
Suasana di dalam mobil masih hening, semuanya sibuk dengan ponselnya masing-masing, Nadia masih sangat penasaran dengan Delta Group dan Ibra suaminya, ia masih mencari informasi sebanyak apapun yang bisa ia dapatkan di internet.
Berbeda dengan Ibra, Ibra masih disibukkan dengan file-file yang dikirimkan Sakti sebelumnya untuk dipelajari lebih lanjut, Sakti hanya diam dan fokus melihat jalan raya ketika menyetir, namun suara umpatan dan makian beberapa kali lolos dari bibir Rafael yang kini duduk di kursi depan, laki-laki itu sedang bermain game online, salah satu hal yang menjadi kebiasaan wajibnya sejak dulu.
Ting Ting Ting
Suara alarm yang sengaja di pasang di handphone Ibra, Sakti dan Rafael tiba-tiba mengeluarkan suara, alarm itu hanya berbunyi ketika terjadi sesuatu yang darurat. Namun sayangnya sebelum Ibra bisa mengetahui apa yang terjadi handphone nya kehabisan baterai.
"Apa yang terjadi ?" bentak Ibra reflek.
"Kenapa om ?" sahut Nadia yang kaget dengan suara Ibra yang tiba-tiba.
Rafael dengan cepat menutup game online yang sejak tadi ia mainkan dan mulai menelusuri alasan alarm itu berbunyi, matanya mendelik ketika ia menangkap sesuatu dari layar ponselnya. Sesuatu yang dulu sangat ia tunggu-tunggu agar Ibra bisa bahagia, namun sekarang entah kenapa ia merasa sedikit tidak nyaman.
"Kenapa bang ?" tanya Nadia.
Ibra yang tidak mendapat jawaban dari Rafael menjadi semakin kesal, "Kau tuli sekarang ? dia bertanya kepadamu." teriak Ibra lagi yang tetap tidak mendapat sahutan dari Rafael.
Melihat respon Rafael yang hanya diam, Sakti dengan tenang menepikan mobilnya kemudian memeriksa ponsel miliknya, matanya terlihat serius memperhatikan layar ponsel di genggaman tangannya "nona Anna, ada yang melihat nona Anna di sekitar jalan x tuan muda," jelas Sakti.
Dada Ibra bergemuruh bahkan hanya mendengar namanya di sebut, ini yang ia inginkan, ini yang ia tunggu sejak lama, Anna. Sosok wanita yang selalu mengisi penuh hatinya sejak dulu hingga sekarang, dengan hati yang sudah tidak bisa di definisikan lagi betapa bahagia dan paniknya ia saat ini, ia meminta Sakti segera mencari dimana titik terakhir Anna tertangkap kamera.
"Kita pergi ke sana sekarang." perintah Ibra dengan raut wajah cemas memenuhi wajahnya.
Rafael masih mematung dengan tetap melihat ke arah layar ponselnya, tak lama bola mata itu bergerak ke arah spion mobil bagian depan yang mengarah ke belakang, Nadia. Itu sosok yang ia ingin lihat pertama kali.
Terlihat jelas raut kesedihan di matanya setelah mendengar nama Anna, gadis itu mulai tidak tenang dengan posisi duduknya, beberapa kali ia berpindah posisi seolah mencari kenyamanan.
"Mungkin ini alasanku merasa tidak nyaman, melihatmu dengan wajah seperti itu," ucapnya dalam hati.
"Turunin gua disini bersama Nadia, dia akan berada dalam bahaya jika kalian mencari Anna dengan membawanya,"
"Tapi kita masih membutuhkanmu, Nadia akan ikut dengan kita," jawab Ibra cepat.
"Lu udah punya Cyber dan semua tim yang ada di kendali gua sekarang, mereka semua jauh lebih kuat dari pada gua sendirian, apa lagi yang sampek buat lu khawatir, " ucapnya lagi dengan menatap Ibra.
__ADS_1
"Tapi cuma lu ..."
"Gue cuma nggak pengen ada di tempat yang sama dengan orang-orang yang udah jadi pembunuh bokap nyokap gue, gue minta pengertian lu juga kali ini," ucapnya menyela pembicaraan Ibra.
Ibra sedikit termenung seolah sedang memikirkan sesuatu, namun pada akhirnya ia menyerah dan meminta Sakti menurunkan Rafael dan istrinya Nadia. Dengan tetap memperhatikan sopan santun, Nadia meraih tangan Ibra dan mencium punggung tangan laki-laki yang sudah dah menjadi suaminya itu.
"Nadia pulang dulu ya om, om hati-hati," ucapnya.
"Bang, Nadia nitip om Sakti ya," pesannya pada Sakti.
"Aku bukan bocah yang harus di titip-titipkan," ketus Ibra.
"Assalamualaikum om," pamitnya berusaha dengan tersenyum.
Setelah ia keluar dari pintu mobil dan menutupnya, dengan cepat mobil itu beranjak pergi meninggalkan dirinya dengan Rafael, "pengen jalan-jalan atau mau langsung pulang ?" tanya Rafael.
"Kita pulang jalan kaki bang ?"
"Bentar lagi orang suruhan gue bakal nganter mobil," ucapnya mengacak-acak rambut Nadia.
Rafael mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu, laki-laki itu masih menatap Nadia yang terus saja merapikan beberapa rambutnya.
"Besok udah mulai sekolah kan ?"
''Kuliah bang, bukan sekolah! Nadia udah lulus sekolah kok, " tegas Nadia tidak terima.
"Hahaha,"
Tak lama mereka menunggu, mobil yang akan membawa mereka sudah datang, mobil berwarna putih mutiara itu sangat indah dan mengkilat.
Mereka mulai perjalanan dengan Rafael yang berada di balik kursi kemudi dengan Nadia di sampingnya.
"Kita kemana bang?"
"Katanya pengen es krim,"
__ADS_1
"Wah asik," ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Jika Ibra pasti membawanya ke restoran mewah dengan menu ice krim atau membawa seluruh pedang ice krim yang berjualan di taman, maka berbeda dengan Rafael. Laki-laki itu kini sudah memarkir mobilnya di sebuah taman di pusat kota.
Banyak anak-anak kecil sedang berlarian kecil ke sana kemari, beberapa remaja juga terlihat asik mengobrol bersama teman-teman dengan asiknya.
"Huft rasanya sejak menikah nggak pernah merasa bebas kayak gini,"
"Harusnya lu masih bisa kayak mereka semua," tunjuk Rafael pada beberapa remaja yang sibuk tertawa dengan teman-teman nya.
"Kita kan sering tertawa bang, bang El, bang Sakti, ada om Ibra juga," jelasnya.
"Bang pengen beli itu, traktir ya," ucapnya sambil tersenyum dengan ekspresi di buat seimut mungkin.
"Gak usah sok keliatan imut, muka lu udah kayak tomat kegilis truk sampah, hahaha," ucap Rafael kemudian berlari meninggalkan Nadia.
"Dasar abang....." teriak Nadia mengejar Rafael yang semakin berlari menjauh darinya.
Mereka asik bermain kejar-kejaran hingga lelah, kemudian dengan senyum mengembang di bibir mereka masing-masing, keduanya melangkah ke arah penjual es krim tong tong.
"Berapa esnya mbah?" tanya Nadia pada penjual es yang sudah sangat tua itu.
"Lima ribu neng, mau beli berapa ?"
"Kita beli semua pak, saya ingin membeli untuk anak-anak yang ada di sana," tunjuk Rafael pada beberapa anak yang berlarian ke sana-kemari kemari.
"Alhamdulillah... " ucap mbah sumringah campur lega.
"Bang El terbaik," puji Nadia dengan jempol mengacung di udara.
***
"Bagaimana ?" tanya Ibra yang baru saja tiba di lokasi yang terdeteksi, sudah ada banyak sekali orang-orang nya yang tersebar di daerah itu, baik yang berada di bawah kendali Rafael, maupun dari Cyber.
"Kami masih kehilangan jejaknya tuan muda,"
__ADS_1