Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Cemburu


__ADS_3

Sementara Nadia, Sakti dan Rafael masih menatap tak percaya pemandangan yang ia lihat di depan matanya. Ada Attar, Aisyah dan sosok wanita asing di depan mata mereka.


"Honey, bagaimana kabarmu ? aku sudah melihat berita yang lagi viral di media tentang pernikahan kalian," ucapnya yang tiba-tiba berjalan memeluk Ibra.


"Kau.... " Ibra masih menatap tak percaya pemandangan yang ia lihat di depan matanya.


"Apa yang terjadi, kenapa dia tiba-tiba di sini, mommy daddy ? Jangan-jangan mereka sudah tau keberadaan nya selama ini," batinnya dalam hati.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak kepada kami, kami juga baru tau ketika dia sudah ada di depan pintu rumah ini," jelas Attar yang sangat faham dengan jalan pikiran putranya itu.


Setelah mendengar penjelasan dari Attar, akhirnya tangan kekar itu membalas pelukan wanita bernama Anna yang saat ini sudah berada di pelukannya.


Perasaan nyeri menjalar di ulu hati Nadia melihat pemandangan itu, "inilah akhirnya," tatapnya sendu, namun masih berusaha kuat. Wanita bernama Anna yang saat ini berdiri di depan matanya sungguh benar-benar membuat nyalinya menciut, rambut panjang bergelombang dengan tubuh proporsional bak super model dengan lekuk tubuh yang indah benar-benar sangat sempurna.


"Lebih cepat dari yang kuduga," batin Rafael.


Cukup lama keduanya berada di pelukan satu sama lain, hingga kemudian Ibra melepas pelukan tersebut lebih dulu.


"Ada apa ini sebenarnya, kenapa kamu bisa ada di sini An, aku nyari kamu kemana-mana," tanya Ibra tanpa basa-basi lagi.


"Duduklah dulu nak, kau bahkan tidak menyapa mommy sejak tadi," ucap Aisyah yang berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan Ibra.


"Ah, mom... " ucap Ibra yang kemudian berjalan mendekati Aisyah dan Attar, kemudian mencium punggung tangannya keduanya.


"Kemarilah kalian semua, kenapa berdiri di sana, Nadia ayo cepat ajak mereka kemari nak, ini juga rumah kalian, jangan sungkan," ucap Aisyah ramah.


"Wah Sakti, bagaimana kabarmu sekarang ? aku sudah mendengar jika kalian berdua adalah asisten pribadi Ibra yang membantu mengepakkan sayap di bisnis ini sampai sekarang," ucap Anna basa basi.


"Duduklah," tambah Attar mempersilahkan.


Ketiga orang yang sedari tadi berdiri mematung di dekat pintu kini berjalan mendekat ketika sudah di persilahkan oleh si empunya rumah. Namun ketika Sakti hendak mendaratkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, "tunggu dad, ini adalah reuni keluarga kita, tidak seharusnya orang luar, apalagi asisten ikut bergabung di dalamnya," sahut Anna tiba-tiba.


Tak hanya Attar, kening Aisyah juga berkerut setelah mendengar pernyataan dari wanita yang sangat di cintai anaknya ini.

__ADS_1


"Ini adalah salah satu hal yang di ajarkan oma kepadaku selama bertahun-tahun mom, harus menjaga martabat dan harga diri dengan memberi batasan pada orang-orang seperti mereka yang bekerja dengan kita," jelas Anna.


"Ya Allah, beginikah sifat asli wanita yang selama ini di cintai putraku," batin Aisyah, wajah mendung langsung terlihat jelas ketika melihatnya.


"Baiklah jika kamu tidak menerima mereka, kemari nak, ikut mommy, mommy punya sesuatu untuk kalian," ucapnya sumringah dan mengajak Nadia, Sakti serta Rafael untuk mengikutinya.


"Mom... " teriak Ibra pada Aisyah. Perasaannya mendadak tidak enak ketika sangat mommy memilih untuk pergi.


"Kalian pasti ingin mengobrol satu sama lain, jangan pedulian mommy, kalian bisa makan terlebih dahulu," ucapnya tak kalah berteriak, ia bahkan tak melihat ke belakang ketika berbicara.


"Sudahlah, biarkan saja, sebaiknya kita makan dulu, kamu pasti belum makan kan," ucap Anna dengan senyum manis mengembang di bibirnya dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Ibra, ia bahkan tidak sadar ketika Attar masih ada di tengah-tengah mereka.


"Astaga, apa mereka benar-benar tidak melihatku di sini," batin Attar.


***


Di sini, di tempat yang sama saat janji suci itu di ucapkan oleh Ibra, suara lantang Ibra benar-benar terdengar jelas di telinga Nadia hingga kini, gadis itu masih bisa tersenyum ketika bernostalgia dengan tempat ini.


"Huft, lu bawa granat nggak sih ? pengen gua bom aja isi kepala tuh orang," tanya Rafael pada Sakti yang masih datar aja sejak tadi.


"Sabar bang," ucap Nadia menenangkan dengan menepuk-nepuk lengan Rafael.


Saat ini mereka berempat sedang duduk berhadap-hadapan dengan ekspresi kesal versi masing-masing.


"Setuju sama El, kamu memang anak mommy yang paling cerdas," ucap Aisyah kemudian mengacungkan kedua ibu jari tangan nya ke udara.


"Anak ?"


"Iya dong, kalian semua kan anak mommy, sebelumnya Sakti memang teman Ibra sejak masih sekolah, dia suka main ke rumah ini, jadi mommy sudah menganggap dia anak mommy, meskipun akhirnya dia tetap datar dan lebih memilih patuh pada Ibra dari pada mommy hiks," jelas Aisyah.


"Ohh,"


"Kalo dia nih, Satu-satunya yang paling cocok sama mommy dalam segi apapun," ucap Aisyah menepuk-nepuk tubuh Rafael.

__ADS_1


"Tapi pas nikahan Ibra malah nggak di inget ya my?" sindirnya kemudian.


"Kalian kan di bawah arahan Ibra, kecuali sekarang nih, kalian baru anak-anak mommy semua, termasuk kamu Nadia,"


Nadia tersenyum, gadis itu tidak tau harus berbuat apa, ia dulu sempat berfikiran negatif kepada kedua menantunya, terlebih sejak pernikahan mereka, Ibra tidak pernah membawanya ke rumah ini, bahkan tidak memberi izin untuk bertemu dengan mertuanya ini.


"Nadia minta maaf karena belum pernah jenguk mommy daddy sejak pernikahan kami," ucapnya menyesal.


"Don't worry, kita tau," ucapnya lagi jelas.


"Hehe, mom kita mau langsung aja ke komputer daddy boleh ? biar nggak kemalaman," ucap Nadia mengutarakan maksud kedatangannya kali ini,"


"Boleh dong, Sakti udah tau tempatnya kan, kalian bisa langsung ke sana," ucapnya.


Tanpa menunggu waktu lama, mereka akhirnya beranjak meninggalkan Aisyah sendiri di gazebo itu.


"Sangat jelas terlihat ada cinta dan ketulusan di mata Nadia untuk Ibra, kenapa dulu aku memaksa menikahkan Ibra dengan gadis baik sepertinya, aku ikut merasakan sakit bahkan ketika melihat senyum di bibir kecilnya itu," ucap Nadia kesal pada dirinya sendiri.


***


Ruang kerja


Nadia langsung menuju komputer bersama dengan Rafael dan Sakti berdiri menjaga di belakang pintu untuk mengawasi keadaan sekitar.


"Abis ini kita pulang oke ?" senyum Rafael menepuk pucuk kepala Nadia.


Gadis itu mendongakkan kepalanya, "om Ibra?" tanyanya.


"Anda tidak perlu memikirkan tuan nona, ini rumah orang tua beliau,"


Nadia mulai kelihatan tidak bersemangat kemudian, pikiran gadis itu sedang berlarian ke sana kemari. Raut wajahnya jelas memperlihatkan perasaannya yang sebenarnya.


"Cemburu ?"

__ADS_1


__ADS_2