Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Kehilangan Nadia


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya, Nadia bangun terlebih dahulu di antara yang lain, selain untuk mengerjakan sholat shubuh, dirinya juga harus menyiapkan sarapan untuk semua orang yang tinggal di rumahnya saat ini.


Gadis itu melangkah mendekati kulkas dan melihat ada apa saja di dalam sana, tentunya untuk menentukan apa yang akan dia masak hari ini.


"Duh, lupa nggak bilang om Ibra kalo bahan makanan udah habis, nggak tau nomornya bibi Audrey lagi, hmmm ke pasar dulu deh kalo gitu," ucap Nadia yang masih duduk berjongkok di depan kulkas besar itu.


Setelah melihat apa saja yang kosong di dalam kulkas, ia segera beranjak naik menuju kamar yang ia tempati dengan Ibra yang masih gelap gulita itu.


Waktu masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, dengan pakaian seadanya, ia mengambil dompet dengan uang dua ratus ribu yang sebelumnya di berikan Ibra kepadanya, setelah semuanya siap ia langsung berjalan ke arah ranjang, mendekat di samping Ibra yang masih tertidur pulas kemudian mencium punggung tangan laki-laki itu, "om, Nadia ke pasar bentar ya, mumpung hari masih setengah gelap," pamitnya dengan sedikit menepuk-nepuk kepala Ibra lembut agar suaminya itu tidak bangun.


Gadis itu berjalan keluar dari rumah dengan hanya memakai sandal jepit dua belas ribuan, "Hahhh segernya udara pagi ini, akhirnya bisa jalan-jalan pagi lagi... " ucapnya lega, ini adalah pertama kalinya dia keluar seorang diri tanpa ketiga laki-laki posesif yang tinggal bersamanya saat ini.


"Yeayy olahraga pagi lagi," ucapnya riang, berjalan dengan senandung kecil keluar dari mulutnya.


"Sebaiknya aku membeli sepeda bekas agar bisa bersepeda pagi dan sore di sekeliling komplek ini, sebelum tubuhku menjadi sebesar gajah karena hanya makan dan tidur," ucapnya terus sambil jalan.


***


Ibra bangun dari tidurnya sekitar puluh 06.00 pagi, seperti biasa ia segera beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi kemudian melakukan olahraga pagi seperti biasanya.


"Tumben tuh anak nggak keliatan di dapur, biasanya jam segini masih masak, ah mungkin masih di ruangan lain," ucapnya singkat ketika berjalan melintasi dapur, kemudian mulai melangkah kembali.


"Ibra ibra...... " teriak Rafael heboh.


Ibra menoleh dan menatap ke arah Rafael, "Masih pagi udah teriak-teriak mulu," ucapnya.


Rafael berlari mendekati Ibra, "jujur sama gua, Sakti pernah ada hubungan apa sama Anna ?" tanya Rafael penuh selidik.


"Kenapa nggak coba cari tau sendiri, nggak usah pura-pura bodoh," ucap Ibra malas memberi penjelasan.


"Gua udah nyari, tapi tetep nggak asik kalo nggak denger sendiri dari mulut lu," ucapnya lagi.


"Sebelum denganku, Anna sudah memiliki hubungan dengan Sakti," ucap Ibra enteng.

__ADS_1


"Hah ??? beneran ternyata, ribet banget idup lu, nggak se asik cerita orang, masih sempet tikung tikungan sama temen sendiri," ucap Rafael seolah sangat kecewa, meskipun sebenarnya ia sudah mendengar cerita lengkap dari Luna semalam, tapi ia merasa harus benar-benar bertanya langsung pada Ibra.


"Cinta emang sebodoh itu, sekali-kali coba untuk berhubungan serius dengan seorang wanita, mau sampek kapan main-main kayak gini?" ucapnya bijak.


Rafael melihat kesungguhan di balik ucapan Ibra, "Kayaknya Ibra nggak mungkin boong buat hal kayak gini, ceritanya benar-benar sama kayak yang Luna ceritain semalam," pikir Rafael.


"Huft," Rafael menghela nafas berat.


"Kenapa lu nggak keluar buat nemuin dia kemaren," tanya Rafael kepo.


"Nggak ada alasan, itu udah waktu buat istirahat," jawab Ibra sekenanya, ia sendiri juga tidak tau kenapa.


"Mereka tidur bersama semalam," ucap Rafael lagi.


Ibra diam, dulu bahkan hanya ketika Sakti menatap Anna ia sudah mencak mencak tidak karuan, tapi entah kenapa ia tidak merasakan apa-apa kali ini.


"Nggak cemburu ?" tanya Rafael penuh selidik.


Ibra masih diam, "kayaknya emang nggak cemburu kayak dulu, ini seperti bukan aku," pikirnya.


"Ngarang, mana ada suka sama bocah nakal sepertinya," ucapnya pada Rafael.


"Hahaha, gua lebih kenal lu dari pada diri lu sendiri," tambah Rafael seperti menyiram solar di atas tumpukan bara.


"Nggak usah ngaco El, jangan terlalu banyak mikir," sanggahnya lagi.


"Cinta emang nggak tau kapan datang, kita juga nggak bisa prediksi, yang pasti lebih baik lu akuin semua perasaan itu secepatnya sebelum terlambat, gua nggak serius sama cewek manapun bukan berarti gua nggak tau apa itu cinta."


"Dia nggak akan pergi selama gua belum bilang cerai ke dia, jadi nggak akan ada kata terlambat,"


"Aishh terserah lu dah," ucapnya lagi malas menanggapi Ibra yang sudah berjalan menjauh darinya menuju ruangan tempat alat-alat olahraganya tersimpan.


"Huft Nadia masih tidur ya ? tumben-tumbenan gua cari dimana-mana nggak ada, sakit apa kenapa ?" tanya Rafael pada Ibra penasaran, pasalnya ini bukan seperti kebiasaan Nadia biasanya.

__ADS_1


Ibra menghentikan langkahnya ketika Rafael juga menemukan keganjalan yang sama sepertinya, "Udah cari di mana aja? dia udah nggak ada di kamar sejak tadi ku bangun," ucap Ibra kemudian.


"Hahh, kirain lu nahan dia buat ngga keluar kamar hehe, biasanya dia udah masak sepagi ini, kok nggak ada tiba-tiba,"


"Di kamar nggak ada sih, apa mungkin nyiram tanaman di luar ya," ucap Ibra berusaha tidak khawatir.


"Hmm bocah nakal itu kemana sebenarnya,"


"Apa dia beneran pengen kabur dari lu sejak Anna datang ya, aishhh kenapa nggak ajak-ajak gua sih," gerutu Rafael.


"Cari secepatnya El, coba cari dia di pelacak yang sebelumnya ku simpan di cincin nikah kita ? kondisi di luar saat ini sedang tidak bagus untuknya bepergian seorang diri," ucap Ibra terlihat khawatir.


Ibra meraih handphone di saku celana olahraga yang di pakainya, ia melihat seluruh CCTV yang terpasang di seluruh rumah ini, selain itu ia juga menekan alarm di ponsel milik Sakti.


***


Tring tring tring


Tring tring tring


Tring tring tring


Tring tring tring


Tring tring tring


Tring tring tring


"Aishhh siapa sih.... " ucap Sakti kesal karena bunyi alarm yang berbunyi tanpa henti dari ponselnya.


Dengan mata yang masih terpejam, laki-laki itu mengambil ponsel yang terletak di atas nakas di samping tempat tidurnya.


Ia tidak menyentuh apapun, masih hanya memegang ponsel yang berhasil ia raih di atas nakas itu, "Berani kau berbuat seperti itu di dalam rumah ku hahhhh ? datang sekarang atau pergi dari rumah saat ini juga !!!"

__ADS_1


Mata Sakti terbelalak seketika setelah mendengar bentakan Ibra, "tuan muda.....apa yang terjadi?" ucap Sakti bingung dengan suara khas bangun tidur miliknya, meskipun nyawanya terpaksa penuh seluruhnya.


__ADS_2