Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Misi penyelamatan


__ADS_3

Nadia hendak keluar dari kamar mandi, namun tepat ketika ia melewati pintu ada seseorang yang menyentuh tubuh bagian belakangnya dengan kelas yang akhirnya membuat ia limbung dan tidak sadarkan diri.


Seseorang menangkap tubuh Nadia dan membawanya pergi dengan sebuah kursi roda, namun lupa dengan tas Nadia yang merosot jatuh dari pundaknya.


Setelah menempuh perjalanan, sampai akhirnya di tengah hutan ada sebuah rumah tua namun masih terawat dengan dinding-dinding kayu yang ukurannya tidak terlalu besar, beberapa orang membawanya masuk ke dalam rumah itu.


"Kami sudah membawanya nyonya," ucap orang tersebut kepada seorang wanita berambut pendek dengan tubuh jenjang itu.


Sebuah seringai puas terlihat di wajahnya, kemudian tangannya bergerak mengambil sebuah wadah berisi air dan menyiramkan nya pada wajah Nadia.


"Bangun dasar wanita penggoda,"


Dengan kaget Nadia mengerjapkan matanya pelan, bola mata itu menyusuri dimana tempat ia berada saat ini, "dimana aku?" gumamnya dengan mata masih buram.


Hingga kemudian ia melihat seorang wanita yang tadi memarahinya, dan sadar bahwa ia sedang di culik setelah mengetahui tangannya yang terikat ke belakang.


"Mbak ada apa? dimana saya? kenapa saya di ikat seperti ini," ucap Nadia menggerakkan tubuhnya berusaha melepas ikatan di tangannya.


"Kau tidak akan bisa melepasnya, kali ini tidak akan ada yang bisa menolong mu," jelas wanita itu puas.


"Apa salah saya sama mbak, saya tidak pernah membuat masalah dengan anda," ucap Nadia dengan nada sudah mulai ketakutan.


"Karena kekasih ku sudah mengulurkan tangannya padamu, aku tidak suka itu," jelas wanita itu dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


"Ya Allah aku bahkan tidak menyentuh kekasihnya, kenapa dia sampai berbuat seperti ini untuk hal sepele, psyco?? mungkin kah?" batin Nadia.


"Karena kau sudah menarik perhatiannya, kau juga harus kehilangan sesuatu yang berharga darimu," ucapnya santai dengan seringai mengerikan.


Nadia sudah semakin ketakutan, ia berusaha menggerakkan tangannya yang sudah mulai memerah karena tali yang mengikatnya, "om Ibra.... aku takut," lirihnya pelan.


"Kalian puaskan dia, aku akan melihat wajah puas wanita munafik sepertinya dari sini," perintahnya pada beberapa orang pria yang baru saja datang.


"Wah siap nyonya, jarang-jarang dapat yang seperti ini," ucap laki-laki itu semangat dengan wajah penuh nafsu.


"Tunggu... tidak... pergi dariku.... " teriak Nadia ketika beberapa laki-laki mulai mendekat dan menyentuhnya.


Sebuah pashmina yang ia kenakan sudah terjatuh ke lantai, Nadia sudah menggerakkan kakinya untuk mendorong ketiga laki-laki itu, namun tenaganya tidak cukup kuat menghentikan mereka. Ia sudah tidak kuasa melakukan apa-apa ketika semua orang bejat itu mulai melepas satu persatu pakaiannya.


"Berhenti....jangan menyentuhku." bentak Nadia hingga suaranya hampir habis karena saking takutnya, keringat dan air mata sudah mengalir tidak bisa di hentikan.


"Tenanglah anak baik, kamu hanya perlu menikmatinya, kita tidak akan menyakitimu,"


"Om Ibra....... " teriak Nadia penuh isak.

__ADS_1


Brak


Sebuah pintu terdorong dengan keras hingga jatuh ke lantai, ia terlihat berantakan dengan percikan darah di beberapa bagian tubuhnya, matanya sungguh berkilat-kilat seakan hendak membunuh semua orang yang di temui nya, tangannya terkepal hebat saking marahnya, terlebih ketika ia melihat Nadia sudah menangis terisak di pojokan dengan baju yang sudah terlepas dari tubuhnya.


Tanpa menunggu apapun, Ibra mengeluarkan sebuah pistol yang sebelumnya sudah ia siapkan.


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


"Ahh...... "


Total enam peluru sudah melesat ke dalam kaki laki-laki yang masih berusaha menyentuh Nadia, tak hanya menembak mereka, namun juga kaki wanita yang sedang duduk di atas sofa melihat kejadian bejat yang akan terjadi di depan matanya.


Dor dor.


"Awwww..... "


Namun sayangnya tidak ada seorang pun yang datang, Ibra dengan mata berkaca-kaca itu mendekati Nadia yang masih meringkuk di pojokan ruangan dengan tubuh bergetar, sebuah butiran bening beranak di kelopak mata Ibra melihat Nadia di perlakukan seperti ini.


Dengan cepat Ibra melepas kaos yang ia kenakan dan memakaikannya kepada Nadia, untuk menutupi tubuh gadis kecil miliknya yang hanya mengenakan bra.


Setelah memastikan keamanan Nadia, Ibra menoleh kemudian mendekat kepada wanita berambut pendek yang sudah kesakitan karena kedua kakinya yang terluka.


"Aku sudah bilang, doakan mood ku selalu dalam keadaan baik agar aku tidak membuat perhitungan padamu, tapi kau ..... " ucap Ibra tertahan, rasanya tidak sanggup untuk mengucapkan kata-kata lagi saat ini.


Grep, Ibra menggenggam erat leher wanita yang saat ini sedang meronta ingin terlepas dari nya, namun kekuatan Ibra saat ini sedang naik berkali-kali lipat karena emosi.


Tubuh gadis itu sudah terangkat di udara dengan bersandar pada dinding kayu, "Aku tidak pernah membunuh, tapi untuk pertama kalinya aku ingin sekali menghabisi nyawa seseorang yang ada di depan mataku, kau sudah membuat iblis dalam diriku keluar dengan paksa," ucap Ibra semakin mengeratkan tekanan jarinya pada leher wanita itu.


"A.. a... " rintihan keluar dari mulut wanita itu.


Sebuah tangan menarik kaki Ibra agar melepas wanita itu, "cih kalian bahkan sudah terluka seperti itu tapi masih mau mencari gara-gara denganku,"


"Siapa kau.... kami bukan orang yang bisa di kalahkan dengan muda di kota ini, kau juga tidak akan mengalahkan kami, setelah ini bantuan akan datang, bertahan...lah nyonya,"

__ADS_1


"Si... a... pa... kau....?"


Ibra menginjak tangan yang saat ini penyentuh pergelangan kakinya dengan keras, "arghhhhhhh.......... "


Tak hanya itu, ia juga menginjak kepala laki-laki itu, Ibra sudah kehilangan etika, moral dan semua hal yang menjadi prinsipnya selama ini.


"Ingat namaku, Ibrahim Muhammad Attar, yang mulai detik ini akan menjadi neraka untukmu dan keluargamu," tegasnya semakin menekan leher wanita yang sudah mulai kehabisan nafas itu.


"Tuan muda.... "


"Ibra.... "


Sakti dan Rafael yang baru saja datang semakin tercengang melihat apa yang terjadi di sana, di tambah dengan tubuh polos bagian atas Ibra, Rafael mendekati Nadia dan Sakti mendekati Ibra, "tuan muda.... "


Sakti menyentuh tangan Ibra setelah melihat wanita yang di cekik Ibra sudah hampir kehilangan nyawanya, "cukup tuan muda, kami akan membereskannya untuk anda, anda tidak perlu mengotori tangan anda dengan darah perempuan kotor sepertinya,"


Ibra melirik Sakti dengan tatapan geram dengan genangan air di kelopak matanya, "kau tidak lihat istriku sedang ketakutan di sana hah? aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya seperti ini,"


"Nadia.... " panggil Rafael serta mengulurkan tangannya hendak menyentuh Nadia, namun reaksi Nadia sungguh di luar dugaan, gadis itu semakin menjauh ketakutan dan bergetar hebat dengan tangan memegang telinganya.


"Om... Ibra.. Nadia takut.... " lirih nya yang masih terdengar jelas di ruangan itu.


Rafael langsung menoleh kepada Sakti, "tuan muda, nona tidak ingin disentuh siapapun, dia hanya menunggu anda, kami akan menyelesaikan ini untuk anda, nona muda jauh lebih membutuhkan anda dari pada siapapun," jelas Sakti tenang berusaha memberi pengertian.


"Nadia.... " Ibra menoleh melihat keadaan Nadia yang semakin terisak setelah Rafael mendekatinya, tangannya mulai mengendur dan perlahan melepaskan leher wanita itu.


"Uhuk uhuk..... arghh,"


Ibra melangkah mendekati Nadia, laki-laki itu memposisikan dirinya duduk tepat di depan Nadia, tangan kekar itu menghapus air mata yang sudah mengalir deras di pipi putih gadis itu.


"Aku sudah ada di sini, kau aman sekarang," ucap Ibra memeluk istri kecilnya itu, berkali-kali Rafael melihat butiran bening keluar dari kelopak mata Ibra ketika Nadia berada di pelukannya.


"Na.. dia ta... kut.. om," ucap gadis itu terbata-bata.


"Oke.... kita pulang, ada aku disini, jangan mengkhawatirkan apapun mulai sekarang," ucapnya menenangkan dengan memberi elusan di punggung Nadia.


Dengan hati-hati Ibra menggendong tubuh kecil Nadia di dalam pelukannya, "Jangan menggangguku selama satu minggu ini, tidak ada laporan, tidak ada pertemuan, tidak ada gangguan dalam bentuk apapun, tetap berjaga dan kontrol sumber makanan," pesan Ibra sebelum pergi meninggalkan ruangan.


"Kami minta maaf tuan muda," ucap jajaran orang yang sudah berbaris rapi di depan pintu dengan menunduk kepadanya. Namun Ibra tetap melangkah pergi, ia sudah tidak sanggup untuk berkata-kata lagi, Nadia, yang ia fikirkan saat ini hanya gadis kecil di dalam pelukannya ini.


Sepeninggal Ibra, seseorang masuk ke dalam ruangan, "lapor tuan, semua orang yang berada di luar masih hidup, seluruhnya mendapat luka yang fatal seperti biasa, 80 persen dari mereka akan mengalami cacat seumur hidup."


"Ibra bukan pembunuh, dia tidak perlu membunuh mereka, karena kami yang akan membunuhnya," tegas Rafael.

__ADS_1


***


Bonus hari Minggu untuk menemani hari libur kalian, semoga suka, sehat selalu semuanya.


__ADS_2