Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Mas Ibra...


__ADS_3

"Ibra.. " bisik Attar.


"Daddy baru tau jika benih daddy bisa menjadi sosok hebat seperti kamu,"


"Ibra hebat karena mommy, itu bukan karena daddy," bantahnya.


"Astaghfirullah Ibra, durhaka kamu," ucap Attar spontan.


"Terserah,"


"Hm... tuh anak kalo udah waras emang rada-rada, udah lupa apa dia udah mau jadi bapak, kelakuan masih aja gitu," ucapnya pada diri sendiri ketika Ibra meninggalkan nya sendiri.


"Tuan Attar... " sapa seseorang yang baru saja datang menyentuh bahunya.


"Ah... iya? kita pernah mengenal sebelumnya?" tanyanya pada sosok asing yang baru di temui nya hari ini


"Beliau asisten tuan Luke," jelas Lusy pada Attar dengan suara pelan.


"Saya Fernando asisten tuan Luke, bisa bicara sebentar dengan anda," ucapnya dengan mengulurkan tangan ke arah Attar.


"Ibrahim Muhammad Attar, senang bertemu dengan anda dalam pertemuan kali ini," sela Ibra yang baru saja datang dan menyambar telapak tangan laki-laki yang masih menggantung di udara.


"Ah, tuan muda Ibrahim.. " ucap Fernando yang langsung terlihat kikuk.


"Karena selama saya tidak ada di gantikan oleh daddy, jadi kami masih berada di satu ruangan yang sama, jika anda tidak keberatan, kita bisa membicarakan hal yang anda ucapkan tadi di sana," ucap Ibra langsung tepat sasaran.


"Wah sepertinya tidak bisa tuan, saya lupa meninggalkan ponsel saya di dalam mobil, khawatir tuan Luke menghubungi saya ketika membutuhkan sesuatu,"


"Wah sayang sekali, kalau begitu pergilah, layani dia sebelum terlambat, karena nyawa kita nggak pernah tau kan?" sindir nya yang mana hanya mendapat anggukan dari laki-laki bernama Fernando itu.


"Tuan muda ini tidak bisa di remehkan, aura kepemimpinan dan wibawanya sangat luar biasa, instingnya juga kuat, pantas saja neneknya tidak berhenti melepaskannya menjadi penerus Delta, dia mungkin jauh lebih hebat dari CEO Delta sebelumnya, aku harus lebih berhati-hati dalam melangkah," batin Fernando sebelum berpamitan untuk pergi.


"Cih, sejak datang sudah terlihat jelas jika dia hendak melakukan hal picik yang lain, bermain-main denganku? coba saja," ucapnya yang terdengar jelas di telinganya Attar dan Lusy.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan, sementara daddy akan tetap membantumu di perusahaan ini, pulihkan dulu kondisimu, ke depan akan ada lebih banyak orang hebat yang akan menghadangmu, jadi persiapkan diri, sampai saat itu daddy nggak akan membiarkanmu.... "


"Daddy stop, Ibra bisa jaga... "


"No... daddy nggak mau kehilangan seorang anak lagi, kemaren sudah cukup bagi kami, dulu kau juga bilang bisa jaga diri sendiri, tapi apa? mommy menangis, istrimu menangis, itu karenamu." ucapnya memotong ucapan Ibra.


"Huft.... " sebuah helaan nafas lolos dari mulut Ibra, namun akhirnya laki-laki itu menganggukkan kepala pelan.

__ADS_1


Tririririing Tririririing


Sebuah panggilan telfon di ponsel Attar membuat Ibra melihat ke arah daddy nya itu, "Siapa? Fernando lagi?" tanyanya.


"Rafael,"


"Mode speaker dad," ucap Ibra sedikit memohon.


"Hallo dad... daddy nggak akan di turunkan paksa oleh para jajaran tetua Delta karena hendak menyatukan Harbank kan? yakin ini yang terbaik? Harbank adalah salah satu saingan terberat Delta, terus tiba-tiba juga, El baru tau dari media, kenapa dad?beneran nggak ada apa-apa kan?" tanya Rafael di balik telfon tanpa basa-nasi karena khawatir.


"Percaya daddy,"


"Bukannya nggak percaya sama daddy, aneh aja kalo beritanya mendadak kayak gini, tadi pagi juga daddy nggak bilang apa-apa, daddy nggak ada di bawah tekanan kan?"


"Enggak, tenang saja, kau cukup percaya pada daddy," tambah Attar meyakinkan.


"Nanti daddy yang akan datang sendiri kan ?"


"Iya... tunggu saja oke, santai saja, jangan seperti anak ayam yang kehilangan induknya," ucap Attar menggoda.


"Cih,,, anak ayam apaan, udah dulu dad, kita lagi persiapan buat pergi ke sana nanti," ucap Rafael yang langsung mematikan panggilan telfon nya segera.


"Dia masih saja berbicara terburu-buru seperti itu, dia hanya cerdas dan cepat dalam urusan yang lain," sahut Ibra.


"Sudah semua?" tanya Ibra lagi meyakinkan.


"Iya tuan, sementara tuan besar akan berada di sini, dan anda... "


"Aku faham, kau terlalu banyak bicara sejak tadi," tambah Ibra begitu saja.


Attar yang faham dengan putranya itu segara menggerakkan tangan meminta Sakti untuk diam, "sudah kalian berangkatlah, lalu temui menantuku, dia banyak di bully dan di perintah orang disana,"


Ibra yang tadinya berjalan kini berhenti di depan pintu dan berbalik, "daddy kenapa nggak bilang sejak tadi, dan kau.... " tunjuk nya pada Sakti.


"Kenapa diam saja melihat istriku di perlakukan seperti itu, Rafael.... anak itu bahkan membiarkan adiknya di perlakuan seperti itu di perusahaan yang ku berikan padanya.... benar-benar keterlaluan.. " teriaknya semakin kesal.


"Maaf tuan muda, tapi nona menolak bantuan dari siapapun, beliau pernah berkata, biarkan nanti mas Ibra yang melakukan nya, karena tanggung jawab menjagaku terletak di pundak mas Ibra, bukan kalian, itu adalah perkataan nona yang masih saya ingat betul hingga sekarang tuan muda," jelas Sakti.


"Aish...lalu kenapa kau diam saja dan tidak berbicara padaku sejak tadi, cepat berangkat," bentaknya yang langsung bergegas pergi.


"Apa lagi salahku?"

__ADS_1


"Haha pergilah, dia sedang rindu dengan Nadia, emosinya menjadi naik berkali-kali lipat kepadamu, hahahaha, dia memang putraku," ucapnya bangga, pasalnya itulah yang ia rasakan ketika jauh dari Aisyah, ia senang ketika Ibra juga merasakannya, Xi Xi xi Xi.


***


Gedung Pertemuan Delta Internasional


Gedung pertemuan ini terpisah dari gedung utama Delta Internasional, namun beberapa divisi ada yang di tempatkan di gedung ini.


Rafael, Aga dan beberapa orang dari Harbank sudah lebih dulu datang dan dipersilahkan masuk ke dalam ruang pertemuan.


Mobil Ibra dan Sakti baru saja berhenti di depan sebuah depan lobby, beberapa petugas sudah membuka pintu untuk Ibra, beberapa orang yang lain bahkan sudah berjajar rapi dengan kepala menunduk memberi hormat kepada Ibra yang baru saja keluar dari mobil.


Tak lupa beberapa wartawan yang memenuhi lobby menunggu kedatangan CEO baru Delta Internasional yang sempat tidak ada kabar selama satu bulan ini.


"Selamat datang tuan," ucap mereka semua serentak


Ibra dengan gagahnya berjalan di antara mereka dengan pengawal yang siaga mengikuti kemanapun guna menjaga Ibra tetap aman.


"Luna?" ucap Ibra yang baru ingat dengan Luna yang sejak tadi tidak terlihat di sisiNya.


"Dia ada di sekeliling kita dalam penyamaran tuan muda, anda jangan khawatir,"


"Kuserahkan padamu,"


Berita-berita segera muncul ke media begitu Ibra keluar dari mobil, seluruh saluran televisi bahkan media sosial di penuhi oleh Ibra pagi ini.


Bahkan seluruh karyawan Harbank maupun Delta di wajibkan untuk menonton live secara langsung di perusahaan masing-masing secara berasama-sama.


Nadia masih dengan langkah kecilnya mendekati kerumunan orang yang saat ini sedang berdiri di depan layar yang sengaja di siapkan karena agenda ini.


"Memang lebih baik bang El hanya fokus membuat virus, kecerdasannya di bidang IT tidak ada duanya, tapi masalah bisnis abang gak bisa di andalkan," lirih Nadia menghela nafas berat kemudian beranjak pergi.


"Ibrahim Muhammad Attar, CEO Delta Internasional yang baru, kini datang secara langsung dalam momen langka dalam rangka penyatuan dua perusahaan besar di negara ini,"


Deg


"Ibrahim Muhammad Attar... " liriknya lagi.


Tubuh kecil itu tanpa aba-aba segera berbalik mengamati layar kaca di depannya, sebuah air mata berhasil lolos dari sudut mata indahnya, "mas Ibra... itu memang benar mas Ibra..." perasaan aneh yang tidak bisa di ungkapkan memenuhi rongga dadanya, antara bahagia, senang, dan lega bercampur menjadi satu.


Dengan pasti gadis itu keluar dari kerumunan, ia harus menemui Ibra, ia harus datang menemui suaminya itu, "Nadia... kerjakan dulu pekerjaanku, jangan karena bos selalu memberi perhatian padamu lalu kau jadi seenaknya di sini," teriak salah satu seniornya dengan menjamabak rambutnya.

__ADS_1


"Aawww," rintihnya.


__ADS_2