Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Cucu Abrar


__ADS_3

"Huft..... " Rafael menarik nafas berat.


"Gua kira lu nolak gua karena masalah citra buruk gua tentang cewek, tapi cukup mengejutkan... gua bisa kalah sama tuh cowok jadi-jadian." tambah Rafael dengan nada anehnya.


Luna menatap wajah Rafael yang berada tak jauh dari wajahnya, laki-laki itu berdiri tepat di depannya.


"Rafael... You know you are always the best, tapi cinta tidak bisa memilih dia jatuh untuk siapa,"


Rafael hanya tersenyum masam, "gua lebih rela kalah dari Sakti dari pada si William itu, paling nggak Sakti bisa memperlakukan lu kayak ratu,"


Luna masih menatap laki-laki itu, laki-laki aneh yang selalu bertengkar dengannya untuk hal-hal sepele, laki-laki dengan ide gila dan otak jenius yang sama sekali tidak pernah Luna pikir kan sama sekali.


Masih teringat jelas saat itu, ketika Rafael bilang menyukainya, saat itu ia masih sangat mencintai William, Laki-laki yang bersama dengannya selama bertahun-tahun terakhir ini, meskipun dalam sekali lihat saja sudah bisa di pastikan Rafael memang jauh lebih baik dari segi manapun, kecuali sikap buayanya itu.


"Lepaskan saja mereka," ucap Luna kemudian.


"Hah?" respon Rafael tidak percaya.


"Jangan lakukan apapun dan lepaskan saja mereka, jangan lukai tangannya, jangan ambil apapun di hidup mereka, biarkan saja mereka bahagia,"


"Kenapa? masih mencintainya ?"


Tidak ada jawaban dari Luna, "gua bakal hancurin mereka melalui dokter wanita itu, ini bukan masalah gua suka lu apa gimana Lun, tanpa gua dia juga bakal mampus di tangan Ibra," ucap Rafael yang ingin segera pergi dan mencari laki-laki itu seorang diri.


Namun tangannya terhenti karena ada sesuatu yang menahannya, "dia udah pergi ninggalin gua buat wanita itu kan, apa lu juga sama?" tanya Luna yang tiba-tiba saja sudah banyak sekali air mata menggenang di kelopak matanya.


Rafael yang melihat itu tentu saja panik dan berjalan mendekat, "hey... hey...Luna...? you know me Lun... kenapa lu sampek nangis gini cuma buat orang-orang brengsek kayak mereka," ucap Rafael yang langsung saja menarik Luna ke dalam pelukannya.


"Biarkan Ibra saja, biar Ibra saja... jangan melakukan apapun," ucapnya di tengah isakan tangis di pelukan Rafael.


***


Nadia memaksa Ibra untuk segera menemui Rafael dan Luna, ia bahkan mengabaikan kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah.


Dengan banyak sekali rengekan, akhirnya Ibra memenuhi keinginan istrinya itu, berada di atas kursi roda dengan Ibra yang mendorongnya, keduanya berjalan menuju ruangan tempat Rafael dan Luna berada saat ini.


Hendak membuka pintu, keduanya terhenti melihat Rafael memeluk Luna yang sedang menangis, Ibra tidak pernah melihat Luna seperti ini,


"Dia sampai menangis seperti itu untuk laki-laki tidak berguna,"


"Biarkan Ibra saja, biar Ibra saja... jangan melakukan apapun,"

__ADS_1


Kata-kata itu terngiang jelas di otak dan hati Ibra berkali-kali, Ibra masih tidak bergeming dan tetap menatap kosong dua orang di balik pintu dengan matrial separuh kaca itu.


Tangan Ibra sudah mulai kesal dipenuhi amarah, ia memejamkan matanya berkali-kali untuk meredam emosi dan amarah yang sudah sangat bergejolak di hatinya.


Nadia menatap Ibra penuh ragu, ia faham apa yang di rasakan suaminya saat ini.


"Uhm... mas Ibra... " panggil Nadia.


"Kita kembali saja mas, ini bukan waktu yang tepat untuk mereka,"


Ucapan Nadia menyadarkan Ibra dan menggerakkan laki-laki itu untuk memutar dan menjauh dari sana.


Ibra membawa Nadia masuk ke dalam ruang perawatan yang di tempati istrinya sebelumnya, ia memindahkan Nadia ke atas tempat tidur, mencium keningnya sebentar sebelum berpaling menatap Aisyah dan berkata, "aku tidak nyaman karena ada seseorang yang mengusik keluarga ku mom, bisakah aku pergi sebentar dan meninggalkan Nadia bersama mommy?" ucapnya pada Aisyah.


Aisyah terlihat bingung dengan ucapan putranya ini, namun Nadia memberikan kode dengan menganggukkan kepala kepada Aisyah.


"Baiklah, jangan bermain terlalu jauh oke," ucapnya lembut pada Ibrahim.


"Yes mom," ucapnya memeluk lembut Asiyah sebelum kemudian pergi.


Sakti yang sudah menunggu di luar ruangan segera mendekati Ibra begitu melihat Ibra keluar, "cari tau siapa laki-laki itu?" ucap Ibra.


Sakti menyodorkan beberapa draft tentang dokter William dan dokter Clarissa, dengan tablet yang ada di tangannya.


"Mereka sudah dekat sejak dua tahun yang lalu tuan muda,"


"Hubungannya dengan Luna?"


"Sudah berjalan hampir lima tahun, mereka berhubung sejak pertama kali Luna bekerja di rumah sakit ini," jelas Sakti.


"Bagaimana mungkin Luna terperosok terlalu jauh dengan hubungan toxic seperti ini, sekali lihat saja William ini sudah terlihat tidak baik,"


"Seperti anda dengan Anna... "


"Cukup..." cegah Ibrahim tidak ingin mendengar terlalu jauh, ia sudah mengetahui akhirnya akan seperti apa.


"Cari ... "


"Mereka sudah berada di gedung perusahaan kita yang belum selesai di bangun, anda ingin menanganinya sendiri tuan muda?" tanya Sakti.


"Biarkan Aga disini menjaga... " belum sempat Ibra menyelesaikan ucapannya, Sakti sudah lebih dulu menyela dan memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Tuan Louis sudah meminta beberapa anak buahnya untuk berjaga di sekitar sini tuan muda, di tambah dengan Cyber dan keberadaan kedua tuan besar di sini, istri dan anak anda akan aman," jelasnya.


"Jangan biarkan istri dan anakku berada di ruangan terpisah, aku ingin semuanya berada di ruangan yang sama, tidak satupun, kau dengar aku," ucap Ibra lagi.


Tanpa menunggu lama, akhirnya kedua buah hati Ibra sampai, Ibra mendekat dan meminta perawat meninggalkan mereka terlebih dahulu dengan Ibra.


"Ada apa tuan muda?"


"Aku harus mengingat dengan jelas wajah mereka," ucapnya.


Ibra sudah berlutut di depan meraka, mengeluarkan sebuah benda runcing di balik jasnya dan mendekatkan benda itu di belakang telinga putra putrinya.


Kedua bayi itu menangis, "tu... tuan muda... "


"Setiap keturunanku, akan memiliki tanda ini di belakang telinga mereka,"


"Ada apa Ibra...? " tanya Aisyah yang mendengar suara tangis cucunya dari dalam.


"Mungkin mereka lapar mom, Ibra titip mereka sebentar oke," ucap Ibra saat itu.


"Saya permisi nyonya besar," pamit Sakti.


"Mereka berdua mencurigakan sekali, uh... cup cup nak.... mau di tinggal daddy pergi ya... masih pengen sama daddy cucu cucu grand ma... '' ucap Aisyah berusaha menenangkan bayi-bayi itu.


***


Hampir satu jam Ibra pergi, dan masih belum ada tanda-tanda kembali, tiba-tiba sebuah pintu terbuka, terlihat Rafael dengan Luna di belakangnya.


"Ponakan uncle yang lucu-lucu di mana kalian.... '' teriaknya sembari melihat sekeliling ruangan.


"Astaga... dia seperti dua sisi koin, baru saja hampir membunuh orang-orang dengan beringasnya, sekarang udah berubah jadi hello kitty," gumam Abrar begitu Rafael langsung bergerak ke sana kemari dengan bahagia melihat kedua keponakannya.


"Hey... kemeja mu bahkan masih penuh dengan darah, jangan mendekati cucuku," teriak Abrar.


"Cih... kakek tua cuma bisa omong doang," ketusnya.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.


Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe

__ADS_1


Salam sayang semua.


__ADS_2