
"Hentikan saja penyelidikannya, sudah ada yang menjaga putraku sekarang,"
"Maksud daddy ?"
"Mereka sudah menentukan siapa penerusnya," ucap Attar.
"Jadi Ibra .... ??" tanya Aisyah menggantung.
"Pergilah.. " perintah Attar pada Lusy dan pak Mul.
Keduanya menunduk hormat kemudian berjalan mundur tanpa suara, saat ini hanya ada Attar dan istrinya Aisyah di sana.
"Aku akan mengunci pintunya terlebih dulu," ucap Aisyah kemudian beranjak dari kursi dan mengunci pintu.
"Apa maksud ucapan daddy tadi," ucapnya lagi yang sudah berjalan mendekat ke arah kursi yang sebelumnya ia duduki
"Tenanglah mom, apa yang kamu takutkan,"
"Siapa yang tidak takut dad, semua yang berurusan sama keluarga daddy selalu menakutkan," ucapnya semakin panik.
"Sejak awal Ibra sudah memutuskan untuk keluar dari keluarga itu setelah kejadian tentang Anna, itu juga yang membuat kita memutuskan untuk pergi kesini dan meninggalkan mereka," tambah Aisyah.
"Yang bisa menjadi pemimpin bukan siapa yang ingin, tapi siapa yang terpilih, dan itu Ibra putra kita,"
"Tapi dad, mommy tetap khawatir, dia putra kita satu-satunya," ucap nya lagi.
"Semua itu tergantung siapa yang memimpin mom, jika kepalanya busuk maka seluruh tubuhnya juga akan busuk. Percaya dengan Ibra, dia bisa melakukan yang terbaik,"
"Tapi... "
"Sudahlah mom, kita hanya perlu mendukungnya,"
Aisyah hanya mengangguk dengan tatapan cemas mengkhawatirkan putranya. Attar menggenggam tangan istrinya dan menepuk punggungnya memberi ketenangan.
***
Nadia menjauh dengan mundur ke belakang ketika Ibra semakin mendekat ke arahnya, tanpa sadar ia sudah mencapai ujung ranjang dan Gedubrak, "Awwwww............"
"Aduhh om, sial banget kayaknya hidup Nadia sejak ketemu om,,," rintihnya dengan tangan kanan memegang pantat yang terasa sakit.
Ibra tersenyum simpul, "itu akibatnya nolak suami, baru di deketin kayak gitu udah lari. Jatoh kan akhirnya,"
"Om tadi cuma godain aku kan ?" telisik Nadia.
"Hahahha,," kekeh Ibra, laki-laki itu kini mendekati Nadia dan berjongkok di depannya.
"Dasar jahil kan, ishh sukanya godain anak kecil mulu," gerutunya.
__ADS_1
"Om mau apa ? Nadia udah nggak takut," ucapnya kesal dengan wajah cemberut ketika Ibra semakin mendekat ke tubuhnya.
Cekrek cekrek
Suara pintu terbuka terdengar dari luar kamar, tak lama muncul Sakti dan Luna dari balik pintu, keduanya seperti berlari dengan tergopoh-gopoh karena khawatir terjadi sesuatu di dalam kamar.
"Kenapa kalian kesini ? aku masih belum menyuruh kalian masuk." ucap Ibra santai dengan membawa Nadia ke pelukannya dan memindahkan ke ranjang.
Nadia hanya diam karena kaget, tidak tau harus apa karena diperlakukan seperti itu oleh Ibra, "Ya Allah ini hati keenapa sih suka banget jumpalitan tiap dapet perhatian dari om Ibra,"
"Mukamu merah ? terpesona ya ?" goda Ibra lagi.
"Apasih om, gak lucu. Mana ada merah, wajah pasaran kayak om nggak mungkin bikin Nadia terpesona," ucap Nadia spontan menahan malu.
"Pasaran ?"
"Udah, udah cukup. Kalian ngapain aja sih bisa sampek jatuh gitu ?" tanya Luna.
"Orang aku cuma jalan doang tadi, dia aja yang tiba-tiba jatuh," ucap Ibra lagi, kini laki-laki itu sudah duduk manis di atas sofa yang ada di seberang ranjang.
"Wajah om sih mesum banget, siapa yang nggak takut,"
"Hah, semua wanita bahkan sampai mimisan ketika melihat tuan muda, ada yang sampai rela terjatuh berdarah-darah untuk mencari perhatian tuan muda, hanya anda yang ketakutan di dekati tuan muda nona."
Nadia melongo, "om Ibra memang ganteng banget sih,"
Plakkk
Sebuah hiasan meja berbentuk kura-kura kecil mendarat cantik di tubuh Luna, "Awwww... tega banget sih," ucapnya kesal.
"Buktinya dulu pernah cinta mati kan ?" goda Ibra pada Luna.
"Tante dokter beneran pernah suka sama om ?" tanya Nadia
"Yah, dianya aja yang nggak peka dan terlalu bucin sama Anna, udah deh aku pamit pulang dulu ya Nadia cantik, cepet sembuh nanti kalau ada apa-apa bilang aja sama mereka oke," ucapnya sembari tersenyum.
Luna melangkah keluar setelah berpamitan dengan Ibra dan Sakti, wanita itu sangat cantik, tubuhnya tinggi dan sangat proporsional seperti model. Jika tanpa jas dokter yang ia kenakan mungkin tidak akan ada yang tau kalau wanita itu adalah dokter.
"Om jahat banget sih sama dokter luna,"
"Baru nyadar, seorang Ibra nggak perlu di anggap baik sama siapapun, cepatlah tidur. Besok kita bahas masalah pelatihan yang kamu inginkan," ucapnya.
"Ikut denganku," tambahnya ketika berada tepat di samping Sakti.
Nadia hanya mematung melihat Ibra dan Sakti yang berjalan beriringan kemudian hilang dari balik pintu, gadis kecil itu kini menggeser tubuhnya untuk mendapat posisi ternyaman di kasur itu. Hari ini tubuhnya sangat lelah ia ingin mandi tapi di urungkan karena mendapat larangan dari dokter Luna.
Ia menatap langit-langit kamarnya, "Om Ibra memang tidak terlihat baik, tapi aku yakin dia sangat baik dan tulus. Aku masih bersyukur laki-laki itu adalah dia, terlepas dari apapun yang sudah dia lakukan hari ini. Stay positif Nadia," semangatnya pada diri sendiri.
__ADS_1
***
Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan kamar yang di tempati Nadia, sebuah ruang kerja dengan ukuran tidak terlalu besar kini menjadi tujuan langkah mereka. Sakti mendahului Ibra dan membuka pintu untuknya, "silahkan tuan, saya minta maaf karena tidak menyiapkan ruangan yang lebih layak untuk anda," ucapnya lagi.
"Siapa mereka ?"
"Tuan Abrar, beliau bekerja sama dengan nona bella,"
"Paman Abrar ? adik daddy ?" tanya Ibra lagi.
"Benar tuan muda,"
"Apa alasannya ?"
"Anda terpilih menjadi penerus Cyber,"
"Haha Cyber," ucap Ibra, dengan memainkan benda di tangannya.
"Tuan Abrar tidak terima karena anda yang terpilih tuan muda, pantas saja selama ini saya sudah memblokir Bella dari negara ini tapi dia masih bisa masuk," jelas Sakti.
"Cyber sudah menghubungi kita ?" tanyanya lagi.
"Belum tuan muda, saya baru tau setelah kejadian ledakan tadi pagi, tapi tuan muda, Cyber hanya perusahaan keamanan kecil, untuk apa tuan Abrar sangat marah ketika anda yang terpilih," ucap Sakti.
"Kecil jika dilihat dari luar, dalamnya luar biasa besar," ucapnya lagi.
"Maksud tuan muda ?"
"Kau terlalu banyak tanya sekarang, sudah ingin mati muda hah ?"
"Hehe maaf tuan muda,"
"Dalam waktu dekat Cyber pasti akan mendatangi kita, ototku rasanya sudah mulai kaku, aku harus mulai berlatih lagi" ucapnya dengan seringai menakutkan.
"Saya akan siapkan orang-orang kita," ucap Sakti. Bagaimana mungkin yang seperti tuan muda di sebut kaku, tuan selalu merendah untuk hal-hal seperti ini
"Bagaimana dengan para pelayan di rumah utama ?"
"Bibi Audrey sudah membereskannya, tuan muda tidak perlu khawatir,"
Ibra tersenyum, "Paman Abrar.. kita tunggu dan lihat saja apa yang akan di lakukan Cyber kali ini..."
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri rate, dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1