yang dulu banyak ngelakuin perbuatan baik sampai gua harus ketemu orang kayak lu, paling nggak gua nggak perlu mikirin apapun tentang hidup gua karena ada kalian yang bakal bantu gua dalam hal apapun," ucapnya bangga.
"Butuh dana berapa banyak?"
"Gua sampek lupa saking banyaknya nol di belakangnya," ucap Rafael jujur.
"Sakti minta data berapa yang mereka butuhkan dan cover semuanya," ucap Ibra kemudian.
"Siap tuan muda,"
"Aku sudah bangun ulang Harbank dengan susah payah di belakang Sakti, jangan menghancurkannya dalam beberapa hari," ucapnya lagi.
"Aish... untung saja mood ku sedang baik, jika tidak, aku akan mencekik mu sekarang," gumam Ibra pelan.
"Coba aja, gua ledakin lu duluan,"
"Abang, berani abang ledakin mas Ibra, abang bakal Nadia gundulin, biar nggak ada cewek cewek yang mau deketin abang lagi," tambah Nadia.
"Hey... waktu Ibra mau cekik gua kenapa lu diem aja, sekarang giliran gua mau ledakin malah lu mau gundulin, pilih kasih lu mah dek, kecewa gua," ucap Rafael yang langsung mematikan panggilan video itu.
"Huft.... " ucapnya lega.
"Lega kan? ini lah hebatnya keluarga, mereka ada di saat yang lain membutuhkan, jadi El, jangan memendam semuanya sendiri, kita bisa berbagi," ucap Sakti menepuk pundak Rafael sebelum bangkit dari sofa.
"Lu mau kemana?"
"Pulanglah, tugasku dan tuan muda sudah berakhir di sini," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Nadia... "
"Tuan tetap mengembalikan semuanya padamu, beliau bisa bertemu diam-diam seperti ini, tapi tidak akan menciderai kepercayaan mu dengan membawa nona muda kembali ke sisinya dengan paksa."