Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ngidam Beruang Kutub Utara


__ADS_3

"Itu bukan sesuatu yang bagus untuk di jadikan sebagai hadiah pernikahan, kembali dan lihat kondisi Louis tuan kalian yang saat ini sedang berada di rumah sakit, merenung dan jangan menampakkan batang hidung kalian di hadapan tuan muda lagi sampai kalian benar-benar tunduk dan patuh dengan apa yang menjadi ketetapan tuan muda." jelas Sakti mewakili Ibra.


"PERGILAH SEKARANG !!" bentak Ibra segera setelah orang-orang itu tidak beranjak setelah apa yang diucapkan Sakti.


Kelima orang itu bergegas pergi setelah mendengar teriakan Ibra, mereka benar-benar tidak beruntung karena baru pertama kali menyapa Ibra tapi sudah mendapat  amukan seperti itu. "Bereskan semuanya Sakti, aroma darah dan tubuh yang sudah mulai membusuk itu benar-benar memenuhi rumah ini, aku merasa sangat sesak dan sulit bernafas." tambah Ibra dengan masih menatap wajah Nadia.


"Lupakan semuanya, sekarang cepat mandi dan istirahatlah, biar Sakti yang membersihkannya," ucapnya kemudian mengangkat wajah Nadia dengan tangan kanannya.


"Ada aku disini, apa yang kau takutkan, bella juga tidak akan hidup lagi," ucap ibra lagi.


"Tan..te Bell.lla....hiks hiks" ucapnya bergetar dengan tangan memegang lengan baju Ibra.


Tubuh Nadia limbung, kakinya sudah mati rasa sejak tadi, jika tidak ada Ibra di depannya mungkin tubuhnya sudah terjatuh di lantai, "Cepat bersihkan sekarang, " perintah Ibra lagi, saat ini ia sudah membawa tubuh kecil Nadia ke dalam gendongannya, laki-laki itu membawa Nadia masuk kedalam kamar yang ia tempati semalam.


Dengan pelan laki-laki itu menurunkan Nadia di tepi ranjang, wajah gadis kecil itu benar-benar seperti orang linglung dengan air mata menggenang di sudut matanya. "Apa yang ada di pikiranmu saat ini Gacil ?" tanya ibra yang juga mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


Masih tidak ada jawaban dari Nadia, namun Ibra tau apa yang dirasakan gadis kecil itu saat ini karena di juga pernah mengalaminya, "mau mendengar ceritaku ?" tanya Ibra.


Gadis kecil itu menoleh ke arah Ibra seolah mencari ketenangan dari mata Ibra kemudian mengangguk, ''Aku pernah mengalami hal yang sama seperti yang kau lihat dan alami hari ini, untungnya Bella bukan siapa-siapa di hidupmu, jadi kamu tidak akan memiliki penyesalan. berbeda denganku," nadia semakin serius mendengar cerita ibra dengan sesekali sesenggukan.


"Orang yang aku lihat hari itu di depan rumah adalah Abraham, saudara yang selalu bersamaku sejak berada di rahim mommy, kau bisa bayangkan bagaimana rasanya, dan aku harus menerima semua kenyataan itu saat usiaku masih delapan tahun," ucap laki-laki itu tersenyum getir.


Nadia masih diam dan terus memandang ibra, ada sedikit keterkejutan di wajahnya, "ini bukan apa-apa, sebagai istriku kedepannya akan ada banyak kejutan di hidup mu, jadi berusahalah kuat mulai dari sekarang, kau sudah melakukan yang terbaik hari ini," ucap ibra kemudian menepuk-nepuk kepala Nadia pelan.


"Katakan apa yang ada di pikiranmu sekarang ?" tanya Ibra.


"Tan te Bella... " ucapnya tertahan sekali lagi.

__ADS_1


Ibra masih menunggu Nadia melanjutkan ucapan nya tanpa menyela.


Nadia menghembuskan nafasnya beberapa kali, "Om yang menyuruh mereka membunuh tante Bella? bukankah tante Bella adalah salah satu koleksi om? kenapa om membiarkan mereka membunuh nya? bagaimana denganku? apa aku juga harus mengalaminya nanti? " ucap Nadia tanpa henti dengan mata yang masih tergenang air mata.


"Hah, apa-apaan pertanyaan gadis ini, ini yang ada di pikirannya? bodoh sekali."


"Kau istriku, bagaimana mungkin kamu menyamakan dirimu dengan mereka," ucap Ibra lagi, kali ini dengan suara yang mulai kembali kasar.


"Kan Nadia nggak tau gimana nanti kedepannya om," ucapnya dengan sedih.


"Kau istri ku, apalagi yang kamu khawatirkan, sekalipun kita bercerai lima tahun yang akan datang, kamu tetaplah orang yang berada di bawah perlindungan ku. Oke oke cukup hari ini, sekarang cepat mandi bersihkan tubuhmu, kau sangat bau. Aku benci aroma darah, itu benar-benar membuatku mual," ucap Ibra lagi.


"Om beneran nggak nyuruh bunuh dia kan ?"


"Aisss kau benar-benar susah di bilang dengan bahasa manusia ya, dasar anak nakal, membuat emosiku naik saja!!. Aku sudah pernah bilang sebelumnya, aku tidak akan mengotori tanganku dengan darah orang-orang seperti mereka, kamu seharusnya lebih berhati-hati dengan mereka bukannya denganku, justru dia yang ingin membunuh kita kemaren sewaktu perjalanan kesini, " ucapnya semakin kesal.


Ibra hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Nadia, laki-laki itu sedang kesal entah karena apa, dirinya sendiri juga tidak faham apa yang terjadi.


"Iya iya om maaf, kan om udah janji jadi kakak laki-laki Nadia, tapi om masih suka marah," ucap gadis itu sambil mengelap air mata yang hampir terjatuh dari pelupuk matanya.


"Aku? kapan aku membuat janji seperti itu?" ucap Ibra.


Nadia mendelik seketika, dia memajukan bibirnya beberapa senti seperti ikan koi, dan menggerutu panjang.


"Cepatlah mandi, berendam lah dengan banyak sabun, tubuhmu benar-benar bau, akan ada banyak orang diluar nanti, mandilah di sini saja," ucapnya lagi kemudian pergi.


"Om selalu meninggalkan ku, bagaimana aku bisa mengambil baju jika aku tidak boleh keluar, dasar manusia planet, jangan-jangan dulu ibunya ngidam beruang kutub utara," gerutunya lagi semakin kesal.

__ADS_1


***


"Semua wanita yang mengalami hal sepertinya akan berlari dan memelukku, tapi dia hanya memegang lengan kemejaku, dia pikir aku benar-benar om nya, Aishhh dia benar-benar tidak seperti wanita normal pada umumnya, atau ketampanan ku sudah mulai pudar sekarang," ucap Ibra sembari memegang wajahnya.


"Semua sudah siap tuan muda, kami akan menguburnya sekarang." jelas Sakti yang datang menghampirinya.


"Apa pesona ku sudah hilang Sakti ?" tanya Ibra.


"Hah ? apa maksud perkataan anda tuan muda," tanya Sakti heran.


"Tuan muda kok jadi nggak nyambung ya," pikir Sakti dalam hati.


"Sudah sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Kau tidak perlu melapor padaku." ucapnya pada Sakti kemudian pergi begitu saja.


"Ada apa dengan tuan muda sekarang, sebelumnya tadi bahkan sangat kesal, sekarang seperti orang bingung."


Pyarrrr


Sakti berlari ke arah sumber suara yang kemungkinan besar adalah lokasi tuannya saat ini. "Apa yang terjadi dengan tuan muda ?" tanya Sakti dalam hati.


"Seharusnya kalian bisa menjaga istriku dengan baik, bagaimana mungkin ada orang luar bisa keluar masuk dengan mudah tanpa kalian ketahui, Apa harus aku yang turun tangan sendiri seperti ini ha ???" bentaknya kesal pada dua orang yang baru saja datang.


Sakti berlari secepat mungkin ke arah sumber suara, suara Ibra terdengar sangat keras dan menggema di seluruh rumah. Benar saja, sebuah vas bunga bahkan sudah tidak karu-karuan bentuknya, ia sudah terpisah mengenaskan di lantai.


"Kau sudah tidak bisa mengajari mereka dengan benar ? hal seperti ini saja harus aku yang mengajari ?" bentak Ibra pada Sakti yang baru saja dan terlihat di depan matanya.


.

__ADS_1


__ADS_2