
"Apa nama virusnya?" tanya Ibra lagi.
"Naisara om," jawab Nadia.
"Kok ngerasa sia-sia bayarin dia kuliah," gumam Ibra pelan namun masih terdengar jelas di telinga semua orang yang ada di ruangan itu.
"Gua setuju," tambah Rafael yang kini masih menatap layar komputernya tak percaya.
"Anda terlalu polos nona muda," ucap Sakti, entah kenapa mereka bergantian berbicara yang semakin membuat bingung Nadia.
"Nadia salah sih ? apanya yang Salah ?" tanyanya terang-terangan pada mereka semua.
"Lu pengen di tangkap polisi gara-gara udah buat virus ini ?" tanya Rafael.
"Enggak lah bang," jawab Nadia singkat.
"Orang bodoh juga tau kalo Naisara itu nama kita berempat," ucap Ibra tanpa basa-basi.
"Keliatan banget ya om," ucap Nadia panik.
"Untung punya mertua sendiri nona, hehe," gurau Sakti namun semakin membuat gadis itu khawatir.
"Kayaknya lu harus ambil kelas bahasa juga deh, biar lebih kreatif, ada trojan,worm, code red dan masih banyak lagi, wk wk wk wk, Naisara, oh Naisara," gurau Rafael semakin mengejek Nadia, membuat gadis kecil itu mengejarnya karena kesal.
"Abang jahat ih, nakal," teriak Nadia kesal.
"Hahaha, itu Nadia Ibra Sakti Rafael kan ?" tebak nya masih dengan tawa memenuhi bibirnya.
"Bang El..... "
"El Nadia, diamlah," teriak Ibra.
"Haha, bini lu lucu," ucapnya lagi yang semakin membuat Nadia cemberut.
"Dia udah bener kok, tugas lu sekarang sempurnakan apa yang udah Nadia buat, dia masih baru di dunia ini, lu masih harus tetep awasi dan pantau kedepannya, cari tau apa plus minusnya biar kita nggak salah sasaran, anggap aja komputer daddy sebagai percobaan," jelas Ibra.
"Terus komputer daddy gimana om? bisa normal lagi kok kalo Nadia udah pasang antivirus di sana," ucapnya lagi dengan perasaan bersalah karena sudah salah sasaran.
"Biarkan saja," ucapnya dengan senyum.
"Aku suka melihat wajah kesal daddy, sudah lama daddy tidak memarahiku, biarkan dia memiliki alasan untuk memarahiku, Lusy dan pak Mul pasti juga akan kuwalahan karena hal ini, ahh hari ini sangat menyenangkan," ucap Ibra yang beranjak dan melangkahkan kaki menuju sebuah sofa yang juga ada di sana.
__ADS_1
"Om waras ? sakit ya ?" tanya Nadia mendekati Ibra dengan tangan kanan memegang dahi Ibra dan tangan kiri memegang dahinya sendiri.
Namun sayangnya, bukan amarah dan ucapan tidak menyenangkan yang keluar dari mulutnya, melainkan sebuah senyum yang jarang sekali terlihat oleh matanya.
"Sejak usia muda, tuan sudah pergi dari rumah besar nona, sehingga tuan dan nyonya besar tidak pernah memiliki kesempatan untuk memarahi tuan muda, bukankah marah adalah tanda kepedulian dari orang yang juga menyayangi kita," ucap Sakti lirih, cenderung berbisik di telinga Nadia agar tidak terdengar oleh Ibra.
Nadia menatap Ibra serius setelah dirinya menatap Sakti ketika memberikan penjelasan itu kepadanya.
"Om Ibra juga punya masalahnya sendiri, untuk bisa sampai di titik ini, berapa banyak yang harus ia korbankan, dia orang yang sangat mungkin sudah kehilangan banyak hal," batin Nadia.
Drtt drtt drtt
Suara gesekan handphone yang bergetar di saku jas miliknya membuat getaran-getaran lembut di sekitar dadanya. Tak lama ia mengambil handphone itu dan melihat layarnya.
Ada nama daddy tertulis di sana, senyum aneh terlihat semakin jelas di wajahnya, tak lama ia menggeser icon call berwarna hijau untuk menerima panggilan telfon itu.
"Siapa yang melakukan ? kenapa komputer daddy jadi blank dan error setelah membuka browser IA entertainment, perusahaan mu," ucapnya kesal.
"Come on dad, nggak mungkin kalo daddy hanya sekedar membuka browser perusahaan, sistem yang di pasang Rafael nggak akan sampai memberi peringatan jika daddy hanya membuka browser," ucap Ibra tenang dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Daddy hanya membuka karena penasaran, ini tidak perlu di besar-besarkan," teriknya kesal.
"Pasti manusia tua licik itu yang pakai komputer daddy, mereka memang benar-benar harus di beri peringatan, virus-virus itu hanya ucapan selamat datang dad, kenapa daddy jadi begitu marah,"
"Rafael,"
"Ini bukan seperti gaya Rafael, siapa dia ?"
"Wah, ada yang terang-terangan menjadi penggemarku," ucap Rafael bangga dengan keras, sengaja agar terdengar di telinga Attar.
"Kalian merekrut orang baru, siapa dia ? kenapa kamu selalu menemukan orang-orang baru dan berbakat seperti itu," ucap Attar semakin kesal di balik telfon.
"Sudah, Ibra tutup telfonnya,"
.
"Hey tunggu, siapa yang membuat nama virusnya? Naisara, apa itu kekasih baru Rafael ? tapi itu sudah pasti bukan nama orang,"
"Astaga dad, kenapa daddy jadi tidak tanggap untuk hal-hal seperti ini,"
''Mungkin faktor U tuan muda," sahut Sakti kemudian.
__ADS_1
"Cepat datang dan perbaiki semua ini, proyek penting daddy ada di dalam sini semua, jangan membuat kekacauan dengan bermain-main seperti ini Ibra,"
"Ibra mau bilang sama mommy, biar daddy tidur di luar malam ini,"
"Terserah,"
"Mommy bakal marah kalau tau daddy berusaha menembus privasi yang sudah lama Ibra bangun, kita sudah sepakat untuk tidak mengusik satu sama lain,"
"Daddy kasih satu villa daddy di Jerman,"
"No,"
"Tambah jet pribadi atas nama daddy,"
"No, Ibra masih bisa beli dad,"
"Anna?"
"No no, nggak akan ! sampai daddy ganti semua keamanan perusahaan daddy di Cyber," ucapnya tetap teguh pendirian.
"Astaga, masih aja cari untung nih anak, daddy nggak yakin kamu benar-benar anak kandung daddy, untuk hal-hal seperti ini kamu selalu pintar memanfaatkan orang lain."
"Gimana ?" tanya Ibra lagi.
"Iya," sahut Attar berikutnya.
"Oke," ucap Ibra kemudian menutup panggilan telfonnya.
"Bilang pada paman Louis, mulai saat ini lebih banyak berinteraksi dengan dunia bisnis, lebih detailnya adalah perusahaan-perusahaan di setiap lini bisnis, tidak hanya yang sudah besar, yang masih berkembang dan bahkan perusahaan kecil juga harus mereka rangkul, jangan biarkan sebuah informasi kecil luput dari pandangan kita, karena itu kita harus menguasai mereka, karena Sakti akan selalu mendampingiku, Rafael yang akan menggantikan ku mengurus Cyber."
"Nadia om ?" tanya gadis kecil yang masih berdiri itu saat tau namanya tidak di sebut.
"Uhm Nadia... " ucapan Ibra masih menggantung.
"Dia langsung terjun di Cyber bareng gua, banyak pengalaman yang nantinya akan bermanfaat buat dia,"
"Nggak !! Tetap masuk kelas," jelas Ibra tegas seolah tidak ingin di bantah.
"Santai, nanti waktu kelas gua, gua ajak lu main ke Cyber," hibur Rafael.
"Cyber keren ya bang ? namanya aja udah keren,"
__ADS_1
"Semua yang ada di bawah naungan Ibrahim Muhammad Attar pasti keren," ucap Ibra sombong bin narsis.
"Sombong," ucap Rafael dan Nadia bersamaan.