
Nadia tersentak, "ini juga fakta lain dari mas Ibra, dia bahkan bersikap tidak seperti biasanya dihadapan orang lain dengan harapan bisa melegakan hati mommy karena bayi ini, dari sudut manapun dia memang baik, sampai kapanpun aku tidak akan bisa sanggup kehilangan orang seperti mas Ibra,"
Nadia menggenggam tangan Ibra, "mas, abis ini kita bisa buat lagi yang kembar, mungkin ada cara-caranya, kita berdua harus berkonsultasi dengan dokter ahli, lagi pula aku masih sangat muda, aku bisa memberikanmu banyak anak-anak lucu kedepannya," ucapnya polos yang mana semakin membuat Ibra tertawa.
"Haha... sudahlah jangan terlalu dipikirkan... sebaiknya aku mengantarmu pulang, lihat kantung mata itu, seperti aku mengajakmu begadang setiap hari, itu akan membuat orang lain salah faham,"
"Ish...mas Ibra nggak asik...lagi bahas serius juga, ngerusak momen aja, mas Ibra nih yang harusnya buat buku 1001 cara merusak momen romantis," sahut Nadia sedikit kesal.
"Baru juga ketemu, udah mau pulang aja,"
Nadia masih menatap ke depan, namun sesekali ia melihat ke arah Ibra, hingga mata itu tidak bisa berpaling melihat Ibra yang berada di sampingnya.
"Sudah puas menatapku?" tanya Ibra yang menyadari bahwa Nadia memandangnya sejak tadi.
Nadia hanya menganggukkan kepala dengan polosnya, "kalau begitu kau harus membayarnya, aku ingin membeli roti di sana, tolong belikan untukku, tapi aku ingin yang masih panas dan baru keluar dari oven," ucap Ibra yang kini menghentikan mobilnya di depan toko yang tidak jauh dari perempatan jalan.
"Hah? mas... kalo ngerjain kira-kira dong, kalo udah nggak masak lagi gimana ? minta tolong bang Sakti aja ya? atau nanti aku buatin di rumah,"
"Aku bahkan jarang meminta apapun padamu, tapi hanya roti saja kau tidak bisa mengabulkan nya," ucap Ibra pura-pura kesal.
"Astaga... aku yang hamil tapi kenapa mas Ibra yang mintanya aneh-aneh,"
"Apa yang aneh Nadia, aku hanya ingin roti hangat di sana, dan kau yang harus membelikannya, itu saja, apa susahnya," tambah Ibra lagi yang sudah tidak sabar mencicipi kue itu.
Nadia melihat suaminya sekilas, "oke oke.... aku beli," ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya, "tunggu di sini dan jangan ninggalin,"
"Jangan berlari," pesan Ibra pada Nadia, pasalnya Nadia sangat suka berlari kecil dena mudah terjatuh, ia tidak ingin ada sesuatu kepada janin dan istri kecilnya itu.
"Iya mas," jawab Nadia pelan.
Nadia keluar dari mobil dengan ponsel yang ada di tangannya, "mungkin kamu yang pengen ya nak, jangan terlalu jahil dengan daddy oke," ucapnya sambil mengelus perutnya pelan.
Drtttt drtttt drtttt
__ADS_1
Sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya, "bang Sakti.... "
"Halo Assalamu'alaikum abang... abang mau nyari mas Ibra ?"
"Tidak nona, saya hanya ingin bertanya anda berada dimana sekarang, agar saya bisa menemui anda, tapi jangan bilang kepada tuan muda mengenai ini, Rafael akan kembali dan kita bisa kembali seperti dulu," ucap Sakti.
"Benarkah? alhamdulillah, aku sedang berada di toko kue tulilut di jalan Aababa yang ada di dekat perempatan itu loh bang, ini bang Sakti lagi sama bang El kah?"
"Iya nona, Rafael sedang berada bersama saya,"
"Tapi jangan bilang kepada tuan muda, Rafael ingin bicara langsung dengan tuan muda,"
"Baiklah, aku tidak akan merusak rencana abang berdua," ucap Nadia senang.
"Saya akan tiba sepuluh menit dari sekarang nona, kita akan bertemu di sisi perempatan yang lain agar tuan muda tidak curiga,"
"Okeh... " jawabnya sebelum menutup panggilan tersebut.
Nadia bergerak dan masuk ke dalam toko kue, setelah sedikit memohon dengan wajah memelas, akhirnya pemilik toko mau untuk membuatkan kue baru seperti yang di inginkan Nadia, karena butuh beberapa waktu akhirnya ia memutuskan untuk menemui Sakti dan Rafael terlebih dahulu di sisi perempatan yang lain.
***
"Lama sekali gadis itu, apa yang bisa kulakukan?" pikirnya
Akhirnya ia memutuskan untuk bermain dengan drone kecil untuk melihat keadaan di sekitarnya, meskipun tujuan awalnya adalah untuk melihat Nadia istrinya, haha.
Cukup lama ia menggerakkan drone hingga akhirnya ia melihat Sakti, Rafael, Aga dan juga Nadia berada di sisi lain perempatan ini, mereka semua berada di depan sebuah mobil yang ia hafal betul adalah milik Rafael.
"Apa yang mereka semua lakukan di sana tanpaku? Nadia juga tidak bilang apa-apa tadi,"
"Eiy...mobil itu....aish...dasar Rafael bodoh, kenapa pergi di tengah kota begini dengan mobil yang sudah terpasang alat peledak seperti itu," pikirnya seorang diri ketika mengamati sedikit lebih lama.
Untuk berjaga-jaga sebelum Rafael bisa mendeteksi drone miliknya ini sedang mengudara, Ibra menggerakkan drone tersebut menjauh, namun sebuah gerakan dengan kecepatan aneh muncul di sisi belakang mobil Rafael itu, memang masih sangat jauh dari posisi mereka semua saat ini, namun keganjalan kecepatan nya membuatnya mengemudikan drone agar bergerak lebih dekat.
__ADS_1
Dengan cepat Ibra menyalakan mesin mobil dan menghubungi Sakti, "iya tuan muda..."
"Menjauh dari sana... menjauh dari mobil Rafael sekarang," teriak Ibra tanpa basi-basi.
Setelah mendapat instruksi dari Ibra, semua orang memang benar-benar menjauh meskipun tidak tau ada apa.
Namun mobil Ibra sudah melesat cepat memotong jalan untuk menghadang sebuah truk dengan kecepatan di atas rata-rata yang hendak menabrak mobil Rafael yang berada di tepi jalan raya.
"Tuan muda.. apa yang terjadi...? "
Belum sempat Ibra menjawab pertanyaan Sakti, sebuah mobil berwarna putih mutiara sudah melewati mereka semua dan Brakkkkk.
Hanya sepersekian detik, mobil mewah itu sudah berguling beberapa kali karena kecepatan mobil yang menabraknya, dan sesuai dugaan mobil milik Rafael juga mengalami kerusakan parah karena juga ikut terseret mobil Ibra.
"Mas Ibra...... " teriak Nadia pilu begitu menyadari bahwa Ibra ada di dalam sana.
"Tuan muda..... " semua orang berlari kesana tanpa melihat bahwa sewaktu-waktu mobil bisa saja meledak.
Ibrahim melihat semua orang berlari ke arahnya, tubuhnya sudah di penuhi darah di mana-mana, namun dia tersenyum.
"Aku menyesal tidak bisa membawamu di sisiku,"
"Sakti.... uhuk... uhuk... " ucapnya terbata karena batuk darah yang keluar dari mulutnya.
"Jika kau... uhuk... masih bisa mendengar ku... jaga Nadia dan anakku de... ngan... ba... ik," ucapnya terbata ketika berusaha mempertahankan kesadarannya.
Sakti terdiam, ia tidak melanjutkan langkahnya, kali ini ia menarik lengan Nadia agar menjauh dari sana, gadis kecil yang sedang meronta itu sedang di tahan oleh Sakti agar tidak berlari lebih jauh.
"Nona... cukup... "
"Abang.... mas Ibra..." ucapnya dengan air mata yang sudah mengalir deras tanpa henti.
"Ini perintah tuan muda,"
__ADS_1
***