Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ibra Nakal


__ADS_3

"Ahhh.... Ahhh.... aduhhh... " teriak Nadia di tengah langkahnya saat hendak mencari ikan kakap.


Ada seorang laki-laki memakai celana pendek dengan jaket membalut bagian atas tubuhnya sedang menarik telinga Nadia dengan terus berjalan kedepan.


"Ahh om sakit," rintih Nadia ketika Ibra tak kunjung melepaskan tangannya dari telinga istri kecilnya itu.


"Diam dan jangan membuat keributan, atau jangan pernah kembali ke rumah lagi setelah ini," ucap Ibra pelan tapi dengan penuh penekanan.


Merasa di ancam seperti itu, Nadia yang tadinya meronta kini mulai terlihat pasrah di tarik Ibra, tapi dengan tetap memegang daun telinga yang terasa sakit karena tarikan Ibra. Beberapa orang yang melihat mereka terlihat sedikit bingung dan merasa aneh, namun bukan Ibrahim Muhammad Attar namanya jika tidak bisa menutup mulut mereka semuanya, beberapa orang suruhan Rafael sudah bergerak terlebih dahulu sebelum orang-orang sempat membuat suara.


"Om sakit....," rintih Nadia lagi ketika sudah sampai parkiran yang entah kenapa sudah terlihat sepi tanpa ada seorang pun terlihat di sana, kecuali orang-orang berpakaian serba hitam berdiri tegak membelakangi mereka.


"Sejak kapan kau berani melawanku gacil ? hah ? kenapa pergi nggak bilang-bilang dulu, kau bisa pamit padaku, Sakti atau Rafael sebelum pergi, kita bisa pergi bersama," tanya Ibra kesal kemudian melepas telinga Nadia.


Nadia diam, "kapan aku ngelawan sih, orang cuma ke pasar doang cari bahan buat di masak hari ini, aishh nasib nasib," batinnya masih memegangi telinga yang merah setelah di lepas oleh Ibra.


Gadis itu masih menunduk karena tau Ibra hendak memarahinya, "masuk !!!" bentak Ibra padanya ketika pintu mobil sudah terbuka.


Nadia hanya menurutinya dan naik ke atas mobil, "abang.... " ucap Nadia cerah ketika melihat Sakti dan Rafael sudah berada di dalam mobil, "yes ada yang bantu belain kalo om Ibra marah-marah," senyumnya dalam hati karena merasa menemukan penolong hehe.


"Duduk yang bener, hari ini mereka nggak akan belain kamu," ucapnya lagi kemudian menutup pintu dengan keras.


Nadia kemudian duduk dengan wajah cemberut kesal melihat keluar jendela, "perasaan nggak salah apa-apa, ish om Ibra ngeselin," ucapnya dalam hati.


"Aku udah bilang jangan keluar rumah tanpa aku, Sakti atau Rafael, siapa yang nyuruh kamu pergi," ucap Ibra masih kesal.


"Om nggak liat apa di kulkas udah kosong semua, kalian mau makan apa nanti kalo Nadia nggak masak, Nadia udah baik-baik buat belanja bahan makanan buat kalian semua tapi om cuma bisa marah-marah kayak gini," ucap Nadia kesal juga.


"Tapi nggak dengan pergi tanpa pamit kayak gitu Nadia, semua ada prosedurnya, kamu tinggal telfon bibi Audrey untuk mengirimkan bahan makanan yang kamu inginkan, mereka akan tiba dalam lima belas menit, atau paling nggak bilang ke salah satu dari kita biar kamu nggak pergi sendiri dan buat bingung semua orang kayak gini," jelas Ibra berapi-api.


"Aku bahkan nggak punya nomornya bibi Audrey, lagian bibi Audrey juga khusus untuk melayani di rumah besar, bukan aku nyonya di sana, jadi nggak perlu ngerepotin bibi Audrey terus om," ucapnya tanpa pikir panjang.


Ibra menatap Nadia yang masih menatap keluar jendela, suasana mendadak aneh.

__ADS_1


"Anda nyonya rumah itu nona muda," ucap Sakti.


"Bibi Audrey akan selalu melayani Ibra, siapapun orang-orang yang ada di sisi Ibra juga akan di layani dengan sama, lu nggak sadar juga siapa nyonya Ibra yang sebenarnya,"


"Tante Anna kan?"


"Anda istri sah tuan muda nona, sudah pasti anda adalah nyonya Ibrahim Muhammad Attar," jelas Sakti.


"Kita pulang !!!! bagaimanapun kau jelaskan dia tidak akan faham, dia masih saja suka membuatku darah tinggi," ucap Ibra cepat.


"Awas mati muda loh om, abis itu mukanya mendadak jadi tua, suka marah-marah sih," ucapnya lagi dengan sinis. Entah keberanian apa yang merasuki Nadia hingga berani melakukan itu.


"Kau..... "


"Apa? apa? Nadia malu tau jadi tontonan banyak orang tadi, nih telinga Nadia sampek mau putus gara-gara om, ngeselin," ucap Nadia lagi tidak mau kalah.


"Hey hey, kau sudah berani bantah sekarang ya?" tanya Ibra yang juga tidak ingin kalah.


"Apa? Nadia nggak takut sama om, weee..... " ucap Nadia lagi.


"Udah cukup kalian berdua, bikin rame mobil aja kayak suami istri, aishhhh bikin gua tambah pusing," kesal Rafael mendengar perdebatan mereka berdua.


"Kita emang suami istri," ucap Nadia dan Ibra bersamaan tanpa mereka sadari, kemudian saling memunggungi satu sama lain.


"Cih.... " decih Ibra kemudian.


"Apa dia tidak tau banyak sekali orang yang mengkhawatirkan nya, benar-benar nakal dan nggak tau terimakasih," gerutu Ibra tanpa henti.


"Dasar om-om tua ngeselin ngeselin, bikin sarapan juga buat siapa, hiiii ..... " kesal Nadia lagi.


"Apa...? " tanya Ibra ketika dia menoleh ke arah Nadia yang juga menoleh ke arahnya.


Namun Nadia tidak ingin menjawab Ibra, dia benar-benar kesal saat ini, Mereka berdua benar-benar diam setelah itu, yang justru membuat Rafael dan Sakti mendadak bingung.

__ADS_1


"Ehem.... "


"Saya dan Rafael akan pindah ke rumah kita masing-masing tuan muda," ucap Sakti.


Rafael yang sebelumnya tidak di beri tau apapun oleh Sakti mendadak bingung dan beberapa kali menatap Sakti tanda tak faham dengan apa yang di bicarakan seolah bertanya, "apa woy, gua nggak pengen pindah dari rumah itu,"


Sakti menatap Rafael beberapa detik dengan tetap mengendarai mobil mewah itu, "diam dan ikuti saja,"


"Kenapa pindah bang ?"


"Lu sama Ibra enak dek udah ada yang di peluk-peluk sebelum tidur, gua sama Sakti kan pengen juga,"


"Apa hubungannya?" tanya Nadia.


"Emang boleh rumah lu di masukin cewek-cewek gua sama Sakti buat nemenin kita tidur ?,"


"Hah ?"


"Aku ikut kalian, aku juga butuh refreshing,"


"Lah kok om ikut-ikutan, refreshing apa sih ?" tanya Nadia yang benar-benar nggak faham dengan arah pembicaraan mereka sekarang.


"Ya itu, peluk sebelum tidur,"


"Kan udah," jawab Nadia tanpa sadar.


"Haha ketauan kan lu, udah main yang enak-enak, ternyata adek gua udah gede sekarang, aciye ciye......" goda Rafael yang membuat pipi Nadia bersemu merah, meskipun dirinya belum pernah melakukan apa yang di sebutkan oleh abangnya itu.


"Kita pindah ke rumah utama aja, dan harus sesuai standart,"


"Standart apa?" tanya Nadia memberanikan diri bertanya.


"Perawan, polos, dan belum pernah di sentuh sama laki-laki manapun, hahahaa" jelas Sakti dan Rafael bersamaan.

__ADS_1


Nadia langsung faham dengan apa yang di jelaskan kedua laki-laki yang duduk di depannya itu, kemudian melihat Ibra, "Hiii om Ibra nakal, nakal, nakal, " kesal Nadia sambil memukuli tubuh Ibra dengan keras.


__ADS_2