Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Mimpi bersama


__ADS_3

Sebuah mobil mewah baru saja berhenti di depan airport, Ibra dan Nadia turun dari mobil beberapa saat setelah mobil berhenti, dengan tanpa membawa pakaian atau apapun, ia pergi hanya membawa badan berdua dengan Nadia, Ibra melarang membawa beberapa barang dan baju yang Nadia kemas sebelumnya.


"Kalian pulanglah, aku akan pergi sendiri dari sini," perintah Ibra.


"Maaf tuan muda, tuan Rafael meminta kami untuk memastikan anda aman, sampai saat itu kami akan tetap di sini bersama dengan anda, baru setelah anda masuk kami boleh pergi," jawabnya tegas.


"Mereka atau om bosnya, om bisa kalah gitu sama mereka, ha ha ha ha... " ejek Nadia tertawa.


"Diam Nadia," ucapnya membuat Nadia diam kemudian, meskipun dengan sedikit menahan tawanya.


"Saya harus ke bank terlebih dahulu, dia sangat suka makan, saya nggak ingin kehabisan uang selama perjalanan nanti, saya butuh uang cash lebih banyak," balas Ibra menggoda Nadia.


"Om Ibraaaaa......" kesal Nadia menginjak kaki Ibra dengan sekuat tenaga.


"Awww Nadia..... " pekik Ibra.


"Makannya om, jangan nakal," jawab Nadia dengan menjulurkan lidahnya.


Ibra hanya melirik malas kalau Nadia sudah mulai bertingkah seperti ini, "dasar bocah," sengitnya.


"Cepat bantu saya cari bank apa saja kalau begitu," perintah Ibra, salah seorang pria yang sedari tadi bersamanya kini berjalan mencari bank yang ada di airport.


"Kita tunggu di sana," ucap Ibra dengan ketus pada Nadia yang masih kesal dengan ucapannya tadi, sebenarnya bukan hanya Nadia yang kesal, si Ibra juga sedang kesal karena injakan kaki Nadia masih sangat terasa di kakinya.


Terlepas dan rasa kesal di antara keduanya, Ibra dan Nadia duduk di sebuah kursi panjang, dengan seorang pria yang tetap setia mengawasinya.


"Kau bisa membuat alat deteksi di ponsel milikku nonaktif sementara?" tanyanya pada Nadia pelan.


Gadis yang sedang merajuk itu menoleh dengan cepat, "Hah... ?"


"Nonaktifkan sekarang, termasuk yang ada di ponselmu," ucap Ibra tanpa memberi penjelasan kemudian menyerah kan ponselnya di tangan Nadia.


"Buat apa om? bang El dan bang Sakti harus tau lokasi kita dengan ini," bimbang Nadia.


"Kau istriku atau istri mereka hah?"


"Silahkan tuan muda, saya sudah mengatur agar anda bisa langsung di layani terlebih dahulu," ucap pria itu.


"Tunggu di sini, jangan bergerak kemanapun dan cepat lakukan apa yang ku bilang barusan," ucapnya pada Nadia kemudian beranjak pergi.

__ADS_1


Nadia menatap kepergian Ibra hingga laki-laki itu hilang dari pandangannya, "apa yang om Ibra rencanakan? aku harus bertanya pada bang El terlebih dahulu kemana tujuan kita pergi," pikirnya dalam hati.


Tanpa menunggu waktu, Nadia mengambil ponsel yang berada di tas kecilnya, alhamdulillah nya panggilan itu langsung tersambung kepada Rafael.


"Halo.... " ucap Rafael terdengar setengah berteriak.


"Halo abang, Nadia mau nanya dong,"


"Apa dek, aman semua kan? nggak ada problem atau apapun?"


"Aman kok bang," jawab Nadia.


"Bagus kalo gitu, abang lanjut dulu ya,"


"Eh eh bang El tungguin, Nadia mau di kirim kemana sama om Ibra ?"


"Honeymoon kan ?"


"Bukan itu bang, maksudnya kemana? dimana tempatnya? om Ibra nggak mau ngasih tau soalnya, Nadia kepo hehe,"


"Maldives,"


"Maldives ? sejauh itu ? pakai pesawat pribadi milik daddy ? tapi om Ibra masih harus ambil uang cash ? untuk apa uang itu sebenarnya?"


Pikiran Nadia terus berfikir dan memposisikan dirinya menjadi Ibra, hingga dirinya tidak sadar bahwa Ibra sudah berada di sampingnya, "ayo kita berangkat sekarang," ucapnya lagi mengulurkan tangannya ke arah Nadia.


"Kalian pergilah," perintah Ibra lagi sembari menunggu Nadia.


"Kami harus memastikan anda aman tuan muda,"


"Cih terserah lah, bilang pada Rafael, aku bukan bayi," ucapnya kasar.


Tanpa mempedulikan keduanya, Ibra dengan santai masuk tanpa melakukan prosedur pada umumnya, wajah tampan yang selalu muncul baik di televisi maupun media cetak benar-benar membuat dirinya tidak bisa pergi kemanapun tanpa di kenali.


"Silahkan tuan Ibrahim,"


"Aku sudah masuk, kalian pergilah," perintahnya lagi.


"Baik tuan muda," jawab keduanya yang masih tetap berdiri menunggu Ibra benar-benar masuk ke dalam dengan aman sentosa.

__ADS_1


''Astaga.... " ucap Ibra ketika keduanya benar-benar tak kunjung beranjak dari tempat mereka berdiri sebelum memastikan Ibra dan Nadia hilang dari pandangannya dan masuk ke dalam burung besi raksasa.


***


Saat ini Sakti dan Rafael sedang berada di sebuah perusahaan yang selama ini diam-diam di kelola oleh Ibra, IA entertainment hanya salah satu dari banyaknya pintu gerbang kerajaan bisnis Ibra.


"Selamat datang tuan," ucap mereka semua serentak menyambut kedatangan Sakti dan Rafael.


Rafael mendekati Louis yang berdiri tak jauh di dekatnya, "anda tidak perlu bersikap sama seperti mereka paman," ucap Rafael kemudian merangkul Louis dan mengajaknya berjalan beriringan menuju lift.


Tit tit


Sebuah notifikasi terdengar di ponsel Sakti, "Siapa?" tanya Rafael melihat ke arah Sakti.


"Hanya sebuah notifikasi penarikan kartu tuan muda,"


"Ibra? tumben dia.... "


Sakti langsung faham dengan apa yang di maksud oleh Rafael, Ibra tipe orang yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah belanja apapun, sifatnya itu benar-benar hampir mirip dengan Nadia yang sangat jarang sekali membeli apapun jika bukan sesuatu yang sangat ia butuhkan, semua yang ia inginkan ia akan minta dari Sakti secara langsung.


Dengan segera Sakti membuka notifikasi itu, matanya terbelalak seketika ketika melihat nominal yang baru saja di tarik Ibra.


"Ada apa?"


"Lacak ponsel tuan muda sekarang,"


"Ibra belanja berapa dulu heh? kenapa lu jadi panik kayak gini sih,"


"Lacak ponsel tuan muda sekarang !!!!" bentak Sakti pada Rafael seketika.


Bersamaan dengan itu, pintu lift yang membawa mereka terbuka, "kita langsung menuju ruangan, kita lacak di sana," ucap Louis yang berjalan lebih dulu di antara mereka.


Melihat kekhawatiran di wajah Sakri, Rafael mulai di sibuk kan dengan menghubungi ponsel Nadia dan Ibra, berkali-kali ia berusaha menghubungi nomor tersebut namun berkali-kali juga gagal.


Tak hanya itu saja, alat pelacak lokasi yang ia tanamkan di ponsel Ibra dan Nadia juga tidak terdeteksi.


"Aishh shit," umpat Rafael kemudian.


Rafael menekan tombol hitam yang berarti tanda darurat di seluruh perusahaan, "cari tuan dan nona muda di seluruh airport, angkutan umum, stasiun atau di tempat-tempat umum lain yang memungkinkan tuan muda ada di sana, cari di mana pun juga, jangan sampai media tau tentang semua ini atau kalian akan saya pecat."

__ADS_1


__ADS_2