Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Salah Nadia ?


__ADS_3

Gadis itu masih terus berjalan, kepalanya celingak-celinguk mencari masjid kecil yang ingin ia tuju, dengan kaki tertatih-tatih ia berjalan mencari masjid itu, bagaimana tidak kaki itu sudah terluka tadi malam di tambah perjalanan sejauh ini yang membuat jari-jari kakinya terluka. Hebatnya ia tidak pernah menyerah, hanya umpatan-umpatan kecil yang keluar dari mulutnya.


"Nadia,,," ucap seseorang memanggil gadis kecil itu.


Gadis kecil itu tiba-tiba menoleh ketika lengannya ditarik paksa oleh seseorang, tubuh itu limbung karena kekuatan kakinya yang sudah melemah, namun tangan kekar seseorang yang tadi menarik lengannya dengan cepat memegang tubuh Nadia yang hampir saja terjatuh.


"Kau jadi bodoh karena aku meninggalkanmu ? bagaimana jika tadi aku tidak menarik tubuh jelekmu ini Hahhh ?" ucap Ibra dengan tangan yang masih memegangi tubuh Nadia.


"Ahh om..." ucap Nadia sedikit terkejut kemudian melepaskan tubuhnya dari pelukan Ibra, gadis itu masih sangat kesal dengan Ibra.


"Sampai kapan kau akan berjalan-jalan seperti ini ?" ucap Ibra lagi.


Nadia sungguh tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu saat ini, ia hanya berjalan menjauh tanpa menjawab pertanyaan Ibra.


"Heyy Gacil kau berani tidak mendengarku sekarang ?" tanya Ibra lagi dengan kasar, laki-laki itu kembali menarik lengan Nadia agar tidak semakin menjauh.


Mata itu benar-benar terlihat sangat marah, entah apa yang membuatnya begitu kesal. Nadia masih ingin puasa bicara dengan laki-laki tidak berperasaan itu, namun ia melihat sekelilinya, banyak orang yang melihat mereka saat ini, bahkan ada yang diam-diam merekam kejadian mereka.


"Kita bicarakan di dalam mobil agar tidak menjadi tontonan orang-orang ini nona," ucap Sakti yang kini berada di tenggah-tengah mereka, laki-laki itu berbicara dengan sangat pelan dan lembut.


Mendengar ucapan Sakti yang seratus persen benar, membuat kakinya melangkah ke mobil yang sudah di arahkan oleh asisten suaminya itu.


"Kakiku rasanya sangat perih, pengen ada yang narik aja hiksss," ucap Nadia dalam hati dengan berusaha berjalan normal.


"Cepatlah, kau seperti nini nini, jalan kok lama banget kayak siput" gerutu Ibra.


Nadia diam tetap tidak ingin menanggapi ucapan suaminya itu, "Dasar suami nggak berguna, bisanya marah-marah terus, dia juga yang ninggalin ngapain juga harus nyari sampai sini kalo ujung-ujungnya cuma bisa marah-marah." lirih Nadia.


Sakti hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan tuannya itu, "Tuan muda sangat konsisten, sejak tadi dia hanya marah-marah saja, hadeuhhhh," batin Sakti.


"Cepat masuk, jangan kayak putri ayu pake dibukain pintu," ucap Ibra lagi.

__ADS_1


"Silahkan nona, jangan dengarkan perkataan tuan muda beliau hanya sedang tidak dalam suasana yang baik," ucap Sakti, Nadia hanya tersenyum kepada Sakti kemudian masuk mobil dan duduk tepat disamping Ibra.


Mobil yang dipakai Ibra kali ini adalah mobil mewah berwarna hitam yang tak kalah gagahnya dari yang tadi pagi mereka gunakan, "dia bahkan masih punya mobil yang lebih bagus dari yang rusak tadi, tapi kenapa sangat marah kepadaku Ishhh," gerutu Nadia.


"Kau mengumpatku ?" tanya Ibra dengan pandangan masih lurus kedepan.


"Apa-apan si om satu ini, bagaimana mungkin dia tau aku sedang mengumpatinya," batin nadia.


"Hey Gacil kalau kau ada masalah denganku katakan sekarang, jangan hanya diam dan mengumpatiku dalam hati," ucap Ibra lagi ketus.


"Terserah om lah aku ngantuk denger om ngomong terus dari tadi," ucap Nadia sembari memejamkan matanya.


Tangan Ibra mengepal gemas mendengar penyataan gadis itu, matanya masih melihat keseluruhan tubuh gadis kecil itu, "kita cari tempat makan, aku tidak ingin di anggap sebagai suami yang tidak bertanggungjawab karena dia terlihat sangat kurus kering tanpa daging," ucapnya cepat.


Nadia yang hanya pura-pura tidur tetap terdiam tanpa memberikan respon apapun, rasa lelah karena berjalan dan ngilu di kakinya membuat tubuhnya benar-benar ingin istirahat.


Ia yang hanya pura-pura tidur lama kelamaan benar-benar sudah masuk di alam mimpi, tubuhnya sangat lelah hingga langsung membuatnya tertidur.


"Nona terlihat sangat kelelahan tuan muda," tambah Sakti.


"Kita cari tempat makan yang agak jauh, biarkan dia tidur sebentar,"


"Baik tuan muda," ucap Sakti.


Mobil itu melaju dengan tenang, Sakti sangat berhati-hati membawa mobil tuannya. Karena Ibra biasanya hanya bisa beristirahat di dalam mobil sehingga ia terbiasa mengendarai mobil dengan tenang dan hati-hati agar tidak membangunkan tuannya.


Sama seperti saat ini, ia juga tidak ingin menggangu istirahat nona muda yang terlihat sangat lelah.


"Tuan muda sesungguhnya sangat khawatir terhadap nona, beliau hanya mengekspresikan dengan marah," senyum sakti yang melihat keduanya dari kaca depan.


Tak terasa tiga puluh menit berlalu, mobil itu kini sudah sampai di tempat parkir sebuah restoran mewah, Ibra masih tampak fokus dengan gadget yang di pegang nya.

__ADS_1


"Tuan kita sudah sampai, saya akan bangunkan nona muda," ucap Sakti.


Kepala Ibra terlihat melihat ke arah restoran kemudian menatap Nadia yang masih tertidur, Sakti hendak membangunkan Nadia namun tangan lelaki itu di tahan oleh Ibra.


"Kau pesanlah, jangan bangunkan dia. Kita akan makan di rumah."


Sakti menarik tangannya yang masih mengambang di udara, "baik tuan muda," ucap laki-laki itu kemudian bergerak turun dari mobil.


***


Rumah Baru Nadia


Sakti telah memesan banyak makanan untuk di bawa ke rumah Nadia, "Kau hanya memesan ini? dia itu **** tidak akan cukup hanya makan makanan ini, pesan lagi !! kau pikir aku juga tidak ingin makan." ucap Ibra kesal karena Sakti hanya memesan sedikit makanan.


Alhasil Sakti benar-benar memesan banyak makanan, "tuan muda benar-benar tidak pernah puas dengan hal kecil, bahkan termasuk makanan," batin Sakti.


"Berapa lama kita akan sampai ?" tanya Ibra.


''Sebentar lagi kita sampai tuan, hanya sepuluh menit dari sini," jelas Sakti.


Ibra kini melirik istri kecilnya, kakinya mendorong keras kaki Nadia, "Awwww..... " pekik Nadia.


"Bangun kau **** kecil, sampai kapan kau akan tidur, kita akan segera sampai, " ucap Ibra kasar.


Nadia masih merintih kesakitan, karena dorongan kaki Ibra jari-jari kakinya yang terluka kini terantuk kursi jok mobil bagian depan. Nyawanya langsung terkumpul seketika saat jari-jari nya bertambah perih.


Ia menatap tajam Ibra, "kalau om nggak niat bangunin ya gak usah bangunin, ngapain tadi harus nyari dan ngajak pulang kalo ujungnya cuma nyari ribut, salah Nadia sama om sebenarnya apa sih ?," ucap gadis itu kesal.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.


__ADS_2