
Malam ini Ibra benar-benar pergi hanya berdua dengan Sakti, tidak ada yang tau kapan ia pergi, bahkan Nadia, meskipun sudah pamit dan berpamitan hendak pergi, namun ia memilih untuk pergi tanpa di ketahui oleh siapapun.
Waktu makan malam tiba, Sakti sudah menabur obat tidur ke dalam makanan yang akan di makan oleh semua orang di dalam rumah tanpa kecuali, termasuk Aga, para pelayan dan penjaga keamanan.
Sementara mereka tertidur, rumah ini berada di bawah pengawasan Louis agar semua orang yang ada di dalam tetap aman, sebagai bentuk antisipasi jika ada orang berniat jahat hendak melakukan aksinya ketika penjagaan sedang rendah.
"Kita pergi sekarang tuan muda," ajak Sakti pada Ibra.
"Dimana surat cerai yang tidak sah itu?" tanya Ibra yang masih duduk menatap Nadia di hadapannya.
"Ini tuan... " ucap Sakti sembari menyodorkan sebuah map yang berisi surat cerai seperti permintaan Ibra.
Ibra mengambil dan menaruh map tersebut di meja kamar tidurnya, agar Nadia bisa melihatnya dengan mudah.
"Anda tidak harus berbuat sejauh ini tuan muda, kita bisa pergi dengan berpamitan secara baik kepada nona muda,"
"Dia pasti menangis meskipun tau aku tidak meninggalkan nya, aku menyuruhnya agar tidak menangis, bagaimana mungkin aku menjadi sumber air matanya jatuh," jawabnya.
"Sudahlah, kau tidak akan faham, tunggu aku di luar, aku akan keluar sebentar lagi," perintahnya.
"Hanya sepuluh menit tuan muda, sebelum efek dari obatnya menghilang," ucap Sakti mengingatkan.
"Aku bosmu atau kau bosku, kenapa memerintahku?"
"Hehe, anda tuan saya,"
"Jadi, keluarlah agar aku juga bisa cepet keluar,"
Dengan langkah pasti Sakti menunduk dan pergi meninggalkan Ibra dengan Nadia di dalam sana.
"Nadia, kau dengar aku," bisik Ibra di telinga Nadia dengan posisi tubuh menunduk.
"Aku yakin aku pasti mencintamu, jadi jaga dirimu sampai aku menjemputmu kembali dan memberi pelajaran kepada Rafael yang nakal itu," ucapnya dengan mengecup kening dan beranjak pergi dari sana.
Ibrahim melangkahkan kakinya dengan berat, namun ia harus melakukan ini, ia tidak ingin semakin berat pergi dari sini ketika melihat wajah Nadia dengan air mata.
"Kita pergi,"
"Baik tuan muda," jawab Sakti.
__ADS_1
Keduanya berjalan dengan Ibra berada sedikit lebih depan, beberapa bagian lampu rumah ini sudah gelap tanpa cahaya, namun Ibra masih dengan elegannya berjalan dalam kegelapan tanpa cahaya seolah bukan masalah.
Ibra berhenti ketika melihat sebuah mobil yang sudah siap untuk mengantarkan nya ke tempat tujuan.
"Mobil lagi ?"
"Jika menggunakan helikopter akan mengganggu orang-orang yang ada di sekitar sini tuan muda,"
"Bukankah di belakang ada hutan yang kita bangun untuk itu? kenapa kita tidak langsung pergi saja ke negara kita dengan itu, tidak perlu harus ke bandara, kau menghambat waktu saja," ucap Ibra lagi dengan kesal.
"Itu... pagi ini nona meminta kepada pelayan agar tanah kosong itu di ubah menjadi ladang bunga, dan pengerjaan baru selesai sore ini tuan muda, nona akan sangat sedih jika ladang bunga itu rusak karena baling-baling helikopter sebelum sempat di lihat," jelas Sakti.
"Astaga, dia harus belajar untuk tata ruang agar tidak menyalahgunakan tempat seperti itu, tanah kosong itu sangat berguna untuk kondisi darurat Sakti, kenapa kau membiarkannya melakukan itu,"
"Karena anda... "
"Sudah, sudah, sesuai keinginannya saja, yang penting dia bahagia, tapi kau seharusnya memberi tahuku," ucapnya masih kesal.
"Seperti anda yang suka mengoleksi pedang, panah, dan pistol, mungkin itu juga yang di rasakan nona,"
"Seperti kau yang mengoleksi kura-kura darat itu, ah sudahlah jangan bahas ini, aku pusing mendengarkan kecerewetanmu lagi, aku ingin segera sampai rumah dan mengurus pekerjaan, kecerdasanku akan menjadi semakin tumpul karena sudah terlalu lama tidak bekerja,"
Hampir 45 menit keduanya mengendarai mobil dengan tenang di malam hari menuju bandara, kemudian beralih dengan jet pribadi milik Ibra yang sudah siap mengangkasa.
Tanpa mereka sadari, sebuah takdir baru sedang berada di depan mata mereka, yang mana, mau tidak mau, suka tidak suka akan menjadi sebuah jalan hidup yang harus mereka lalui dengan baik.
***
Pagi ini semua orang beraktifitas seperti biasa seolah tidak menyadari apa yang sudah hilang dari hidup mereka mulai saat ini.
Nadia yang sejak tadi sudah bangun tanpa melihat Ibra ada di sampingnya juga tidak merasakan apa-apa, "mas Ibra tidak membangunkanku, pasti dia tidak jadi pergi dan menemukan solusi lain untuk masalah ini," pikirnya positif, tidak ada hal buruk sedikitpun terlintas di pikirannya.
Nadia keluar dari kamar menuju taman dan berkeliling di seluruh rumah, "abang Sakti.... abang sakti.... " teriaknya.
Teriaknya ketika melihat mobil Ibra masih terparkir dengan baik di garasi, "kenapa abang Sakti masih menutup rapat mobil mas Ibra dengan selimut mobil seolah tidak akan di gunakan, nggak biasanya," pikir Nadia.
"Bang... abang.... "
"Kenapa sih dek? teriak mulu masih pagi gini," sahut Rafael yang mendengar teriakan Nadia dari balkon kamarnya.
__ADS_1
"Abang liat bang Sakti nggak? atau mas Ibra? dari tadi Nadia teriakin nggak ada yang jawab," jawab Nadia pada Rafael dengan sedikit berteriak.
"Gua baru bangun ini, lagian Ibra juga tidurnya bareng lu, kenapa lu tanya gua, harusnya lu yang lebih tau dong,"
"Iya ya... tapi kemana dong bang, kok nggak ada di mana-mana, Nadia udah keliling-keliling loh ini, nggak keliatan batang idungnya sama sekali," ucap Nadia lagi.
"Udah gede juga dek, mungkin ada proyek yang harus mereka lakukan, mangkanya pergi pagi-pagi," ucapnya Rafael yang masih tidak peka dengan apa yang terjadi.
"Mas Ibra pergi kok nggak pamit," ucapnya.
"Pak Aga... pak Aga..... " teriak Nadia lagi, ia tidak ingin memiliki pikiran buruk terhadap hal apapun, ia masih ingin mencari tau kebenaran dan membuktikan bahwa pikirannya benar, Ibra tidak meninggalkan nya.
"Pak Aga... "
"Iya nyonya... "
"Dimana mas Ibra," tanya Nadia tanpa basa-basi.
Aga tidak bisa menjawab pertanyaan ini, ia bingung harus menjawab apa.
Mata Nadia sudah penuh dengan air mata, terlihat jelas sekali mata itu berkaca-kaca, "nggak perlu di jawab pak, Nadia udah tau jawabannya," ucapnya yang seketika langsung pergi menuju kamar dan membanting pintunya dengan keras.
"Maaf tuan muda,"
Nadia berada di dalam kamar mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja tepat di samping ranjang tidurnya, namun sebuah map yang baru ia lihat di sana menarik perhatiannya.
"Apa ini?" tanyanya yang penasaran hingga dengan cepat membukanya.
"Surat cerai? kenapa mas Ibra ini.... ini nggak seperti apa yang kita berdua diskusikan sebelumnya, kenapa kayak gini," ucapnya dengan air mata yang benar-benar tidak bisa dibendung lagi.
***
"Kau meninggalkan menantu mommy?"
"No mom, aku tidak meninggalkan nya, aku hanya ingin memberi Rafael sedikit pelajaran, dia tidak akan bisa melihat duka adiknya seperti ini, mommy ingin lihat bagaimana responnya bukan," ucap Ibra yang baru saja duduk di meja makan rumah besar keluarganya.
"Dia selalu menyayangi keluarganya nak, dia pasti akan memaafkanmu,"
"Aku tau Rafael mom, dia tidak semudah yang mommy pikirkan,"
__ADS_1