
Mobil Sakti kini sudah sampai di halaman rumah yang saat ini di tempati oleh Ibra dan Nadia, ia keluar dari mobil dan berjalan tergesa-gesa ke dalam rumah untuk menemui dan melihat keadaan tuannya, langkahnya terhenti ketika melihat Nadia yang duduk di tempat di atas sofa ruang keluarga.
"Nona, apa yang terjadi dengan tuan muda ? apa beliau terluka ? dimana beliau sekarang ?" serbu Sakti dengan banyak pertanyaan.
Nadia hanya menatap Sakti tanpa menjawab pertanyaan laki-laki di hadapannya itu, gadis itu melihat Sakti dengan mata sembabnya.
"Anda menangis nona ? apa yang membuat anda menangis nona muda ?" tanya Sakti.
"Bagaimana dia bisa menjawab jika kau menyerbunya dengan banyak pertanyaan seperti itu, Hahhh," sahut Ibra yang sedari tadi ada di belakang Sakti sejak ia datang.
"Ahh tuan muda, bagaimana kabar anda, apa ada yang sakit atau terluka ?" ucap Sakti sembari memutar-mutar tubuh Ibra untuk memastikan kondisi tuannya itu.
"Heyy kau pikir aku ini apa bisa di putar-putar seperti itu ?" ketus Ibra yang merasa kesal karena tubuhnya di putar-putar.
"Bagaimana keadaan anda tuan muda ?" tanya Sakti lagi ingin tetap memastikan keadaan tuannya.
"Kau sudah menghubungi Luna, kapan ia akan datang ?" tanya Ibra pada Sakti.
"Aku sudah disini, duduklah biar ku periksa, kalian selalu berhasil menggagalkan operasiku," ucap dokter Luna dengan kesal.
"Ah cepat kemarilah periksa dia ?" ucap Ibra sambil menunjuk ke arah Nadia.
Sakti dan dokter Luna kini menatap arah pandang objek yang di tunjuk oleh Ibra, dahi mereka sedikit berkerut dan keduanya saling berpandangan, lalu bersamaan menatap Ibra.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu ?" tanya Ibra.
"Aku di suruh cepat sampai sini hanya untuk memeriksa anak kecil itu ?" tanya dokter Luna.
"Apa ada yang salah ?" tanya Ibra lagi.
"Aku hanya dokter khusus untukmu, lalu kenapa aku juga harus memeriksanya ?" tanya dokter Luna lagi.
"Periksa saja dulu, kau selalu membantah apa yang aku katakan," jawab Ibra ketus.
Dokter Luna hanya mendengus kesal mendengar ucapan temannya itu, berbeda dengan Sakti, laki-laki itu mendekat ke arah Nadia, "apa yang anda rasakan nona ?" tanyanya.
Nadia masih diam, tak lama mata sembab itu melihat ke arah Sakti, "aku tidak apa-apa pak, kakiku hanya terasa sakit," ucapnya kemudian tersenyum.
Anda masih bisa tersenyum seperti itu nona, batin Sakti.
Nona, kenapa Sakti sangat lembut dengan anak kecil itu bahkan sampai memanggil gadis ini nona, tanya Dokter Luna dalam hati.
"Cepat periksa dia, dia hanya menangis dari tadi karena sakit di kakinya," jelas Ibra kepada Sakti dan Luna.
__ADS_1
"Kenapa kakinya ?" tanya dokter Luna kemudian berjalan mendekati Nadia.
Luna menatap lekat gadis kecil di hadapannya, Nadia tetap terlihat cantik meskipun dengan mata sembab, kemudian mata itu kini beralih melihat ke kaki Nadia, "bisa perlihatkan padaku bagian mana yang terasa sakit ?" tanyanya sedikit lembut.
"Aku minta maaf karena membuat dokter kesini hanya untuk memeriksa aku." ucapnya penuh perasaan bersalah sebelum menjawab pertanyaan Luna.
"Itu sudah tugasnya, gaji yang aku berikan kepadanya bahkan lebih besar dari lima puluh tiga operasi yang ia lakukan dalam satu bulan, jadi cepat tunjukkan bagian mana yang sakit padanya," ucap Ibra tegas yang kini mendapat lirikan tajam dari Luna.
Nadia menunjukkan kedua kakinya kepada Luna, dahinya lagi-lagi berkerut melihat luka itu, "apa yang sebenarnya kau lakukan nona ?" tanya Luna.
"Apa karena anda berjalan tadi nona ?" tanya Sakti
"Ini karena dia berjalan ?" kini ganti Luna yang bertanya.
"Bukan, bukan, semalam aku ceroboh kemudian terjatuh, semalam bengkaknya tidak separah ini jadi aku berusaha tidak merasakan sakitnya," jelas Luna.
"Cepat obati saja dia, jangan banyak bertanya," ucap Ibra ketus.
"Bagaimana kau bisa tahan tinggal setiap hari dengannya Sakti, dia selalu marah-marah seperti ini," ucap Luna yang sengaja berbicara keras agar Ibra mendengarnya.
Namun Ibra tetap tidak ingin mendengarkan apa yang diucapkan Luna, ia tetap tak bergeming kemudian berjalan entah kemana.
"Kenapa lukanya bisa sampai sebanyak itu nona ?" tanya Sakti.
"Siapa nama kamu ?" tanya Luna.
"Nadia dokter," jawab Nadia lembut.
"Oke Nadia, laki-laki yang barusan pergi,,,''
"Om Ibra ?"
"Omm ??"
"Iya dok,"
"Oke om Ibra," ucap Luna yang kini sedikit manggut-manggut.
"Dia sangat sangat kaya Nadia, jangankan cuma satu sepatu, sepuluh pabrik sepatu juga bisa dia beli. Jadi, kedepannya kamu minta aja sama dia atau dia." jelas Luna dengan tangan masih menunjuk ke arah Sakti.
"Hehe,," gadis itu hanya meringis.
"Pantas saja Ibra bisa bersikap aneh kayak tadi, orang gadis ini lucu banget kayak gini, gue aja yang cewek jadi seneng liat dia, bener-bener masih polos,hihihi," batin Luna
__ADS_1
***
Ibra kini berkutat di depan layar laptop yang ada di depannya, pikiran laki-laki itu sedikit terusik dengan keadaan Nadia namun berusaha menepisnya, "gue kenapa sih jadi kepikiran dia terus, kan udah ada Luna, Aishhh" ucapnya dengan meremas rambutnya kesal.
Masih dengan perasaan aneh di hatinya yang ia sendiri tidak tau apa, Luna tiba-tiba muncul dari balik pintu, "dia akan baik-baik saja, jangan terlalu mengkhawatirkannya ?" ucapnya.
"Aku tidak mengkhawtirkannya !"
"Aku akan membawanya ke rumah sakit setelah ini bersama Sakti, dia akan segera sembuh setelah memakai gips, aku tadi buru-buru jadi tidak membawanya"
"Aku tidak peduli, lakukan saja yang menurutmu bagus" ketus Ibra
"Aku sangat mengenalmu, siapa gadis kecil itu ?"
"Istriku, kita menikah kemaren malam," ucapnya singkat.
Tak ada ekspresi terkejut dari wajahnya, ia seperti sudah tau akan informasi yang baru saja dikatakan oleh Ibra. "Kau sudah tau ?"
"Sudah tertulis jelas di matamu." ucap Luna dengan senyum di bibirnya.
"Hah ?"
"Dia hebat juga, baru sehari menikah denganmu tapi sudah bisa membuatmu sekhawatir ini, haha" ucap Luna dengan sedikit tertawa.
"Apa yang kau tau hah, aku tidak khawatir dengannya," balas Ibra semakin ketus.
"Lupakan dia, kamu berhak bahagia juga. Menghabiskan waktu bersama orang seperti Nadia kurasa akan sangat menyenangkan, cobalah dulu," ucap Luna lagi.
"Kau pikir aku iklan ? buat Ibra kok coba-coba hah ?" jawab Ibra lagi.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1