
Hari itu menjadi hari yang melelahkan baik untuk Ibra, Sakti maupun Rafael, pencarian skala besar yang mereka lakukan ternyata masih belum membuahkan hasil, namun satu hal yang pasti. Anna masih hidup dan berada di negara ini, lebih tepatnya di kota ini. Setidaknya dengan ini mereka bisa mempersempit wilayah pencarian.
Langit sudah mulai gelap, terlihat sebuah mobil yang sangat di kenal Nadia, gadis itu sengaja hanya melihat dari balik jendela, Sakti keluar dari mobil terlebih dulu dan berlari kecil untuk membuka pintu untuk Ibra.
Penampilan Ibra jelas terlihat sangat kacau ketika keluar dari mobil dan memasuki rumah di dampingi Sakti, ia masuk tanpa jas yang di lihat Nadia sebelumnya, kemeja yang ia kenakan terlihat sangat kusut, ditambah dengan rambut yang sudah tidak karu-karuan bentuknya, untung saja di tolong oleh wajah tampan miliknya, jika tidak entah bagaimana bentukan Ibra saat itu.
"Om Ibra sampai seperti ini, dia sangat mencintai nona Anna" batin Nadia, gadis itu melangkah pergi dari balik jendela sebelum Ibra sempat melihatnya.
"Dimana Nadia ?" tanyanya pada Rafael yang berdiri seorang diri menunggunya.
Rafael yang mendapat pertanyaan itu hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, "kemana tuh orang pergi, perasaan tadi di belakang gua pas jalan, udah ilang aja sekarang," gumamnya.
"Yang penting dia aman, karena sampai detik ini nggak ada satu orang pun yang aman sejak kedatangan gue di dunia ini, termasuk kalian," ucapnya kemudian pergi.
Sepeninggal Ibra, Sakti dan Rafael saling menatap, sepersekian detik masih tetap tidak ada yang memulai pembicaraan di depan mereka, "Jangan membicarakan apapun," ucap Sakti dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Rafael. Kemudian mereka masing-masing masuk ke dalam kamar mereka tanpa suara.
Hanya Nadia yang masih setia bergerak di dapur, tubuhnya lincah bergerak ke sana kemari entah apa yang ingin di buat gadis itu, tangannya terlihat lincah menumbuk sesuatu, seperti bunga berwarna putih.
Setelah selesai melakukan aktifitasnya, gadis itu berjalan santai dengan sebuah cangkir di tangan kanannya menuju kamar yang saat ini ia tempati bersama Ibra, dengan pelan ia membuka pintu kamar agar tidak mengganggu istirahat Ibra pikirnya, hehe, padahal nggak tau juga Ibra lagi istirahat atau enggak.
"Om,,," panggilnya pelan, terlihat Ibra sedang berbaring di atas ranjang dengan tangan menutupi wajahnya, entah ia sudah tidur atau bagaimana, Nadia sendiri tidak tau, namun langkahnya masih terus bergerak mendekat ke arah Ibra.
"Om, ini ada teh Chamomile resep khusus sekaligus resep rahasia Nadia, dijamin mantul dan nagih banget, mungkin juga bisa bantu bikin rileks," ucapnya tenang meskipun tetap tidak mendapat respon apapun dari Ibra.
"Selamat istirahat om, kita butuh hal-hal seperti ini dalam hidup, kecewa adalah hal yang wajar kita alami sebagai manusia, jadi tetap semangat untuk besok dan seterusnya," senyumnya dengan tangan mengusap-usap rambut kepala Ibra seolah memberi ketenangan kemudian beranjak dari tepi ranjang dan melangkah pergi.
Ceklik, suara pintu tertutup terdengar jelas di telinga Ibra, tak lama ia membuka matanya ketika ia merasa bahwa Nadia sudah keluar dari kamarnya, ia melihat sebuah cangkir di atas meja yang tadi di sebutkan Nadia, ia pernah meminum teh ini sebelumnya, Luna pernah menyarankan untuk mengkonsumsi teh ini untuk memberikan ketenangan ketika depresi ringan, namun ia selalu mual setelah meminumnya, ia bahkan pernah membeli beberapa kali dengan merek yang berbeda, tapi hasilnya tetap sama.
***
"Ini apa nona ?" tanya Sakti ketika melihat sisa tumbukan bunga Chamomile di dapur ketika ia hendak mengambil minum.
"Bunga Chamomile," jawabnya
__ADS_1
"Untuk apa nona ?" tanya Sakti dengan kening berkerut.
"Untuk om Ibra, kenapa bang ?"
"Tuan ? tuan akan mual bahkan jika hanya mencium aroma Chamomile nona," jelas Sakti sedikit panik.
Nadia tersenyum, "Kali ini nggak akan om, kan Nadia yang numbuk sendiri, teh itu sangat bagus untuk keadaan om Ibra sekarang bang,"
"Tapi nona,,,"
"Stop bang, kita udah sepakat, jadi jangan panggil nona nona lagi !" ucap Nadia tegas.
"Saya harus tetap memanggil anda dengan sebutan nona, terlepas bagaimana anda menganggap saya nona," senyum Sakti.
"Oke deh terserah bang Sakti aja, dan masalah om Ibra,,,"
Sakti masih menunggu Nadia melanjutkan ucapannya, "Nadia jamin om Ibra pasti suka sama teh nya," ucapnya tetap stay positif.
"Maafkan saya nona, sebelumnya tuan muda sudah beberapa kali mengkonsumsi minuman itu, bahkan dengan berbagai macam merek yang berbeda, namun setelahnya ia tetap saja mual dan muntah, bahkan terakhir kali beliau langsung mual bahkan ketika hanya mencium aromanya,"
"Huft baiklah, terserah nona saja," jawab Sakti pasrah, lebih tepatnya bersiap terkena amukan singa lagi.
"Besok Nadia harus belajar gimana bang ?"
"Anda hanya perlu berada di rumah nona, dosen anda yang akan mengajar anda di sini secara langsung, nah karena kita akan memadatkan waktu yang seharusnya empat tahun menjadi satu tahun, maka anda juga harus belajar lebih banyak dalam sehari di bandingkan kuliah pada umumnya nona,"
Nadia hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Sakti, "Lagian ini juga solusi terbaik yang di cari om Ibra buat hidupku kedepannya, nggak boleh ngeluh Nadia tetap harus semangat,"
ucapnya pada diri sendiri.
"Apa ada sesuatu yang anda ingin pelajari nona ?"
"Ada sebenarnya bang, hehe keliatan ya," jawab Nadia malu karena pikirannya berhasil di tebak oleh Sakti.
__ADS_1
"Katakan saja nona, saya sudah bersama tuan muda bertahun-tahun, selama itu rasanya saya sudah bisa menjadi paranormal nona, karena berusaha membaca raut wajah tuan muda setiap hari, wkwkwk" balas Sakti.
"Rasanya menyenangkan kalo bisa mempelajari apa yang bang El lakukan hari ini, hehe"
"Rafael ?" kening Sakti mengkerut.
"Iya bang El,"
"Bukannya hari ini gua cuma nemenin lu makan es krim ?" sahut Rafael yang baru saja muncul ketika mendengar namanya di sebut-sebut.
"Yang abang lakuin setelah menerima telfon dari bang Sakti tadi setelah kita makan es krim," jelas Nadia.
"Hacker nona ?"
"Iya iya,"
"Gua bukan hacker dodol,"
"Lu juga ngapain jadi gila pengen kayak gua?" ucap Rafael ketus pada Nadia, pasalnya dirinya sendiri saja tidak suka dengan kemampuan yang ia miliki, kemampuan itu yang membuat dia kehilangan keluarganya.
"Nadia pengen bisa punya game sendiri nanti, kalo Nadia bisa punya keahlian komputer kayak om, Nadia kan pastinya bisa membuat sebuah aplikasi untuk game Nadia sendiri nanti, gitu," jelasnya pada kedua laki-laki di depannya itu.
"El yang akan secara langsung mengajarimu, dia yang terbaik di negara ini, tapi pembelajaran tetap sesuai jadwal yang kita tentukan." sahut Ibra kemudian.
Semua kepala menoleh ke arah Ibra yang kini berjalan dengan gagah ke arah mereka, *"tumben banget nih anak langsung keluar, biasanya kalo gagal kayak gini bisa semedi tiga hari tiga malem di dalam kamar," *batin Rafael.
"Tuan muda,"
"Om Ibra terbaik," ucapnya ceria melayangkan kedua ibu jari tangannya ke udara.
"Aku ingin minum teh itu lagi, aku akan mandi dulu," ucapnya kemudian berbalik dan pergi menyisakan gurat aneh di wajah Sakti.
"Tuan muda minum Chamomile ?"
__ADS_1
Rafael melotot setelah mendengar ucapan Sakti, " Chamomile ? Ibra ?"
"Siapa dulu bang ? Nadia," ucapnya bangga.