Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Laki-laki lain (Rafael)


__ADS_3

"Kalian udah.......?"


Ibra menatap Rafael dengan wajah sangarnya, "aku masih belum membuat perhitungan masalah obat itu, kau ingin aku membahasnya sekarang hah?"


''Hehe... oke oke," ucapnya malu.


"Aish, perasaan gua abang lu, harusnya gua yang ngomong kek gitu dong, kok jadi gua yang Oke oke aja sih, Ibra emang gak ada lawan," batin Rafael.


"Masih ngomong dalam hati?" sindir Ibra yang tahu jika Rafael sedang membicarakannya dalam hati.


"Hah? mana ada? kapan gua ngomongin lu dalam hati," ucapnya tidak mengaku.


"Aku nggak bilang itu kamu El, kau membuka kartumu sendiri," ucapnya dengan kepala bersandar pada jok mobil bagain belakang.


"Tuanku memang terbaik," puji Aga dan memberikan jempolnya pada Ibra.


"Apa lu, cari muka aja dari tadi," ketus Rafael.


"Abang udah dong, pak Aga ini yang udah bantu ngurus perusahaan kita, abang harusnya terimakasih dong, jangan berantem mulu," ucap Nadia yang sudah pusing dengan perdebatan Rafael sejak tadi.


"Nggak mungkin lah, dia mah cuma dapet perintah dari Ibra doang," ucap Rafael yang masih ketus.


"Abang... " ucap Nadia memelas agar Rafael berhenti berdebat.


"Oke oke, gua emang paling nggak bisa liat wajah lu kayak gitu, aishh," tambah Rafael mengalah juga akhirnya.


"Sakti.... " panggil Ibra dengan mata terpejam.


"Bagaimana perusahaan ?" tanya Ibra serius.


"Paman Louis mengurus dan mengatur perusahaan dengan baik ketika kita bertiga tidak berada di tempat tuan muda, semuanya aman ter..."


"IA entertainment? kau sudah mengurus nya," ucap Ibra memotong perkataan Sakti.


"Masih berada di bawah kuasa tuan besar tuan, saya akan segera mengurusnya, paling lama tiga hari, IA entertainment akan kembali kepada kita lagi, " terang Sakti sangat optimis.


"Atur pertemuan dengan paman Abrar, dan berikan semua padanya," perintah Ibra yang mendapat sorotan tajam dari semua orang yang berada di dalam mobil, termasuk Aga yang masih mengemudi.

__ADS_1


"Kenapa paman Abrar? dia orang yang berusaha mati-matian bunuh lu," tanya Rafael yang benar-benar tidak tau apa maksud ucapan Ibra.


"Bahkan jika seluruh perusahaan itu ku berikan padanya, itu tidak akan pernah cukup untuk melunasi hutang ku atas rasa sakit yang sudah paman rasakan," ucap Ibra dengan jelas.


"Tuan muda..tapi perusahaan itu impian anda dan tuan muda Abraham sejak lama,"


"Lakukan saja dengan cepat, aku tidak ingin mengulur lebih banyak waktu," ucapnya lagi seolah tidak ingin di bantah.


Setelah apa yang ia ucapkan, ia menghabiskan sepanjang perjalanan hanya dengan tertidur di bahu Nadia, seperti ada beban yang terangkat dari pundaknya, yang ia rasakan hanya lelah dan ingin tidur saja, ia tidak menghiraukan Rafael yang sejak tadi tidak berhenti bicara, mata itu tetap terpejam hingga sampai pada tujuan yang sudah di pilih oleh Nadia melalui pertimbangan yang di berikan Sakti.


Tin tin, suara bunyi klakson keluar dari mobil yang di kendarai Aga, seorang penjaga berpakaian satpam datang dengan sedikit berlari bergegas membukakan pintu gerbang.


"Kita sudah sampai nyonya... " ucap Aga ketika sudah memasuki sebuah halaman rumah dengan hamparan rumput hijau yang terawat.


"Siapkan dulu ruangan nya pak, kalau sudah tolong beritahu saya, biarkan mas Ibra istirahat di sini dulu lebih lama," ucap Nadia.


"Baik nyonya," jawab Aga siap, kemudian membuka pintu mobil dan berjalan keluar.


"Abang tunggu," tahan Nadia ketika Sakti dan Rafael juga hendak turun dari mobil.


"Ada apa nona?"


"Uhm.... mas Ibra sakit apa sebenarnya? apa dia selalu kesakitan seperti ini, Nadia nggak pernah lihat keadaan mas Ibra kayak gini,"


Sakti dan Rafael tidak ada yang menjawab pertanyaan itu, keduanya saling berpandangan kemudian menghela nafas berat.


"Tuan muda akan merasa kesakitan seperti ini ketika berhubungan dengan oma, Anna dan kematian semua saudaranya nona,"


"Ta.. tapi kenapa?" tanya Nadia yang tidak faham dengan apa yang di ucapkan Sakti.


"Perasaan bersalah memenuhi hati dan pikiran tuan muda nona, beberapa kali tuan muda akan mendengar suara-suara yang terjadi di masa lalu, itu membuat tubuh tuan muda menggigil dan bergetar, biasanya di tandai dengan munculnya keringat dingin di dahi tuan muda secara tiba-tiba, terlebih di ruangan ber-AC," jelas Sakti.


"Kita masih belum menemukan obat yang seratus persen manjur sampai sekarang nona, tuan muda masih harus ganti obat berkali-kali jika obat sebelumnya tidak maksimal dengan apa yang di rasakan tuan muda," tambah Sakti.


"Tapi selama hampir satu tahun terakhir kenapa Nadia nggak pernah tau bang,"


"Karena dia, suami lo itu benar-benar jaga image dan harga dirinya dengan baik, dia nggak akan pernah kambuh di depan umum, di tambah dia punya orang-orang profesional yang akan menjaga agar kelemahannya nggak di ketahui orang lain yang bakal buat kita rugi nanti," jelas Rafael menambahkan penjelasan Sakti.

__ADS_1


Nadia melihat ke arah Ibra yang masih tertidur dengan pulas, ada kesedihan di matanya, "mas, mas selalu jadi pelindung yang baik, mas selalu jadi yang terbaik, mas selalu tau apa yang Nadia butuhkan, tapi Nadia malah nggak tau apapun tentang kehidupan mas,"


"Bang, Nadia nunggu mas Ibra bangun dulu ya, pules banget tidurnya, nggak tega mau bangunin," ucapnya.


"Oke, kita keluar dulu ya," ucap Rafael.


Setelah Sakti dan Rafael keluar dari mobil, ia melihat Ibra yang masih tertidur di bahunya, bulu mata lentik itu benar-benar indah, "mas Ibra sangat sempurna, siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan wajah ini,"


"Sudah puas memandang ku? kau masih bisa melihat ku sepuas yang kau inginkan," ucap Ibra yang memang sejak tadi tidak tertidur.


"Loh kok.... hehe ketahuan ya ?" ucap Nadia menggaruk belakang kepalanya karena malu.


"Kenapa nggak tanya langsung padaku? aku akan menjawab semua yang ada di pikiranmu itu," tambahnya lagi dengan mata yang masih terpejam.


"Hehe... " Nadia hanya merespon ucapan Ibra dengan tawa kecil, selain karena malu, ia masih tidak yakin jika Ibra akan menjawab pertanyaan yang ia ajukan.


"Aku masih punya banyak waktu om, aku akan bertanya satu persatu nanti, jangan lupa untuk menjawabnya oke," ucapnya riang.


Mata dengan bulu mata indah itu terbuka pelan, mata itu langsung menatap wajah Nadia yang berada di sampingnya, "kenapa kita nggak turun...? " tanyanya.


"Ya karena mas masih tidur, Nadia nggak kuat kalo harus gendong mas sampai dalam,"


"Aku bisa menggendong mu, seharusnya kau bangunkan aku," ucapnya mulai menggoda Nadia.


"Mas Ibra.... " ucap Nadia dengan berpaling karena malu, wajah itu sungguh sangat merona sekarang.


"Nanti aku akan memberimu waktu dengan Rafael, pasti ada banyak yang ingin kalian bicarakan, sampai saat itu pergunakan waktu yang ku berikan dengan baik, aku tidak akan berbaik hati untuk membiarkanmu berbicara dengan laki-laki lain nanti," tegasnya.


"Tapi dia abang El?"


"Dia tetap laki-laki Nadia,"


"Tapi dia abang kandung Nadia,"


"Tapi kau istriku,"


"Tapi mas... " ucapnya memelas.

__ADS_1


"Ayo turun, aku akan menggendong mu,"


"Ahh nggak mau, aku bisa turun sendiri," ucap Nadia yang langsung berlari turun dari mobil.


__ADS_2