Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Bagian Terpenting


__ADS_3

Sepeninggal Ibra, seseorang masuk ke dalam ruangan, "lapor tuan, semua orang yang berada di luar masih hidup, seluruhnya mendapat luka yang fatal seperti biasa, 80 persen dari mereka akan mengalami cacat seumur hidup."


"Ibra bukan pembunuh, dia tidak perlu membunuh mereka, karena kami yang akan membunuhnya," tegas Rafael.


Dor dor dor dor dor dor dor.


Suara tembakan terdengar bersahutan malam itu, Sakti dan Rafael sendiri yang turun tangan menghabisi mereka semua, semua orang yang tergeletak tidak berdaya di tanah setelah melakukan pertarungan dengan Ibra sebelumnya kini sudah tidak bernyawa oleh Sakti dan Rafael. Hanya meninggalkan seorang wanita yang masih terduduk ketakutan di lantai melihat keganasan Sakti dan Rafael dengan mata kepalanya sendiri.


"Tuan muda yang memberiku kehidupan layak hingga saat ini, dan nona muda selalu memperlakukan ku dengan baik, bahkan tidak pernah lupa mengirimkan kami makanan sekalipun kami sudah tidak tinggal di sana, aku tidak akan Terima semua ini terjadi pada anda berdua, orang-orang yang sudah menganggap ku keluarga, ini akan menjadi pelajaran bagi semua orang yang hendak mengusik kehidupan anda dan nona muda tuan," lirih Sakti.


"Dia....? " tanya Sakti pada Rafael.


"Melihat apa yang terjadi pada adikku hari ini, aku akan membuatnya merasakan hal sama, bahkan lebih" tegas Rafael dengan emosi masih memenuhi kepalanya.


"Bawa dia ke tahanan milik kita di negara B, buat dia menjadi pemuas nafsu para penjaga di sana, dan jangan biarkan kembali ke negara ini," tambah Rafael.


Wanita sombong itu bergerak mendekat ke arah Rafael memohon untuk memaafkannya, "jangan tuan, tolong maafkan saya... maafkan saya... " pintanya.


"Aku yang akan menghancurkan bisnisnya tanpa sisa," ucap Sakti sebelum melangkah pergi dari sana.


"Tuan aku minta maaf, aku akan melakukan apapun yang kalian inginkan, aku minta maaf,"


Rafael menarik rambut wanita yang masih memegang kakinya, "ahhh.... " rintihan keluar dari mulut wanita itu dengan air mata.


Mengingat bagaimana Nadia ketakutan melihatnya menjadi hal yang sangat menyakiti hati Rafael, "Sudah terlambat, karena kamu tidak akan pernah bisa mengembalikan keceriaan dan kebahagiaan di wajah adikku," ucap Rafael kemudian melempar wanita itu hingga tersungkur di lantai semen rumah itu.


"Tuan.... tuan.... " teriaknya berusaha menghentikan Rafael yang berjalan meninggalkan nya, namun anak buah Rafael dengan cepat menghentikan wanita itu yang semakin meronta.


"Nasibmu tidak beruntung kali ini, kamu mencari masalah dengan orang yang salah," ucap salah seorang anak buah Rafael.


***


"Om jangan pergi," lirihnya yang semakin erat memeluk tubuh Ibra.

__ADS_1


"Aku hanya akan berjalan ke sana, aku tidak meninggalkanmu," ucap Ibra lembut menatap Nadia dan sedikit menata rambut Nadia yang berantakan.


Gadis itu tidak berani menatap Ibra, malah semakin mengeratkan pelukannya, namun Ibra bisa merasakan sebuah gerakan kepala yang terasa di dadanya.


"Baiklah, aku tetap bersamamu," ucapnya kemudian membawa Nadia keluar dari mobil dan memanggil beberapa pengawal untuk menjadi sopirnya sementara.


"Kau..."


Seorang pria muda berlari mendekat ke arahnya, "iya tuan muda.. "


"Bawa mobilnya," ucap Ibra lalu memberikan sebuah kunci mobil pada pria itu.


"Silahkan tuan muda," ucapnya setelah membuka pintu mobil terlebih dahulu.


Ibra dengan hati-hati masuk ke dalam mobil dengan memasukkan Nadia terlebih dahulu, setelah itu ia membawa tubuh Nadia agar berada di dalam pelukannya, "tidurlah, lupakan kejadian hari ini, aku ada di sini bersamamu," ucap Ibra lirih dengan sesekali menepuk punggung Nadia pelan, gadis itu sekarang tak ubahnya seperti bayi besar yang tidur di dalam pelukan Ibra.


Ibra masih menatap lekat wanita yang sudah menjadi istrinya itu, "aku minta maaf karena tidak bisa menjagamu sampai terjadi hal semacam ini," terlihat dengan jelas penyesalan di matanya, laki-laki itu mencium pucuk kepala gadis yang saat ini tengah tertidur berkali-kali.


Ibra terlihat sedikit kesulitan untuk keluar karena kakinya kesemutan setelah menjadi tumpuan Nadia, "saya yang akan membawa nona muda tuan," ucap pengawal itu berniat membantu, namun justru mendapat tatapan mata membunuh dari Ibra.


"Dia istriku, ada aku suaminya, kenapa aku harus meminta seseorang untuk membawanya," kesal Ibra.


"Pergi lah... " perintah Ibra kemudian membawa Nadia masuk kedalam sebuah rumah kecil yang hanya berisi sebuah kamar dan kolam renang.


"Suasana hati tuan muda sedang tidak baik sekarang, tapi kenapa tuan muda hanya menginap di tempat sekecil ini, ini jauh dari perkiraan ku, aku harus melaporkan kepada tuan Sakti dan tuan Rafael segera," pikir pengawal itu.


***


Setelah meletakkan tubuh Nadia di atas ranjang, Ibra berjalan menuju jendela menatap kolam renang sambil mengeluarkan rokok dari dalam sakunya.


Ingatan menyakitkan ketika melihat isakan tangis Nadia berkali-kali berputar di kepalanya, rasa sakitnya sama dengan perasaan ketika ia ia gagal menjaga Abraham dan Anna waktu itu, "mungkinkah tanpa sadar kamu sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku?" lirihnya dengan sesekali menghisap rokok.


Tak lama Ibra mendengar pergerakan beberapa orang di sekitar tempatnya menginap, ia mengambil sebuah handuk mandi yang sudah siap di kamar mandi, sebelum itu ia terlebih dahulu memastikan bahwa Nadia aman.

__ADS_1


Setelah di rasa cukup nyenyak istrinya itu tertidur, ia melangkah keluar menuju pagar, terlihat Sakti dan Rafael di sana menunggunya, mereka berdua tidak berani bahkan untuk mengetuk pintu pagar dengan kondisi emosi Ibra yang tidak terkendali.


"Pergerakan kalian terlalu kentara, latihan lebih sunyi lagi," perintah Ibra begitu membuka pintu pagar.


"Bagaimana Nadia ?"


"Dia tidur, semoga setelah ini emosinya mulai membaik dan lebih tenang dari sebelumnya,"


"Ini pakaian anda dan nona tuan muda, saya akan meminta beberapa orang untuk membawanya ke dalam beserta bahan makanan,"


"Pergilah, tinggalkan di sini, aku yang akan membawanya,"


"Lu nggak nyuruh kita masuk dulu,"


"Jangan dulu, Nadia masih histeris ketika dia bertemu dengan orang luar, sejak tadi dia tidak mau lepas dari ku," jelas Ibra.


Rafael memperhatikan Ibra dengan seksama, tampak jelas bahwa Ibra juga sedang kacau, "lu udah makan?" tanya Rafael lagi.


"Nadia juga belum makan, aku akan makan bersamanya nanti, kalian pergilah,"


"Anda tidak baik-baik saja tuan muda,"


"Hah?"


"Lu nggak keliatan baik-baik aja, lu bisa bagi perasaan lu ke kita biar kita juga bisa bantu,"


"Sudahlah, aku bisa mengatasi perasaan ku sendiri, kalian pergilah, tinggalkan saja semua yang aku inginkan di sini,"


"Tapi lu.... "


"Om Ib...ra..... om Ibra........ "


Belum selesai Rafael berbicara dengan Ibra, namun suara Nadia yang bergetar ketakutan memanggil Ibra memecah keheningan malam itu, "Nadia.... "

__ADS_1


__ADS_2