
Hingga kemudian. Pletak.
Ibra menyentil dahi Luna keras, "kenapa membohongi ku dengan bayi yang terselip? kau pikir aku bodoh hingga percaya hal seperti itu hah?" bentaknya pada Luna setelah membebaskan diri dari pelukan keduanya.
Namun bukannya marah, kedua orang itu kembali memeluk Ibra bahkan lebih erat, "Lu udah beneran balik, ini Ibra yang gua kenal,"
"Anda kembali tuan, nyawa kami terselamatkan," ucap Sakti senang.
Ibra bahkan belum mengucapkan apa-apa tapi mereka berdua langsung menyerbu nya dengan banyak sekali kata.
"Cukup, lepaskan aku, kalian membuatku sesak," ucapnya kemudian melepaskan diri dari dua orang itu.
"Tuan apa ada yang tidak normal, atau ada yang sakit, uhm mungkin ada yang terasa tidak nyaman ?" tanya Sakti dengan banyak sekali pertanyaan hingga Ibra bingung hendak menjawab yang mana.
"Justru kalian berdua yang membuatku tidak nyaman," ucapnya sembari menjauh dari keduanya sebelum di serang lagi.
"No... no... menjauh, jangan mendekatiku dengan wajah nafsu seperti itu," ucapnya bergidik ngeri sendiri.
"Cih... ge er banget lu, siapa juga yang nafsu," ucap Luna kemudian tidak terima.
"Harusnya tuh lu terimakasih," ucapnya kesal.
"Kenapa aku harus berterima kasih, banyak sekali hal yang terjadi selama aku tidak bangun kan? kalian semua bahkan mengacaukan semuanya," tebak Ibra setelah melihat beberapa data sebelum kedatangan dua orang kepercayaannya ini.
"Dan Rafael, dia semakin membuat ku gila karena ulahnya kali ini," ucapnya dengan sedikit bersandar di tempat tidur pasien yang sebelumnya ia tempati.
"Saya minta maaf tuan,"
"Kau memang seharusnya minta maaf, bagaimana bisa kau diam saja saat Rafael menghancurkan Harbank dalam waktu hampir dua bulan,"
"Rafael benar-benar tidak berbakat di dunia bisnis tuan muda," jawab Sakti memberi penjelasan.
"Itu bukan alasan, dia bisa belajar, yang jadi pertanyaanku kenapa kau tidak melakukan tindakan apapun," bentaknya pada Sakti.
__ADS_1
"Karena anda adalah pemilik Delta Internasional sekarang, salah langkah sedikit saja dalam bertindak hanya akan membuat nama anda terlihat buruk, terlebih Luke adalah salah satu pendukung kuat Delta Internasional," jelas Sakti pada Ibra.
"Kenapa Rafael harus berurusan dengan Luke? dan aku masih salah satu dari calon penerus Delta, bukan pemiliknya."
"Karena Luke adalah dalang di balik kecelakaan yang membuat anda seperti ini tuan muda, dan karena kesal melihat nona muda menangis, akhirnya Rafael meledakkan mansion milik Luke," jelas Sakti lagi.
Brak...
Tangan Ibra mengepal dan menggebrak sebuah mesin media di sampingnya, "oma tau tentang ini?" tanya Ibra.
Luna tidak menghiraukan kedua laki-laki yang ada di depannya saat ini, ia sedang sibuk dengan peralatan yang di lepas paksa oleh Ibra, terlihat ada beberapa alat yang sudah tidak bisa di gunakan lagi.
Namun begitu Ibra dengan sengaja menggebrak alatnya, jika wanitanya meronta, "hey.. lu kalo gebrak kira-kira dong, tuh alat mahal, indennya juga lama, kalo rusak gimana?" kesalnya pada Ibra, namun dengan tanpa berdosanya Ibra malah bahkan tidak melihat dan menjawab ucapan Luna itu.
"Itu sebabnya tuan, saat ini tuan besar menggantikan anda memimpin Delta, nyonya besar langsung terkena serangan jantung begitu tau berita tentang Luke yang membuat anda tidak bisa bangun, beliau sangat shock ketika pewaris yang ia tunjuk selama bertahun-tahun harus berakhir di atas tempat tidur,"
"Beliau bahkan terus memanggil nama anda di penghujung nafasnya," tambah Sakti yang mana membuat dahi Ibra berkerut.
"Oma sudah meninggal, pada akhirnya dia meningal dengan tetap khawatir pada perusahaan dan dirimu, Ibra pewaris ku, Ibra cucuku, itu adalah hal yang tidak bisa lepas dari bibirnya hingga akhir," sahut Abrar dan Louis yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ha ha nggak mungkin paman, oma nggak akan meninggal secepat itu, biasanya pendosa akan memiliki waktu tambahan agar mereka bertaubat, aku... aku... " ucapnya yang kemudian terbata tidak sanggup lagi berbicara.
Sebenci apapun, hubungan darah tetaplah hubungan darah, setiap kehilangan pasti akan meninggalkan bekas luka, sama seperti hari ini, saat mengetahui fakta ini, ia sangat senang karena tidak akan ada lagi yang mengusiknya, yang mencari kelemahannya, yang selalu menekannya dengan banyak sekali permintaan.
Namun perasaan kehilangan tetap tidak bisa di abaikan dan di hilangkan begitu saja, "keluarlah," perintahnya pada semua orang disana.
"Tuan muda,"
"Kubilang keluar sekarang!!!!" bentaknya yang membuat semua orang kaget seketika.
Abrar dan Louis menatap sendu laki-laki yang sudah mereka anggap anak ini, "tak perlu malu, sejahat apapun ibu padaku, aku juga tetap merasakan apa yang saat ini kau rasakan, ini manusiawi," ucap Abrar menepuk bahu Ibra pelan sebelum berbalik meninggalkan Ibra di sana.
"Paman kenapa di sini?" tanya Ibra kemudian.
__ADS_1
"Daddy dan mommy mu harus mengurus menantu dan cucu mereka, aku harus ada di sini untuk memantau langsung kondisimu menggantikan mereka berdua bukan?" jawabnya tanpa menoleh ke arah Ibra dan berlalu pergi.
"Sakti kita pulang sekarang," ucapnya.
"Pulang kemana tuan muda ini? jika aku bertanya maka dia pasti akan marah, jika tidak bertanya maka juga akan marah, lalu aku harus bagaimana ini? begitu bangun energi tuan muda untuk marah semakin besar, berada di dekatnya saja sudah membuatku merinding," batin Sakti.
"Kubilang kita pulang pun kau masih belum faham hah,"
"Tapi kita harus pulang kemana tuan muda, rumah anda sangat banyak sekali," jawab Sakti memberanikan diri.
"Rumah adalah tempat di mana aku harus pulang, dan kau masih bertanya kemana aku harus pulang?" teriak Ibra.
Akhirnya otak pintar Sakti berguna juga, "baik tuan muda, pesawat akan siap dalam beberapa menit,"
"Akuisisi Harbank dulu, aku ingin Delta dan Harbank menjadi satu, Rafael jika dibiarkan terlalu lama hanya akan membuang-buang uang saja."
"Baik tuan muda,"
Sebenarnya Ibra masih merasakan tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya yang sekarang, beberapa bagian tubuhnya masih terasa ngilu pasca operasi meskipun sudah satu bulan berlalu, namun ia harus segera pulang agar tidak terlalu lama meninggal kan Nadia.
***
Berita penyatuan dua perusahaan besar sudah terdengar di penjuru negeri, rencana penandatanganan ini akan di adakan secara live, namun belum ada yang tau jika Ibra sendiri yang akan datang ke Harbank kali ini.
Aisyah dan Attar sudah mendapat berita bahwa Ibra akan tiba pagi ini, namun Ibra melarang untuk memberitahukan kepada Nadia dan Rafael.
Saat ini Ibra sudah berada di Delta Internasional, menemui para jajaran ketua dan pemegang saham dan melakukan semua hal secara cepat sebagai CEO Delta yang baru.
"Ibra.. " bisik Attar.
"Daddy baru tau jika benih daddy bisa menjadi sosok hebat seperti kamu,"
"Ibra hebat karena mommy, itu bukan karena daddy," bantahnya.
__ADS_1